Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Nana korban Fitnah
Dimas tersenyum tipis, lalu meraih bahu Nana dan menariknya ke dalam pelukan. Pelukan yang hangat — bukan untuk menguasai, tapi sekadar menahan dunia agar tidak runtuh.
“Kamu nggak sendiri,” bisiknya pelan. “Selama aku masih di sini, kamu nggak akan sendirian.”
Nana menutup mata. Napasnya naik turun tak beraturan — sampai sebuah suara lain memutus ketenangan itu.
Deru mesin mobil.
Makin dekat.
Makin jelas.
Nana refleks menoleh.
Lampu depan mobil menyapu halaman. Jantungnya seolah terjun ke lantai.
“Itu…” suaranya tercekat. “Ayah.”
Tanpa pikir panjang, ia bangkit. Kursi rotan bergoyang keras — hampir jatuh. Nana berlari menyibak tirai, lalu menuruni tangga dengan langkah terburu-buru.
“Nana! Tunggu!” seru Dimas.
Tapi Nana tidak berhenti.
Dimas pun ikut mengejar.
Begitu tiba di halaman, Nana mendadak menghentikan langkah. Napasnya membeku di tenggorokan.
Pintu mobil terbuka.
Ayahnya turun — wajahnya letih, namun ada garis kelegaan yang aneh.
Di sisi lain, seorang perempuan melangkah keluar.
Isna.
Gaun putih sederhana masih menempel di tubuhnya. Di jarinya, cincin baru berkilat samar dalam temaram senja.
Di belakang mereka, dua anak perempuan — Grace dan Natalie — ikut turun sambil berpegangan tangan. Keduanya tampak berseri-seri, seperti baru pulang dari pesta.
Mereka tertawa kecil, saling berbisik — kagum melihat rumah besar yang kini, dalam pikiran mereka, juga menjadi milik mereka.
“Assalamu’alaikum,” ucap Isna, suaranya manis — terlalu manis.
Nana tidak menjawab.
Bibirnya bergetar.
Kedua lututnya terasa goyah.
Ayahnya menegakkan bahu, berusaha tegar.
“Nana,” katanya pelan. “Ini… istri Ayah sekarang. Mulai hari ini, dia bagian dari keluarga kita.”
Kata “keluarga” terasa seperti sayatan.
Mata Nana berkaca-kaca — tapi bukan air mata sedih semata; ada marah, ada kecewa, ada rasa dikhianati yang tak punya tempat untuk meledak.
Dimas berdiri beberapa langkah di belakang, menatap tegang.
Isna melangkah maju, bibirnya tetap tersenyum.
“Nana,” sapanya lembut. “Kita insyaallah akan hidup rukun. Kamu nggak usah takut. Sekarang kamu punya Ibu baru, punya adik juga. Semua akan baik-baik saja.”
Nana tidak bisa lagi menahan apa pun.
Air matanya jatuh begitu saja — deras, panas, tanpa suara. Ia menunduk, menggigit bibir, berusaha tetap berdiri, tetapi dadanya seperti terhimpit.
Tanpa sadar, tangannya meraih lengan Dimas.
“Mas… ayo,” bisiknya parau.
Dimas menoleh — kaget — tapi langsung memahami. Ia membiarkan tangannya digenggam, lalu ikut melangkah pergi.
“Ayah…” suara Nana pecah. “Maaf. Aku nggak bisa di sini.”
Ayahnya refleks maju, hendak menahan.
“Nana! Jangan pergi dulu! Dengar dulu penjelasan—”
Namun Isna cepat meraih pergelangan tangan suaminya.
“Biarkan,” ucapnya pelan, matanya menyipit. “Anak seperti itu… butuh waktu. Nanti juga kembali.”
Ayah Nana terdiam. Rahangnya mengeras, tapi ia tidak melangkah lagi.
Dan dalam hening penuh luka itu — Nana dan Dimas menjauh begitu saja.
Saung kayu di pinggir sawah berdiri tenang, seperti saksi lama yang tak pernah ikut campur. Angin sore bergerak lembut, menggoyang daun padi yang hijau menghampar sampai ke ujung pandang.
Nana duduk di balai bambu.
Ia menatap sawah ayahnya — tempat yang dulu sering mereka datangi bersama ibu. Tempat ibu tertawa, bercerita, menenangkan.
Kini semuanya terasa asing.
Namun anehnya… damai.
Seolah angin sawah sedang memeluknya menggantikan apa yang hilang.
Tak lama kemudian, langkah Dimas terdengar menyusul.
Ia duduk di sampingnya — tak terlalu dekat, tak terlalu jauh. Memberi ruang, tapi tetap ada.
“Kalau capek nangis… istirahat sebentar,” ucapnya pelan. “Aku di sini.”
Nana mengusap matanya. Napasnya masih tersendat.
Beberapa menit mereka hanya diam — mendengarkan angin, suara jangkrik, dan detak yang tak beraturan.
Lalu Dimas menelan ludah.
“Nana,” katanya hati-hati. “Aku sudah bilang tadi… dan sekarang aku ulang. Kalau kamu mau… aku siap nikahin kamu. Bukan karena kasihan. Bukan karena terpaksa. Tapi karena aku nggak mau kamu terus merasa sendirian.”
Nana tidak segera menjawab.
Kata-kata itu menggantung di udara.
Ia memandang hamparan sawah. Pikirannya berkelindan: ibu, ayah, Isna, dua anak perempuan itu… dan rumah yang tak lagi terasa rumah.
“Aku belum siap,” akhirnya ia berbisik. “Tapi… melihat Ayah seperti itu… mungkin… mungkin memang ini jalan satu-satunya supaya aku nggak diinjak-injak.”
Suaranya bergetar.
Dimas hendak menjawab — namun tiba-tiba suara ribut datang dari kejauhan.
Langkah banyak orang.
Bisik-bisik.
Lalu makian.
“ITU DIA!”
“Benar kan, berduaan!”
“Di saung! malam-malam! Memalukan!”
Nana tersentak.
Warga — lelaki dan perempuan — berdatangan, membawa senter, sebagian masih memakai sarung, sebagian menggulung lengan baju.
Tatapan mereka tajam. Tuduhan sudah terbentuk bahkan sebelum ada penjelasan.
Seorang ibu setengah baya menunjuk tajam.
“Nana! Baru ibumu dikubur, kamu sudah kayak gini?!”
Seorang bapak menimpali, suaranya tinggi.
“Anak kepala desa tapi kelakuan… ZINA! Memalukan!"
Nana membeku.
Darahnya seperti berhenti mengalir.
Dimas berdiri cepat.
“Pak, Bu — jangan asal ngomong! Kami cuma duduk ngobrol. Nggak ada apa-apa!”
Namun suara mereka tenggelam oleh teriakan lain.
“Bawa ke balai desa! Mereka berdua harus diadili!"
***
Bersambung...