Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Tengah Lautan
...୨ৎ──── E V A ────જ⁀➴...
Aku merasa benar-benar linglung dan enggak berdaya saat diseret dan dibawa entah ke mana.
Suara mereka datang dan pergi. Tapi enggak benar-benar bisa aku tangkap dan mengerti.
Aku bahkan kehilangan kendali. Waktu akhirnya bisa mengerti apa yang ada di sekitar, aku dengar suara mesin mendengung dan air yang memuncrat-muncrat.
Tubuhku gemetar enggak terkendali terkena hembusan udara yang dingin, dan aku melepas erangan.
"Gimana rasanya, Baby?" tanya seorang cowok.
Rasanya?
Baby?
Aku ada di mana?
Aku harus berjuang untuk membuka mata, tapi penglihatanku masih sering buram, lalu fokus lagi, sedetik kemudian buram lagi, begitu saja seterusnya.
Seseorang langsung menepuk pipiku pelan, lalu seorang cowok tertawa. "Ha ha ha ha ... Dia masih teler."
Aku sadar aku sedang ada di atas perahu, saat perahunya mulai melambat. Sekitar semenit kemudian, aku ditarik paksa.
Aku bisa melihat ada perahu yang lebih besar dan sedikit demi sedikit kendali atas tubuhku mulai kembali. Asam lambungku naik, dan sesaat aku merasa akan muntah.
Aku dilempar ke permukaan yang keras dan bagian belakang kepalaku terbentur, membuatku mengerang lagi.
Aku harus sadar.
Kepalaku terkulai ke samping dan aku lihat para cowok itu duduk di kursi sebelum perahu yang lebih besar ini mulai bergerak.
Ke mana mereka akan membawaku?
Akhirnya, efek apa pun yang mereka berikan, telah memudar, sampai aku bisa mengangkat kepala. Dengan tubuh terasa lamban, aku duduk dan menopang diri dengan tangan di dek.
"Kamu bilang dia masih teler," gumam salah satu cowok.
"Perlu aku tembak lagi?"
"Enggak, barang itu terlalu mahal buat dibuang ke dia."
"Aku di mana?" tanyaku, suaraku terdengar pelo.
"Di laut lepas, Baby."
Saat pikiranku makin jernih, aku ingat para pengedar itu menculikku dan bilang aku harus bayar utangnya Sahara.
Oh, Tuhan.
Pikiran itu membuat semua inderaku kembali sepenuhnya, dan aku menatap sekeliling sambil berdiri.
Cuma ada tiga cowok bareng aku di perahu. Sesaat, aku kepikiran buat loncat ke laut, tapi dengan pergelangan tangan terikat begini, aku pasti akan tenggelam.
"Mau berenang sambil telanjang, kek duyung?" tanya salah satu idiot itu sebelum tertawa.
"Enggak, makasih!" gumamku, merasa lebih tenang dari sebelumnya.
Panik cuma akan membuatku mati.
Ya Tuhan, aku haus.
"Ada minuman enggak?" tanyaku sambil jalan ke kursi kosong dan mulai duduk.
"Enggak ada makanan atau minuman di pelayaran ini, Baby!" jawab salah satu dari mereka sambil tersenyum licik.
Anginnya dingin banget, dan aku merasa tubuhku mulai membiru, jadi aku jawab, "Hemm ... Ada selimut atau sesuatu yang bisa aku pakai buat hangatin badan aku, enggak?"
Cowok yang paling banyak bicara sama aku mengangguk ke arahku.
"Berengsek. Dia mulai bikin aku kesel. Tembak aja dia!"
"Jangan!" Aku langsung teriak saat sebuah suntikan dikeluarkan dari saku si cowok itu. "Oke. Aku bakal diam."
Salah satu idiot itu menyengir jahat sebelum bilang, "Udah telat, Baby!"
Waktu aku coba berdiri, aku langsung terjatuh lagi ke lantai. Sekali lagi, aku dibuat tengkurap tak berdaya saat sebuah jarum ditusukkan ke lenganku.
Sial.
"Berhenti! Aaaaahhh, berhenti ... Lepasinnn!" teriakku. "Aku bakal di … diem."
"Mampus enggak! Hahahaha!"
Seketika, dunia mendadak terasa seperti berputar, dan tiba-tiba aku enggak merasa sedingin tadi.