cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 16
Hari-hari berikutnya terasa semakin ringan bagi semua orang. Kecuali Aura. Di kelas, Harry semakin terlihat biasa saja. Ia mulai lebih sering duduk bersama teman-teman lain. Kadang bercanda dengan anak baris depan. Kadang langsung pergi setelah dosen selesai tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Aura memperhatikan tanpa ingin terlihat memperhatikan. Ia membenci kenyataan bahwa ia tahu jam berapa Harry biasanya datang, tahu ekspresi wajahnya saat serius mencatat, tahu kebiasaan kecilnya mengetuk pulpen saat bosan. Semua detail itu masih ia simpan, sementara bagi Harry, mungkin semuanya sudah mulai pudar.
Suatu siang setelah kelas selesai, hujan turun tiba-tiba. Mahasiswa berhamburan mencari tempat berteduh. Aura berdiri di depan gedung fakultas tanpa payung. Biasanya, tanpa perlu bertanya, Harry akan berdiri di sampingnya dan berkata, “Bareng.” Lalu mereka akan berjalan menembus hujan kecil sambil saling menyalahkan karena tak ada yang membawa payung.
Hari ini, Harry berdiri tidak jauh darinya. Ia membawa jaket tipis dan tas selempang yang sama seperti biasa. Mata mereka sempat bertemu sepersekian detik. Aura hampir membuka suara. Hampir. Tapi sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Putri berlari kecil menghampiri Harry dari arah parkiran. “Eh hujan banget! Lo bawa payung gak?” tanyanya sambil tertawa. Harry menggeleng. “Engga. Lari aja kali.” Putri menarik lengannya spontan. “Yaudah bareng gue, mobil di depan.”
Aura berdiri diam. Ia melihat bagaimana Harry tidak menolak saat Putri menariknya. Tidak ada drama. Tidak ada keraguan. Hanya keputusan kecil yang terlihat sepele. Mereka berlari menembus hujan, tertawa kecil, lalu menghilang di balik deretan mobil. Aura masih berdiri di tempat yang sama. Hujan mulai mengenai ujung sepatunya. Rasanya seperti adegan yang seharusnya tidak ia saksikan.
Ia akhirnya berjalan sendiri tanpa berteduh. Hujan membasahi rambut dan bajunya, tapi ia tidak peduli. Yang lebih mengganggu bukan air hujan, melainkan kesadaran bahwa dunia tetap berjalan bahkan saat ia belum siap. Ia yang meminta jarak. Ia yang berkata jangan terlalu dekat. Tapi ia tidak pernah benar-benar membayangkan bagaimana rasanya ketika Harry benar-benar melakukannya.
Malamnya, Aura sakit. Bukan parah, hanya demam ringan karena kehujanan. Ia berbaring sambil memandangi langit-langit kamar. Refleks tangannya hampir membuka chat Harry. Dulu, ia tidak perlu berpikir dua kali untuk mengeluh, “Gue sakit.” Dan Harry akan membalas cepat, cerewet, menyuruh minum obat, bahkan mungkin datang membawa makanan. Sekarang, jaraknya terasa terlalu jauh untuk sekadar mengirim pesan seperti itu.
Di sisi lain, Harry sedang duduk di kosannya, mengerjakan tugas. Putri sempat mengirim pesan memastikan ia sudah sampai rumah setelah hujan tadi. Ia membalas singkat. Setelah itu, suasana kembali sunyi. Tanpa sadar ia membuka story Aura. Tidak ada update. Ia menutup aplikasi itu lagi. Ia tidak tahu bahwa beberapa kilometer darinya, Aura sedang terbaring dengan dahi hangat dan pikiran yang jauh lebih berat dari demamnya.
Kadang yang paling menyakitkan bukan ketika seseorang pergi. Tapi ketika kita sadar, kalau ingin mengulang ke titik sebelum semuanya berubah… sudah tidak bisa.
Dan untuk pertama kalinya, Aura mulai takut. Bukan takut kehilangan. Tapi takut bahwa mungkin… ia sudah benar- benar kehilangan.
mereka menciptakan jalan tapi bingung memberi tujuan seperti itu lah istilahnya jika memang.
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣