Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi, Gengsi, dan Aroma Jahe
Apartemen Ara kini tak lagi hanya berisi tumpukan berkas hukum. Di sudut meja makan, deretan tas pendingin abu-abu dari Devan mulai berjejer rapi—beberapa sudah kosong, beberapa lagi baru saja datang. Namun, pagi ini, ketenangan itu terus terusik oleh kehadiran Alaska yang datang lebih awal dari biasanya, membawa kotak makan premium dari restoran Jepang ternama.
"Buang saja bubur hambar itu, Ra," ujar Alaska sambil meletakkan kotak makannya dengan suara dentuman pelan di atas meja. "Aku membawakanmu Ochazuke spesial. Ikan salmonnya segar, dan teh hijaunya kualitas terbaik. Kau butuh nutrisi nyata, bukan makanan rumah sakit yang dikirim secara anonim tapi menjijikkan ini."
Ara, yang sedang mencoba menyesap teh jahe hangat kiriman Devan, mendongak. "Al, ini bukan makanan rumah sakit. Ini... buatan tangan."
"Justru itu yang lebih mengerikan," Alaska menarik kursi, duduk tepat di depan Ara. "Dia sedang melakukan gaslighting medis padamu. Dia ingin kau merasa bahwa hanya dia yang tahu apa yang terbaik untuk perutmu. Itu taktik manipulasi, Ara. Dia ingin kau bergantung padanya lagi melalui rasa sakitmu."
"Aku tidak bergantung padanya," sanggah Ara lirih. "Aku hanya menghargai usahanya. Setidaknya, dia tahu kalau lambungku tidak bisa menerima salmon mentah sekarang."
Alaska terdiam, wajahnya mengeras. "Jadi kau membelanya? Setelah semua yang dia lakukan? Setelah dia membuatmu hampir mati di parkiran itu?"
"Aku tidak membela siapa pun, Al! Aku hanya ingin makan dengan tenang tanpa harus mendengar debat kalian berdua!" Ara meletakkan sendoknya. Rasa perih di perutnya kembali sedikit berdenyut—bukan karena makanan, tapi karena tekanan emosional.
Konfrontasi di Kantor Firma
Siang harinya, ketegangan berpindah ke kantor firma hukum milik Ara. Sebuah amplop cokelat besar tiba-tiba mendarat di meja resepsionis. Isinya adalah dokumen-dokumen lama tentang pengambilalihan lahan yang kini sedang Ara tangani. Namun, ada satu lembar slip gaji dan catatan operasional laboratorium yang mencantumkan nama: Devano Altair Wren.
Ara menatap dokumen itu dengan tangan gemetar. "Mas Devan... terlibat dalam pendanaan awal proyek ini?"
Tepat saat itu, pintu ruang kerjanya terbuka tanpa diketuk. Devan berdiri di sana, masih mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku, tampak seperti baru saja selesai dengan urusan dapur atau laboratoriumnya.
"Aku tahu kau baru saja menerima dokumen itu," suara Devan terdengar berat.
Ara berdiri, melemparkan dokumen itu ke atas meja. "Apa ini, Mas? Kau bilang kau ingin membantuku? Tapi namamu ada di sini, di daftar orang-orang yang mendanai penggusuran lahan yang sedang aku bela!"
Devan melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan tenang. "Itu catatan sepuluh tahun lalu, Ara. Saat aku baru lulus dan Kakek memaksaku menginvestasikan warisan Ibuku ke perusahaan cangkang miliknya. Aku tidak tahu uang itu digunakan untuk apa sampai aku memeriksa kembali arsip lama Kakek minggu lalu."
"Kau selalu punya alasan!" seru Ara, matanya mulai berkaca-kaca. "Kenapa setiap kali aku mencoba percaya bahwa kau sudah berubah, masa lalumu selalu datang untuk memukulku?"
"Itulah sebabnya aku di sini," Devan mendekat, namun berhenti tepat tiga langkah dari meja Ara—batas aman yang selalu ia jaga. "Aku tidak datang untuk minta maaf kali ini. Aku datang untuk memberikanmu peluru. Di halaman terakhir dokumen itu, ada bukti transfer balik yang aku lakukan secara ilegal saat aku menyadari dana itu digunakan untuk hal kotor. Gunakan itu untuk menghancurkan klien lawanmu di pengadilan besok."
Ara tertegun. "Kau... kau memberikan bukti yang bisa menyeret namamu sendiri ke penyelidikan etik kepolisian?"
"Reputasiku tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kebenaran yang kau perjuangkan," Devan menatap Ara dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang kini tak lagi mengandung kedinginan, melainkan pengabdian yang putus asa. "Aku sudah selesai dengan dunia yang penuh rahasia, Ara. Jika namaku harus hancur agar kau bisa menang, maka hancurlah."
Di Luar Ruangan...
Alaska, yang sedari tadi berdiri di balik pintu kaca, meremas gagang pintu hingga buku jarinya memutih. Ia mendengar semuanya. Ia berencana masuk untuk mengusir Devan, namun langkahnya terhenti. Ia melihat bagaimana Ara menatap Devan—bukan lagi dengan ketakutan murni, melainkan dengan keraguan yang mulai bercampur dengan rasa terima kasih.
Alaska tahu, ia mulai kehilangan kendali atas situasi ini. Ia segera mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang.
"Cari tahu semua tentang keterlibatan Devan di proyek sepuluh tahun lalu itu. Jika dia ingin bermain sebagai pahlawan yang mengorbankan diri, aku akan memastikan dia benar-benar berkorban sampai tidak tersisa apa pun," perintah Alaska dengan suara dingin.
Kembali di dalam ruangan, Ara masih terpaku memegang dokumen itu.
"Kenapa kau melakukan semua ini, Mas? Kau memasak untukku, kau memberikan bukti yang membahayakan dirimu... apa yang kau cari?" tanya Ara, suaranya kini melunak.
Devan tersenyum tipis, sebuah senyum sedih yang membuat hati Ara berdenyut. "Aku tidak mencari pengampunanmu, Ara. Aku hanya ingin kau tahu bahwa di dunia yang egois ini, ada satu orang yang siap menjadi pijakanmu saat kau lelah berjalan. Meskipun orang itu adalah orang yang dulu mematahkan kakimu."
Devan berbalik, hendak keluar, namun ia berhenti sejenak. "Jangan lupa habiskan sup labu di tas pendingin tadi. Aku menambahkan sedikit madu agar perutmu tidak kembung setelah membaca dokumen yang memusingkan itu."
Saat Devan keluar, ia berpapasan dengan Alaska di koridor. Kedua pria itu saling menatap—sebuah perang tanpa suara yang jauh lebih dahsyat daripada teriakan mana pun.
"Kau pikir dengan menjadi martir kau bisa memenangkan hatinya?" desis Alaska saat Devan melewatinya.
Devan berhenti, namun tidak menoleh. "Aku tidak sedang berkompetisi dengamu, Alaska. Aku sedang berperang dengan diriku sendiri. Dan sejauh ini, aku sedang menang."
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/