Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Matahari bahkan belum menampakkan sinarnya di ufuk timur, namun ketenangan tidur Citra sudah direnggut paksa.
Gadis itu sedang bermimpi indah pulang ke rumah ibunya dan makan soto ayam langganan ketika tiba-tiba bahunya diguncang dengan kasar. Bukan guncangan lembut untuk membangunkan istri tersayang, melainkan guncangan tak sabaran yang membuat jantung Citra serasa mau copot.
"Bangun!"
Suara bariton yang berat dan dingin itu menyambar telinga Citra. Gadis muda itu terlonjak kaget, nyaris terguling dari sofa sempit tempatnya meringkuk semalaman. Matanya mengerjap-ngerjap panik, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
Di hadapannya, Putra Mahesa Aditama sudah berdiri tegak. Ia mengenakan bathrobe hitam sutra, wajahnya segar sehabis berolahraga ringan, namun tatapan matanya tajam seperti elang yang siap menyambar mangsa.
Citra buru-buru duduk tegak, merapikan rambutnya yang berantakan dengan tangan gemetar. Ia menunduk, tak berani menatap mata suaminya.
"Ma-maaf, Mas... Saya... saya kesiangan ya?" tanyanya lirih, mengubah panggilannya menjadi lebih formal karena takut salah bicara.
Putra tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya melirik jam dinding digital sekilas, lalu menatap Citra dengan sorot mata merendahkan.
"Siapkan air mandi saya," perintah Putra datar, tanpa basa-basi. "Sekarang. Pastikan suhunya pas. Jangan terlalu panas, jangan terlalu dingin. Cepat."
Citra menelan ludah, gugup setengah mati. "Ba-baik, Mas. Saya siapkan sekarang."
Dengan langkah terburu-buru dan kaki yang sedikit kram karena tidur menekuk di sofa, Citra bergegas menuju kamar mandi. Tangannya sedikit gemetar saat memutar keran bathtub mewah itu. Setelah bak terisi air hangat dan berbusa, Citra hendak beranjak keluar.
"Mau ke mana kamu?" Suara Putra menahannya di ambang pintu.
Citra berbalik pelan, meremas ujung kaosnya yang kusut. "Ma-mau keluar, Mas. Kan Mas Putra mau mandi..."
Putra melepaskan bathrobe-nya, menyisakan celana pendek, lalu masuk ke dalam air dengan santai. Ia bersandar di tepi bak dengan mata terpejam, seolah Citra hanyalah ornamen kamar mandi yang tidak penting.
"Siapa yang menyuruhmu keluar? Ambil spons itu. Gosok punggung saya," perintahnya mutlak.
Mata Citra membelalak kaget. Jantungnya berdegup kencang karena takut dan malu luar biasa. Wajahnya memerah padam.
"Ta-tapi, Mas..." cicit Citra pelan. "Saya... saya malu. Kita kan... belum..."
Putra membuka matanya, menatap Citra tajam. "Jangan membantah. Kamu istri saya, tugasmu melayani saya. Atau kamu mau saya laporkan ke Papa kalau kamu istri yang tidak becus?"
Ancaman itu membuat tubuh Citra menegang. Ia tidak ingin membuat masalah.
"Ja-jangan, Mas. Maaf..." ucap Citra gemetar. "Saya... saya kerjakan."
Dengan langkah berat seperti orang yang hendak dihukum, Citra mendekat dan berlutut di tepi bathtub. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh punggung lebar suaminya dengan spons. Citra merasa sangat rendah. Di rumah megah ini, statusnya istri, tapi perlakuannya tak ubahnya seperti pelayan pribadi.
Siksaan batin Citra berlanjut hingga ke meja makan.
Pukul tujuh pagi, setelah selesai "bertugas" di kamar mandi, Citra memberanikan diri turun untuk sarapan. Perutnya perih karena kemarin malam ia tidak makan apa-apa.
Di meja makan panjang yang penuh hidangan mewah itu, Pak Aditama duduk di ujung, membaca koran sambil menyesap kopi. Putra sibuk dengan tabletnya. Sementara Putri dan Kinan sedang asyik mengobrol sambil tertawa-tawa.
"Se-selamat pagi, Pa, Mas, Mbak..." sapa Citra sopan, berusaha tersenyum meski bibirnya terasa kaku.
Hening sejenak.
Baru saja Citra menarik kursi kosong, Kinan meletakkan pisau rotinya dengan kasar. Trang!
Wajah cantik adik ipar termuda itu berubah masam seketika. Ia menatap Citra dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan jijik yang terang-terangan.
"Ih, Mbak Putri... kok dia makan di meja ini sih?" protes Kinan keras, sengaja agar didengar semua orang. "Ilang deh selera makan aku. Liat tuh bajunya, kaos oblong murahan. Bikin sakit mata."
Citra menunduk dalam-dalam, wajahnya panas. "Ma-maaf, Mbak Kinan... baju saya masih di koper..."
"Alasan," cibir Putri, menimpali dengan nada dingin. "Meja makan kita jadi nggak berkelas kalau ada orang asing yang nggak ngerti table manner. Bau bawang lagi."
Hati Citra mencelos. Ia melirik ke arah Putra, berharap suaminya itu akan membelanya. "Mas..." panggil Citra lirih.
Tapi Putra bahkan tidak mengangkat wajah dari layar tabletnya. Ia menyuap potongan buah dengan tenang, seolah tuli terhadap hinaan adik-adiknya pada istrinya sendiri.
"Kalian ini bisa diam tidak? Berisik," hanya itu yang keluar dari mulut Putra. Datar dan egois.
Kinan mendengus, lalu bangkit. "Ayo ah, Mbak. Kita makan di luar aja. Enek aku di sini liat muka pembantu sok jadi nyonya."
Namun, sebelum Kinan sempat melangkah pergi, suara gebrak meja yang keras menghentikan segalanya.
BRAK!
Pak Aditama menggebrak meja dengan telapak tangannya. Koran yang dipegangnya diletakkan dengan kasar. Wajah tua itu memerah menahan amarah, matanya menatap tajam ke arah Putri dan Kinan.
"Duduk!" bentak Pak Aditama menggelegar.
Kinan dan Putri terlonjak kaget. Mereka langsung duduk kembali dengan wajah pucat. Bahkan Putra pun menghentikan kegiatannya dan menoleh pada ayahnya.
"Sejak kapan Papa mendidik kalian menjadi manusia tidak punya hati?" suara Pak Aditama bergetar karena marah. Telunjuknya menuding wajah Kinan dan Putri bergantian. "Citra ini kakak ipar kalian! Istri sah dari kakak kalian! Berani sekali kalian menghina dia di depan makanan seperti ini?"
"Ta-tapi Pa... dia kan..." Kinan mencoba membela diri dengan suara mencicit.
"Dia apa?!" potong Pak Aditama galak. "Dia manusia! Dia bagian dari keluarga ini sekarang! Pakaiannya sederhana karena dia orang yang bersahaja, bukan gila pamer seperti kalian yang cuma bisa menghabiskan uang Papa!"
Pak Aditama lalu mengalihkan tatapan tajamnya pada Putra. "Dan kamu, Putra! Istrimu dihina di depan hidungmu sendiri, dan kamu diam saja asyik dengan gadget-mu? Di mana tanggung jawabmu sebagai suami? Di mana wibawamu sebagai kepala keluarga?"
Putra terdiam, rahangnya mengeras, namun ia tak berani membantah ayahnya. Ia hanya menunduk sedikit. "Maaf, Pa."
Pak Aditama menghela napas panjang, meredakan emosinya. Ia menoleh pada Citra. Tatapannya melembut seketika.
"Makan, Nak Citra," ucap Pak Aditama lembut, sangat kontras dengan nada bicaranya tadi. "Jangan dengarkan omongan mereka. Ini rumahmu juga. Habiskan sarapanmu, nanti sakit."
Mata Citra berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di rumah neraka ini, ia merasa diperlakukan sebagai manusia.
"Te-terima kasih, Pa..." ucap Citra dengan suara serak menahan tangis haru.
Ia mulai menyuap nasi gorengnya. Meski Kinan dan Putri masih menatapnya sinis diam-diam, dan Putra masih bersikap dingin, setidaknya Citra tahu ia memiliki satu pelindung di benteng musuh ini.
atau happy bersama lelaki lain
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih