Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Menghancurkan
Pagi itu, Kay berdiri di depan cermin kos Mika dengan wajah pucat. Semalam ia tidak tidur setelah menerima video itu. Matanya sembab, lingkaran hitam di bawah mata semakin dalam. Ia memakai kaos putih polos dan celana jeans—pakaian sederhana, tidak ada niat untuk tampil cantik. Yang ia butuhkan hanyalah kebenaran.
Mika di belakangnya menghela napas. "Kay, lo yakin mau ke sana?"
Kay menatap bayangannya sendiri. "Gue harus lihat, Mik. Gue harus tahu."
"Tapi kalo emang benar dia sama orang lain?"
Kay diam beberapa saat. Air mata menggenang, tapi ia tahan. "Gue akan terima. Setidaknya gue tahu jawabannya."
Mika meraih tangannya. "Gue temenin."
---
Mereka naik mobil Kay menuju Sanata Dharma. Sepanjang jalan, Kay diam seribu bahasa. Pikirannya penuh dengan kemungkinan—Bima tersenyum pada wanita lain, Bima melukis wanita lain, Bima melupakan dirinya.
Sesampainya di kampus, mereka turun. Kay memakai sunglasses untuk menyembunyikan matanya yang sembab. Mereka berjalan menuju Fakultas Teknik, tempat Pak Yanto bilang Bima sering terlihat. Tapi tidak ada.
"Mungkin dia di perpus, Kay?" usul Mika.
Kay mengangguk. "Ayo."
Perpustakaan Sanata Dharma terletak di gedung tiga lantai dengan arsitektur modern. Mereka masuk, menunjukkan kartu identitas, lalu naik ke lantai dua. Kay merasakan jantungnya berdetak kencang, hampir keluar dari dada.
Di lantai dua, suasana hening. Beberapa mahasiswa duduk membaca. Kay dan Mika berjalan pelan, mata mereka memindai setiap sudut.
Dan kemudian, Kay berhenti.
Di meja pojok dekat jendela, seorang laki-laki duduk membelakangi mereka. Rambut ikal sebahu, jaket jeans biru yang familiar, laptop usang di depan. Di sampingnya, duduk seorang wanita anggun dengan rambut panjang tergerai, blus putih, dan senyum manis. Mereka tampak akrab. Laki-laki itu sedang memegang pensil, menggambar sesuatu di atas kertas.
Kay tidak bisa bernapas. Itu Bima. Pasti Bima.
Perlahan, ia berjalan mendekat. Mika mengikuti di belakang, siap menangkap jika Kay jatuh.
Semakin dekat, semakin jelas apa yang digambar Bima. Wajah wanita di sampingnya. Laras. Dengan detail yang indah—senyumnya, matanya, rambutnya. Bima melukis Laras.
Kay merasa dunianya runtuh.
"Jadi... video itu benar," bisiknya, suara pecah.
Air mata mengalir deras. Dadanya sesak, seperti diremas ribuan tangan. Tanpa berpikir, ia berbalik dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan perpustakaan.
"KAY!" teriak Mika kaget.
Mika langsung mengejar, meninggalkan Bima dan Laras yang masih asyik.
---
Bima mendengar teriakan itu. Nama itu—nama yang selalu ada dalam mimpinya. Ia menoleh cepat, dan melihat punggung seorang gadis berlari menuruni tangga. Rambut panjang tergerai, kaos putih, jeans. Kay.
"KAY!" teriaknya spontan.
Pensil jatuh. Sketsa terlupakan. Ia bangkit, tapi kakinya seperti tersangkut.
Laras yang bingung melihat ekspresi Bima langsung mengerti. "Itu dia? Kay?"
Bima mengangguk, matanya masih tertuju ke arah tangga.
"Kejar, Bim! CEPET!" Laras mendorongnya.
Bima tersentak, lalu berlari sekencang mungkin. Ia menerobos meja-meja, hampir menjatuhkan kursi. Beberapa mahasiswa menatap heran, tapi ia tidak peduli.
"KAY! TUNGGU!"
---
Di luar perpustakaan, Kay sudah sampai di parkiran. Tangannya gemetar membuka kunci mobil. Air mata mengaburkan pandangan. Ia berhasil membuka pintu, masuk, dan langsung menyalakan mesin.
Mika tiba di samping mobil, mengetuk kaca. "Kay! Buka pintu! Jangan pergi dulu!"
Tapi Kay sudah menginjak gas. Mobil melesat meninggalkan parkiran.
"KAY!" teriak Mika frustrasi.
Bima tiba di parkiran, terengah-engah. Ia melihat mobil Kay melaju pergi. Tanpa pikir panjang, ia berlari mengejar, berteriak sekuat tenaga.
"KAY! KAY! TUNGGU!"
Tapi mobil itu semakin menjauh, akhirnya menghilang di tikungan. Bima berhenti, lututnya hampir jatuh. Napasnya tersengal, jantungnya mau meledak.
"Kay..." bisiknya lirih.
Mika berjalan mendekat, menatap Bima dengan campuran marah dan iba. "Bima."
Bima menoleh. Wajahnya pucat, matanya merah. "Mika... gue..."
"Lo tahu apa yang baru lo lakukan?" suara Mika dingin. "Lo hancurin dia. Lagi."
Bima menggeleng. "Bukan gitu, Mik. Gue nggak—"
"Lo duduk sama cewek lain. Lo gambar dia. Dan Kay lihat itu." Mika menatap tajam. "Lo tahu berapa bulan dia cari lo? Berapa malam dia nangis? Berapa kali dia nyewa detektif? Dan lo di sini, senyum-senyum sama orang lain."
Bima terdiam. Tak bisa membela diri.
Mika menghela napas. "Gue nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi lo harus jelasin ke dia. Kalo perlu, kejar dia. Tapi jangan sekarang. Kasih dia waktu."
Bima menunduk. Air mata jatuh.
"Gue sayang dia, Mik. Gue nggak pernah berhenti."
"Tunjukin. Bukan dengan kata-kata."
Mika berbalik, berjalan meninggalkan Bima yang masih berdiri di parkiran.
---
Laras tiba di samping Bima, sedikit terengah-engah. "Bim... gimana? Dapat?"
Bima menggeleng. "Dia pergi."
Laras menghela napas. "Bim, maaf. Ini semua salah gue. Gue yang minta lo gambar."
"Bukan salah lo." Bima menatap kosong. "Gue yang bodoh."
Laras memegang lengannya. "Kejar dia. Jangan nyerah."
Bima menatap Laras. Ada ketulusan di mata wanita itu, meskipun ia tahu Laras mungkin terluka.
"Makasih, Laras. Tapi... lo sendiri?"
Laras tersenyum getir. "Gue udah tahu dari awal, Bim. Hati lo bukan buat gue. Gue cuma... nggak bisa berhenti berharap. Tapi sekarang, setelah liat lo kayak gini, gue tahu. Lo harus sama dia."
Bima diam.
"Ayo. Kita cari dia. Sebelum terlambat."
---
Di mobil, Kay menangis sejadi-jadinya. Ia menyetir tanpa arah, keluar masuk gang, hampir saja menabrak beberapa kali. Akhirnya ia menepi di pinggir jalan dekat sawah, mematikan mesin, dan meledak dalam tangis.
Ponselnya bergetar. Mika: "Kay, lo di mana? Gue khawatir."
Kay tidak bisa membalas. Tangannya gemetar.
Beberapa menit kemudian, Mika datang naik ojek online. Ia membayar, lalu mengetuk kaca mobil. Kay membuka pintu, dan Mika langsung memeluknya.
"Udah, nangis aja. Gue di sini."
Kay terisak di bahu Mika. "Dia... dia udah punya orang lain, Mik."
"Kita nggak tahu konteksnya, Kay. Mungkin—"
"Gue lihat sendiri! Dia gambar dia! Dengan penuh cinta! Kayak dulu gambar gue!"
Mika mengelus punggungnya. "Tapi tadi, pas lo lari, dia teriak nama lo. Dia kejar lo sampai parkiran. Itu artinya dia masih peduli."
Kay menggeleng. "Gue nggak bisa, Mik. Gue nggak kuat."
Mika menghela napas. "Oke. Lo nggak usah mikir sekarang. Kita pulang."
---
Di kos Mika, Kay duduk di lantai dengan pandangan kosong. Buku sketsa Bima ada di pangkuannya. Ia membuka halaman demi halaman, melihat semua gambar dirinya. Semua dengan detail dan cinta.
Sekarang ia mengerti. Saat Itu malam di Malioboro, saat ia merasa melihat Bima. Bima memang di sana.
Tapi kenapa sekarang ia bersama wanita lain?
Kay menutup buku, menangis lagi.
---
Sementara di kos Demak, Bima duduk lemas. Laras duduk di sampingnya, diam. Di meja, ponsel Bima menyala dengan kontak Mika yang baru saja ia dapatkan dari Laras.
"Telepon, Bim," desak Laras. "Jelaskan."
Bima menggeleng. "Gue nggak tahu harus ngomong apa."
"Bilang aja jujur. Bahwa gue cuma temen. Bahwa gambar itu cuma permintaan."
"Tapi lo bukan cuma temen buat gue, Laras."
Laras tersentak. "Maksud lo?"
Bima menatapnya. "Lo udah banyak bantu gue. Lo nyelamatin gue pas dipukulin. Lo rawat gue. Lo temenin gue. Gue... gue sayang sama lo. Tapi bukan kayak sama Kay. Lo... lo kayak keluarga."
Laras tersenyum getir. "Keluarga. Oke. Gue terima."
"Tapi gue nggak bisa jelasin itu ke Kay sekarang. Dia pasti pikir gue selingkuh."
Laras menghela napas. "Bim, kalau lo nggak jelasin, dia akan terus berpikir begitu. Dan lo akan kehilangan dia selamanya."
Bima diam. Laras berdiri.
"Aku pulang. Kamu pikirkan baik-baik. Tapi jangan terlalu lama. Kesempatan nggak datang dua kali."
Setelah Laras pergi, Bima meraih ponsel. Ia menatap nomor Mika. Jarinya ragu-ragu.
Akhirnya, ia menekan tombol hijau.
---
Di kos Mika, ponsel Mika bergetar. Nomor tidak dikenal. Ia angkat.
"Halo?"
"Mik, ini Bima."
Mika terkejut. Ia menatap Kay yang masih menangis. "Bim? Lo—"
"Mik, tolong. Gue harus jelasin semuanya ke Kay. Kasih gue kesempatan."
Mika menghela napas. "Bim, dia hancur. Gue nggak tahu dia mau denger lo atau nggak."
"Tapi gue harus coba. Tolong, Mik. Gue nggak bisa kehilangan dia."
Mika menatap Kay yang mulai mendengar namanya disebut. Kay menggeleng keras.
"Dia bilang nggak mau, Bim."
"Tolong, Mik. Kasih gue waktu lima menit. Gue akan datang ke mana pun. Gue akan jelasin."
Mika ragu. Tapi di balik itu, ia tahu Bima tulus. "Oke. Besok pagi di kafe dekat UGM. Jam 9. Tapi kalo dia nggak datang, itu urusan lo."
"Makasih, Mik."
Telepon berakhir. Mika menatap Kay.
"Kay, lo dengar?"
Kay menggeleng. "Gue nggak siap."
"Lo nggak harus siap. Tapi kalo lo nggak denger penjelasannya, lo akan menyesal."
Kay diam. Pikirannya kacau.
Di luar, malam semakin larut. Dua hati yang saling mencinta terpisah oleh kesalahpahaman. Dan hanya kebenaran yang bisa menyatukan kembali.