Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Duel Tanpa Suara
Begitu Zelia menghilang ke ruang kerja, perlahan ruangan itu menjadi sunyi.
Desti bergeser duduk lebih dekat ke Are. Jaraknya tidak lagi sopan.
Are tidak menoleh.
“Sejak kapan kamu kenal Kak Zelia?” tanya Desti ringan, seolah hanya basa-basi.
“Tidak penting,” jawab Are singkat. Tatapannya tetap lurus ke depan.
Desti tersenyum tipis. Aura pria di sampingnya ini dingin… tapi justru itu yang membuatnya tertarik.
“Kak Zelia itu sebenarnya sudah lama tunangan sama Fero,” lanjutnya pelan. “Dia bucin banget. Cemburuan. Tapi Fero selalu sabar.”
Are tetap diam. Hanya jarinya yang bergerak pelan di paha, ritme tenang yang hampir tak terlihat.
“Terus tiba-tiba batalin nikah. Dan nikah sama kamu.” Desti menoleh, menatap wajah Are dengan sengaja. “Kamu gak merasa aneh?”
Ruangan kembali sunyi.
Are akhirnya melirik sekilas. Dingin. “Lanjutkan.”
Nada itu bukan rasa ingin tahu. Itu nada perintah.
Desti menelan ludah, tapi tetap tersenyum. “Menurutku… dia cuma lagi marah sama Fero. Cari pelarian.” Ia memiringkan kepala. “Kamu tampan. Gagah. Papa bilang kamu juga cerdas. Tapi… kamu yakin dia serius?”
Are tidak bereaksi. Tidak membela. Tidak menyangkal. Dan justru itu membuat Desti merasa punya celah.
“Kak Zelia itu kelihatannya lugu,” bisiknya pelan. “Padahal dia gak sesederhana itu.”
Are kini menoleh penuh. Tatapannya tidak marah, tapi lebih berbahaya dari itu.
Kosong.
“Dia terbiasa dikelilingi pria,” lanjut Desti, suaranya merendah seperti membocorkan rahasia. “Kalau mau sesuatu, dia tahu cara membuat orang menurut.”
Are menyela datar, “Fitnah adalah kebiasaan atau hobi?”
Desti tersenyum kecut. “Aku cuma kasihan sama kamu.”
Untuk sejenak tak ada yang bicara diantara mereka. Hingga akhirnya Are berdiri perlahan. Gerakannya tenang, tapi udara berubah.
“Orang yang merasa perlu menjatuhkan orang lain biasanya tidak pernah benar-benar tinggi,” katanya dingin.
Desti ikut berdiri, menahan gengsi. “Aku cuma gak mau kamu dipermainkan.”
Are menatapnya sebentar. Kali ini jelas ada penilaian di sana. “Kamu salah orang.”
Langkahnya menjauh satu meter. Memberi jarak yang tegas.
“Dan satu lagi,” tambahnya tanpa menoleh, “kalau ingin merusak reputasi seseorang, pastikan dulu lawan bicaramu tidak lebih mengenalnya daripada kamu.”
Desti terdiam. Kata-kata Are membuatnya merasa seperti anak kecil yang ketahuan berbohong.
Are kembali duduk. Seolah percakapan tadi tidak pernah layak dianggap serius.
Desti mengepalkan tangan. Sejak awal… ia memang tidak pernah menyukai kakak tirinya itu.
Dan sekarang ia semakin membenci fakta bahwa pria seperti Are memilih Zelia.
Sementara itu, di ruang kerja, Atyasa berjalan menuju meja kayu mahoni yang di atasnya ada beberapa dokumen yang tersusun rapi di sisi meja.
Atyasa mengambil map paling atas, menyodorkannya pada Zelia. “Ini dokumen yang belum lengkap.”
Zelia menerimanya, menarik napas pelan. “Aku baca dulu.”
Atyasa mengangguk, tapi tatapannya mengawasi terlalu dekat.
Zelia membuka perlahan. Matanya menyapu tiap halaman. Tidak ada yang terlihat salah. Justru itu yang membuatnya makin waspada.
Beberapa detik kemudian, Zelia meraih ponselnya. “Aku panggil Are.”
Tangan Atyasa langsung menahan. “Tidak perlu. Dia orang luar.”
Zelia akhirnya mengangkat wajah, menatap ayahnya. "Dia bukan orang luar. Dia suamiku," katanya tegas, lalu menghubungi Are.
Atyasa mengepalkan tangannya perlahan. Anak yang dulu mudah diarahkan, kini berdiri dengan punggung tegak, suara tegas, dan tatapan yang tak lagi bisa ia kendalikan.
Di ruang tamu, ponsel Are bergetar. Baru sekal, tapi ia langsung berdiri tanpa ragu.
Desti yang sejak tadi memerhatikan refleks ikut berdiri. “Mau ke mana?” tanyanya dengan senyum manis yang dipaksakan.
Are bahkan tidak menoleh. “Permisi.”
Dian muncul dari arah dapur membawa nampan berisi minuman. “Minum dulu—”
Langkah Are tetap lurus melewatinya. Tanpa melambat. Tanpa basa-basi.
Dian berhenti di tempat. Tangannya sedikit menegang di bawah nampan. Matanya mengikuti punggung pria itu dengan gelisah.
Ada sesuatu dari cara Are bergerak. Tenang, tapi seperti seseorang yang selalu tahu harus ke mana.
Desti mendekati Dian, suaranya merendah, namun tatapannya tak lepas dari sosok yang menjauh.
“Aku belum pernah ketemu orang kayak dia, Ma.”
Tatapan itu bukan kagum biasa, tapi lebih seperti tantangan.
Dian menoleh pelan. “Jangan bermain api, Desti.”
Tapi Desti hanya tersenyum tipis. “Siapa bilang aku mau bermain?”
Dian tersenyum tipis. "Pemuda itu auranya berbeda. entah dari mana Zelia mendapatkan pria itu."
"Dia..." Desti menggigit bibirnya sendiri. Postur tubuhnya atletis. Rahangnya tegas..."
"Kau tertarik padanya?"
Tak lama kemudian, pintu ruang kerja terbuka.
Are masuk dengan langkah tenang tapi penuh tekanan.
Tatapan Atyasa mengeras.
Sedangkan Zelia… tanpa sadar langsung merasa lebih tenang.
“Kenapa?” tanya Are singkat.
Zelia menyerahkan dokumen itu padanya. Are menerima map itu tanpa terburu-buru.
Ia tidak langsung membaca keseluruhan. Hanya membalik beberapa halaman, berhenti, lalu kembali ke halaman sebelumnya.
Atyasa menyilangkan tangan. “Itu hanya revisi administratif. Tidak ada yang rumit.”
Are tidak menjawab. Jarinya bergerak pelan di sudut bawah halaman ketiga.
“Menarik,” gumamnya datar.
Zelia menoleh. “Apa?”
Are memutar dokumen itu sedikit agar Zelia bisa melihat.
“Pasal 7, ayat 3. Tambahan satu kalimat.”
Zelia membaca cepat.
Ahli waris wajib menyerahkan pengelolaan sementara aset warisan kepada wali keluarga sampai kondisi dianggap stabil oleh pihak wali.
“Bahasanya samar,” lanjut Are tenang. “Kata ‘sementara’ tidak diberi batas waktu. Dan ‘kondisi stabil’ ditentukan sepihak oleh wali keluarga.”
Tatapan Atyasa berubah tipis. “Itu prosedur pengamanan aset,” jawabnya dingin. “Zelia belum berpengalaman.”
Are mengangkat wajahnya perlahan. “Pengamanan atau pengambilalihan terselubung?”
Udara di ruangan tiba-tiba terasa menegang.
Dari luar pintu yang sedikit terbuka, Dian berdiri. Diam. Ponselnya terangkat rendah, kamera menyala tanpa suara. Ia tidak masuk, hanya merekam celah pintu.
Di dalam, Atyasa tertawa kecil.
“Kamu cepat sekali menuduh,” katanya. “Atau memang sejak awal kamu berniat mencampuri urusan keluarga kami?”
Are tidak terpancing. “Saya hanya membaca.”
Atyasa melangkah lebih dekat. “Kamu menikahinya terlalu cepat. Tanpa latar belakang jelas. Tanpa reputasi yang bisa diverifikasi. Lalu sekarang kamu bicara soal pengambilalihan?”
Zelia menegang. Serangan itu bukan soal dokumen lagi. Itu serangan ke Are.
“Kami hanya ingin memastikan aset keluarga tidak jatuh ke tangan yang salah,” lanjut Atyasa. “Kamu paham maksud saya.”
Are menatapnya lurus. “Justru saya paham.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu—
Zelia menarik pulpen dari atas meja. “Aku tanda tangan saja kalau begitu,” katanya tiba-tiba.
Atyasa sedikit terkejut. “Itu keputusan bijak.”
Are tidak bergerak. Zelia membuka halaman terakhir.
Pulpen menyentuh kertas. Ujung tintanya hampir menyentuh garis tanda tangan.
Untuk sepersekian detik, napas Atyasa tercekat.
Dan—
.
...🔸🔸🔸...
...“Jebakan terbaik seringkali tersembunyi dalam satu kalimat yang terlihat biasa.”...
...“Ia mungkin anaknya, tapi bukan lagi bidaknya.”...
...“Di meja itu, yang hampir kalah justru yang terlalu yakin menang.”...
...“Kadang keluarga tidak melindungi, mereka menguji seberapa kuat kau bisa berdiri.”...
...“Ia tidak meninggikan suara. Ia hanya membaca. Dan itu sudah cukup membuat mereka gelisah.”...
...“Ia bukan lagi gadis yang bisa diarahkan. Dan mereka baru saja menyadarinya.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Are punya Bukti Vidio yang sangat akurat dan jelas...
Are belum melihat tanda lahir yang ada di tubuhnya Zelia...bagaimana mau lihat,,tidur saja terpisah
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan