NovelToon NovelToon
Cuz I'M Your Home

Cuz I'M Your Home

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Cintamanis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

“Aku memang gak mau ngasi tau kamu sampai hari ketiga suamimu selesai. Tapi, Marwan, Marwan itu malah ngehubungin kamu. Apa karena kelewat senang dikasi duit atau apa. Tapi, jujur aku sempat takut pas kamu marah tadi. Aku gak ada maksud mau nyembunyikan semuanya. Aku bakal jelasin pas sudah masa tenangmu. Aku tau kamu pasti gak tega ninggalin Rouwheen lagi setelah Zayn gak ada. Tapi, kamu pasti kepikiran gimana caranya ngelunasin hutang tanpa kerja dan bertahan di sana.”

Sesaat, Echa terdiam mendengar semua penjelasan Garra, sebelum kemudian dia menghela napas pelan.

“Maaf, jadi, ngutang ke kamu, Gar?”

Garra yang tersenyum sambil mengusapi puncak kepala Rouwheen yang tengah menikmati ayamnya pun langsung menghentikan kegiatannya, dan menatap lekat Echa yang sudah melihatnya lebih dulu.

“Aku tahu, kita gak cukup akrab, Cha. Banyak yang mau aku ceritain tapi, kebanyakan, jadi, pelan-pelan aja. Satu-satu, ya,” ucap Garra tulus, “yang penting jangan merasa ngutang atau sungkan kalo ada apa-apa. Kondisi kita sudah sama jadi, orang mau ngomong apa, gak ada yang bisa mereka gosipkan. Kamu janda, aku duda.”

Sekilas tampak Echa menahan senyum geli.

“Baru janda dua hari, Gar. Kamu, kan, sudah hampir sembilan tahun.”

“Hahaha…yang penting sama, Cha.”

Diam, beberapa saat mereka hanya fokus dengan Rouwheen yang kini menikmati kentangnya.

“Mmm…terus, duit 250 juta-nya gimana aku bayarnya?” tanya Echa ragu.

Lagi, Garra tersenyum dan menatap Echa.

“Jalani, Cha. Gak usah dijadikan beban. Jangan mikirin soal nikah yang aku omongkan. Cukup dijalani. Anggap aja Tuhan kasi kamu rezeki lewat aku.”

“Tapi, jujur aku malas kalau harus nemuin Bosku di Samboja lagi. Aku gak mau lagi ketemu orang-orang di sana. Aku tahu, mereka baik. Maksudku, ya, mereka ngolok aku di belakang pun aku gak peduli. Mereka bilang, aku sengaja ngambil tempat di sana waktu tes PNS. Jadi, mereka pikir, aku ngerebut tempat teman mereka. Padahal aku cuma kelem…”

“Itu alasan kenapa aku urus semuanya, Cha. Aku tahu semuanya. Aku mantau kamu dari awal kamu hubungan sama Zayn sampai detik di mana Zayn ngehembusin napas terakhir. Aku gak pernah ngelepas pantauanku. Kenapa? Karena ada sesuatu yang sudah aku janjikan.”

Kening Echa pun berkerut.

“Janji? Apa?”

“Makanya tadi aku bilang, satu-satu,” ucap Garra dengan senyum geli, “kalo kuomongin semua, nanti tamat.”

Lagi, Echa menahan senyum geli.

“Gar, tapi, serius ini betulan aku sudah keluar dari sana? Aku bingung, di satu sisi, aku senang, di satu sisi aku bingung mau kerja di mana. Di klinik yang kemarin sudah keisi penuh kata Adekku.”

“Kerja sama aku. Temani aku ke mana aja. Tetap di sampingku mau gimanapun kondisinya dan…temani aku tidur.”

Kedua mata Echa terbelalak mendengar kalimat terakhirnya namun, dia jelas hampir tertawa dan membuat Echa memukul cukup kuat lengannya.

“Heh! Mulut,” ujar Echa kesal.

“Hahaha…becanda, Cha. Tapi…” tampak Garra kembali serius, “betulan tawaranku tadi. Kerja sama aku. Tapi, bukan kerja yang tadi aku sebutkan. Betulan kerja sesuai passion sama bidang pendidikanmu dan aku jamin, kamu bakalan betah dengan lingkungannya.”

“Ikut…pindah ke Korea?” tanya Echa ragu.

“Disebut pindah gak juga. Disebut gak pindah gak juga. Yang jelas kita bakal bolak-balik ke sana paling gak dua atau tiga bulan sekali.”

“Tapi, Rouwheen bisa ikut gak?”

“Kalo pas santai, kita bisa ajak Rouwheen. Tapi, kalo pas serius, kita harus angkut satu rumah. Karena kalo pas serius kita bisa netap di sana paling gak tiga bulan dan aku pun gak mau kamu nitipkan Rouwheen sama orang lain. Mending nitip sama Mamamu. Amat sangat aman.”

“Memang ngapain?”

“Pelan-pelan, Cha. Aku masih nunggu kabar orang dulu.”

Kening Echa kembali berkerut.

“Kamu jual beli ginjal harga 5M, kah?”

Dan pada akhirnya, ledakan tawa Garra pun terlepas setelah sekian lama tertahan.

“Chaaa…Echaa.. Tuhaaan. Aku gak segila itu, Cha. Tujuh belas taun aku jadi WNI di Korea, Cha. Kalo selama itu aku bikin kerjaan gitu, apa iya, sekarang aku bisa duduk di sini sama kamu? Beasiswa, Chaaa. Beasiswaku hangus kalo sampai aku begitu. Astagaaa…hahaha…”

“Diiih…abis kamu dapet duit kaya gampang banget.”

“Bukan gitu, Cha. Semua pake proses. Kamu kira aku gak pernah ngerasa kelaparan di sana. Gini, aku dapet beasiswa bareng David. Selama itu kami jalanin tanpa bisa ketemu orangtua. Tiga tahun awal langsung di kontrak kerja di perusahaan jadi babu karyawan lain tanpa dapat jatah cuti. Mabok belajar, mabok kerja. Semua dijalani. Orang libur kami kerja. Orang bisa ketemu keluarga kami merana. Coba kamu bayangkan kuliah sambil kerja?”

“Mmm…gampang kok. Bayangkan aja soalnya. Hehehe…”

“Hahaha…ya, iya. Enak, Cha. Karena setiap orang punya ujian sama prosesnya masing-masing.”

“Tapi, kok, bisa kelaparan?”

“Gimana, ya? Sebenernya gak kelaparan banget, cuma buat jajan gak ada. Karena waktu itu kaya proses ngangkat dunia perkorean lagi gila-gilanya jadi, kaya duit jatah lembur itu ternyata dikurangin buat mendukung kestabilan negara. Kami di gaji sambil kuliah di sana. Nah, aku, tuh, biasa ngirim semua gajiku ke Mama sama Bapak karena aku pikirnya masih ada duit lembur, kan. Tapi, ternyata, duit jatah lemburnya gak cukup buat hidup setengah bulan. Alhasil, sama David kemaren betul-betul bingung. Tapi, Tuhan pasti baik banget sama makhluknya. Walaupun hampir mati tapi, belum sempat. Waktu itu, gak terlalu banyak lembur. Jadi, nyoba jadi pelayan kafe. Syukur diterima. Lumayan jadinya.”

“Ya, diterima, lah. Muka kalian mendukung.”

“Hahaha…aku tau, aku ganteng dari David, Cha.”

“Dih,” cibir Echa, “udah, yok, pulang. Bentar lagi jam enam. Undangannya bentar lagi datang.”

“Ya, udah, ayok. Sini, Rouwheen biar aku yang gendong.”

“Serahmu. Yok, Nak, pulang.”

Aku…Bahagia walau hanya sebatas ini…

1
Amiera Syaqilla
beautiful story💕
goyangi13: thank u 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!