NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Peringatan

“Sepertinya para keluarga sudah berkumpul untuk makan siang “ Matthias dengan riang menuntun Jihan bergabung dengan anggota keluarga lainnya.

Jihan pun duduk di di samping William yang memancarkan aura dingin.

Eleanor, yang duduk di sisi lain, berbisik pelan pada Alexander namun cukup terdengar oleh William. "Perkumpulan ini sangat mewah. Jihan bukan hanya cantik, dia sangat cerdas. William benar-benar memilih istri yang tepat. Sayang sekali Sean, Rachel, Mircalla dan yang lainya tidak bisa hadir karena pekerjaan dan studi mereka di luar negeri."

William hanya melirik Jihan sekilas. Ia melihat Jihan yang hanya menunduk, fokus memperhatikan makanannya dengan sopan. Dia bekerja dengan sangat bagus dalam memainkan peran menantu ideal.

Alexander Marculles, sang kepala keluarga, tidak terlalu mempedulikan basa-basi itu. Baginya, pernikahan William yang mendadak ini hanyalah satu bagian dari strategi besar. Ia meletakkan garpunya.

"Yang terpenting bagiku saat ini hanyalah pewaris," ucap Alexander suaranyavrendah yang hanya didengar eleanor, wiliam dan Jihan.

matanya menatap tajam ke arah William.

"Bagaimana? Kau sudah melakukannya semalam, bukan?"

Pertanyaan yang begitu blak-blakan itu membuat Jihan tersedak pelan. Wajahnya memerah karena malu yang luar biasa. Tangannya yang memegang sendok sedikit gemetar.

William mengeraskan rahangnya. Ingatan tentang penolakan Jihan dan gairahnya yang tak terpuaskan semalam kembali menghantam egonya. "Itu urusanku, Dad. Dan kau akan mendapatkan pewaris laki-laki itu secepat mungkin," jawab William dengan nada yang sangat rendah namun menuntut.

Jihan merinding mendengar nada bicara William. Itu bukan sekadar janji kepada sang ayah, tapi ancaman nyata bagi Jihan.

Alexander menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang jarang terlihat. "Bagus. Ingat, saham dan stabilitas Marculles bergantung pada seberapa cepat kau mengamankan garis keturunan ini."

William tidak menjawab. Ia mencengkeram pisau makannya dengan kuat, tatapannya terfokus pada piring di depannya namun pikirannya sudah melesat jauh ke malam ini.

Aku tidak punya waktu untuk dramanya lagi. Dia sudah menandatangani kontrak itu, dan aku harus menyelesaikannya malam ini juga. batin William dengan mengerikan.

Eleanor menyesap anggurnya dengan anggun sebelum meletakkan gelas kristal itu dan mengalihkan tatapannya sepenuhnya pada Jihan.

"Jihan," suara Eleanor terdengar lembut di antara denting sendok perak. "Kau akan melahirkan pewaris laki-laki yang kuat untuk Marculles, seseorang yang akan meneruskan kejayaan keluarga ini. Tapi sebelum itu, dunia harus mengenalmu lebih dalam."

Jihan membeku sesaat, namun ia segera mengatur napasnya. "Iya, Lady..."

"Dan Karena aku dan Alex sudah menjadi mertuamu, panggil saja kami Mommy dan Daddy, seperti William memanggil kami,"

potong Eleanor dengan hangat.

Jihan mengangguk patuh, meski lidahnya terasa kaku. "Iya... Mommy." Jawab Jihan lirih.

"Kau akan hadir di acara besar sosialita, Gala, Filantropi. “ lanjut Eleanor, matanya berbinar penuh rencana. "Datanglah kesini minggu depan dengan gaun terbaikmu. Dengan kecantikan dan kecerdasanmu, kau akan mengalahkan mereka semua. Tunjukkan pada dunia siapa menantu Marculles, seperti caramu membalas mereka tadi. Tunjukkan bahwa kau berkelas dan tak terkalahkan."

Jihan hanya bisa tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang menyembunyikan rasa pasrahnya. "Iya Mommy. Aku akan belajar lebih banyak tentang tradisi Marculles agar tidak mengecewakan."

Alexander menyandarkan punggungnya ke kursinya. Ia sedikit mencondongkan tubuh ke arah William, berbisik dengan nada yang jarang sekali menunjukkan pengakuan.

"Sepertinya Mommymu dan para penguasa di ruangan ini sangat menyukainya. Kau memilih wanita yang tepat, William," bisik Alexander datar namun tajam. "Bukan hanya soal bisnis, koneksi, atau kontrak, tapi kau menang dalam memilih wanita yang bisa berdiri tegak di sampingmu. Aku terkesan."

William tidak membalas pujian ayahnya dengan senyuman. Ia hanya menoleh sekilas pada Jihan, lalu kembali pada makanannya dengan rahang yang masih mengeras. Mendengar ayahnya merasa terkesan justru membuat ego William semakin tertantang untuk segera menaklukkan Jihan sepenuhnya malam ini.

Sementara itu, Matthias yang duduk tidak jauh dari mereka, mengangkat garpunya dengan santai ke arah Jihan sembari memberikan senyum penyemangat.

Dan Michelle Marculles menatap Jihan dengan tajam dari seberang meja. Cengkeraman tangannya pada pisau makan begitu erat.

Pengakuan di keluarganya terhadap Jihan adalah lonceng tanda bahaya bagi posisinya di keluarga ini.

—-

Pesta penyambutan yang melelahkan itu akhirnya berakhir. Setelah berpamitan dengan kerabat besar. William dan Jihan berjalan menuju pintu utama, diantar langsung oleh Eleanor dan Alexander.

Eleanor memeluk Jihan dengan erat, ia tampak benar-benar menyukai menantunya.“Jihan, kau tetaplah fokus pada keluarga kita pada pewaris. Jangan khawatir tentang kekacauan politik di luar.”

Jihan hanya tersenyum kaku. “ iya mommy”

Eleanor, tidak bisa menahan diri untuk tidak menjahili putra tunggalnya yang kaku.

"William," panggil Eleanor lembut "Ingat, berikan Mommy cucu laki-laki yang tampan dan cerdas sepertimu. Jangan terlalu sibuk dengan berkas-berkasmu sampai melupakan tugas utamamu malam ini."

Eleanor menyindir halus soal malam pengantin mereka sambil menahan senyum geli. Alexander, yang biasanya sedingin es, hanya menunduk dan tersenyum kecil melihat istrinya mengerjai William. Ia bahkan ikut menimpali, "Mommy mu benar juga. Ingat Marculles butuh regenerasi, bukan hanya tumpukan saham."

William mengangguk melirik Jihan dengan dingin penuh dengan arti. “ Tentu saja , aku akan memastikan tujuan itu tercapai”

Jihan merasakan sesak di dadanya mendengar tuntutan itu. Baginya, itu bukan sekadar harapan keluarga, melainkan vonis.

Setelah perpisahan singkat William dan jihan menuju kemobilnya. meninggalkan halaman megah kediaman utama, membawa Jihan kembali ke kediaman William.

Eleanor tertawa kecil melihat mobil itu menghilang di balik gerbang. "Lihat wajahnya tadi, Alex? William terlihat sangat terganggu. Ternyata mengerjai putra kita sendiri masih sangat menyenangkan."

Alexander menghela napas, senyum kecilnya perlahan memudar berganti dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. "Kau senang sekali membuatnya kesal, Eleanor."

"Tapi jujur, Alex," suara Eleanor melembut, ada ketulusan di matanya. "Aku sangat menyukai Jihan. Dia cantik, anggun, elegan, dan yang terpenting... dia sangat cerdas. Dia adalah wanita yang paling cocok untuk menjadi ibu dari cucu-cucuku nanti. Aku benar-benar berharap William bisa memperlakukannya dengan baik."

Alexander terdiam sejenak, menatap jalanan kosong di depannya. Sebagai pria yang membentuk William menjadi sosok yang tanpa ampun, ia tahu betul apa yang ada di pikiran putranya.

"Kau tahu betul William seperti apa, Eleanor," sahut Alex dingin. "Kau tahu pernikahan ini terjadi karena apa ancaman saham, kendali, dan kontrak bisnis. William bukan pria yang menempatkan perasaan di atas kepentingan."

Eleanor mendesis pelan, ekspresinya berubah sendu namun tetap tegas. "Aku tahu itu. Tapi aku tetap berharap sisi manusiawinya akan muncul. Jika tidak... Jihan hanya akan menjadi korban dari ambisi kalian berdua. Bahkan diktator paling kejam pun tahu cara bersikap manis pada istrinya.”

——

Di dalam mobil yang melaju dijalan kota, Jihan duduk menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang gelap. Jemarinya memainkan ujung rambut panjangnya, menariknya perlahan agar jatuh menutupi sisi wajahnya untuk menyembunyikan kegelisahan yang mulai menguasai dirinya.

William, yang duduk di kursi seberang, memperhatikannya dalam diam. Ia menganalisis sosok Jihan yang berbeda dari kemarin malam, yang mampu memukau keluarganya dengan kecerdasannya. sebuah bukti bahwa wanita itu terbiasa dengan protokol kelas atas. Namun itu tidak berarti apa apa dihadapan nya. William teringat bagaimana gairahnya yang memuncak semalam harus berakhir dengan kehinaan karena penolakan Jihan.

Keheningan yang mencekik itu akhirnya pecah saat William membuka suara.

“Kau berhasil melakukan tugasmu tadi, Tapi Malam ini... tidak akan ada lagi drama. Kau akan memenuhi kewajibanmu, dua kali lipat lebih banyak untuk membayar kesalahanmu semalam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!