Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stone At Black
“Dik Mire… kasihan sekali,” ujar Noel, kakak ketiga, dengan wajah iba. Suaranya bergetar, nyaris menangis.
Sontak Mirea menoleh, terkejut.
“Dulu di panti asuhan cuma pakai baju dan makan seadanya,” lanjut Noel dengan mata berkaca-kaca. “Pasti belum pernah melihat barang sebagus ini…”
“No—no, bukan begitu,” Mirea buru-buru menyela, mencoba menenangkan. “Bukan itu maksudku.”
“Dik Mire, tenang saja,” kata Theo, kakak kedua, sambil tersenyum lembut. “Kami akan menebus semua kesalahan kamu dulu pada mu. Mulai sekarang, kami akan menyayangimu dengan baik.”
Theo lalu mengeluarkan lima Black Card sekaligus dan menyodorkannya.
“Black Card.”
Pandangan Mirea langsung tertuju pada kartu-kartu itu.
“Lima…?” gumamnya pelan sambil mengambil dan meneliti satu per satu. “Banyak banget…” batinnya terheran.
“Iya,” Theo mengangguk puas.
Aren, kakak pertama, ikut mendekat dengan wajah penuh semangat. “Besok kami akan mengadakan pesta pengakuan keluarga yang megah. Kami akan mengumumkan ke seluruh dunia bahwa putri bungsu keluarga Rothwell telah kembali.”
Noel dan Theo mengangguk setuju.
“Biasanya gadis-gadis yang datang ke pesta perlu pakaian dan perhiasan terbaik,” lanjut Aren. “Pakai saja kartu-kartu ini. Beli apa pun yang kamu mau.”
Mirea menatap ketiga kakaknya bergantian.
Inikah rasanya kasih sayang keluarga?
Hatinya terasa hangat.
Menyenangkan juga… Batinnya
Tak mau kalah menunjukkan perhatian, Noel mendekat dan meraih tangan Mirea. “Dik mire, ayo ikut kakak ke sana.”
Ia sengaja menuntunnya menjauh dari Aren dan Theo. Setelah memastikan kedua kakaknya tidak memperhatikan, Noel menunduk dan berbisik pelan.
“Dik Mire, ada satu tempat namanya Stone At Black. Kita bisa beli perhiasan dan pakaian langka di sana. Kamu mau gak pergi sama Kak Noel?”
Mirea terdiam sejenak.
Stone At Black?
Bukankah itu bisnis yang aku jalankan dari balik layar?
Tempat yang bahkan orang berkuasa pun bisa celaka kalau salah langkah masuk ke sana…
Keluarga Rothwell ini memang kaya, tapi mereka orang kaya baru.
Berani juga mereka ke sana. Batin Mirea
Saat Mirea masih berpikir, Noel sudah merogoh sakunya.
“Tadaaa~”
Ia mengeluarkan dua tiket dan menunjukkannya dengan bangga. “Kak Noel bayar mahal untuk dapat tiket masuk ini.”
Mirea meletakkan gelas susu di meja, lalu mengambil kedua tiket itu. Sekilas saja matanya menelusuri detailnya cukup untuk melihat kejanggalan.
Tiketnya Palsu, batinnya dingin.
“Kak Noel,” tanyanya dengan nada polos, “Apa Kakak dapat tiket ini dari kenalan Kakak?”
“Iya,” jawab Noel ceria. “Dari Teman dekatku, Boris Johnson. Dia baik banget, dia nggak peduli kalau aku orang kaya baru. Nanti kalau sempat, aku kenalin kalian ya.”
Mirea terdiam sebentar, lalu tersenyum tipis.
“Oke,” katanya sambil menggandeng tangan Noel. “Aku sudah nggak sabar mau ke Stone At Black bersama Kakak”
Noel tersenyum puas.
Di dalam hati Mirea, pikirannya berubah tajam.
Aku mau lihat… orang brengsek mana yang berani mengincar keluargaku.
......................
“Oke, aku mengerti,” ujar Farel pada seseorang di seberang telepon. Ia lalu mematikan panggilan.
“Tuan Kael,” katanya sambil menoleh ke kursi belakang.
Kaelion mengangkat pandangan.
“Aku dapat info,” lanjut Farel santai. “Tunanganmu dan kakak ketiganya akan pergi ke Stone At Black.”
Kael menarik napas pelan. “Ayo jalan.”
Tanpa banyak kata, Farel menginjak pedal gas. Mobil melaju menuju sebuah tempat gelap yang tersembunyi di pusat kota.
Stone At Black bukan tempat biasa.
Itu adalah bisnis yang dijalankan Mirea dari balik layar. Tempat distribusi barang ilegal kelas atas. Diskotik? Sudah pasti. Eksotis, elit, dan memerlukan tiket khusus. Hukum tidak lagi berarti apa-apa di sana yang berkuasa, dialah pemenangnya.
Di depan pintu masuk, seorang wanita berambut hitam dengan garis merah, dikepang rapi dan diikat satu, berdiri mengenakan pakaian hitam seksi.
“Tiket masuknya,” ujarnya ramah.
Seorang pengunjung menyerahkan tiket. Wanita itu memeriksanya, lalu ekspresinya berubah drastis.
“BERANI-BERANINYA PAKAI TIKET PALSU UNTUK MENIPUKU?!” bentaknya.
“Menurut peraturan,” lanjutnya dingin, “potong tiga jarinya.”
Dua penjaga langsung datang.
“Aku nggak tahu tiketnya palsu!” teriak pria itu panik sambil berlutut. “To... Tolong lepaskan aku!”
Teriakannya menggema saat tubuhnya diseret pergi.
Noel menelan ludah ketakutan.
Mirea melirik kakaknya sekilas.
“Ah Dik Mire… ayo kita masuk,” ujar Noel, berusaha terlihat berani.
“Iya, Kak,” jawab Mirea polos, melangkah bersamanya.
“Tiketnya?” tanya wanita penjaga dengan senyum ramah.
Noel gugup. “A—aku…”
Ia mulai menyodorkan tiket.
“Tunggu dulu.”
Mirea menahan tangan kakaknya.