NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Roti dan Titipan

Masih cukup pagi untuk mendengar krasak-krusuk yang mengganggu telinga. Namun, hal itu sudah menyambut Kinan terlebih dahulu bahkan sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya. Membuat alisnya berkerut karena merasa tidurnya terganggu.

Sementara, Ella masih sibuk menghitung jumlah roti berjenama yang baru saja dia pesan lewat ojek online. "Satu... dua... tiga...."

"Perawat di sini ada berapa ya, Ki?" tanyanya meski Kinan masih menutup matanya.

Mendengar itu, Kinan akhirnya mempersilakan cahaya matahari menyambut pandangannya dengan hangat dari balik tirai yang sedikit tersingkap. Dia melirik ke arah Ella yang masih duduk memangku satu buah plastik kokoh berisikan roti.

"Mama ngapain sih?" tanya Kinan yang melirik dari ekor matanya.

Ella yang mendengar suara serak itu lantas mendongak. "Hari ini Mama nggak nemenin kamu ya, Ki. Kursi direktur di perusahaan kan kosong selama kamu dirawat."

Selain menjalankan toko roti yang sudah dia bangun sejak sebelum menikah, Ella kini harus menutup kekosongan kursi direktur perusahaan yang seharusnya diisi oleh anaknya. Bagaimana jadinya perusahaan peninggalan mendiang suaminya itu akan berjalan tanpa adanya direktur utamanya.

Ella juga tak dapat menyalahkan Kinan akan kejadian ini. Semuanya terjadi secara tidak sengaja. Dia juga melihat sendiri bagaimana Kinan yang selalu dibayangi rasa bersalah dan duka di setiap lelap tidurnya. Meracau perihal cintanya yang telah pergi.

"Aku bisa kerjain di sini, Ma. Tenang aja," sahut Kinan sambil mendudukkan dirinya.

Mendengar itu, Ella mendelik tajam. "Hilangkan jiwa gila kerja kamu itu selama dirawat, Ki! Jangan bikin perawatan kamu semakin panjang dan lama!"

"Karena harga yang dibayar nggak murah?" timpal Kinan.

"Memangnya kamu mau tinggal di rumah sakit seumur hidup?!" Ella menghela nafasnya. "Kalau Mama sih cuma pengen anak Mama lebih cepat pulih dan menjalankan kehidupan normal."

Kinan terdiam begitu kalimat terakhir itu keluar dari bibir Ella. Mendengar hidup normal membuatnya terbungkam seketika. Nyatanya, sejak kecelakaan malam itu, hidup Kinan berubah dalam satu malam. Pria itu seolah kehilangan separuh dirinya.

Hubungannya dengan Olin yang sudah terjalin sejak di bangku SMA harus kandas dengan tragis. Jika bisa disuruh memilih, Kinan mungkin akan mengatakan lebih baik Olin meninggalkannya karena ada pria lain yang sudah menggantikan posisinya daripada pergi dengan cara seperti ini.

Melihat Kinan yang tiba-tiba terdiam, Ella berdeham pelan. "Mama pergi dulu, ya. Nanti kalau kamu butuh apa-apa, bisa pencet bel buat panggil suster di ruang jaga."

Setelahnya, wanita itu mengecup ringan kening anak semata wayangnya dengan lembut. Dia usap sisa lipstick yang menempel di sana sebelum benar-benar meninggalkan Kinan seorang diri di ruang rawatnya.

Suara ketukan langkah kaki berbalut sandal kian menghilang ditelan koridor dingin rumah sakit. Mata kecokelatan itu menatap lurus ke depan. Kantung mata yang kian menghitam cukup menjelaskan betapa letihnya dia selama menjaga Kinan satu minggu terakhir. Namun, tak ada kata lelah yang keluar dari bibirnya.

Senyumannya mengembang tinggi begitu melihat pemandangan di depan sana. Seorang perempuan berlari terbirit menuju ruang jaga perawat yang tampak terang benderang. Tampaknya dia hampir telat pagi ini.

"Selamat pagi!" sapa Ella dengan senyuman hangat di ambang pintu ruang jaga perawat.

Beberapa orang yang ada di sana lantas mengangkat kepalanya. Yang sempat tertidur di atas tumpukan tangan lantas terbangun begitu saja kala mendengar suara asing yang menyapa pagi mereka.

Betari yang sedang memeriksa beberapa dokumen pasien lantas menoleh ke arah bel yang tak jauh darinya. "Ibu pencet bel sebelumnya? Maaf, mungkin kami tidak dengar."

"Bukan begitu. Saya ke sini memang ada perlu," sahut Ella. Wanita itu tampak meninggikan lehernya, mencari sosok yang sempat tertangkap matanya beberapa meter sebelum sampai di sini.

Melihat itu, Bintan yang sedang menata persediaan obat dari farmasi pun langsung mengerti. "Cari Suster Alana, Bu?" tanyanya.

Betari langsung menepuk kaki Bintan yang berdiri di sebelahnya. "Jangan begitu, Mbak! Belum tentu juga Alana yang dicari," tegurnya.

Sementara, Bintan tampak acuh tak acuh. Perempuan itu masih menatap Ella yang berdiri dengan senyum canggung di ambang pintu. Sudah tersirat dengan jelas makna di balik senyumannya.

Tepat setelahnya, seorang perawat muda yang baru selesai mengganti pakaiannya keluar dari balik tirai. Dia tak langsung mendongak karena gulungan rambutnya yang belum selesai. Sementara, wanita di ambang pintu itu sudah tersenyum lembut begitu melihatnya.

"Dicariin tuh, Lan," ucap Bintan begitu melihat Alana yang selesai berganti pakaian.

"Siapa?" Alana mendongak.

"Memangnya siapa lagi yang bakal nyari kamu sepagi ini?" sahut Bintan lirih, namun masih sampai ke telinga Alana.

Sementara, Alana lantas tersenyum ramah pada Ella yang berdiri di sana. "Infusnya habis, Bu? Sebentar, ya."

"Bukan! Ini, saya ada sedikit bingkisan buat Suster," sahut Ella buru-buru.

Setelah kalimat itu sampai ke telinga setiap perawat yang ada di sana, dalam sekejap Alana menjadi pusat perhatian. Walau hanya sebentar, tapi hal itu cukup membuat Alana harus meraup oksigen banyak-banyak. Tatapan mereka sangat sulit diartikan.

Alana tersenyum tak enak hati. "Aduh, Bu..., nggak perlu repot-repot," tolaknya halus.

"Yang namanya rezeki nggak boleh ditolak mentah-mentah, Sus," sahut Ella. Wanita itu meraih tangan Alana dan memaksa kantung plastik itu untuk menggantung di antara jemarinya.

Mendapat paksaan seperti itu, tak mungkin Alana menolaknya kembali. Belum lagi senyuman tulus yang diberikan kepadanya, seolah menyihir Alana untuk menerimanya saja.

"Saya sering lihat kamu makan itu. Semoga kamu suka yang dari toko ini," lanjut Ella.

Terdengar decit kursi dari belakang Alana. Bintan yang harus mengambil sisa obat ke farmasi beranjak dari tempatnya. Dia juga memberikan kursinya kepada Ella yang masih berdiri bersama Alana.

"Silakan duduk, Bu. Kayaknya bakal ngobrol lama," pintanya ramah dan berlalu begitu saja.

Sementara, Betari yang sedari tadi diam ternyata memasang telinganya dengan tajam. Terbukti dari matanya yang melirik ke arah kantung plastik berisi roti abon yang ada di tangan Alana. Membuatnya sedikit tergiur karena sempat batal menyantap semangkuk soto sebagai menu sarapan.

Begitu Ella duduk, dia langsung mengatakan niatnya yang sebenarnya hingga repot-repot mengunjungi ruang perawat. "Saya mau merepotkan Suster lagi, apa boleh?" tanyanya.

Alana mengangguk. "Selama masih termasuk tugas saya sebagai perawat, saya nggak masalah, Bu."

"Mau minta tolong apa?" lanjut Alana dengan senyum kecil. Dia letakkan bingkisan dari Ella di atas meja Betari, lalu dia menarik sebuah kursi plastik untuk dirinya sendiri.

Kini mata mereka sejajar. Alana dapat melihat rona kecokelatan lembut pada mata Ella yang duduk di hadapannya. Sangat kontras dengan kantung mata yang kian menghitam di bawahnya.

"Saya mungkin akan jarang berada di rumah sakit untuk menjaga Kinan. Kalau boleh, saya mau minta Suster untuk menggantikan saya selama saya nggak ada di sini," ucap Ella terus terang.

Mendengar itu, Betari yang memang menguping sambil menikmati sekotak susu yang dia curi dari penyimpanan Alana lantas tersedak. Batuknya terdengar cukup keras hingga menarik perhatian Alana yang semula memunggunginya.

Sementara, Alana yang tahu tabiat temannya itu hanya mengulurkan tangan sambil menepuk punggung Betari sebentar. Setelahnya, dia kembali menumpahkan seluruh atensinya pada Ella yang tampak menuggu jawabannya.

"Boleh, Bu. Nanti saya sama suster-suster yang lain akan menggantikan Ibu untuk menjaga di bangsal 505," sahut Alana tenang. Toh, dia juga menyebutkan perawat yang lain, jadi tak ada alasan untuk dirinya kembali menjadi buah bibir.

Namun, ternyata usahanya langsung ditepis begitu saja dalam satu kedipan mata. Alana yang semula merasa berhasil menggapai zona aman, kini kembali ke zona merah begitu Ella kembali membuka suara.

"Tapi kalau bisa, saya minta Suster Alana yang lebih sering memeriksa keadaan Kinan," ujar Ella yang mampu menggeser Alana ke zona tak aman.

Jika kalimat itu bisa saja diartikan sebagai Ella yang mempercayai Alana untuk menjaga Kinan. Tapi jika kalimat ini terdengar di lingkungan yang sudah tercemar gosip tentangnya dan keluarga di bangsal 505, Alana tak yakin bahwa semua orang akan berpikir demikian. Bahkan Betari pun sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan senyumnya.

Sementara, Alana menelan ludahnya kasar. Tak bisakah dia hidup tenang saja? Sejak kehadiran Kinan sebagai pasien di sini, Alana bahkan tak bisa merasakan tungkai kakinya berpijak dengan benar. Dia bahkan sempat merasa bahwa dirinya tak sedang berjalan, melainkan melayang saking tak ada waktu untuk duduk sejenak.

"Gimana, Sus? Anggap saja demi kenyamanan pasien," tanya Ella karena tak kunjung mendapatkan jawaban.

Di posisi ini, maju kena mundur juga kena. Jika dia menerima, potensi dirinya kembali menjadi buah bibir hangat tentu akan sangat mungkin. Jika dia menolak pun, bisa jadi dia mempertaruhkan pekerjaannya. Mau tak mau Alana kembali mengembangkan senyumannya sembari mengangguk.

"Saya usahakan ya, Bu," jawab Alana dengan senyum ramah.

Setelah mendengar jawaban yang memuaskan hatinya, Ella lantas berdiri dari duduknya. Wanita itu berpamitan dengan senyum yang merekah indah bagai bunga di musim semi. Sangat berbeda dengan Alana yang kini tengah merutuki dirinya sendiri di dalam hati.

"Kayaknya, Bu Ella percaya banget sama kamu, Lan," bisik Betari yang sudah mencuri satu buah roti abon pemberian Ella.

Alana sontak menoleh. Matanya menatap sinis pada Betari. "Balikin susuku!" pintanya.

Betari menarik dirinya. "Udah habis. Lagian biasanya juga nggak perhitungan begini kamu tuh."

Alana tak mengindahkannya. "Bangsal 505 ganti infus jam berapa tadi?" tanyanya.

"Bilang aja kamarnya Mas Kinan..., gitu!" goda Betari sambil melembutkan nama Kinan di samping telinga Alana.

Alana yang mendapat perlakuan seperti itu mendelik tajam. Dia bahkan tak lagi tertarik dengan sekantung plastik besar roti abon yang merupakan favoritnya. Toh dia sudah meyantap dua bungkus di perjalanan tadi. Tak tahu lagi jika dia lapar siang nanti, apakah roti itu masih tampak menggiurkan di matanya atau tidak.

"Jam 1 malam," jawab Betari atas pertanyaan Alana sebelumnya.

Mendengar itu, Alana langsung beranjak. Dia bawa satu buah botol infus untuk berjaga barangkali infus Kinan sudah habis. Hal itu tentu mendapat perhatian dari beberapa perawat yang ada di sana.

"Langsung sekarang banget nih, Lan?" ejek Betari.

"Berisik!" sahut Alana, mendelik tajam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!