Ikhtisar :
Dia bernama Ayu Purnama, anak ketiga dari empat bersaudara. Dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai supir bus sedangkan ibunya pedagang tas ayaman. Ayu memiliki 2 kakak laki-laki dan 1 adik laki-laki, Ayu kembar dengan kakak keduanya. Tapi sayangnya, meski pun Ayu anak kandung dari keluarga tersebut dia selalu di sisihkan oleh sang ibu. Karena sang ibu hanya ingin memiliki anak laki-laki, ibunya berpikir kalau anak perempuan tidak akan bisa mengangkat derajat keluarganya dan keluar dari keterpurukan.
Suatu hari, ada seorang laki-laki dari keluraga kaya raya yang menyukainya karena kecantikan dan kegigihannya. Tetapi Ayu masih memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah, dia nekat untuk kabur dari rumahnya untuk mewujudkan cita-citanya. Apakah kepergian Ayu kan membuahkan hasil dan menjadi sukses setelah meninggalkan rumahnya itu ? Silahkan simak ceritanya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Meminta Izin
“Tanpa keberanian, tak akan ada kemenangan. Tanpa perjuangan, tak ada happy ending”
\_ Ayu Purnama\_
Saat Ayu masuk ke kelasnya, teman-temannya langsung mendekatinya.
“Gimana Yu ? Apa kamu menyetujuinya ?” Tanya Devan
“Aku mau tanya dulu sama mama dan bapa, kan berangkat ke sananya pakai ongkos sendiri” Jawab Ayu
“Semoga mama sama bapa kamu mengizinkannya, ya” Ucap Deris
“Amin…” Jawab Ayu
“Aku punya ide” Ucap Wulan
“Maksud kamu ?” Tanya Evi
“Kalian tahu sendirikan bagaimana Ayu, gimana kalau kita sekelas patungan untuk ongkos berangkat ke sana sama bekal Ayu di sana” Jawab Wulan
“Ide bagus itu, aku setuju” Timpal Devan
“Tidak usah, gak papa biar uang aku saja” Tolak Ayu karena meresa tidak enak
“Jangan merasa tidak enak Yu, kita solidaritas sesame teman” Ucap Deris
Lalu Deris pun menuju ke depan kelas …
“Perhatian semuanya…” Ucap Deris
“Kenapa Ris ?” Tanya Teman yang lain
“Aku yang tampan ini mau bicara sesuatu yang sangat penting, jadi tolong dengarkan sebentar teman-teman yang cantik dan ganteng tidak sombong dan rajin menabung” Jawab Deris
“Cepetan Deris, jangan terlalu berbelit-belit” Ucap Wida kesal
“Jadi begini, teman kita Ayu kan kepilih menjadi perwakilan untuk mengikuti lomba cerdas cermat dan untuk itu kita sebagai teman sekelasnya plus kita itu kamu sudah seperti saudara. Aku meminta teman-teman memberikan seikhlasnya uang untuk ongkos Ayu berangkat ke tempat perlombaan, dan waktunya hanya 2 hari. Hari ini dan besok, karena lusa Ayu akan berangkat ke tempat perlombaan” Papar Deris
“Aku tidak sudi untuk memberikan seperser pun sama dia” Jawab Rika
“Ya kalau yang tidak mau tidak papa, aku tidak memaksa. Aku hanya meminta solideritas kita saja sebagai teman sekelasnya” Ucap Deris
Lalu teman-teman sekelasnya mendekati Deris dan memberikan uang, untuk membantu Ayu dalam perlombaan.
“Maaf, aku memberinya gak banyak tapi mudah-mudahan dapat sedikit membantu” Ucap Salah Satu temannya
“Gak papa, yang terpenting itu keikhlasannya saja” Jawab Deris
Melihat teman-teman sekelasnya mengumpulkan uang, Ayu merasa terharus karena dia bisa merasakan kekeluargaan dari teman-teman sekelasnya meski pun tidak semuanya.
“Terima kasih banyak ya teman-teman, semoga apa yang kalian berikan kepada aku di balas oleh Allah SWT” Ucap Ayu terharu
“Amin… semoga sedikit membantu ya Yu” Kata Salah satu temannya
“Amin…” Jawab Ayu
Lalu Deris duduk di dekat Ayu …
“Ini Yu uangnya, simpan di kamu” Ucap Deris sambil mengulurkan tangannya
“Simpan di kamu dulu ya, aku takut ke pakai” Tolak Ayu
“Kamu sajalah yang simpan, in ikan untuk kamu” Jawab Deris
“Bagaimana kalau uang ini aku titipkan sama Devan saja ?” Tanya Ayu
“Kok sama aku sih ?” Tanya Devan
“Kan diantara kita yang uangnya banyak itu kamu, jadi aku titip sama kamu ya” Jawab Ayu sambil menunjukkan pupeyesnya
“Baiklah” Ucap Devan
“Makasih Van” Ujar Ayu
“Iya” Jawab Devan
Tak terasa jam menunjukkan pukul 13:00, para siswa pulang bel sudah berbunyi.
“Ayu, ayo pulang” Ajak Aizam yang sudah di depan kelas
“Ayo kakak” Jawab Ayu
*****
Sesampai di rumah, Ayu melihat bapaknya sudah ada di rumah karena sudah biasa istirahat sebentar.
“Bapak sudah pulang ?” Tanya Ayu lalu menyalami dua orang tuanya
“Iya, bapak lagi istirahat sebentar lagi juga berangkat” Jawab Asep
“Pa ma, aku kepilih untuk mengikuti perlombaan dari sekolah” Ucap Ayu
“Perlombaan apa ?” Tanya Lastri
“Cerdas cermat ma” Jawab Ayu
“Kamu gak usha ikut-ikut lomba kaya gitu, nanti ujung-ujungnya uang juga” Ucap Lastri dengan nada membentak
“Gak ada uang yang akan Ayu keluarkan ma, karena semuanya di tanggung sama pihak sekolah. Aku cukup ikut saja dan mama sama bapa mendoakan Ayu agar menang” Jawab Ayu
“Syukurlah, kalau tidak ada biaya yang harus di keluarkan” Ucap Lastri
“Tuh bu, tidak pakai biaya. Mama suka overthinking terus”
“Kapan perlombaannya Yu ?” Tanya Asep
“Tiga hari lagi pak” Jawab Ayu
“Kamu harus rajin belajar dari sekarang, nak” Ucap Asep
“Iya pa” Jawab Ayu
“Kita masuk dulu ya” Ucap Aizam
“Ayu …” Panggil Lastri saat Ayu akan masuk ke rumah
“Iya ma” Jawab Ayu
“Itu di belakang cucian numpuk, kamu cuci dulu sama siapkan makan untuk kita tadi bapamu bawa ikan sama cuci piring” Titah Lastri
“Tapi ma, aku cape mau istirahat sebentar saja” Tolak Ayu
“Kamu membantah perintah mama, akmu mau jadi anak durhaka karena tidak menuruti perintah mama ?” Ujar lastri
“Bukan begitu ma, nanti aku kerjakan tapi sekarang aku merasa cape banget” Jawab Ayu
“Alah …, alasa kamu saja yang tidak mau membantu orang tua” Ucap Lastri
“Sudah ma, kasihan Ayu baru pulang sekolah masa langsung di suruh kerja” Ujar Asep
“Bapa lagi selalu memanjakannya, lihat tuh anaknya jadi malas” Jawab Lastrid emosi
“Sudah Yu, kamu istirahat saja nanti kalau udah istirahat kamu kerjakan apa yang di perntah sama mama” Ucap Asep
“Iya pa” Ujar Ayu
Lalu Ayu meninggalkan orang tuanya …
*****
Ayu merebahkan tubuhnya untuh sedikit beristirahat, karena dari subuh sampai siang tidak berhenti bekerja. Sedangkan Aizam yang merasa kasihan, dia membantu mencuci piring dan merendam Sebagian pakaian untuk dia cuci karena merasa kasihan kepada adiknya itu.
Tak terasa Ayu sudah tidur selama 30 menit, dan untungnya semua pekerjaan yang Lastrid suruh kepada Ayu sudah di kerjakan oleh kakak-kakaknya tanpa sepengetahuan Lastri.
“Ini tinggal apa Zam ?” Tanya Yudi karena sudah pulang sekolah
“Tinggal masak kakak” Jawab Aizam
“Ayo kita masak, kasihan Ayu harus bekerja pagi, sore malam” Ucap Yudi
“Tadi juga kak, saat Ayu memberitahu mama kalau terpilih untuk mengikuti lomba cerdas cermat di marahi dulu karena mama pikir aka nada biaya untuk mengikuti lomba itu” Jawab Aizam
“Tapi ke sananya, Ayu harus aya pegangan uang Zam untuk ongkosnya” Ucap Yudi
“Nah, itu yang akan aku bicarakan sama kakak. Kita harus mengumpulkan uang untuk ongkos Ayu ke sana, dan meinta bantuan sama bapa” Ujar Aizam
Mendengar pembicaraan putranya Asep masuk ke dapur …
“Bapa akan membantu kalian untuk mengumpulkan uang untuk Ayu” Timpal Asep
“Bapa” Ucap Yudi
“Bapa beneran ?” Tanya Aizam
“Iya” Jawab Asep
“Memangnya kak Ayu mau kemana gitu ?” Tanya Guntur
“Kak Ayu mau ikut lomba dek, kamu doakan semoga kak Ayu menang ya lombanya” Jawab Yudi
“Iya, nanti aku doakan semoga kak Ayu menang lombanya” Ucap Guntur
“Anak pintar” Ucap Yudi sambil mengelus rambut Gununtur
“Ade siapa dulu dong, Guntur gitu lo” Ujar Guntur
Kalau kalian nanya kenapa tidak ada hp, karena cerita ini menceritakan sebelum maraknya hp. Karena hanya segelintir orang yang memiliki hp, pada masa ini orang-orang masih banyak menggunakan surat-menyurat untuk masyarat menengah ke bawah.