Luka.
Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.
Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.
Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.
Luka adalah bukti.
Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.
Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.
Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.
*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deklarasi perang
Bagas bangun pagi dengan tubuh yang lebih segar dari biasanya. Rasanya sudah lama ia tak merasakan pagi selega ini.
Tidurnya sangat pulas semalam. Bukan tanpa alasan—ia telah membuat langka kecil namun berarti dalam hidupnya.
Meski tidak menatap wajah gadis itu secara langsung, bisa berbincang panjang lebar adalah sebuah pencapaian baginya.
Bagas bangkit dari ranjangnya; kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Setelah memasak sarapan, ia berangkat pagi. Begitulah setiap harinya.
Ayahnya sempat menawarkan asisten rumah tangga agar tidak perlu repot-repot memasak, tapi Bagas menolak. Ia malah akan lebih repot jika ada sesosok wanita di rumahnya. Lagipula, ia memang menyukai memasak.
Setelah berjemur di bawah terik —rutinitas hari seninnya— ia langsung menuju kelas. Suasana kelas mendadak senyap saat guru mereka masuk.
Sudah sejak seminggu lalu gurunya itu mewanti-wanti agar adanya kerja kelompok. Dan hari ini, tepat seperti yang ia bilang.
"Seperti yang telah saya beritahukan kemarin, tugas ini harap dikerjakan dengan berkelompok ya. Kelompoknya bebas. Yang penting, 5 orang per kelompok." Ujarnya karena kelipatan lima adalah jumlah yang paling pas untuk kelas itu.
Bagas menghela napas lebih panjang. Seolah bisa menebak arah dari ini semua.
Para siswa berkumpul untuk membentuk kelompok yang mereka inginkan. Termasuk keempat teman akrabnya yang mengajaknya berkelompok bersama.
"Ikut kita 'kan, Gas?" tanya salah seorang.
"Ya... kalau bisa." sahut Bagas ragu.
"Tinggal satu lagi nih," celetuk yang lainnya.
Mereka bertiga menoleh ke sana kemari mencari satu orang lagi, lain halnya dengan Bagas.
Melihat kelompok mereka yang masih kurang, dua orang mendekat,
"Kami masih bisa bergabung?" tanya salah satunya.
"Kami masih kurang satu lagi. Kalau salah satu di antara kalian mau, kami akan dengan senang hati menyambutnya."
"Tidak, kami tidak mau kalau harus berpisah, lagipula kelompok yang tersisa..." Kalimatnya seolah sengaja ditinggal begitu saja.
"Kalau begitu, biar aku saja yang pindah." sahut Bagas, mengajukan diri.
"Kamu yakin, Gas?"
"Iya, tidak apa-apa."
Setelah melempar senyum, Bagas berpindah ke meja lain. Meninggalkan mereka yang telah cukup orang.
Ia tiba di satu-satunya kelompok yang tersisa. Terdiri oleh empat orang yang sedang saling pandang satu sama lain.
"Masih kurang 'kan? Aku bergabung ya?"
"Bagas? Oh ya, tapi tahu 'kan apa yang harus kamu lakukan?"
Bagas menarik kursi, duduk di antara mereka berempat. Membuka buku yang sejak tadi ditentengnya.
"Tahu sendiri kami bagaimana 'kan? Jangankan paham apa yang dibilang guru, mata pelajaran pun kami tidak tahu." Ujar salah seorang.
"Ya begitulah, karena itu, tolong ya?"
Bagas menghela napas. Anggukannya hampir tak terlihat.
Bukan pertama kali ia mengalaminya. Kelompok ini memang kelompok yang tidak ada harapan—ia tidak punya pilihan lain.
Jika ia memaksakan diri, akan ada orang yang kesulitan karenanya. Maka dari itu, ia memilih untuk pindah ketimbang melihat orang lain kesulitan. Lagipula, ia sudah terbiasa dengan mereka.
Saat pak guru menjelaskan, hanya Bagas yang menulis poin-poin penting. Keempat lainnya ada yang melamun, memainkan ponsel diam-diam dan menggambar.
Bagi Bagas, satu-satunya kelebihan dari kelompok itu hanyalah terdiri dari laki-laki, itu saja.
Ia yang mengerjakan tugas, ia yang menyiapkan laporan, ia juga yang presentasi. Sementara yang lain hanyalah cameo saja.
...****************...
Bagas masih belum bisa bernapas lega. Selain ada tugas kelompok yang harus ia kerjakan seorang diri, ia juga terpaksa harus membersihkan kelas sebagai hukuman karena tidak mengumpulkannya—yang sebenarnya sudah ia kerjakan semalam.
Kesal? Tentu. Tapi bukan pertama kali ia begini. Bahkan belakangan ini hal yang seharusnya tak menimpanya terjadi lebih sering.
Padahal ia tidak melewatkan satu malam pun tanpa lupa mengerjakan tugas. Bahkan mengumpulkannya juga bersama dengan yang lain. Namun, ia tetap dipanggil lalu dihukum piket sendirian.
Tentunya ia terheran. Protes pun tidak ada gunanya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menerima hukumannya saja.
Ia buru-buru meraih sapu. Mulai membersihkan ruang kelasnya dari ujung ruangan.
Belum berlangsung lama, terdengar gema langkah. Meski ia abaikan, ternyata kian lama kian nyaring,
"Hai Bagas! Rajin sekali temanku satu ini." sapanya dengan nada meledek.
Bagas tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu.
Herlinda Septia. Sering dipanggil dengan Linda. Teman sekelasnya yang paling ingin ia hindari; hanya mendengar suaranya saja, sudah membuatnya ingin pergi menjauhinya.
Ia sengaja pura-pura tak mendengar karena malas meladeninya.
"Oh ayolah! Jangan cuek begitu. Lihat ini!" gadis itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah buku yang ia kenal.
"Aku mau minta maaf karena sudah meminjam bukumu. Nih, kukembalikan."
Linda melempar buku pada meja yang ada di hadapannya.
Apa sih salahku? Kenapa ia tidak puas-puasnya menjahiliku?
Linda semakin mendekati Bagas. Terkekeh saat melihatnya tetap mengabaikan kehadirannya.
"Terima kasih ya!" ucapnya dengan riang.
Bagas tetap tak peduli dengan apa yang gadis itu lakukan; tetap fokus pada kegiatannya yang belum usai.
Linda menaikkan sudut bibirnya sebelah. Matanya memicing menatapinya.
"Oh jadi kamu belum kapok selama ini? Masih ingin menantangku?" Ucapnya dengan emosi yang mulai naik.
Bagas masih tak bergeming.
"Baiklah, kalau kamu memang ingin perang."
Bagas menghela napas. Tangannya kali ini berhenti. Ia yang hanya ingin hidup tenang merasa tidak bisa membiarkan deklarasinya kali ini.
"Kenapa? Padahal aku tidak pernah punya masalah denganmu."
"Hah? Kamu tidak sadar? Tingkahmu yang selalu mengabaikanku itu, apa namanya kalau bukan sok? Lalu bilang tidak punya masalah? Aku yang seharusnya bilang begitu!"
Linda yang kesal, mendekatkan dirinya. Bagas yang seolah sengaja berpaling darinya, menambah kekesalannya.
"Lagi-lagi..." Gumamnya sembari menggertakkan gigi.
Kekesalannya malah semakin menumpuk. Tatapannya menajam ke arah Bagas. Hanya beberapa saat, ia seolah menyadari sesuatu ketika fokus ke ekspresinya.
Linda mencubit dagu, memandangi lelaki di hadapannya lekat-lekat. Matanya mengerjap cepat. Mendadak alisnya terangkat,
"Jangan-jangan..."
Linda berusaha menatapi wajah Bagas agar lebih jelas. Lagi-lagi Bagas berusaha menghindar sealami mungkin agar tak memicu kesalahpahaman lainnya.
Linda belum berhenti. Begitupun Bagas yang masih menjaga jarak. Mereka bagai sedang kucing-kucingan.
"Begitu ya!" Pekik Linda, tiba-tiba heboh sendiri.
"Ternyata kamu cowok pemalu ya? Ya ampun! Kenapa aku baru sadar ya?"
Bagas tetap berusaha menjauhinya tanpa menyahut. Linda malah tersenyum penuh seperti sehabis menyadari hal yang sangat penting baginya.
"Baiklah, aku paham sekarang."
Setelah beberapa anggukan, tanpa mengucap apa-apa lagi, ia langsung pergi keluar.
Bagas menggaruk kepalanya. Bingung dengan tingkah gadis itu. Dia sendiri yang seenaknya memulai permusuhan, dia sendiri juga yang mengambil kesimpulan.
Bagas semakin tak mengerti jalan pikiran perempuan.