Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Kondangan
Rani membelalakkan matanya saat alarm berhasil membangunkan mimpi indahnya. Rani langsung celingukan ke kiri dan kanan. Dia menghela napas setelah sadar dirinya sudah berada di kamar. Jam 2 dini hari, Rani bangun dari tidurnya berjalan menuju kamar mandi.
"Kenapa aku ada di kamar ya?" ucapnya, tak ingin banyak pikiran. Rani langsung mengambil air wudu dan menunaikan salat tahajud, setelah selesai dia langsung mengecek CCTV di depan rumahnya beberapa jam lalu.
"Wah calon suami idaman, hihihi..." Rani cekikikan saat tahu siapa yang mengantarnya pulang.
"Ya Allah, tolong bila memang dia jodohku maka dekatkanlah dan bila bukan tolong jodohkanlah." Ucap Rani, diakhiri dengan aamiin dan Al-Fatihah di akhir doa konyolnya.
Rani hendak kembali tidur, namun ponselnya berbunyi dan nampak pesan dari Elyra. Rani sejenak menatap tiga chat di sana, dia sedikit mengerutkan kening.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Rani. Alhamdulillah besok aku akan menikah dengan Leon heheh. Ini di bawah undangannya, kalo mau datang harus pakai QR itu, udah aku kasih di bawah ya. Jangan lupa kasih doa yang baik buat aku, kamu pasti habis tahajud kan? Itu aja, aku mau tidur lagi heheh, mau proyek buat anak hahaha.." Baca Rani, seketika Rani tersendat dengan air liurnya sendiri.
"Dasar gila!" ucap Rani. Rani memang sudah menduganya. Ditambah beberapa hari lalu Elyra selalu bilang mau nikah aja, dia merasa lemah sendirian.
"Yaudahlah, udah jodohnya." Ucap lagi Rani, dia berjalan ke ruang bawah karena perutnya keroncongan. Namun, dia melihat mamahnya juga tengah melakukan salat malam. Rani berjalan menuju dapur dan mengambil mi instan.
"Mamah tadi buat gulai, hangatkan saja jangan makan mi." Suara sang ibu dari kamarnya. Rani tersenyum dan akhirnya menemukan gulai yang masih berada di atas kompor.
"Mah, besok Lyra mau nikah. Mamah jangan bangun kesiangan dan Rani minta tanda tangan Mamah, mau buat surat keterangan izin, kepentingan keluarga ke sekolah." Ucap Rani. Mamahnya keluar dari kamarnya dan menyalakan lampu tengah.
"Neng Elyra? Bukannya satu kelas sama kamu ya?" tanya sang Mamah. Rani mengangguk.
"Iya, cuma dia udah ketemu jodohnya, Mah. Buat apa menunda kebahagiaan, kalo Rani udah ketemu jodoh Rani juga mau milih nikah aja heheh..." Mamah Rani menggelengkan kepalanya dan duduk di depan meja makan.
"Alhamdulillah, bukan karena kecelakaan kan?" tanya sang Mamah. Rani mengangkat bahunya.
"Gak tau juga sih, Mah, tapi kayaknya enggak. Kemarin aja masih datang bulan kok." Rani mengambil nasi ke piring dan mengambil gulai yang sudah dia hangatkan, dia berjalan dan duduk di samping sang Mamah.
"Nak, kamu juga harus pandai menjaga diri di masa depan. Dari sekarang juga belajar, perbaiki tontonannya dan auratnya bisa ditutup sedikit-sedikit kan? Pakai rok selutut terus, sekarang harus pakai yang lebih panjang, Nak." pinta sang Mamah. Rani nampak berpikir.
"Nanti, Mah, btw tadi Pak Adimas ganteng kan, Mah? Gimana kalo jadi mantu Mamah aja heheh..." Rani sengaja mengalihkan pembicaraan. Mamahnya menggeleng.
"Dia wali kelas kamu, Nak, gak malu ngejar wali kelas? Wali kelas itu ibarat orang tua loh, tapi tempatnya di sekolah." Rani mengangkat bahunya.
"Ngapain malu? Kan Rani gak malu-maluin ini, beneran deh, Mah, kalo dia bukan guru matematika, behh udah Rani ubur-ubur deh dia, Mah." Ucap Rani lagi dengan sangat percaya diri.
"Baru saja bilang gak malu-maluin, nah itu apa?" Keduanya akhirnya tertawa. Dini hari itu mereka akhiri dengan mengaji bersama sampai subuh.
"Assalamu'alaikum?" suara panggilan dari balik pintu, tepat pukul 6 pagi. Rani berjalan dengan tergesa menuju ke bawah dan membuka pintu.
"Wah ada aktor China nyasar." Melongo sudah wajah Rani saat melihat sosok di hadapannya, wajah pria itu nampak sempurna meski ada sedikit warna merah di pipi kanannya dan justru itu terlihat makin keren.
"Astaghfirullah, Wa'alaikumsalam. Cari siapa ya?" tanya Rani bingung. Pria itu tersenyum melihat penampilan Rani.
"Cari Rani Jaya Almaira, saya datang untuk menjemput kalian ke acara adik saya Elyra. Ini acara private jadi tidak diizinkan kendaraan online masuk." ucapnya. Rani nyengir kuda seolah apa yang ada di kepalanya sudah tertebak. Akhirnya Rani dan sang Mamah berangkat bersama pria yang diketahui bernama David itu.
Benar saja, acara pernikahan itu di adakan di area vila yang sangat private. Bahkan penjagaannya sangat ketat, Rani sampai terkejut saat mereka masuk ke dalam. Namun mereka tak diperiksa lebih lanjut saat pria yang membawa mobil itu memperlihatkan wajahnya pada para penjaga.
David nampak tergesa saat sampai di sana, dan bergegas pergi setelah mempersilahkan Rani dan sang Mamah masuk. Rani sampai melongo saat menyaksikan dekorasi pernikahan megah itu.
Rani berjalan dengan anggun, wajahnya terangkat dan senyumnya simpul terlukis di bibirnya. Kulit putih dengan riasan wajah tipis, berpadu sempurna dengan strapless berwarna biru langit yang membalut tubuh Rani.
Wali kelas Rani tampaknya juga berada di sana, ya Adimas tertegun sejenak saat melihat sosok yang kini masuk kedalam area itu. Di hadapannya, Rani tidak terlihat seperti anak SMA lagi, melainkan seperti putri dari negeri dongeng yang salah mendarat. Gaun itu memiliki potongan mermaid yang memeluk lekuk tubuh Rani dengan pas dari dada hingga pinggul, lalu melebar anggun menyapu lantai.
Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk ke tempat akad nikah Leon dan Elyra itu membuat ribuan partikel glitter dan payet kristal di seluruh permukaan gaun itu berpendar, menciptakan efek stardust yang berkilauan magis setiap kali Rani bergerak sedikit saja. Aksen lipatan drapery yang rumit di bagian pinggang mempertegas siluet rampingnya, ditambah dengan untaian manik-manik kristal yang menjuntai mewah di pinggul, bergoyang pelan, seirama dengan langkah Rani menuju kursi duduk dengan nama di atas meja atas namanya dan sang Mamah.
Belum lagi jubah tulle transparan yang terpasang di bahu belakangnya, menjuntai panjang melebihi ujung gaun, melayang ringan tertiup angin pagi seolah memberi aura ethereal yang tak tersentuh.
"Ya ampun, dia mau pergi ke pernikahan atau mau syuting Frozen?" gumam Adimas, namun Adimas, baik dalam hati atau pikirannya, tak menyangkal akan kecantikan Rani yang luar biasa.
Bukan hanya gaunnya yang membuat Adimas kembali terdiam, tapi juga bagaimana Rani menata rambut pirang madunya. Rambutnya ditata dengan gaya soft messy updo yang sangat elegan. Sanggul modern itu diletakkan sedikit rendah di belakang, namun memiliki volume yang natural di bagian atas, memberikan kesan tinggi dan jenjang pada lehernya, seolah memang sengaja dipertontonkan.
Gadis yang semalam mengomel karena mendengarkan tadarus kini menggunakan baju yang bisa memancing lawan jenis. Adimas sungguh tak habis pikir, bagaimana bisa ada dua orang dalam satu tubuh seperti itu.
"Bolos sekolah ya?" sapa Adimas yang kini duduk di samping Rani.
"Eh, Mas Adimas, iya heheh..." Rani cengar-cengir. Adimas mengangkat alisnya, ternyata itu memang benar Rani yang biasanya.
"Maaf untuk yang-"
Rani langsung menutup mulut Adimas dengan tangannya. Sang Mamah yang melihat sontak merasa curiga dengan gelagat dua orang itu.
"Mas Adimas kenapa di sini?" tanya lagi Rani, dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Saya kan kakaknya Elyra juga," ucapnya. Seketika wajah Rani menatap tak percaya.
"Iya, sungguh. Dia menjadi anak bungsu di keluarga kami, jadi dia adalah adik saya sekarang." ucap Adimas. Rani akhirnya mengangguk paham.
"Tapi nama belakang Mas Adimas beda ya?" tanya Rani lagi. Adimas terkekeh.
"Iya, saya menggunakan marga ibu saya." Jawabnya. Rani hanya ber-oh saja dan jujur saja dia merasa risih dengan tatapan orang-orang terhadapnya, apalagi kini di sampingnya ada Adimas.
"Mas, kapan juga marga kita sama?" tanya Rani dengan wajahnya yang tengil, namun dia tampak tersenyum kaku merasa tak nyaman akan sekeliling.
"Perbaiki pakaiannya dulu bila mau satu marga denganku." Ucap Adimas, dia melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Rani.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang