Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
An Echo Across The Field
Jumat sore kembali menyapa dengan langit yang sedikit mendung, memberikan nuansa abu-abu yang tenang di atas lapangan baseball Mildford Hall.
Fraya sudah duduk lebih dulu di bangku kayu yang sama, namun kali ini tidak ada aksi melempar kamus. Ia hanya diam, menatap ujung sepatunya sambil sesekali menghela napas panjang.
Langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Fraya mendongak, mendapati Damian berjalan ke arahnya. Cowok itu tidak memakai jas sekolahnya, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampakkan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya.
"Kamu telat dua menit," gumam Fraya saat Damian duduk di hadapannya.
"Tadi ada urusan kecil dengan tim Lacrosse," sahut Damian santai. Ia melirik meja yang kosong. "Mana sogokannya? Aku tidak melihat kotak makan biru hari ini."
Fraya terdiam sejenak, lalu merogoh tasnya. Bukannya kotak makan, ia mengeluarkan cokelat batangan mahal yang diberikan Damian di perpustakaan Senin lalu. Cokelat itu masih utuh, namun kemasannya sedikit lecek.
"Aku tidak suka berhutang budi," ujar Fraya sambil menyodorkan cokelat itu kembali. "Simpan saja. Dan terima kasih untuk... yang di koridor kemarin."
Damian menatap cokelat itu, lalu menatap mata Fraya. Ia tidak mengambilnya. "Anggap saja itu bayaran karena kamu sudah mau repot-repot membuatkan cookies minggu lalu. Makanlah. Wajahmu terlihat seperti orang yang butuh gula karena terlalu banyak berpikir."
Fraya akhirnya menyerah dan menyimpan kembali cokelat itu. Mereka mulai membuka buku, namun suasana sore ini terasa jauh lebih tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada sindiran pedas. Hanya suara lembaran kertas yang dibalik dan penjelasan Damian yang mendalam tentang struktur kalimat.
"Fraya," panggil Damian di sela-sela penjelasannya.
"Hm?" Fraya mendongak dari catatannya.
Damian menumpu dagunya dengan telapak tangan, matanya menatap Fraya dengan rasa ingin tahu yang lebih dalam dari biasanya.
"Kenapa Oxford? Maksudku, dengan otakmu yang katanya jenius itu, kamu bisa masuk ke mana saja. Kenapa harus bersusah payah mengincar Oxford, sampai rela berhadapan dengan bahasa Jerman dan... denganku?"
Fraya terdiam sejenak, ia menatap hamparan rumput lapangan yang mulai menggelap di bawah sinar lampu yang baru menyala.
"Aku ingin jadi dokter bedah, Damian. Sejak kecil, impianku cuma satu, memegang pisau bedah di ruang operasi terbaik di dunia. Dan bagiku, Oxford adalah tempat di mana semua itu berawal," jawab Fraya pelan, ada nada keteguhan dalam suaranya. "Yah, walaupun Mamaku sebenarnya lebih ingin aku masuk Harvard. Mama pikir aku akan lebih suka kalau tetap di Amerika. Tapi Mama juga tahu sejak dulu Oxford itu impian terbesarku. Jadi, aku di sini sekarang. Bertaruh segalanya."
Damian tertegun. Ia tidak menyangka ada cita-cita sebesar itu di balik sosok gadis yang ia anggap "hanya anak baru yang pemberani". Menjadi dokter bedah bukan hanya soal kecerdasan, tapi soal ketahanan mental—sesuatu yang jelas-jelas dimiliki Fraya.
"Dokter bedah, ya?" Damian mendadak menyeringai, sebuah senyum tipis yang entah kenapa terlihat sangat tulus. "Aku tidak bisa membayangkan pasienmu nanti. Bukannya sembuh karena operasi, mereka mungkin malah pingsan duluan karena dimarahi oleh dokter galak sepertimu."
Fraya melotot, tangannya refleks memukul lengan Damian dengan pulpennya. "Screw you, Harding! You are looking at the future best surgeon doctor! You'd better not messing up with me."
Damian tertawa, tawa renyah yang membuat dadanya terasa ringan. "Tapi jujur saja, Fraya. Setidaknya kalau nanti aku butuh operasi, aku tahu harus mencari dokter yang bisa meninju hidung orang sampai patah. Tangannya pasti sangat kuat."
"Damian!" wajah Fraya memerah, setengah kesal setengah menahan tawa.
"Tapi serius," Damian kembali menatapnya, kali ini dengan intensitas yang membuat napas Fraya sedikit tercekat. "Kamu pasti bisa. Dengan keras kepalamu itu, jangankan Oxford, kurasa Inggris dan seluruh isinya ini pun bisa kamu taklukkan."
Fraya tertegun melihat binar di mata biru Damian. Tidak ada keangkuhan di sana, hanya dukungan yang terasa begitu nyata. Ia menyadari satu hal: Damian ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan.
"Terima kasih, Harding," bisik Fraya tulus.
Damian tidak menjawab, ia hanya membolak-balik halaman buku Fraya dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya. Dalam hatinya, ia mengakui sesuatu yang mulai menakutkan: ia sangat menikmati momen ini. Duduk di sini, di bawah lampu lapangan, berdebat dengan gadis dokter bedah masa depan yang menurutnya... benar-benar luar biasa cantik saat sedang serius.
Ia memperhatikan bagaimana jemari Fraya yang sedang memainkan ujung pulpen.
Tanpa sadar, Damian menggerakkan tangannya ke atas meja, hampir menyentuh jemari gadis itu, sebelum ia teringat suara Axel yang menggema di kepalanya: '
Aku mau lihat dia hancur secepat mungkin.'
Damian menarik tangannya kembali dengan cepat, menciptakan bunyi gesekan kursi yang canggung.
"Sudah malam. Ayo pulang," ujar Damian tiba-tiba, suaranya kembali kaku karena ia harus menutupi debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu liar.
Fraya mengernyit bingung melihat perubahan sikap Damian yang mendadak, namun ia hanya mengangguk dan mulai membereskan bukunya. Saat mereka berjalan beriringan menuju area parkir, Damian diam-diam melirik Fraya yang berjalan di sampingnya.
Ia merasa rencananya mulai retak.
Bagaimana mungkin ia bisa menghancurkan seseorang yang memiliki impian seindah itu?
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit