Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dafsa merasakan lagi kecewa terhadap diri sendiri. Penilaian Arcila terhadap cara kerjanya terus berputar, tak bisa disingkirkan meski Dafsa sudah menghentikan motornya di beberapa tempat.
Pertama di taman kota, kedua di masjid untuk melaksanakan salat tiga rakaat, yang terakhir di tukang bakso langganannya. Dafsa banyak bengongnya, sampai-sampai mengabaikan beberapa pertanyaan si Mamang Bakso.
"Mas Dafsa?"
"Eh, iya, Mang? Uangnya kurang?" tanya Dafsa mengambil alih keresek hitam.
"Nggak, Mas. Tadi saya tanya, kenapa Mas Dafsa baru pulang abis Maghrib, biasanya sering lewat setengah enam."
Dafsa nyengir, merasa diperhatikan. "Ada urusan di tempat lain, Mang."
"Nyari kandidat buat klien?"
"Nggak, Mang," kilah Dafsa. Nggak mungkin juga dia ngomong habis ketemu pewaris tunggal Hotel Astoria yang gagal jadi kliennya. Bisa-bisa semua orang heboh, terus meragukan kinerja Dafsa seperti Arcila. "Hari ini kios tutup dulu, saya butuh istirahat," sambungnya mengenakan helm.
"Oh, begitu, toh, Mas. Istirahat memang penting, Mas, jangan kebanyakan kerja. Omong-omong kenapa Mas Dafsa gak nyari jodoh buat diri sendiri?"
"Aduh, saya belum siap nikah, Mang. Minta doa yang terbaik aja dari Mamang buat saya." Dua kalimat itu berhasil mengakhiri percakapan. Dafsa melajukan motor usai berpamitan.
Perihal mencari jodoh, Dafsa benar-benar enggan memikirkan itu. Ada ibu dan adik yang harus ia pastikan sendiri kesejahteraannya. Ibunya menderita gagal ginjal, harus rutin cuci darah setiap hari Senin. Sementara Diva, sekarang tengah menempuh pendidikan di UI dengan jurusan kedokteran. Baru semester empat, tapi biayanya mahal sekali. Dafsa juga tahu di semester depan, biaya kuliah Diva akan semakin mahal. Belum yang lainnya.
"Aku nggak apa-apa kalau harus cuti dulu, Mas. Aku mau bantuin Mas jaga kios." Diva sempat mengatakan itu satu setengah tahun lalu, tepat di kenaikan semester. Alasannya satu, Diva nggak enak hati harus bergantung sama Dafsa sampai lulus.
"Ngomong apa sih kamu ini, Div? Jangan macem-macem, kuliah yang bener. Kamu pikir Mas nggak ada uang? Uang Mas banyak tau. Kamu bisa lihat sendiri tiap hari kita kedatangan banyak klien."
"Iya, aku tau, tapi mau sampai kapan Mas nanggung semua kebutuhan hidupku?"
"Jangan ngomong begitu. Kamu tanggungan, Mas, tapi kamu bukan beban. Mas bakalan ngerasa gagal kalau kamu sampai ambil cuti. Jangan macem-macem, ya, kuliah aja yang bener."
Setelah Dafsa menekankan bahwa ia tidak berasa terbebani, barulah Diva tidak pernah menyinggung soal biaya kuliahnya lagi. Tapi Dafsa tahu keresahan adiknya tidak berhenti sampai sana. Diva makin kerja keras, merekomendasikan kiosnya ke beberapa temannya di kampus, di kafe waktu ngerjain tugas, di pasar waktu belanja sama Ibu, dan di mana pun Diva berada.
Diva jugalah yang membuat iklan di internet. Banyak klien datang dari sana. Awalnya satu orang, dua orang, lama-lama jadi banyak. Kemampuan Dafsa disampaikan dari mulut ke mulut. Testimoni nyata bikin semua orang tertarik sekaligus percaya; oh, ternyata ada manusia dengan tangan dingin ajaib seperti Dafsa.
Bisnis yang dirintis Dafsa makin meluas, padahal sebelumnya Dafsa udah terkenal. Tapi terkenalnya di kalangan para sepuh. Dafsa inget banget, klien pertama yang dia tangani adalah duda anak dua, alias dosen pembimbingnya. Waktu itu Dafsa nggak punya pengalaman apa-apa, tapi dia tulus mau bantu. Akhirnya Dafsa bilang sama klien pertamanya, kalau dia punya kenalan yang cocok buat si klien, yang keibuan, yang tulus nggak mandang harta.
Pertemuan diadakan. Dafsa ikut jadi makcomblang, jadi saksi gimana dua orang usia di atas 40 tahun malu-malu waktu ngobrol. Dafsa seneng lihatnya. Dia jadi tergugah bantuin tetangga sama orang-orang terdekatnya. Semua berawal dari sana, waktu Dafsa masih umur 22 tahun. Dafsa yang baru lulus kuliah bener-bener ngerintis semuanya dari bawah. Dan bantuan dari Diva satu setengah tahun lalu, berhasil memperluas jaringan bisnis mereka.
"Mas!"
Teriakan Diva di ambang pintu rumah mereka yang sederhana, berhasil mengembalikan kesadaran Dafsa. Dafsa celingak-celinguk, ngelus dada sambil bersyukur dalam hati. Soalnya dari tadi dia bengong. Untunglah nggak terjadi apa-apa.
"Gimana hasilnya?" tanya Diva mengambil alih keresek hitam di tangan Dafsa.
"Kacau. Dia marah sama Mas." Dafsa bicara terus terang, soalnya kalau bohong, urusannya bisa makin panjang.
"Marah karena sikap Mas yang kemaren, atau marah karena disamperin?" Diva mengajak Dafsa duduk di selasar rumah. Suara mengaji ibu mereka terdengar dari dalam rumah. Merdu dan menenangkan.
"Dua-duanya," jawab Dafsa lesu, kemudian menceritakan bagaimana marahnya Arcila di telepon.
Diva pun ikut lemas. Hanya sesaat, mungkin lima detik. Karena selanjutnya, dia malah senyum-senyum sendiri.
"Kenapa malah senyum-senyum? Kamu seneng Mas diomelin orang super duper kaya itu?"
"Ya Allah, Mas, jangan suudzon begitu, nggak baik tau!" Diva cemberut. "Aku cuma mikir, jalan kita bukan di Mbak Arcila. Jadi tenang aja, nggak usah dipikirin terlalu jauh." Ia berusaha menghibur.
Dafsa sudah banyak berkorban, lebih mengutamakan kepentingan keluarga daripada kepentingan diri sendiri. Karena itulah Diva sering membatin. Kalau aja Dafsa nggak perlu mikirin biaya pengobatan ibu mereka, sekaligus biaya kuliahnya yang makin besar, Dafsa pasti udah bisa bangun rumah impiannya. Diva inget banget, Dafsa cuma punya satu mimpi, yaitu beli rumah di cluster.
"Tunggu aja Mas lebih sukses dari ini, nanti kita pindah ke kawasan yang lebih bagus, yang lebih tenang biar Ibu bisa jalan-jalan tiap pagi tanpa gangguan tetangga."
Diva selalu mengaminkan, juga menyertakan mimpi-mimpi Dafsa ke dalam doanya.
"Ayo masuk, Mas, nanti baksonya keburu dingin," ajak Diva lebih dulu masuk ke dalam. Kalau tidak diputus begini, Dafsa pasti akan terus membicarakan kegagalannya.
Dafsa mengangguk, mengikuti sang adik ke dalam. Mereka duduk bersama di meja makan sederhana. Ibu mereka yang bernama Sri menyusul lima menit kemudian.
"Tadinya Ibu sempet mikir, Daf, kamu pulang telat karena abis pacaran." Sri menyampirkan mukenanya di punggung kursi.
"Pacaran itu buang-buang waktu, Bu, mending kerja keras, terus pulangnya beli bakso biar bisa makan sama-sama."
Sri memutar bola mata. Begitulah tingkah laku anaknya, sering mengabaikan jodoh sendiri, sementara jodoh untuk orang lain dicari-cari sampai lubang semut. Sudah bosan Sri mengatakan ingin punya cucu dan menantu. Sekarang terserah Dafsa saja mau menikah di umur berapa, yang penting Dafsa sehat dan tidak kekurangan apa-apa. Pun dengan Diva.
Usai makan malam yang diwarnai bincang hangat, Dafsa berpamitan lagi. Kali ini, ia akan pergi ke kios. Dafsa memetik satu pelajaran dari pengalamannya dengan Arcila, yakni harus lebih teliti. Dafsa juga harus memahami latar belakang kliennya lebih jauh.
Motor kesayangan kembali menyala. Jarak dari rumah ke kiosnya hanya sepuluh menit. Cukup dekat, tapi akan sangat memakan waktu jika terjebak kemacetan ibu kota. Untunglah nasib baik masih berpihak pada Dafsa. Jalanan tidak terlalu padat. Dafsa sampai di kiosnya tepat waktu.
Saat mengayunkan langkah kaki di lorong panjang, di mana ada sederet kios yang kebanyakan sudah tutup, langkahnya terhenti begitu saja, melihat seorang perempuan berdiri kikuk di depan kiosnya.
"Itu ... Arcila Astoria?" Dafsa tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Ia mengucek mata berulang kali, tapi sosok Arcila yang saat ini mengenakan hoodie berwarna hitam, masker, celana jeans, tidak pergi dari pandangan.
Walaupun penampilan perempuan itu cukup tertutup, tapi dari semua brand yang melekat di tubuhnya, Dafsa bisa langsung menebak dengan sekali lihat.
"Bu Arcila?" panggilnya demi memastikan.
Benar saja, perempuan itu menoleh, menurunkan sebentar maskernya. Dafsa menelan ludah, khawatir Arcila datang hanya untuk marah-marah.
"Maaf, Bu Arcila datang ke sini untuk membahas yang tadi?" tanya Dafsa hati-hati.
"Tidak," jawab Arcila formal. "Saya mau daftar lagi," tambahnya datar.
"Daftar lagi? Jadi klien saya?" Dafsa makin tak percaya.
"Memangnya di sini ada kios makcomblang yang lain?"
"Oh, nggak ada. Kios saya satu-satunya," jawab Dafsa dengan debar tak karuan. Ia mendadak bersemangat, senang, sekaligus terharu. Hadirnya Arcila di depan kiosnya seakan memberi udara baru. Udara yang terasa segar. Lebih segar dari udara yang pernah dihirup Dafsa selama 30 tahun hidup di dunia.
"Mari masuk, Bu, kita bicarakan di dalam," ajak Dafsa mengangkat rolling door vertikalnya usai membuka kunci. Di belakangnya, Arcila diam. Sama seperti kemarin, gerakannya tampak teratur. Ketika berjalan, mengamati seisi kios, sampai duduk di depan Dafsa. Mendadak Dafsa menyukai segala gerakan itu, sebab ia tahu bahwa Arcila adalah kunci menuju puncak popularitas.
"Silakan, Bu, bagaimana calon jodoh yang diinginkan Bu Arcila?" Dafsa siap mencatat.
"Kriterianya sama seperti kemarin, Mas," ujar Arcila. Baginya, Dafsa sudah tahu apa yang ia mau. Lelaki itu tinggal melaksanakan tugasnya.
Dafsa bengong lagi, lalu mengerjap pelan. Ia mengeluarkan sesuatu dari laci, yakni lembaran kertas berisi daftar-daftar cowok lajang.
"Silakan dilihat-lihat dulu, Bu, mereka punya pekerjaan yang cukup bagus. Ada manager perusahaan, kepala divisi, dosen, owner kos-kosan 30 pintu, dan banyak lagi." Dafsa makin bersemangat.
Kertas telah berpindah. Arcila mengamati satu per satu. Wajahnya datar, tidak pernah menunjukkan ekspresi macam-macam. Dafsa jadi khawatir tak ada yang menarik di mata Arcila.
"Pertemukan saya dengan yang ini," ucap Arcila menunjuk data diri seorang owner kos-kosan 20 pintu. Arcila tidak yakin orang tuanya akan suka, tapi tidak ada salahnya memilih satu kandidat yang terjun di bisnis yang sama dengan keluarga mereka. Ah, bukan sama, mungkin lebih tepatnya hampir mirip.