NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gudang Nomor 47 – Bagian Kedua

Malam itu tidak datang pelan. Ia datang seperti tamu yang sudah tidak sabar—gelap, dingin, dan penuh ancaman. Raito, Mira, dan Yuna berjalan melalui gang-gang sempit distrik industri, langkah mereka hampir tidak bersuara di atas aspal basah. Yuna berjalan di tengah, tangan kecilnya memegang lengan Raito erat-erat, jaket kebesarannya menjuntai hampir menyentuh tanah.

“Kalau mereka tanya, bilang saja aku adik kalian,” bisik Yuna, suaranya bergetar tapi berusaha tegas. “Jangan biarkan mereka tahu aku saksi.”

Raito mengangguk. “Kamu nggak perlu bicara apa-apa. Biar kami yang urus.”

Mira berjalan di depan, mata menyapu setiap bayang-bayang. “Gudang 47 sudah dekat. Kalau ada jebakan, kita langsung kabur ke lorong samping. Jangan berhenti.”

Gudang nomor 47 muncul di ujung jalan buntu—pintu besinya kali ini tertutup rapat, tapi ada cahaya kuning samar menyembur dari celah bawah. Di depan pintu, dua penjaga berdiri—bukan yang kemarin, tapi orang baru: satu pria tinggi kurus dengan jaket panjang, satu lagi wanita berambut pendek dengan tato ular di leher.

Mira berhenti sepuluh meter dari pintu. “Kami datang atas undangan Viktor.”

Pria kurus memandang mereka dari atas ke bawah, matanya berhenti di Yuna. “Anak kecil ikut? Lucu. Masuk. Bos sudah nunggu.”

Pintu dibuka. Di dalam gudang, suasana berbeda dari malam sebelumnya. Lampu gantung kuning menyala lebih terang, meja panjang besi sekarang penuh orang—sekitar sepuluh orang, semuanya mengenakan jaket ular hitam. Di ujung meja, Viktor duduk dengan santai, penutup mata kulitnya terlihat lebih mencolok di bawah cahaya. Di sebelahnya, Eclipse Stone diletakkan di atas bantal hitam kecil, seperti dipamerkan.

Viktor tersenyum lebar saat melihat mereka masuk. “Selamat malam, keluarga kecil. Duduk. Kita bicara santai saja.”

Raito, Mira, dan Yuna tidak duduk. Mereka berdiri di tengah ruangan, posisi saling melindungi—Yuna di belakang Raito, Mira di samping.

“Kami datang karena Yuna,” kata Raito tegas. “Kalian ancam dia. Lepaskan dia, dan kami nggak akan cari masalah.”

Viktor tertawa pelan. “Masalah sudah ada sejak kalian tolak tawaran pertama. Tapi baiklah. Kita bicara bisnis. Eclipse Stone ini sudah di tangan kami. Kami tahu cara pakainya—darah pemakai yang punya Nen kuat. Dan kamu, Raito… cahaya-mu sangat kuat. Kami butuh kamu buka portal untuk kami. Rute perdagangan baru ke dunia lain. Senjata, obat, manusia—apa saja yang bisa dijual mahal.”

Raito menatap batu itu. Garis cahaya retak di dalamnya berdenyut cepat, seolah merespons kehadirannya.

“Kalau aku tolak?” tanya Raito.

Viktor mengangkat bahu. “Kami paksa. Darahmu akan kami ambil paksa. Atau… kami mulai dari anak kecil ini. Atau dari Mira. Pilih.”

Yuna gemetar di belakang Raito. Mira maju setengah langkah, pisau sudah di tangan.

Raito angkat tangan, menghentikan Mira. “Tunggu.”

Dia maju satu langkah ke depan, mata tertuju pada Viktor. “Kalau aku setuju pegang batu itu sekarang… kalian janji lepas Yuna dan Mira?”

Viktor tersenyum lebih lebar. “Janji. Kami nggak bohong kalau sudah dapat apa yang kami mau.”

Raito menoleh ke Mira. Mata mereka bertemu—tanpa kata, tapi penuh pengertian. Mira menggeleng pelan, tapi Raito mengangguk kecil.

“Aku akan pegang batu itu,” kata Raito. “Tapi kalian lepaskan Yuna dulu. Biarkan dia keluar gudang.”

Viktor mengangguk ke dua penjaga. “Bawa anak itu keluar. Pastikan dia aman sampai luar gang.”

Yuna menolak. “Kak Raito! Jangan!”

Raito berlutut sebentar, memandang mata Yuna. “Pergi. Cari tempat aman. Kalau kami nggak keluar dalam satu jam, lari ke Heavens Arena. Cari orang bernama Taro—dia akan bantu kamu.”

Yuna menangis, tapi penjaga sudah menariknya pelan. Dia pergi dengan langkah terseret, menoleh berkali-kali sampai pintu tertutup.

Ruangan sekarang hening. Hanya suara napas dan denyut samar Eclipse Stone.

Viktor menunjuk batu itu. “Silakan. Pegang. Buka portal. Kami siap ambil untungnya.”

Raito maju pelan. Tangan kanannya gemetar sedikit saat mendekati batu. Mira berdiri di belakangnya, mata tajam mengawasi setiap gerakan orang di ruangan.

Saat jari Raito menyentuh permukaan batu yang dingin, sesuatu terjadi.

Garis cahaya retak di dalam batu berdenyut hebat—seperti jantung yang tiba-tiba hidup. Cahaya kuning keemasan dari dada Raito mengalir keluar tanpa dia kendalikan, menyatu dengan batu. Ruangan terasa bergetar pelan.

Viktor berdiri, mata melebar. “Ini… lebih cepat dari yang kukira.”

Batu mulai bercahaya terang—cahaya putih keemasan yang sama dengan Inner Light Raito, tapi lebih liar, lebih kuat. Retakan di batu melebar, seperti cermin yang akan pecah.

Raito merasa tarikan kuat di dadanya—seperti ada tangan tak terlihat yang menarik jiwanya ke dalam batu. Penglihatannya kabur. Suara-suara samar terdengar di kepalanya: bisikan dari dunia lama (suara motor malam itu, dering ponsel ibu, tawa teman di kafe), campur dengan suara dunia ini (teriakan Gon, tawa Mira, tangis Yuna).

Dia hampir jatuh. Mira langsung maju, pegang bahunya.

“Raito! Lepaskan!”

Tapi batu tidak melepaskan. Cahaya semakin terang, ruangan dipenuhi kilau putih keemasan.

Viktor berteriak. “Ini dia! Portal terbuka! Pegang dia! Jangan biarkan dia lepas!”

Beberapa orang maju ke arah Raito. Mira langsung bertarung—pisau berputar cepat, darah mulai muncrat lagi.

Raito berjuang dalam pikirannya. Dia ingat kata Mira: “Kalau dipaksa, portal nggak stabil.”

Dia tarik napas dalam—bukan napas biasa, tapi napas yang dia latih pagi tadi. Dia biarkan Dawn Pulse mengalir pelan, bukan memaksa, tapi mengikuti aliran batu itu. Cahaya dari dadanya tidak melawan tarikan batu—malah mengikutinya, tapi dengan ritme yang tenang, seperti napas meditasi.

Retakan di batu mulai melambat. Cahaya yang liar mulai stabil—bukan meledak, tapi berdenyut seperti detak jantung yang selaras dengan Raito.

Viktor menyadari sesuatu salah. “Apa yang kamu lakukan?!”

Raito membuka mata. Suaranya pelan tapi tegas.

“Aku nggak paksa. Aku biarkan. Dan batu ini… nggak mau dipaksa.”

Cahaya di batu tiba-tiba berbalik—bukan ke Raito, tapi ke Viktor dan anak buahnya. Gelombang cahaya hangat menyapu ruangan seperti angin pagi yang lembut tapi tak terbendung. Aura mereka yang dingin dan licin mulai retak, tubuh mereka terdorong mundur seperti daun kering ditiup angin.

Viktor jatuh ke belakang, memegang dada. “Ini… tidak mungkin…”

Raito lepaskan tangannya dari batu. Cahaya padam pelan. Batu itu kembali gelap, retakannya masih ada tapi tidak melebar lagi.

Ruangan hening. Orang-orang Shadow Serpent terkapar atau mundur ketakutan.

Mira mendekat, memegang lengan Raito. “Kamu baik-baik saja?”

Raito mengangguk, napas tersengal tapi tersenyum kecil. “Aku nggak memaksa. Aku cuma… bernapas.”

Mira tertawa pelan. “Itu yang bikin kamu menang.”

Mereka berjalan ke pintu. Viktor masih terduduk, memandang mereka dengan mata penuh kebencian tapi juga ketakutan.

“Kalian nggak akan lolos selamanya,” desisnya.

Raito berhenti di pintu, menoleh.

“Kami nggak lari. Kami cuma pilih jalan kami sendiri.”

Mereka keluar dari gudang.

Di luar, Yuna menunggu di ujung gang—mata merah karena menangis, tapi wajahnya penuh lega saat melihat mereka.

“Kak Raito! Kak Mira!”

Raito berlutut, memeluk Yuna. “Kamu aman.”

Yuna menangis di pelukannya. “Aku takut kalian nggak keluar…”

Mira meletakkan tangan di bahu Yuna. “Kami nggak akan ninggalin kamu.”

Mereka bertiga berjalan pulang melalui gang gelap.

Di belakang, gudang nomor 47 tetap diam—lampunya padam satu per satu.

Dan di dada Raito, cahaya berdenyut pelan—bukan lagi bara kecil, tapi fajar yang mulai yakin akan menyingsing.

Malam itu, mereka tidak menang dengan kekerasan.

Mereka menang dengan cara yang paling sederhana: tetap bernapas, tetap bersama, dan tidak memaksa apa yang tidak mau dipaksa.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!