"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sore itu, bel rumah berbunyi dengan irama yang sangat tidak sabaran. Dira, yang baru saja mau maskeran pakai parutan timun (karena katanya lebih organik daripada beli di mal), terpaksa membukakan pintu dengan wajah yang separuh sudah tertutup irisan sayur hijau itu.
Di depan pintu, berdirilah Jaka. Sahabat Bagas yang selalu tampil rapi dengan kemeja flanel yang dikancing sampai leher, seolah-olah dia adalah CEO perusahaan teknologi, padahal aslinya dia adalah pengangguran premium yang hobi investasi di koin kripto yang grafiknya lebih sering terjun bebas daripada naik.
"Astaga, Dir! Gue kira gue salah alamat ke kebun sayur," seru Jaka sambil memegang dadanya, kaget melihat wajah Dira.
"Masuk, Jak. Jangan banyak protes kalau nggak mau gue jadiin pupuk," sahut Dira datar.
Jaka masuk dan langsung menuju ruang tamu. Matanya tertuju ke patung ayam jago berkacamata hitam yang berdiri megah di pojok. Jaka mengelus kepala semen patung itu dengan khidmat.
"Gas! Bagas! Keluar lo! Gue mau ngasih pencerahan penting soal martabat laki-laki!" teriak Jaka.
Bagas muncul dari kamar mandi, hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan bertuliskan 'I Love My Boss' .
"Apaan sih, Jak? Ganggu ritual gue lagi meditasi bareng kecoak aja."
Jaka duduk di sofa, memasang wajah serius ala motivator kelas dunia. "Gas, gue denger dari Cindy semalem pas dia curhat di story IG-nya soal 'cowok aneh bin ajaib', gue langsung tau itu lo. Gas, lo itu Creative Lead! Masa lo kalah dominasi sama istri sendiri? Lo harus jadi Alpha Male, Gas!"
Dira yang sedang duduk di sebelah Jaka sambil menempelkan timun ke matanya, hanya bergumam,
"Alpha-alpha... lo dapet gelar itu dari mana, Jak? Dari grup WhatsApp bapak-bapak komplek?"
"Dengerin dulu, Ndoro!" Jaka membela diri.
"Gas, menurut teori yang gue baca di buku 'Men Are from Mars, Women Are from Earth, and Jomblo Are from Heaven', laki-laki itu harus punya wibawa. Kalau istri panggil 'Tapir', lo jangan diem aja. Lo harus balas dengan panggil dia sesuatu yang lebih... berkuasa."
Bagas mengernyitkan dahi. "Terus gue harus panggil Dira apa? Yang Mulia? Ibu Negara? Atau... Baginda?"
"Bukan! Panggil dia... My Queen dengan nada yang berat dan misterius," saran Jaka penuh semangat. "Terus, lo harus mulai ngambil keputusan besar tanpa tanya dia. Contohnya, ganti warna cat tembok rumah ini tanpa persetujuan dia!"
Dira langsung membuka satu kelopak timun di matanya. "Jak, kalau Bagas berani ganti warna tembok tanpa nanya gue, besok lo bakal liat Bagas tidur di dalem kandang ayam beneran di pasar."
Bagas malah mangut-mangut, otaknya yang sudah 'geser' mulai memproses saran Jaka secara salah.
"Oke, gue dapet idenya. Gue akan jadi Alpha sekarang juga!"
Bagas berdiri, membusungkan dada, dan menatap Dira dengan tatapan yang dia kira "keren" padahal aslinya mirip orang lagi nahan sakit perut.
"Ndoro... eh, maksud gue... My Queen," Bagas mencoba menurunkan suaranya sampai dua oktav.
"Mulai detik ini, gue mutusin kalau nanti malam kita nggak makan masakan rumah. Kita akan makan... bakso boraks di depan komplek pake saos!"
Jaka menepuk jidatnya sendiri. "Bego.... Bukan gitu maksud gue, Gas! Keputusan besar itu kayak beli aset, atau investasi, bukan beli bakso!"
"Loh, beli bakso pake saos itu keputusan besar buat lambung gue, Jak!" protes Bagas. "Gue berani ngambil resiko diare demi menunjukkan dominasi gue sebagai Alpha!"
Dira hanya bisa geleng-geleng kepala. Dira menoleh ke Jaka. "Jak, mending lo pulang sekarang sebelum gue suruh Bagas buat mempraktekkan teori Alpha-nya untuk ngusir lo pake sapu lidi."
"Tapi Dir, ini demi keharmonisan rumah tangga kalian!"
"Harmonis pala lo! Lo aja kalau ketemu cewek kasir minimarket gemeteran sampe salah masukin PIN ATM tiga kali, sok-sokan mau ngajarin Bagas jadi Alpha," semprot Dira.
Jaka langsung terdiam. Skakmat. Memang benar, teori Jaka hanya sebatas teori di layar ponselnya saja. Jaka sendiri adalah seorang jomblo yang abadi.
Bagas yang masih dalam mode Alpha (setengah matang) kemudian mendekati Dira. Bagas membungkuk sedikit dan berbisik, "My Queen, kalau gue minta uang seratus ribu buat beli umpan pancing baru, boleh nggak?"
Dira menutup kembali matanya dengan timun. "Gak ada Queen-Queen-nan. Panggil gue apa?"
Bagas langsung layu. Bahunya turun lagi. "Boleh nggak, Ndoro?"
"Nah, gitu dong. Ambil di dompet gue, tapi syaratnya, lo harus bersihin kacamata patung Jago sampe kinclong!"
"Siap, Ndoro!" Bagas langsung lari mengambil kemoceng dan kain lap.
Jaka hanya bisa melongo melihat "Alpha Male" versi Bagas yang hancur berkeping-keping dalam waktu kurang dari lima menit. Jaka bangkit berdiri, merapikan kemejanya.
"Gue rasa... teorinya butuh revisi. Kayaknya kalian berdua emang spesies yang belum masuk di buku biologi mana pun."
"Emang, Jak. Makanya jangan main-main ke sirkus kalau lo cuma penonton amatir," sahut Dira sambil nyengir dari balik timunnya.
"Kalo gitu, gue pulang deh, lama-lama di sini gue bisa ketularan gesrek kaya kalian."
"Pilihan yang tepat. Yaudah buruan sana pulang, lagian lo bertamu nggak bawa apa-apa, orang mah bawa martabak kek," balas Dira.
"Nanti gue bawa martabak, kalo kripto gue terbang tinggi kek burung elang, kripto gue masih terjun bebas menyelam ke dalam samudra antartika."
Jaka pulang dengan perasaan gagal sebagai guru cinta, sementara Bagas asyik ngobrol sama patung ayam jagonya sambil ngelap kacamata hitam si patung. Di pojokan, Dira tersenyum puas. Dira tahu, mau sebanyak apa pun orang luar mencoba "menormalkan" rumah tangganya,
Bagas akan tetap menjadi Tapir kesayangannya yang paling patuh pada perintah Ndoro.
Bagas tetap jadi dirinya sendiri, dan itu yang Dira suka, meski terkadang lelah dengan tingkah gesrek Bagas, tapi Dira bersyukur, di luaran sana belum tentu ada pria yang uniknya seperti Bagas.
Belum tentu ada pria yang bisa menerima segala kurangnya Dira, point pentingnya bisa membuat Dira menjadi dirinya sendiri.
Dira sudah terbiasa dengan segala keunikan Bagas dan juga keunikan-keunikan di dalam rumah tangganya.
Tapi, apakah Bagas benar-benar menyerah jadi Alpha? Ataukah besok dia akan membawa pulang "aset investasi" aneh lainnya karena terpengaruh video TikTok Jaka yang lain? Atau hal yang lebih gesrek lagi?
Apapun itu, Dira akan selalu siap menghadapi segala kekonyolan Bagas di dalam rumah tangga mereka.
Keunikan Bagas itu seperti sayur yang hambar jika kurang garam.
apalagi bagas ada aja ide kreatif nya, dan bisa merubah segala macam situasi 😃
dsini dira yang masih waras meski idenya bikin geleng kepala pas suruh lawan pelakor 🤣
up terus kaka semangat 🤗🤗
semangat up kaka🤗
dan suka karakter bagas yang ga menye menye😃
idenya kreatif kak, bisa bikin cerita lucu dngan berbagai ide yang unik 🤗
suka karakter manda yang super mistis, 🤣🤣🤣
yang pasti bnyak ketawa nya
menarik banget
ketawa terus pas setiap baca perbab
semangat up iya kaka🤗
semoga makin asyik kedepannya 👍