NovelToon NovelToon
Maximilien

Maximilien

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kisah Pencinta Yang Asing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrofersi yang Menyakitkan

Siang itu, kantin Universitas Columbia dipenuhi aroma kopi dan kebisingan mahasiswa yang beradu argumen tentang tugas akhir. Di salah satu meja panjang yang terbuat dari kayu ek tua, Max duduk bersama Danesh, satu-satunya pria yang ia izinkan berada di lingkaran terdekatnya.

Danesh adalah putra seorang diplomat asal Dubai yang memiliki ketenangan yang luar biasa, satu-satunya orang yang bisa menghadapi tempramen Max tanpa merasa tersinggung.

​"Kau terlalu tegang, Max," Danesh berbisik sambil menyesap teh hijaunya. "Kau menatap buku itu seolah ingin membakarnya dengan pikiranmu."

​Max tidak mendongak. "Dunia ini terlalu bising, Danesh. Dan orang-orang di sini... mereka membuatku sesak."

​"Termasuk gadis-gadis yang mencuri pandang ke arahmu setiap sepuluh detik?" Danesh terkekeh pelan. "Lihat, di sana ada Kitty dan Guzzel. Mereka baru saja masuk."

​Mendengar nama 'Guzzel', rahang Max mengeras sesaat. Dia teringat kejadian kopi tumpah kemarin.

Dia membenci gadis itu karena setiap kali mereka berdekatan, ada getaran aneh yang tidak bisa ia jelaskan, getaran yang membuatnya merasa tidak berdaya, dan dia membenci perasaan tidak berdaya.

​Sementara itu, Kitty dan Guzzel sedang mengantre makanan.

Guzzel tampak melamun, lingkaran hitam samar di bawah matanya menunjukkan bahwa dia baru saja menghabiskan malam yang panjang untuk menangis sambil membalas pesan Max.

​Kitty menatap Guzzel dengan pandangan menyelidik. Dia sudah merencanakan ini sejak semalam. Dia ingin tahu apakah nama "Lia" di ponsel Guzzel adalah sebuah identitas rahasia atau hanya kebetulan.

​"Guzzel, kau baik-baik saja?" tanya Kitty dengan nada yang dibuat semanis mungkin.

​"Ya, hanya kurang tidur, Kit," jawab Guzzel singkat.

​Mereka berjalan menuju meja yang tak jauh dari tempat Max dan Danesh duduk.

Kitty sengaja memilih posisi di mana suaranya bisa menjangkau telinga Max, namun tetap terlihat seperti obrolan biasa.

​"Oh, aku hampir lupa!" Kitty tiba-tiba berseru sedikit keras, membuat beberapa orang menoleh. "Aku menemukan artikel menarik tentang nama-nama unik. Kau tahu, Guzzel? Aku merasa nama panggilanmu yang sekarang kurang cocok dengan kepribadianmu yang lembut."

​Guzzel mengerutkan kening, tidak curiga. "Maksudmu?"

​Kitty tersenyum miring. Dia menarik napas panjang dan memanggil dengan suara yang jelas, jernih, dan cukup lantang untuk menghentikan denting sendok di meja sebelah.

​"Bagaimana kalau aku memanggilmu Lia? Kau terlihat sangat cocok dengan nama itu, Lia."

​Deg.

​Waktu seolah berhenti bagi Guzzel. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Dia menatap Kitty dengan mata membelalak, wajahnya seketika pucat pasi seputih kertas.

​Di meja sebelah, Max yang tadinya sedang mendengarkan Danesh berbicara, tiba-tiba mematung. Kepalanya tersentak ke arah sumber suara. Nama itu. Nama yang setiap malam ia bisikkan dalam doa-doa rahasianya. Nama yang menjadi satu-satunya alasan dia masih ingin bangun di pagi hari.

​Lia.

​Max menatap Guzzel dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara keterkejutan, kecurigaan, dan amarah yang mulai mendidih. Dia melihat bagaimana Guzzel gemetar mendengar nama itu.

​"Kenapa kau memanggilku begitu, Kit?" suara Guzzel nyaris menghilang, tercekat di tenggorokan.

​"Entahlah, rasanya manis saja. Lia. Seperti nama seseorang yang sedang jatuh cinta secara rahasia, bukan?" Kitty terus memprovokasi, matanya melirik ke arah Max untuk melihat reaksinya.

Dan dia mendapatkannya. Max sedang memperhatikan mereka dengan intensitas yang mengerikan.

​Danesh menyadari perubahan atmosfer di sebelah saudaranya. "Max? Ada apa? Kau terlihat seperti melihat hantu."

​Max tidak menjawab. Pikirannya berputar kacau. Tidak mungkin. Lia adalah malaikatku. Lia adalah pelabuhanku. Guzzel? Gadis pengusaha sombong ini? Gadis yang menumpahkan kopi ke bukuku ini? Tidak mungkin dia adalah Lia-ku.

​Namun, reaksi Guzzel terlalu nyata. Gadis itu tampak ingin menghilang dari muka bumi.

​Guzzel tidak sanggup lagi berada di sana. Dia menyambar tasnya dan berdiri dengan terburu-buru. "Aku... aku harus ke kelas. Maaf, Kitty."

​Guzzel lari keluar dari kantin, langkahnya serampangan. Dia tidak peduli lagi pada Kitty yang memanggilnya atau tatapan bingung mahasiswa lain. Dia hanya perlu menjauh.

​Max, tanpa pamit pada Danesh, langsung berdiri. Dorongan kursinya menimbulkan suara derit yang kasar di lantai marmer, membuat suasana kantin hening seketika. Dengan langkah lebar dan aura yang sangat mengancam, Max mengejar Guzzel.

​"Max! Mau ke mana?!" teriak Danesh, tapi Max sudah menghilang di balik pintu besar kantin.

​Kitty berdiri mematung. Dia tidak menyangka reaksinya akan se-ekstrem ini. "Lia..." bisiknya sendiri. "Jadi benar... ada hubungan antara nama itu dan Max?"

​Di lorong kampus yang sepi, Max berhasil mencegat Guzzel. Dia menarik lengan Guzzel dengan kasar dan memutar tubuh gadis itu hingga punggungnya menempel pada dinding dingin gedung tua itu.

​"Lepaskan aku, Max!" Guzzel merintih, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Max yang seperti baja.

​"Siapa kau?!" Max menggeram, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Guzzel. Matanya yang dingin kini menyala oleh amarah dan ketakutan yang bercampur. "Kenapa temanmu memanggilmu dengan nama itu?"

​Guzzel menggeleng, air mata mulai mengalir. "Itu... itu hanya panggilan sembarangan, Max. Kitty hanya bercanda."

​"Jangan berbohong padaku!" suara Max menggelegar di lorong sepi itu. "Kau tahu betapa aku membenci kebohongan! Kau tahu apa arti nama itu bagiku!"

​Guzzel terdiam. Kata-kata "Kau tahu" dari mulut Max adalah pengakuan bahwa Max menyadari ada sesuatu. Tapi Guzzel belum sanggup jujur. Dia tahu jika dia mengaku sekarang, Max akan menganggapnya sebagai pengkhianat terbesar.

Max akan berpikir bahwa Guzzel telah menertawakannya selama berbulan-bulan, melihat kerapuhannya di balik layar sambil tetap menjadi "Guzzel yang sempurna" di depannya.

​"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Max," bohong Guzzel lagi, meskipun hatinya perih.

​Max menatap mata Guzzel dalam-dalam. Dia mencari kebohongan, dia mencari ejekan, tapi yang dia temukan hanyalah kesedihan yang mendalam. Max melepaskan cengkeramannya dengan kasar, seolah-olah kulit Guzzel baru saja menyetrumnya.

​"Kau..." Max mendesis. "Kau wanita yang mengerikan. Jika kau berani menggunakan nama itu untuk mempermainkanku, aku bersumpah akan menghancurkan hidupmu dan keluargamu."

​Max berbalik dan pergi, meninggalkan Guzzel yang merosot jatuh ke lantai, terisak dalam diam.

​Malam itu, New York diguyur badai. Max duduk di lantai apartemennya, dikelilingi oleh kegelapan. Ponselnya ada di tangannya. Dia ingin mengirim pesan pada Lia. Dia sangat ingin mengadu pada Lia tentang kejadian di kantin tadi, tentang betapa dia membenci Guzzel yang berani menggunakan nama suci itu.

​Namun, jemarinya berhenti di atas layar.

​Bagaimana jika benar? bisik suara di kepalanya. Bagaimana jika Lia adalah Guzzel?

​Max menggeleng keras. "Tidak. Lia mencintaiku. Lia mengenalku. Guzzel hanya ingin menjatuhkanku."

​Dia mulai mengetik pesan dengan gemetar.

​V: Lia, kau di sana? Seseorang di kampus memanggil nama Lia hari ini. Aku merasa sangat marah. Aku tidak ingin ada orang lain yang memiliki nama itu selain kau. Katakan padaku kau masih di sana, Lia. Katakan padaku bahwa kau nyata.

​Di rumahnya, Guzzel menatap pesan itu. Dia tahu setiap kata yang dia balas sekarang akan menjadi bahan bakar untuk ledakan di masa depan. Tapi dia tidak bisa membiarkan Max menderita.

​Lia: Aku di sini, V. Aku nyata. Aku akan selalu menjadi milikmu. Jangan biarkan dunia luar mengganggumu. Ingat apa yang kita bicarakan tentang taman dan cokelat panas? Itu adalah dunia kita. Hanya kita.

​Max membaca pesan itu dan menghela napas lega. Ketegangannya sedikit mengendur. Lihat? pikirnya. Lia selalu tahu cara menenangkanku. Guzzel tidak mungkin bisa selembut ini.

​Namun, benih keraguan telah ditanam oleh Kitty. Dan di kampus, suasana tidak akan pernah sama lagi. Max mulai memperhatikan Guzzel lebih dari biasanya, bukan dengan rasa suka, tapi dengan kecurigaan yang tajam.

Dia mulai memperhatikan cara Guzzel memegang ponsel, cara dia mengetik, dan aroma parfumnya yang entah kenapa terasa sangat akrab, seolah dia pernah menciumnya dalam mimpinya tentang Lia.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 😍😍😍😍

1
ren_iren
pliss jangan rusak aurelia dgn dendam ke saudaranya kak....
iluh asrini
cerita yang sangat menarik terimakasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!