"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Sudah terhitung 14 hari mereka menikah tanpa bersentuhan. Bagaimana pun Ryan adalah lelaki normal. Ia akan bereaksi alami bila di samping wanita cantik. Selama ini Ryan menahan hasratnya, ia bingung mengutarakan keinginannya.
Meski tangan Naina kasar, karena melakukan pekerjaan berat, tidak di pungkiri kalau Naina memiliki badan yang bagus dan mulus. Ryan selalu tergiur melihat tubuh Naina selepas ia mandi. Dengan susah payah Ryan menjaga kewarasannya. Namun kali ini entah setan apa yang terus membisiki Ryan untuk menikmati setiap jengkal tubuh Naina.
Selepas mandi, Naina berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Tiba-tiba tangan besar itu melilit tubuh Naina. "Kita sudah sah, aku suamimu." Bisik Ryan menahan nafasnya yang berat.
Naina mencoba melepaskan pelukannya, ia merasa takut dengan sikap Ryan. Terlebih mata Ryan sayu dan sedikit berlinang. Wajahnya yang tegas kini berubah seperti pria mesum.
"Aku akan bertanggungjawab atas dirimu dan anak kita nanti. Untuk sekarang tolonglah aku. Aku ini lelaki normal, Naina. Jangan siksa aku." Lirih Ryan.
Ryan mencium leher Naina, dan mendorongnya sampai pada kasur kapuk yang biasa mereka tiduri. Seperti orang kesurupan, Ryan terus mencium tubuh Naina tanpa henti, memberikan reaksi alami untuk Naina. Lambat laun Naina terpancing hasrat, dan mereka pun melakukan hubungan suami-istri pada umumnya.
Entah sudah berapa kali mereka melakukan hubungan sah itu, yang jelas Naina dan Ryan semakin terbuka tentang hidup dan perasaan mereka. Ryan menceritakan kehidupannya di kota dan memberitahu alamat ia bekerja. Meski tak secara rinci namun itu bisa menjadi kunci.
Naina semakin mencintai Ryan yang kini bersikap lembut dan selalu menolongnya. Tak ada lagi keraguan dalam diri keduanya. Mereka jalani hari dengan ikhlas dan bahagia. Ryan mulai mencoba masakan Naina tanpa mengeluh ini dan itu. Ternyata tak buruk juga memakan sayuran yang di petik langsung dari alam.
"Aku ingin memperbaiki ponsel ku. Apa kamu bisa antar aku?" Tanya Ryan pada Naina.
"Tapi aku tidak memiliki uang lebih untuk memperbaiki ponselmu."
"Tenang saja, asal ponsel ini menyala, aku akan mengambil uang di sini." Ryan menggoyangkan ponselnya.
"Bagaimana ceritanya ponsel dapat mengeluarkan uang? Bukannya kita harus ke mesin ATM untuk mendapatkan uang."
"Dasar bodoh, dunia ini semakin canggih, Naina." Ryan menjentikkan jarinya pada jidat Naina.
Naina mengantar Ryan mengelilingi pasar, dan pusat belanja tradisional lainnya. Ryan baru menyadari, bahwa yang tertinggal zaman itu adalah Naina bukan penduduk desanya. Betapa malangnya nasib Naina ini. Ryan tersenyum menatap Naina, dan Ryan menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Disana pusat servis ponsel." Naina menunjukkan ruko di sebrang jalan.
Ryan menggenggam erat tangan Naina, seolah menggenggam tangan anak kecil. Ryan yang bertubuh tegap dan tinggi itu sangat kontras dengan Naina yang bertubuh pendek dan juga kurus. Bahkan Naina dapat bersembunyi di balik badan Ryan.
"Kang, saya mau servis ponsel." Ucap Naina mengawali umpan percakapan.
"Coba sini di liat dulu."
Ryan memberikan ponselnya, tukang servis itu mulai mengamati ponsel milik Ryan. "Ini ponsel keluaran terbaru ya, kang?" Tanya tukang servis itu pada Ryan.
"Iya,"
Kembali tukang servis itu mengamatinya, dan mencari charger untuk mengisi daya ponsel. Apakah masih bisa jalan atau memang sudah rusak.
"Mesinnya masih jalan, tapi LCD-nya rusak deh, kang." Ucap tukang servis itu.
"Bisa di perbaiki gak?" Tanya Ryan.
"LCD-nya mahal kang, kita juga harus PO dulu. Kita belum stok, soalnya ini barang mahal." Jelasnya.
Ryan terdiam, ternyata tak semudah itu tinggal di desa. Banyak keterbatasan dan kurangnya. Ryan putus asa, bagaimana caranya dia kembali ke kota, dan bagaimana nasib perusahaannya.
"Bang, maaf, boleh pinjam ponselnya? Saya mau menghubungi teman saya." Pinta Ryan.
Sejenak tukang servis itu ragu, namun karena ia tahu pada Naina, dan sedikit bertanya siapa orang di sampingnya, akhirnya tukang servis itu memberikan ponselnya pada Ryan.
Ryan mencoba menghubungi Dani, namun tak ada jawaban. Ryan kembali mencoba mengirim pesan, namun tak ada juga balasan. Ryan terlihat frustasi.
"Naina, apa benar dia suamimu? Kenapa kau asal pilih sih? Padahal Damar jelas mencintaimu." Ucap Toni tukang servis ponsel sekaligus kawan baiknya Damar.
"Kang Toni, bukannya Kang Damar itu sudah memiliki tunangan? Bagaimana bisa aku merusak hubungan mereka. Aku harus tahu diri siapa aku, kang. Aku dan Kang Damar bagaikan langit dan bumi."
"Itu perumpamaan yang sangat jauh, Naina. Sebetulnya kamu masih bisa bersama Damar, daripada dengan pria kota yang tak tahu asal usulnya itu." Ucapan Toni memang ada benarnya, namun bagaimana pun Ryan lah yang selama ini menemani Naina, dan memberikan kehangatan bagaimana sebuah keluarga.
"Bagaimana pun juga saya sudah menikah, kang. Dan kang Damar pun akan menikah." Toni hanya diam tak bisa membalas ucapan Naina.
"Naina, ini nama desanya apa?" Teriak Ryan.
"Desa Tapa Agung."
"Desa Tapa Agung, cepat kesini. Terus pesankan LCD buat ponselku. Oke, segitu saja, aku tunggu kamu." Ucap Ryan pada orang di seberang sana.
Ryan berjalan dan mengembalikan ponsel itu pada Toni. "Makasih, bang."
Malam ini, dengan di temani cahaya cempor, mereka berdua makan bersama. Ryan terus saja mengamati wajah Naina. Seketika ia lupa akan cinta yang bertahun-tahun menumpuk di hatinya. Ia tepikan tentang Maeta. Bahkan tak sedetikpun Ryan memikirkan Maeta. Wajah ayu Naina, sanggup membuat Ryan merasa mabuk sesaat.
Ryan terpaku dengan ciptaan Tuhan yang begitu indah ini. Andaikan ia dapat membawa Naina pergi dan mengenalkannya pada keluarganya. Namun semua itu takkan mudah, ia terikat janji dengan Maeta.
"Maeta," lirih Ryan disela makannya.
"Kenapa, Pak?" Naina bertanya, meski ia tak begitu jelas mendengar ucapan Ryan.
"Tidak apa-apa. Makanan mu ini manis." Elaknya namun terus menyuapi dirinya dengan sesendok nasi.
"Masa sih?" Naina mencicipinya. "Iya juga, ya. Maaf ya, pak."
"Gak apa-apa, enak kok."
Malam ini, Ryan terjaga. Ia menatap wajah Naina yang terlelap di sampingnya. Hatinya kini sakit, bila harus meninggalkan Naina. Tapi bagaimana dengan Maeta?
"Aku dihadapi dengan dua pilihan yang berat. Jika aku melepaskan mu, apakah kamu akan membenciku?" Gumam Ryan menyisir lembut rambut Naina.
"Aku takut kamu membenciku, namun aku pun takut kehilangannya. Aku minta, maafkan aku, jika aku membuat keputusan yang salah untuk mu." Lama Ryan mencium kening Naina.
Malam pun berlalu, pagi menyapa seolah cerita semalam hanyalah bualan. Seperti biasa Ryan mencoba membantu Naina, ia menemani Naina memetik sayuran di kebun, dan membantu mencuci pakaian di sungai.
"Naina,"
"Iya, Pak?" Jawab Naina saat Ryan memanggilnya, namun tatapan Ryan entah kemana.
"Pak Ryan? Kenapa?" Tanya Naina bingung dengan sikap Ryan.
"Gak apa-apa, cuma pengen manggil nama kamu aja." Elaknya tak sanggup berucap.
Naina pamit, ia akan bekerja di salah satu rumah warga yang terbilang cukup kaya di desanya. Naina biasa menjadi tukang cuci baju dan menyetrika pakaian. Lumayan uangnya untuk makan beberapa hari ke depan.
Hampir satu bulan ini, kebutuhan Ryan, Naina yang tanggung. Tak sedikit warga menyayangkan sikap Naina yang begitu saja menikah dengan laki-laki tak jelas asal usulnya dan malah tak bekerja sama sekali.
"Assalamualaikum, Pak Ryan, aku pulang." Teriak Naina, yang di panggil pun keluar dari kamar bilik.
"Alhamdulillah, aku punya sedikit rezeki, ayo kita makan. Ini di beri sama Bu Jumi tadi." Naina masih asik menata makanan untuk suaminya.
Ryan terpaku, ia tak bersuara, hanya tersenyum seolah banyak beban dalam pikirannya. Ryan menatap Naina yang terus saja bercerita ini dan itu. Ryan tak bisa menjawabnya, ia kalut oleh pikirannya sendiri.
"Pak Ryan?? Pak??" Naina terus memanggil nama Ryan, namun orang di depannya malah melamun tak karuan.
"Pak,,," Naina menepuk pundak Ryan, barulah ia tersadar.
"Ada apa? Apa yang membuatmu melamun?" Tanya Naina khawatir.
"Gak apa-apa kok. Boleh aku minta sesuatu?" Tanya Ryan.
"Apa?"
"Aku ingin mendengar kamu memanggilku lebih mesra." Ucapnya namun Naina tak mengerti maksud ucapan Ryan. "Coba panggil aku, Sayang. Sekali ini saja."
Naina tersenyum, pipinya memerah seketika, Naina menjadi salah tingkah. Ia menatap Ryan dengan wajah merah jambunya, Ryan pun ikut tersenyum melihat tingkah Naina.
"Coba katakan, sayang." Goda Ryan dengan lembut.
"Sa...." Naina menjeda ucapannya, "makanlah dulu." Sambungnya dengan wajah masih berseri.
"Sesulit itu ternyata. Padahal aku ingin mendengar...."
Cup... Satu kecupan mendarat di pipi Ryan. Dengan beraninya Naina mencium pipi Ryan dengan lembut. Naina kembali tersenyum, namun Ryan terpaku membisu.
"Jangan salahkan aku, kamu yang memulai duluan." Ryan berdiri dan mendekati Naina seperti harimau hendak menerkam mangsanya.