Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.
Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?
Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.
Sementara di sisi lain.
Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.
Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemukan Pertama
"Sudah ku bilang, aku tidak menyetujuinya!" Ammar melontarkan protes ditengah-tengah kesibukannya memeriksa dokumen di balik kursi kebesarannya. "Jangan paksa aku, Dami! Apa kamu mau, aku kirim ke Afrika?" Sambungnya tanpa melihat asistennya itu.
Bos dan asistennya itu sedang berada di meja yang sama. Ada banyak tumpukan dokumen di sana.
Di sela-sela kesibukan keduanya, Damian masih berusaha membujuk Ammar soal pembicaraan kemarin. Apalagi kalau bukan soal keturunan, yang sedang mengganggu pikiran bos-nya.
"Apa anda berniat mewariskan perusahaan pada saya, Tuan?" Damian mengatakannya tanpa menatap lawan bicara, matanya fokus pada layar laptop.
Decakan keluar dari mulut lelaki berwajah timur tengah itu. "Diam lah, Dami! Aku sedang fokus menyelesaikan pekerjaanku." Dia mendengus kesal.
"Akan saya bacakan biodata dari perempuan itu." Damian mengambil kembali amplop yang tadi sempat dia berikan pada Ammar. Sudah sekitar satu jam, amplop itu sama sekali tidak disentuh oleh Bos-nya.
"Aku suami setia, Dami! Bukankah kau tau itu?"
"Namanya Nina Khairunnisa ..." Damian mulai membaca kertas yang ada ditangannya.
"Damian ..." Ammar sedikit meninggikan suaranya.
"Usia tiga puluh dua tahun, status janda dengan dua anak kembar."
Ammar lagi-lagi berdecak kesal. Diantara semua asisten ataupun wakilnya di setiap negara dimana perusahaannya berdiri, hanya Damian yang paling sulit diatur dan suka seenaknya sendiri. Dalam arti jarang mau mendengarkan ucapan ataupun larangannya.
"Nina bercerai dengan suaminya ketika anak mereka berusia satu tahun, tepatnya saat Nina baru berusia delapan belas tahun."
Lelah menghadapi asistennya, Ammar memilih membiarkan saja. Selama urusan pekerjaan lancar, tak masalah.
"Tapi mantan suami Nina alias ayah biologis si kembar, meninggal akibat kecelakaan dua tahun setelah mereka bercerai. Dengan kata lain, anak-anak Nina otomatis menjadi anak yatim." Damian sempat melirik bos-nya guna memastikan reaksi dan sesuai dugaannya, Ammar terlihat tak peduli. "Jika anda memilih Beliau, maka anda secara tidak langsung menopang dua anak yatim sekaligus. Itu sebuah keuntungan baik untuk urusan dunia ataupun akhirat anda, Tuan!"
Ammar sama sekali tak bergeming, dia lebih memilih fokus membaca dengan teliti dokumen penting perusahaan miliknya.
"Anda tak perlu mengkhianati Nyonya, karena anda tidak sampai tidur bersama dengan perempuan ini." Damian tersenyum tipis, begitu melihat Ammar menghentikan gerakan ketika hendak menandatangani salah satu dokumen. "Anda hanya perlu memberikan sper** dan biar dokter yang melakukan prosedur inseminasi."
Ammar benar-benar meletakan sepenuhnya pena yang tadi dipegangnya, dia bertopang dagu mendengarkan perkataan asistennya.
"Dengan begitu anda akan memiliki anak kandung, yang akan menjadi penerus di masa depan." Damian memberikan kertas yang didalamnya tertulis biodata calon ibu untuk calon pewaris tuannya.
"Di sini tidak tertulis apa pekerjaannya?" Tanya Ammar. "Kenapa tidak lengkap seperti ini? Apa mungkin perempuan ini adalah selingkuhan kamu?" Dia menatap curiga.
"Saya adalah seorang suami yang setia, Tuan!" Damian membantah. "Maaf saya tidak menuliskannya, yang jelas. Perempuan ini adalah perempuan baik-baik."
Ammar menaikan sebelah alisnya. Dia mulai meragukan asistennya. "Dami ... Jujurlah!"
"Saya selalu jujur pada anda, Tuan!"
"Lengkapi informasi latar belakang calon ibu anakku, atau aku tak akan mendengarkan mu kali ini , Dami!" Ammar menegaskan.
Damian menghela napas, "Tuan Ammar ..."
"Hmmm ..." Lagi Ammar menaikan sebelah alisnya.
"Kita permudah segalanya, Tuan!" Damian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Anda cukup memberikan sper** dan wanita itu akan menerimanya. Dia hamil, lalu melahirkan penerus. It's simple!!!"
"No ..." Ammar menolak mentah-mentah.
Damian menggelengkan kepalanya. Menghadapi mantan junior di kampusnya dulu, benar-benar mengesalkan. "Bukankah anda ingin tetap setia pada nyonya Leti? Jadi sebisa mungkin, anda sama sekali tidak boleh berinteraksi dengan calon ibu yang akan mengandung penerus."
Cukup masuk akal memang, tapi bukankah seharusnya Ammar bisa menilai sendiri calon ibu dari penerusnya kelak?
Ammar tidak ingin anaknya nanti, menjadi anak yang memiliki watak buruk keturunan dari si ibu.
"Biarkan aku bertemu dengannya, Dami! Setelah itu aku akan memutuskan, apa aku akan mengikuti saran mu atau tidak." Ammar menegaskan.
Damian terdiam sejenak, dia tengah berpikir dan menimbang-nimbang permintaan bos-nya.
"Ingat Dami, ada atau tidaknya seorang anak. Perusahan ku akan tetap berjalan. Andai aku mati, ada Leti yang akan meneruskannya."
Damian tau, bos-nya ini memiliki banyak kelebihan. Kaya dan tampan, Tapi terlalu bodoh untuk urusan cinta.
"Baik Tuan, saya akan mengatur jadwal anda untuk bertemu dengan calon ibu yang akan mengandung penerus. Tapi jika suatu hari nanti anda mengkhianati Nyonya Leti, itu diluar tanggung jawab saya." Damian sudah bertemu langsung dengan perempuan yang sedang mereka bicarakan. Entah mengapa, dia memiliki feeling kurang bagus soal masa depan rumah tangga bos-nya, jika sampai mereka bertemu. Tapi biarkan sajalah, seandainya terjadi apa-apa bukankah itu bagus.
"Aku suami setia, Dami! Aku sangat mencintai istriku." Ammar berkata dengan penuh keyakinan.
"Kita lihat nanti, Tuan!" Damian menyeringai.
***
Tidak ada alasan Nina untuk menolak tawaran pekerjaan dari Sabar. Karena suami Darmi itu telah menyodorkan bukti transfer pembayaran tunggakan uang sekolah Aby dan Anin.
Saat ini, Nina dalam perjalanan menuju tempat yang ditentukan oleh Sabar. Darmi mengizinkan begitu saja dirinya selesai bekerja lebih awal.
Ojek yang merupakan langganan di warung, mengantarkannya dan menolak saat Nina berniat membayar. Katanya balas Budi, karena kebaikan Nina.
Ini kali pertama bagi Nina menginjakan kakinya di sebuah gedung yang memiliki lantai cukup banyak dan juga lobi mewah.
Sabar menghampirinya saat Nina sedang bertanya pada sekuriti yang bertugas. Dan mengajaknya untuk naik ke lantai atas.
"Kalau boleh saya tau, kerjaannya apa pak? Apa saya akan dijadikan tukang bersih-bersih gedung?" Ini pertanyaan yang dari kemarin ingin Nina utarakan. Dia mengatakan hal itu, karena sadar diri akan ijazah yang dimilikinya. Nina hanya lulusan paket C. Dia harus berhenti sekolah ketika menginjak bangku kelas dua sekolah menengah akhir.
Mereka sedang berada di dalam elevator yang akan membawa ke lantai teratas gedung.
"Mungkin salah satunya. Pokoknya kalau bos besar saya cocok. Saya jamin hidup kamu dan si kembar akan sejahtera." Sabar berkata dengan penuh keyakinan.
Dulu saat Nina masih tinggal di kampung, ada salah satu tetangganya yang baru pulang merantau menceritakan tentang upah tinggi karena bekerja sebagai pembantu di rumah salah satu konglomerat. Dari pekerjaan itu, tetangganya bisa membangun rumah, membeli ternak dan juga kebun.
Bayangan dirinya yang bisa kembali berkumpul dengan anak-anaknya di rumah sendiri. Sontak membuat Nina tersenyum bahagia. Mereka tak perlu lagi saling menahan rindu. Nina bisa melihat senyum Aby dan Anin setiap hari.
"Mudah-mudahan saya diterima bekerja, Ya pak!" ujarnya penuh harap. "Tapi gimana sama ibu Darmi? Nanti ibu pasti kerepotan." Nina sedikit khawatir.
Bunyi 'ting' membuat Sabar urung menanggapi pertanyaan perempuan berjilbab maroon itu.
Begitu keluar dari elevator, Sabar meminta agar Nina mengganti sandal yang dikenakan dengan sandal rumahan berwarna hitam.
Setelah melewati foyer, Nina dibuat takjub dengan ruangan besar di depannya. Dia ternganga tak percaya melihat hal yang biasa hanya bisa dilihat di televisi, kini berada di depan matanya.
"Nin ..." Panggil Sabar.
"Iya pak!" Nina kaget, lamunannya buyar begitu saja. Padahal baru saja dirinya ingin mendeskripsikan apa yang dilihatnya kini.
"Kagumnya entar aja, sekarang sapa calon bos kamu." Sabar menunjuk dua orang lelaki jangkung yang datang menuruni tangga.
Nina mengikuti arah yang dimaksud oleh Sabar, dia mendapati lelaki berwajah timur tengah diikuti oleh lelaki yang tempo hari berkenalan dengannya.
Meski agak ragu, tapi Nina berusaha memasang wajah paling ramah-nya. Dia tersenyum dan menyapa dua lelaki itu. "Selamat sore, Pak!"
Walau menyapa, Nina tak berani menatap terus menerus dua lelaki itu. Dia hanya menatapnya sekali, setelahnya Nina menundukkan kepalanya. Apalagi dia merasa lelaki blasteran bernama Damian, menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Ayo Nin, duduk dulu!" ajak Sabar.
Nina duduk bersebelahan dengan Sabar, sementara Damian dan lelaki yang disapa Tuan Ammar itu, duduk di seberang mereka. Hanya dibatasi meja kaca.
"Langsung saja, Pak Sabar! Silahkan dibaca dan segera tanda tangani." Damian memberikan map berwarna hitam.
Sabar menerimanya, tanpa membukanya dia memberikannya pada Nina. "Ini Nin, kamu aja yang baca." Ujarnya.
"Oh ... Iya pak!" entah mengapa sedari bokongnya mendarat di sofa, Nina terus-menerus merasa bulu kuduknya berdiri. Rasanya tak nyaman. Apalagi dia merasa ada yang menatapnya tajam.
"Saya sudah membooking atas nama kamu, agar kamu bisa melakukan general check up di rumah sakit. Kalau hasilnya bagus, kita lanjutkan perjanjian yang tertulis di sana." Damian buka suara. "Kamu akan mendapatkan tempat tinggal yang nyaman dan uang bulanan selama masa kontrak. Lalu jika masa kontrak habis, kamu akan mendapatkan pesangon cukup tinggi." Sambungnya.
Nina menatap sejenak lelaki bermata biru itu, lalu mulai membuka map yang dipegangnya.
Lembar pertama, tertulis apa saja fasilitas yang akan Nina selama menjalani masa kontrak. Matanya sempat mendelik, mengingat besaran uang bulanan yang diterimanya.
Isi kepalanya mulai merancang apa saja yang akan dia lakukan dengan uang bulanan tersebut. Dan tentu saja untuk membahagiakannya buah hatinya.
Nina juga berpikir untuk menyisihkan penghasilannya nanti, guna membeli rumah. Agar saat liburan nanti, anak-anaknya bisa pulang ke rumah dengan nyaman.
Membayangkannya saja, membuat hatinya bagai dipenuhi taman bunga berwarna-warni dan semerbak baunya.
"Jika kamu merasa uang bulannya kurang, kamu bisa mengajukan keberatan." Tambah Damian.
Nina menggeleng tak setuju. Mana ada upah yang diberikan padanya untuk pekerjaan ini saja, bisa membayar uang sekolah Aby dan Anin selama satu tahun penuh. "Ini terlalu banyak, Mister!"
Bisa dibilang ini jauh sekali nominal yang diceritakan oleh tetangganya. "Saya cuma lulusan paket C, mana bisa dapat gaji kayak orang kerja di kantor." Nina pernah tanpa sengaja mencuri dengar dari beberapa pengunjung warung nasi tempatnya bekerja.
"Coba baca halaman selanjutnya hingga selesai."
Suara berat dari si lelaki timur tengah, membuat Nina menoleh dan menatap sejenak lelaki tampan itu. Namun setelahnya bulu kuduk Nina benar-benar berdiri.
Padahal ini masih sore, tapi kenapa sedari tadi Nina meras takut?
Walau begitu Nina tetap membaca halaman selanjutnya. Hingga sebuah baris kalimat membuatnya terkejut bukan main.