Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Seribu Kegagalan(fix)
Cahaya fajar menyentuh wajah Fang Shou, membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak.
Hal pertama yang ia lihat adalah cucunya, Fang Yuan, duduk di ambang pintu.
Bocah itu tidak bergerak, matanya terpaku pada langit biru yang mulai terang—langit yang sama yang telah merenggut segalanya.
"Fang Yuan ... apa yang kau lihat?" tanya Fang Shou lembut, suaranya parah karena usia.
Fang Yuan tidak menjawab seketika. Keheningan itu terasa berat, sampai akhirnya bahu kecilnya bergetar.
Ia berbalik dan menghambur ke pelukan kakeknya, tangisnya pecah tanpa suara, hanya isakan yang menyesakkan dada.
"Kakek ... mereka sudah pergi. Benar-benar pergi," bisik Fang Yuan di sela tangisnya. "Ini semua salah mereka ... para Kultivator itu. Aku benci mereka! Hanya demi mengejar langit, mereka menginjak-injak kami yang ada di tanah!"
Fang Shou mengusap punggung cucunya. Ia tahu betul rasa tidak berdaya ini—rasa sakit menjadi semut di dunia para raksasa.
"Dengarkan Kakek, Fang Yuan. Itulah hukum dunia ini. Kita, manusia fana, hanyalah debu di mata mereka," Fang Shou mendesah pelan. "Kekaisaran mungkin berpura-pura peduli dengan memberi bantuan, tapi itu hanya sandiwara. Mereka menjaga kita tetap hidup bukan karena cinta, tapi karena kebutuhan."
Fang Yuan mendongak, matanya yang sembab menuntut jawaban. "Kebutuhan? Untuk apa mereka butuh petani miskin seperti kita?"
"Karena tanpa manusia fana, keseimbangan dunia akan runtuh. Siapa yang akan mengolah sumber daya? Siapa yang akan melahirkan generasi baru yang mungkin memiliki bakat kultivasi untuk sekte mereka? Kita adalah akar pohon,Fang Yuan. Mereka adalah daunnya. Daun tidak akan bisa tinggi tanpa akar yang tertanam di lumpur."
Fang Yuan terdiam. Ia tidak sepenuhnya paham, tapi ia mengerti satu hal: ia dan orang tuanya hanyalah alat dalam permainan yang jauh lebih besar.
Beberapa bulan berlalu. Fang Yuan mulai terlihat lebih ceria, meski terkadang ia masih sering ditemukan menangis sendirian di bawah pohon tua.
Untuk menyambung hidup, ia selalu mengikuti Fang Shou mendaki perbukitan untuk memetik herbal atau memancing di sungai.
Sambil menelusuri jalan setapak yang rimbun, Fang Yuan menarik ujung baju kakeknya. "Kek, apa Kakek sudah mewujudkan impian Kakek sendiri?"
Langkah Fang Shou terhenti sejenak, ia sedikit terkejut. "Impian Kakek? Sebenarnya ... sudah."
"Benarkah? Apa itu?"
Fang Shou menatap gumpalan awan putih, sebuah senyum tulus merekah di wajah keriputnya. "Menikahi nenekmu. Dia adalah wanita tercantik di desa ini dulu. Banyak pria kaya dan kuat yang ingin meminangnya, tapi entah bagaimana, Kakek yang biasa saja dan miskin ini yang berhasil memenangkan hatinya. Hebat, kan?"
Fang Yuan menatap kakeknya dengan datar, lalu bergumam polos, "Mungkin Nenek memilih Kakek karena kasihan."
"Apa?!" Fang Shou nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Kenapa kau berpikir begitu?"
"Di buku dongeng yang aku baca, wanita cantik biasanya menikah dengan pangeran atau orang kaya. Tidak masuk akal jika Nenek ingin hidup susah bersama Kakek. Pasti Nenek merasa kasihan melihat Kakek sendirian." ujar Fang Yuan tanpa dosa, wajahnya begitu serius.
Fang Shou memasang wajah sedih yang dibuat-buat, meski hatinya terhibur. "Dasar bocah nakal! Kau tidak tahu betapa bahagianya nenekmu dulu bersama Kakek."
Malam itu, setelah pulang ke rumah, Fang Yuan tidak bisa tidur.
Ia duduk di teras, menatap bulan bulat yang bersinar dingin. Kebenciannya tidak memudar; ia justru memadat.
"Beraninya kalian merenggut mereka dariku," bisiknya pada angin malam. "Aku benci langit ini."
Pagi harinya, Fang Yuan memutuskan untuk tidak ikut ke hutan. Ia ingin mencoba menjadi "anak normal". Ia merindukan teman, ia merindukan tawa yang bukan berasal dari paksaan.
Ia melihat sekelompok anak laki-laki bermain kejar-kejaran di lapangan desa. Di antaranya ada Chen Li, anak kepala desa yang selalu terlihat bersih.
"Hei! Aku boleh ikutan?" seru Fang Yuan sambil berlari mendekat, tangannya melambai ceria.
Langkah anak-anak itu terhenti. Chen Li menatap Fang Yuan dengan tatapan merendahkan. "Pergi sana! Kami tidak mau bermain dengan anak pembawa sial yang tidak punya orang tua!"
"Ayo teman-teman, kita pergi. Dekat-dekat dengannya hanya akan membawa nasib buruk." sahut yang lain.
"Tunggu! Aku mohon ... aku cuma ingin bermain." Fang Yuan mencoba menarik lengan baju Chen Li, matanya memohon.
PLAK!
Chen Li menepis tangan itu dengan kasar. "Jangan sentuh aku! Kau kotor!"
Fang Yuan berdiri terpaku di tengah lapangan, menatap punggung anak-anak yang menjauh. Namun, ia tidak menyerah. Esoknya ia datang lagi. Dan esoknya lagi.
Satu kali ... dua kali ... sepuluh kali ...
Hingga hari kedua puluh.
"Fang Yuan! Kau ini tuli atau bodoh?!" teriak salah satu teman Chen Li. "Kami benci sifatmu yang menyedihkan itu! Orang tuamu mati hancur berkeping-keping oleh Kultivator karena mereka tidak berguna! Kami tidak ingin tertular kesialanmu!"
Tubuh Fang Yuan menegang. Kata "hancur berkeping-keping" menusuk jiwanya seperti jarum panas.
Perlahan, ia mendongak. Bukannya marah atau membalas makian, Fang Yuan justru tersenyum.
Itu bukan senyum bahagia. Sudut bibirnya terangkat terlalu tinggi, matanya tetap dingin dan kosong. Senyum itu tampak aneh, seolah-olah topeng manusia yang ia kenakan mulai retak.
"T-tapi ... itu bukan salahku ... atau mereka," bisik Fang Yuan lirih. "Jadi, ku mohon ... ajak aku main."
BUGH!
Liu Shen, anak yang paling besar di antara mereka, menendang perut Fang Yuan hingga bocah itu tersungkur ke lumpur. "Jika kau tidak paham kata-kata, mungkin kau paham rasa sakit. Pergi, bocah sialan!"
Chen Li hanya memperhatikan dari jauh, bergumam dingin, "Menyedihkan."
Selama dua tahun berikutnya, siklus itu terus berulang. Perundungan menjadi makanan sehari-hari Fang Yuan. Hingga pada usianya yang ketujuh, di bawah guyuran hujan gerimis, Fang Yuan berdiri di depan genangan air.
"Seribu ..." gumamnya. Suaranya datar, tanpa emosi. "Aku sudah mencoba mendekati mereka sebanyak seribu kali ... dan aku tetap gagal."
Ia menatap pantulan dirinya di air. Wajahnya penuh lebam biru dan luka gores. Tapi matanya, matanya sudah tidak terlihat seperti mata anak kecil lagi. Tatapan itu terlalu kosong, terlalu tua untuk anak seusianya.
"Fang Yuan! Sudah Kakek bilang, jangan dekati anak-anak nakal itu!" Fang Shou berlari mendekat, wajahnya penuh kecemasan. Ia sudah sering mencoba melarang, tapi Fang Yuan seolah memiliki obsesi aneh untuk terus mencoba.
"Tidak apa-apa, Kek," Fang Yuan berbalik. Ia tersenyum lagi—senyum aneh yang membuat bulu kuduk Fang Shou berdiri. "Aku sudah selesai. Aku tidak ingin berteman lagi dengan siapa pun."
Di mata Fang Yuan, sesuatu telah mati. Dan di dalam kegelapan yang tersisa, sesuatu yang baru sedang mulai bernapas.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.