Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Membuat Perangkap Untuk Xavier
Mia melirik Xavier dengan kesal, dia awalnya hanya meminta Xavier untuk membujuk Queen. Akan tetapi, sampai larut malam pria itu baru sampai ke apartemennya.
Mia melipat kedua tangannya di dada. Dia menatap Xavier tajam. Terlihat jelas jika dia sedang marah dan cemburu.
"Kenapa lama sekali? Bahkan teleponku, chatku tidak ada satupun yang kamu balas."
"Mia, aku lelah sekali. Tolong sekali ini saja jangan buat masalah denganku."
Mendengar perkataan Xavier, kemarahan Mia semakin memuncak. Dia menunjuk-nunjuk Xavier sambil berteriak, "Jadi menurutmu aku ini masalah? Kamu seharusnya mikir, Xavier. Aku ini pacar kamu."
"Aku tahu! Tetapi Queen adalah istriku. Aku lama karena harus berhadapan dengan ayah dan kakak Queen. Ternyata percuma saja aku ke sini. Kamu tidak bisa menjadi rumah untukku."
Xavier bangkit dan lantas pergi meninggalkan apartemen Mia. Mia berteriak dan bahkan memanggil manggil nama Xavier. Akan tetapi Xavier enggan berbalik.
"Si*alan! Ini semua gara-gara jal*ng itu. Queeeen ... kamu si*alan menyusahkan!"
Mia memukul sofa dengan keras. Kali ini dia benar-benar mengutuk Queen. Kalau saja bukan karena wanita itu, dia tidak akan seperti ini.
Mia menyalahkan takdirnya pada Queen. Seolah-olah semua kemalangan yang dia alami semuanya karena Queen.
Sementara itu Xavier yang marah, pergi ke sebuah club malam terkenal di kota itu. Dia duduk sambil menikmati minumannya. Apa yang dilakukan Xavier, semua dilaporkan oleh mata mata yang dikirim Bryan pada Bryan. Seperti malam ini, Karena Bryan ingin segera membantu menyelesaikan masalah Queen. Dia meminta si mata mata untuk menyiapkan perangkap rayuan pada Xavier.
Tak berselang lama, seorang wanita dengan postur tinggi dan seksi berjalan mendekat ke arah Xavier. Dia pura-pura tergelincir dan jatuh tepat di pangkuan Xavier.
"Aah, maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja."
Wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap Xavier dengan mata bulatnya yang jernih. Xavier seakan tersihir oleh kecantikan wanita itu. Dia lantas melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita yang berada di pangkuannya ini.
Dengan kesadaran penuh, Xavier mengusap pinggang gadis itu sehingga membuat gadis itu merintih manja. Tidak tahan dengan godaan ini, Xavier lantas mengangkat dagu wanita itu dan lalu melumat bibirnya dengan lembut.
Wanita itu membalas ciuman Xavier. Keduanya saling berpagut dengan penuh gairah. Si penguntit segera mengambil foto sebanyak-banyaknya.
Xavier mengangkat perempuan itu dan membawanya naik. Di club itu juga disediakan kamar untuk menginap.
Xavier membuka salah satu pintu dan masuk lalu menguncinya. Penguntit itu mengikuti mereka hingga pintu. Tak berselang lama terdengar suara dari dalam. Suara yang penuh dengan sensualitas
Dua jam kemudian gadis sewaan yang dibayar si penguntit keluar. Dia menyerahkan kamera kecil di tangannya, pada penguntit itu.
Pria itu tersenyum dan lantas menyerahkan segepok uang bayaran. "Kerja bagus. Jika perlu mulai sekarang kamu tempel pria ini. Jika ada perkembangan, hubungi aku. Akan ada bayaran lebih."
Wanita itu mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar. Siapa yang tidak suka uang? Bagi Wanita itu asal bisa hidup mewah dia akan melakukan segala cara. Dia mendekat ke arah Xavier dan mengusap aset pribadinya dengan gerakan menggoda.
Xavier kembali merasakan gelora yang tadi sempat dia redam, dia membalikkan tubuh gadis itu dan mulai memacunya lagi seperti tadi.
Keesokan harinya, Xavier bangun dia melihat paras cantik gadis disebelahnya dengan linglung. Dia terduduk dan memegang kepalanya. Kilasan kejadian panas semalam kembali berputar di ingatannya seperti kaset.
Wanita di sebelah Xavier pun membuka mata. "Kamu sudah bangun?"
"Ya," jawab Xavier singkat.
"Semalam kita belum berkenalan. Namaku Calia. Kalau boleh tahu, siapa namamu?"
"Namaku, Xavier."
"Baiklah, Xavier. Senang bertemu denganmu. Pengalaman malam tadi benar-benar luar biasa," ujar Calia dengan ekspresi malu.
Xavier menatap Calia cukup lama. Dia menatap kecantikan di hadapannya tanpa berkedip.
"Calia, apakah ada orang yang pernah memujimu cantik?"
"Hmm, ku rasa tidak ada."
"Benarkah begitu?"
"Ku rasa memang seperti itu. Jarang ada yang memujiku, karena aku hampir tidak pernah keluar dari rumah. Ini kali pertama aku keluar rumah."
Calia tiba-tiba memegangi perutnya, "Ah, aku sepertinya perlu ke toilet."
Calia membungkus dirinya dengan selimut. Dia sengaja menarik benda itu, agar Xavier bisa melihat kejutan yang telah dia persiapkan.
Benar saja, setelah Calia masuk ke kamar mandi, Xavier melihat bercak darah di sprei. Di dalam hatinya, dia terkejut sekaligus senang.
Jadi dia masih perawan? Bagus sekali.
Xavier tersenyum, dia tidak menyangka malam tadi justru mendapat jackpot. Di dalam hati pria itu, mulai membandingkan antara Mia dan Calia. Mia memang cantik dan seksi, tetapi Calia lebih menarik ketimbang Mia. Calia cantik, seksi dan lembut. Dia merasa sifat Calia 1000 kali lebih baik dari pada Mia.
Calia keluar dari kamar mandi. Ekspresi malu-malunya membuat membuat Xavier merasa ingin menjatuhkannya lagi. Akan tetapi detik berikutnya, mata Xavier membelalak.
"Jam berapa sekarang?"
"Pukul delapak kurang lima menit," jawab Calia.
Xavier buru-buru bangkit dari ranjang dan memakai baju dengan sembarangan. Dia terlihat grasak grusuk. Calia dengan lembut mendekatinya.
"Ada apa denganmu?"
"Aku harus pergi ke kantor."
"Di hari libur seperti ini?" tanya Calia dengan ekspresi bingung yang tampak polos. Xavier membatu. Dia mengambil ponselnya dan melihat tanggal. Sial! Benar ini hari minggu. Kenapa dia begitu bodoh.
Xavier kembali meletakkan celananya. Dia lantas tertawa dan mengangkat Calia ke atas ranjang. Pagi itu suara rintihan dan des*han Calia membuat Xavier semakin bersemangat memacunya. Keduanya saling berpagut dan membelit lidah tanpa memikirkan apa-apa lagi.
Xavier bahkan lupa meninggalkan Mia di apartemen dalam kemarahan. Jika dia ingat, mungkin juga dia tidak akan peduli. Dengan keindahan sempurna di bawah kendalinya, dia tidak peduli pada Mia lagi.
Di tempat lain, tepatnya di ruangan kerja Bryan, seorang pria masuk sambil membawa amplop coklat. Bryan mempersilahkan orang itu duduk.
"Semuanya ada di sini, Tuan," ucap pria itu sambil menyodorkan amplop coklat yang dia bawa.
"Kerja bagus Luca."
Bryan mengambil ponselnya dan mengirimkan bayaran untuk Luca.
"Terima kasih, Tuan."
Bryan lantas mengeluarkan semua isi di dalam amplop tersebut. Saat isi amplop jatuh di mejanya. Bryan tersenyum miring.
"Dia sungguh tidak tahu diri."
Bryan mengambil kamera kecil di dalam amplop itu. Dia mulai menyambungkan kamera itu pada laptopnya. Saat Video diputar, Bryan menatap dengan serius. Dia sungguh merasa puas dengan hasil yang dia dapat. Bryan rasanya ingin segera menunjukkan benda benda itu pada Queen.