NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.26 Pelabuhan tepi danau

Udara di luar bunker Zurich mulai menghangat, pertanda musim semi sedang mencoba mengusir sisa-sisa musim dingin yang kejam.

Di dalam ruangan beton itu, atmosfernya masih terasa seberat timah. Sekar berdiri di depan cermin kecil yang retak, memotong rambutnya lebih pendek lagi—sebuah transformasi fisik yang ia lakukan setiap kali ia harus mengganti kulit jiwanya.

Di atas meja medis, Arini sedang duduk sambil memakan roti gandum dengan lahap. Warnanya sudah kembali ke pipinya, dan binar matanya tidak lagi sayu.

Sekar tahu bahwa kesembuhan fisik hanyalah permulaan. Trauma yang mengalir di darah Arini telah meninggalkan bekas yang tak kasat mata.

"Ibu, kita mau ke mana lagi?" tanya Arini, suaranya kini lebih bertenaga.

Sekar menoleh, tersenyum kecil sembari merapikan poni anaknya. "Kita akan pulang, Arini. Tapi bukan ke rumah yang dulu. Kita akan mencari tempat di mana matahari bersinar sepanjang tahun, tempat di mana tidak ada yang mengenal nama kita."

"Apa Om Alvin ikut?"

Sekar melirik ke arah sofa, di mana Alvin sedang mencoba memakai kemeja bersihnya dengan satu tangan yang masih terbebat perban. Alvin mendongak, mendengar namanya disebut.

"Tentu saja aku ikut, Bocah," sahut Alvin dengan nada sombongnya yang mulai pulih. "Siapa lagi yang akan membayar tiket pesawat kelas satu kalian jika bukan aku? Lagipula, aku belum menagih biaya jahitanku pada ibumu."

Sekar mendengus, namun ada binar syukur di matanya. "Alvin, kita tidak bisa lewat bandara komersial. Von Hess pasti sudah menyebar informan di setiap gerbang keberangkatan Schengen."

Alvin berdiri, berjalan pincang namun tetap terlihat berwibawa. Ia mengeluarkan sebuah ponsel satelit yang baru. "Aku sudah memikirkannya. Kita tidak akan terbang dari Swiss. Kita akan menuju Italia, melalui jalur darat melintasi Terowongan Gotthard. Di pelabuhan Genoa, ada sebuah kapal kargo milik rekan lamaku yang akan berlayar menuju Singapura. Dari sana, kita bisa masuk ke Indonesia lewat jalur laut yang lebih tenang."

Rencana Alvin bukan tanpa risiko. Menyeberangi perbatasan dalam kondisi mereka yang babak belur adalah tindakan nekat. Namun, bagi Alvin, risiko adalah oksigennya.

"Sekar, dengarkan aku," Alvin mendekat, suaranya merendah. "Begitu kita sampai di Indonesia, kita tidak akan tinggal di Jawa. Aku sudah menyiapkan sebuah lahan kecil di pesisir Lombok. Atas nama identitas baru kalian. Kamu akan menjadi dr. Maria, seorang relawan medis, dan Arini akan menjadi anakmu yang sekolah di rumah. Tidak ada jejak Wijaya. Tidak ada jejak Lukas."

Sekar menatap Alvin dalam-dalam. "Lalu bagaimana denganmu? Kamu tidak bisa selamanya bersembunyi di balik bayang-bayang kami, Alvin. Kamu punya hidupmu sendiri."

Alvin tertawa pahit, tangannya merogoh saku untuk mencari rokok, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Arini. "Hidupku sudah selesai saat aku memutuskan untuk mengkhianati keluargaku demi menjaga rahasia tentang putri kembar Rahman. Sekarang, aku hanyalah seorang cameo dalam ceritamu, Sekar. Dan aku cukup puas dengan peran itu."

Perjalanan menuju Italia dimulai saat tengah malam. Mereka menggunakan mobil van tua yang tidak mencolok. Alvin menyetir dengan satu tangan, sementara Sekar memeluk Arini yang tertidur di kursi belakang.

Saat mereka melintasi pegunungan yang berkabut, Sekar merasakan sensasi dingin yang akrab di tengkuknya. Ia melihat ke arah jendela yang berembun. Di sana, di antara pantulan lampu jalan yang samar, ia seolah melihat wajah Rahman yang menatapnya dari luar.

Wajah itu tidak lagi penuh amarah atau penderitaan seperti saat di penjara. Rahman nampak tenang, seolah memberikan restu pada pelarian ini. Dan di sampingnya, sebuah siluet kecil—Lukas—melambai pelan sebelum kabut tebal menelan mereka sepenuhnya.

"Dia selalu ada di sana, ya?" bisik Alvin tiba-tiba, memecah keheningan.

Sekar tersentak. "Kau merasakannya juga?"

"Aku tidak butuh indra keenam untuk tahu bahwa hantu pria itu masih menjagamu lebih baik daripada pria hidup mana pun," Alvin mendesah, matanya tetap fokus pada jalan yang berkelok. "Terkadang aku cemburu pada Rahman. Dia mati sebagai martir di matamu, sementara aku harus terus hidup dan berurusan dengan tagihan-tagihan ini."

"Alvin, berhenti bicara sarkas seperti itu," protes Sekar.

"Itu fakta, Sekar. Tapi tidak apa-apa. Setidaknya aku punya kelebihan yang tidak dimiliki hantu itu: aku bisa memegang tanganmu saat kamu ketakutan."

Alvin mengulurkan tangannya yang tidak memegang kemudi. Sekar ragu sejenak, namun akhirnya ia menyambut tangan itu.

Jemari Alvin terasa kasar dan penuh luka, namun hangatnya nyata. Di tengah badai hidupnya, tangan inilah yang menariknya keluar dari lubang jarum.

Pelabuhan Genoa nampak seperti hutan tiang kapal dan kontainer di bawah lampu sorot yang kuning. Aroma garam laut dan oli mesin memenuhi udara.

Alvin membawa mereka menuju dermaga paling ujung, di mana sebuah kapal kargo besar bernama The Blue Aegis sedang memuat barang.

Namun, sebelum mereka mencapai tangga kapal, tiga buah sedan hitam memotong jalur mereka.

"Sial," umpat Alvin. Ia segera mengerem mendadak. "Sekar, kunci pintu. Jangan keluar apa pun yang terjadi!"

Enam pria berpakaian taktis keluar dari mobil-mobil itu. Mereka bukan pesuruh biasa; mereka adalah tim pembersih khusus Von Hess.

Salah satu dari mereka membawa tablet digital, menunjukkan profil biometrik Arini yang sedang menyala merah.

"Alvin Pratama, serahkan anak itu dan inhibitornya," ujar pemimpin tim itu. "Tuan Von Hess tidak suka investasinya hilang di laut."

Alvin keluar dari mobil, berdiri tegap meski kakinya masih pincang. "Investasi? Kalian menyebut nyawa seorang anak sebagai investasi? Pantas saja laboratorium kalian meledak."

"Kami tidak punya waktu untuk berdebat. Ambil mereka!"

Saat para pria itu merangsek maju, Alvin mengeluarkan sebuah tabung kecil dari sakunya. Bukan senjata, melainkan sebuah detonator.

"Dengar baik-baik, para pecundang," suara Alvin terdengar jernih di tengah deru angin pelabuhan. "Di bawah dermaga ini, aku sudah menaruh muatan yang cukup untuk membuat kapal kargo ini dan semua sedan mahal kalian tenggelam ke dasar Mediterania. Jika kalian maju selangkah lagi, aku akan menekan tombol ini. Kita semua akan jadi sejarah."

Pemimpin tim itu tertawa meremehkan. "Kamu tidak akan melakukannya, Alvin. Kamu tidak akan membunuh wanita yang kamu cintai dan anaknya."

"Aku memang tidak akan membunuh mereka," Alvin menyeringai, sebuah seringai yang sangat berbahaya. "Karena Sekar dan Arini sudah ada di sisi lain dari zona ledakan. Mobil ini? Ini hanyalah umpan."

Tiba-tiba, dari arah kapal kargo, terdengar suara peluit panjang. Sekar dan Arini sudah tidak ada di dalam mobil van tersebut.

Saat pengejaran di kabut pegunungan tadi, Alvin sempat mengganti posisi mereka ke mobil lain yang dikemudikan oleh kontak rahasianya.

Mobil van yang sekarang berdiri di depan tim Von Hess hanya berisi Alvin dan tumpukan manekin yang dibalut selimut.

"Kalian terlalu fokus pada target utama, sampai lupa kalau aku adalah ahlinya pengalihan isu," Alvin tertawa keras.

"Tembak dia!" teriak pemimpin tim itu yang merasa tertipu.

Tembakan menyalak. Alvin melompat ke balik tumpukan kontainer tepat saat ban mobil van itu pecah.

Ia melepaskan detonator itu—bukan untuk meledakkan dermaga, melainkan untuk mengaktifkan kembang api sinyal yang luar biasa terang, membutakan penglihatan malam para pengejar.

Di tengah kekacauan itu, Alvin berlari menuju tangga kapal kargo yang mulai bergerak naik.

Ia berhasil melompat dan berpegangan pada pinggiran besi tepat saat kapal mulai menjauh dari dermaga.

Peluru menyerempet lengan bajunya, namun Alvin berhasil memanjat naik ke dek. Ia terengah-engah, menjatuhkan dirinya di atas tumpukan tali tambang yang kasar.

Sekar berlari menghampirinya dari balik ruang kemudi, diikuti Arini. "Alvin! Kamu gila! Bagaimana kalau mereka benar-benar menembakmu?"

Alvin duduk, mencoba mengatur napasnya yang sesak. Ia melihat ke arah dermaga yang semakin menjauh, di mana orang-orang Von Hess nampak seperti semut kecil yang marah.

"Setidaknya aku memberikan pertunjukan yang bagus untuk mereka, kan?" Alvin meringis kesakitan, memegang lengannya yang berdarah lagi. "Dan hei, lihat sisi baiknya. Kita sedang menuju laut lepas. Mereka tidak punya yurisdiksi di air internasional."

Sekar berlutut di depan Alvin, merobek bagian bawah gaunnya untuk membalut luka baru di lengan Alvin. "Kamu hampir mati, Alvin. Berhenti bersikap seolah-olah ini adalah lelucon."

Alvin menatap Sekar, kali ini tanpa sarkasme. "Aku hampir mati berkali-kali sejak mengenalmu, Sekar. Tapi setiap kali aku melihatmu dan Arini selamat, rasanya seperti aku baru saja memenangkan lotre paling besar di dunia."

Arini mendekat, memberikan buku gambarnya kepada Alvin. "Om Alvin, ini untuk Om."

Alvin membuka buku itu. Di halaman terakhir, Arini telah menggambar tiga orang yang berdiri di atas sebuah kapal.

Seorang wanita cantik, seorang anak kecil, dan seorang pria dengan jas yang compang-camping namun memakai mahkota mainan. Di langit, ada dua bintang yang bersinar paling terang—Lukas dan Rahman.

Alvin terdiam cukup lama menatap gambar itu. Ia merasa sebuah gumpalan emosi menyumbat tenggorokannya. "Mahkota ini terlalu besar untukku, Arini. Om lebih cocok memakai topi bajak laut."

"Tidak," ujar Arini serius. "Ibu bilang, pahlawan tidak selalu memakai jubah. Terkadang mereka memakai jas yang mahal dan bicara kasar."

Sekar tersenyum, air mata haru menggenang di matanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Alvin. Kapal kargo itu membelah ombak Mediterania yang tenang, menuju cakrawala yang mulai terang oleh fajar.

Minggu-minggu berikutnya di atas kapal adalah masa penyembuhan bagi mereka bertiga.

Sekar menghabiskan waktunya memantau kesehatan Arini, memastikan residu serum itu benar-benar telah larut. Alvin, dengan bantuan peralatan medis kapal, perlahan memulihkan lukanya.

Mereka sering menghabiskan malam di dek, menatap bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya. Di sana, di tengah samudra yang luas, nama Wijaya, Von Hess, dan Pratama terasa sangat jauh dan tidak relevan.

"Apa kau yakin dengan Lombok?" tanya Sekar suatu malam.

"Sangat yakin," jawab Alvin. "Aku sudah membeli sebuah klinik kecil di sana atas namamu. Kamu bisa mengobati nelayan, anak-anak, siapa pun. Arini bisa menggambar laut setiap hari."

"Dan kamu?"

Alvin menatap ke arah horison. "Aku akan menjadi investor diam-diam. Mungkin membuka penyewaan papan selancar atau semacamnya. Aku sudah lelah dengan angka-angka di bursa efek. Aku lebih suka menghitung jumlah ombak."

Sekar menggenggam tangan Alvin. "Terima kasih sudah membawaku pulang, Alvin. Bukan ke rumah yang penuh luka, tapi ke rumah yang memberikan harapan."

"Jangan berterima kasih padaku," Alvin mengeratkan genggamannya. "Berterima kasihlah pada dirimu sendiri karena tidak pernah menyerah. Dan berterima kasihlah pada hantu pria itu... dia benar-benar memilihkan pengawal yang hebat untukmu."

Mereka tertawa bersama, suara mereka hilang ditelan deru ombak. Di kejauhan, bayangan hitam kapal kargo itu terus bergerak mantap menuju timur.

1
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!