"Jika dunia membuangmu, ingatlah ada satu orang yang akan menghancurkan dunia demi menjemputmu kembali."
Bagi Kyrania Ruella, masa kecil di desa Sukamaju adalah satu-satunya memori indah yang tersisa. Di sana ada Herjuno Allegra, bocah dekil pembawa ketapel yang selalu melindunginya dari nyamuk hingga anak-anak nakal. Namun, takdir memisahkan mereka secara paksa saat Kyra diseret kembali ke kota oleh ayahnya yang serakah. Hidup Kyra bak di neraka. Menjadi istri dari Nathan Sagara, pria kaya yang patriarki dan pelit, Kyra diperlakukan lebih rendah dari pelayan. Ia terjebak dalam pernikahan hampa, bahkan nyaris dijual oleh suaminya sendiri demi menutupi hutang keluarga.
Di saat Kyra nyaris menyerah pada hidupnya, Juno kembali. Namun, ia bukan lagi bocah desa pembawa ketapel. Ia kini adalah Herjuno Allegra, pewaris tunggal kerajaan bisnis raksasa yang dingin, berkuasa, dan sangat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian ke Surga Biru
Juno bergerak lebih cepat dari bayangan Nathan. Hanya beberapa jam setelah mendengar kabar pelarian pria itu, ia langsung memutuskan untuk mempercepat rencana bulan madu mereka. Baginya, Maldives bukan sekadar liburan, melainkan benteng perlindungan paling aman yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun tanpa izinnya.
"Jun, kenapa tiba-tiba sekali? Koperku bahkan belum siap sepenuhnya," tanya Kyra saat mereka sudah berada di dalam jet pribadi yang melaju membelah awan menuju Male.
Juno menarik tangan Kyra, mencium punggung tangannya dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku hanya ingin mencurimu sebentar dari Jakarta, Ra. Kamu sudah bekerja keras untuk galeri itu, dan tubuhmu butuh istirahat sebelum pameran dimulai. Di sana, hanya akan ada aku, kamu, dan suara ombak."
Kyra tersenyum, ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Juno, sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya baru saja menjauhkannya dari maut yang mengintai di pelabuhan Jakarta.
Pulau Privat Allegra, Maldives.
Malam itu, mereka tinggal di sebuah water villa mewah yang seolah mengapung di atas laut. Angin Maldives yang hangat membelai kulit mereka, membawa aroma garam dan kebebasan. Juno membimbing Kyra duduk di kursi rotan balkon, menatap kerlip lampu di kejauhan.
"Pelan-pelan, Juno... kepalaku masih sedikit pening," bisik Kyra lembut.
Juno terkekeh, ia berlutut di depan Kyra dan melepaskan sandal wanita itu. "Itu karena kamu terlalu senang melihat lumba-lumba tadi siang. Aku sudah bilang jangan terlalu banyak berteriak, kan?"
"Habisnya mereka lucu sekali!" Kyra tertawa, matanya berbinar. "Terima kasih, Jun. Seumur hidup, aku belum pernah merasa sebahagia dan seaman ini. Rasanya seperti semua beban itu tertinggal ribuan kilometer di belakang kita."
Juno mendongak, menatap mata Kyra dengan intensitas yang membuat napas Kyra tertahan. "Memang harus begitu, Ra. Di sini, tidak ada Nathan, tidak ada Sagara. Hanya ada aku, suamimu yang konyol ini, dan kamu."
Malam Puncak Gairah.
Suara deburan ombak di bawah lantai kaca vila menjadi musik pengiring yang intim saat Juno membawa Kyra ke atas ranjang. Di bawah sinar bulan, Juno kembali menunjukkan pemujaannya. Namun, di tengah pergulatan panas yang penuh kerinduan itu, Kyra tiba-tiba mengernyitkan dahi.
"Akhh..." Kyra merintih kecil, tangannya mencengkeram bahu Juno kuat-kuat.
Juno langsung menghentikan gerakannya, napasnya memburu dan keringat membasahi pelipisnya. "Ra? Kenapa? Aku terlalu kasar?"
Kyra menggeleng pelan, wajahnya sedikit meringis menahan sesuatu. "Bukan... hanya saja, tiba-tiba rahimku terasa... seperti dicubit. Sedikit kram yang aneh, Jun."
"Kram?" Juno tampak khawatir, ia segera menarik selimut dan mengusap perut rata Kyra dengan sangat lembut. "Mungkin karena kita terlalu lama berenang tadi siang? Atau karena posisinya?"
"Mungkin," jawab Kyra singkat, mencoba mengabaikan rasa aneh itu demi menjaga suasana. "Ayo lanjut, Jun. Aku tidak apa-apa."
Kejutan di Tengah Malam.
Setelah momen panas itu berakhir, Juno beranjak menuju kulkas kecil di sudut ruangan. "Kamu pasti sangat haus karena keringat tadi. Tadi aku minta pelayan siapkan jus jeruk segar dari buah pilihan. Ini, minum dulu."
Juno menyerahkan segelas jus jeruk dingin yang tampak sangat menggiurkan. Namun, baru saja gelas itu berjarak sepuluh senti dari hidung Kyra, wajah Kyra mendadak berubah hijau. Ia merasa mual yang luar biasa hebat.
"Huekk!" Kyra menutup mulutnya dengan telapak tangan dan mendorong gelas itu dengan kasar.
"Kenapa, Ra? Terlalu dingin atau kemanisan?" tanya Juno bingung.
"Jun... bau apa ini? Bau sekali!" Kyra menatap gelas itu dengan tatapan jijik. "Ini jus jeruk atau air selokan? Bau busuknya menyengat sekali, Jun! Kamu mau meracuniku?!"
Juno mengerutkan kening. Ia mencium jus itu berkali-kali, lalu menyesapnya sedikit. "Bau busuk? Ini jeruk Sunkist paling mahal yang baru diperas sejam lalu, Ra. Baunya sangat segar, manis..."
"Bohong! Itu pasti sudah basi! Buang, Jun! Baunya membuatku mau mati!" teriak Kyra sambil berlari menuju kamar mandi, kembali memuntahkan isi perutnya dengan hebat.
Juno berdiri mematung di tengah kamar dengan gelas di tangan. Ia menatap jus jeruk itu, lalu menatap pintu kamar mandi di mana istrinya sedang tersiksa. Pikirannya melayang kembali pada tanda-tanya besar yang dilemparkan ibunya di Jakarta.
"Jus ini tidak basi, Ra..." gumam Juno pelan, sebuah senyum penuh harapan mulai terukir di sudut bibirnya. "Tapi mungkin... penghuni baru di perutmu yang sedang mulai protes."
Sementara itu, di Jakarta...
Seorang pria dengan tudung jaket hitam dan wajah yang kuyu melangkah turun dari sebuah truk kargo di kawasan pelabuhan Tanjung Priok. Itulah Nathan Sagara. Ia berhasil masuk ke Jakarta melalui jalur tikus, menghindari pemeriksaan ketat di bandara.
Dengan napas memburu, Nathan segera menuju ke arah galeri baru milik Kyra. Ia membawa sebuah botol berisi bensin dan pisau lipat di sakunya. Matanya berkilat penuh kegilaan saat melihat papan nama galeri yang megah itu.
"Aku akan membakar semua kesuksesanmu, Kyra! Kamu harus merasakan apa itu kehilangan!" desis Nathan.
Namun, saat ia mencoba mendekat, ia melihat galeri itu dijaga ketat oleh pria-pria berbadan tegap dengan seragam safari. Nathan bersembunyi di balik pilar bangunan seberang.
"Sialan! Penjagaannya terlalu ketat!" Nathan menggeram.
Ia kemudian mencoba menghubungi Aditya, sahabatnya. "Aditya! Di mana mereka?! Aku di depan galerinya sekarang!"
"Kamu terlambat, Nathan!" bisik Aditya dengan suara pelan di telepon. "Juno membawa Kyra ke Maldives sejak kemarin pagi. Mereka sudah tidak ada di Indonesia. Kamu hanya membuang nyawamu kalau menyerang galeri itu sekarang."
Nathan memukul tembok beton di sampingnya hingga tangannya berdarah. "Maldives?! Mereka bersenang-senang di sana sementara aku hidup seperti tikus?!"
"Sabar, Nathan. Sembunyi dulu di tempat yang aku siapkan. Begitu mereka pulang, kita habisi mereka bersama," ajak Aditya licik.
Nathan tertawa sumbang, sebuah tawa yang terdengar sangat menyeramkan di kegelapan malam Jakarta. Ia tidak tahu bahwa saat ia sedang merencanakan kematian Kyra, di Maldives, Kyra sedang tertidur pulas di pelukan Juno dengan perasaan paling aman yang pernah ia miliki.
Juno benar-benar berhasil menyelamatkan Kyra dari serangan pertama Nathan tanpa Kyra harus tahu bahwa nyawanya sedang diincar.
😍😍😍
didunia nyata ada gak sihh cowok kayak juno 🤭🤭🤭
kasihan kyra udah terlalu banyak menderita apalagi lg hamil skrng 🥹🙏
cintanya ugal-ugalan bet daahh....
baguslah.... buang eek ayam dapet berlian nih si Kyra.. /Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
daripada sama cowok pelit/Bye-Bye/