Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.26 PERTARUNGAN WAKIL-WAKIL
Tulang Li Wei patah.
Suaranya terdengar jelas, seperti kayu yang retak di tengah hutan sunyi, seperti harapan yang hancur berkeping-keping, seperti raja yang jatuh dari takhtanya.
Li Wei terpental ke belakang. Kepalanya menghantam pagar besi.
Dentangan besi bergema di udara. Tubuh besar itu jatuh ke lantai, terhuyung-huyung, berusaha bangkit, tapi tubuhnya tidak mau menuruti perintah.
Tidak pernah bisa lagi.
Zhou Ming berdiri di atasnya, menatap dengan napas yang masih memburu.
Tubuhnya basah oleh darah sendiri, tapi dia tetap tegak. Dia berdiri sebagai pemenang, sebagai raja baru.
Li Wei menatap ke atas, menatap Zhou Ming. Mata yang tadi tajam, mata yang lapar dan haus akan kemenangan, kini kabur dan kosong.
Sekarang pergi, seperti cahaya yang padam perlahan, seperti api yang kehilangan nyalanya.
Tangan Li Wei terangkat perlahan, seolah ingin meraih sesuatu yang sudah hilang.
Seolah ingin meraih hidup yang lepas dari genggamannya. Seperti raja yang tidak rela kehilangan takhtanya.
Lalu tubuh itu jatuh lagi ke lantai.
Bunyi tubuh yang menumbuk lantai terdengar berat, seperti gunung yang runtuh, seperti akhir dari semua yang pernah ada.
Diam.
Zhou Ming menatap sejenak, kemudian perlahan berbalik ke arah Cao Xiu, ke arah penonton yang menahan napas.
Tangan terangkatnya seperti pahlawan baru, seperti raja yang baru naik takhta, seperti serigala yang akhirnya berhasil memangsa singa.
Darah mengalir di wajahnya, tetapi senyumnya tetap melebar, penuh kemenangan dan keganasan.
Cao Xiu tepuk tangan, lambat, tiga kali, penuh arti.
“Bagus. Sangat bagus,” ucapnya dengan suara yang tenang tetapi penuh otoritas.
Dia berdiri dari kursinya dan melangkah ke tepi panggung.
Matanya menatap penonton satu per satu, mengukur reaksi mereka.
“Tapi malam ini belum selesai,” katanya, senyumnya melebar seperti ular yang menemukan mangsa baru. “Kita punya acara yang lebih besar. Pertarungan wakil-wakil. Empat wilayah. Empat pemimpin. Empat petarung.”
Dia mengangkat tangan empat jari, memberi isyarat.
“Bhu Tao. Wilayah Barat,” ucap Cao Xiu sambil menoleh ke kiri. Dari barisan itu, seorang pria berdiri.
Besar, berjanggut, mengenakan pakaian tradisional Cina berwarna hijau, seperti hutan liar yang tak tersentuh.
“Wakilku, Zhang Wei,” kata Bhu Tao dengan senyum percaya diri.
Zhang Wei melangkah ke arena. Tinggi, kurus, bahunya lebar, tangannya panjang.
Tampak seperti pembunuh yang terbiasa menuntut dari jarak jauh.
Cao Xiu menoleh ke wilayah utara. “Wakilku, Lin Feng,” katanya sambil menunjuk dirinya sendiri, tersenyum tipis.
Seorang pria lain melangkah ke arena. Pendek, gemuk, tapi matanya tajam, seperti babi hutan yang menunggu momen menyerang, seperti predator yang tidak terduga.
“Kenzo Huang. Wilayah Timur,” kata Cao Xiu menatap Kenzo. Senyum Kenzo tipis, dingin, dan berbahaya.
“Siapa wakilmu, Tuan Kenzo?” tanya Cao Xiu.
Kenzo diam, tangannya tetap di saku, jari-jarinya menggenggam pisau.
Pandangannya dingin, tegang. Ia menoleh sebentar ke samping, ke Daniel, yang berdiri tenang di sana.
("Daniel. Kau bisa?") pikir Kenzo dalam hati.
("Kau harus bisa,") melirik ke arah Daniel memastikan pada dirinya sendiri, penuh keyakinan pada asisten yang mempercayainya.
“Daniel Tang,” kata Kenzo pendek dan tegas. “Dia wakilku.”
Daniel terkejut sebentar. Matanya melebar, tapi kemudian kembali tenang, seolah masker biasa kembali menutupi wajahnya.
“Baik,” kata Cao Xiu akhirnya.
Daniel melangkah ke arena dengan tenang. Perlahan. Seperti orang biasa, bukan seorang petarung. Perlahan, langkahnya mantap, tapi tidak ada yang bisa menebak kekuatannya.
Cao Xiu menatap curiga, tapi tetap diam.
“Wang Lee. Wilayah Selatan,” kata Cao Xiu sambil menoleh ke kanan.
Dari barisan kanan, seorang pria tua dengan wajah tersembunyi di balik kerudung berdiri. Tangan pria itu penuh luka dan bekas-bekas cerita.
“Wakilku, Chen Wu,” ucap Wang Lee.
Chen Wu melangkah ke arena. Tubuhnya sangat besar, lebih besar dari Li Wei.
Ototnya menonjol seperti batu yang ditempa, dan tato naga di punggungnya tampak jelas saat kemejanya dilepas.
Empat petarung kini berdiri di arena, saling berhadapan. Cao Xiu mengambil mangkuk kecil berisi empat bola kayu dan mulai mengocoknya. Suara dentumannya terdengar seperti takdir yang sedang diputar.
“Undian.”
Bola keluar.
“Zhang Wei vs Lin Feng.”
“Daniel Tang vs Chen Wu.”
Zhang Wei dan Lin Feng mundur ke tepi arena, menunggu giliran mereka.
Daniel dan Chen Wu tetap berdiri berhadapan, hanya dua meter jaraknya.
Chen Wu tersenyum lebar, menatap Daniel seolah melihat anak kecil yang tidak pantas melawan raksasa.
“Kau?” katanya dengan suara berat seperti batu yang digesek, seperti guntur yang tertahan.
“Anak kecil dari keluarga Tang? Aku dengar kau dibuang ke hutan. Apa kau bertarung dengan kelinci?”
Daniel tetap diam.
Tidak tersenyum, tidak marah.
Ia hanya berdiri tegak, matanya menatap dengan dingin, seperti danau yang tidak bergerak, seperti sesuatu yang sedang menunggu dengan kesabaran penuh.
Cao Xiu mengangkat tangan.
Tiga jari.
Dua.
Satu.
Bel berbunyi. PRIIIIIIT…
Chen Wu bergerak. Cepat. Sangat cepat untuk ukuran tubuhnya yang besar. Tinju kanannya meluncur ke kepala Daniel seperti meteor menghantam bumi.
Daniel menghindar.
Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat.
Tepat.
Seolah sudah menghitung setiap gerakan Chen Wu, tahu persis kapan dan bagaimana serangan itu datang.
Chen Wu tidak berhenti.
Tinju kanan, kiri, siku, lutut semua datang menghancurkan.
Setiap gerakan bisa meremukkan tulang, bisa mengakhiri nyawa.
Daniel tetap bergerak, menghindar dengan tenang.
Seperti angin, tanpa bentuk, tanpa pola.
Hanya menghindar, hanya menunggu.
“Berdiri diam, pengecut!” Chen Wu bentak. Suaranya menggelegar, seperti monster yang terbiasa menakuti dunia.
Daniel tetap diam. Matanya dingin, menghitung, mencari celah.
Chen Wu frustrasi.
Tubuhnya besar, energi terkuras setiap gerakan yang meleset.
Amarahnya memuncak.
Ia sudah terbiasa menghancurkan, tapi kali ini berbeda.
Akhirnya, Daniel berhenti menghindar. Ia berdiri tegak, menatap Chen Wu.
Mata ke mata.
Sunyi.
Tenang.
“Selesai?” Daniel bicara untuk pertama kalinya.
Suaranya pelan, tapi menggema, seperti suara dari gua terdalam, seperti gema dari tempat yang tersembunyi.
Chen Wu terkejut.
Tidak pernah ada yang menantangnya seperti ini.
Tidak ada yang mempermainkannya.
Ia menggerakkan tubuhnya sekali terakhir.
Semua tenaga, semua amarah, semua kehormatan dicurahkan dalam tinju terakhir, tepat ke dada Daniel, ke titik fatal yang bisa mengakhiri segalanya.
Daniel tidak mundur.
Hanya sedikit maju.
Tepat waktu.
Tangan kanannya naik, bukan untuk meninju, bukan untuk menangkis. Dua jari, telunjuk dan tengah, diarahkan seperti taring, tepat ke leher Chen Wu, ke tempat lunak yang tak terlindungi otot.
BRAAKKK!!!
Chen Wu berhenti.
Seperti patung.
Waktu seakan membeku.
Matanya melebar, tidak percaya, tidak mengerti.
Tenggorokannya hancur oleh dua jari yang tampak lemah, seolah dunia runtuh dalam sekejap.
Dia jatuh perlahan, seperti gunung yang runtuh, seperti raja yang jatuh, tapi tanpa teriakan, tanpa suara.
Hanya napas yang tersisa, berjuang keluar tapi tidak bisa.
Diam.
Daniel berdiri di atasnya, menatap.
Tidak tersenyum, tidak bangga.
Seolah baru saja membuang sesuatu yang biasa ia buang setiap hari.
Ia menoleh ke Cao Xiu, ke Kenzo.
Tangan terangkat, seperti pahlawan, tapi matanya penuh sesuatu yang tersembunyi. Sesuatu yang gelap.
Cao Xiu terkejut.
Semua terkejut.
Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Hanya Kenzo.
Senyumnya tipis. Seperti mengetahui sesuatu.
Seperti baru saja mengonfirmasi sesuatu.
("Daniel. Jadi kau memang lebih dari yang kukira.")
...$ BERSAMBUNG $...
...****************...