“Aku perintahkan kau untuk menjaga Lea dalam kondisi apapun.” — Martin De Gaulle
Begitulah awal mula semuanya.
Sebuah perintah yang mengikat Elios Leopold—tangan kanan sang Godfather. Pria dingin, berbahaya, dan setia tanpa syarat.
Elios selalu ada di sisi Lea—Eleanore Moreau. Menjaga, melindungi, dan memastikan gadis itu tak pernah sendirian. Dari kedekatan yang terus terjalin, perasaan pun tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lea menyadari perasaannya lebih dulu. Tapi Elios… tidak.
“Aku akan menjadi apapun yang kau mau. Mama, Papa, saudara dan sahabat. Asal kau yang meminta, aku akan mewujudkannya.” — Elios Leopold
Ucapan itu membuat Lea berharap. Namun, di saat Lea mengucapkan permintaannya, akankah Elios mampu menepatinya?
Dari perlindungan lahir ketergantungan.
Dari kedekatan tumbuh hasrat yang terlarang.
Jika Elios mengabulkan permintaan itu, akankah Lea sanggup menghadapi kegilaan pria berbahaya yang telah menjadikannya satu-satunya tujuan hidup?
Terjerat Hasrat Monsieur Leopold
Yuk baca novel ini guys!
Seperti apa kisah protektif, posesif dan obsesi Monsieur Leopold terhadap bidikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Saatnya
...“Kalau aku lanjut... aku tak akan berhenti. Belum saatnya kita melakukan semua ini.” — Elios Leopold...
Di sela-sela deburan ombak yang memecah karang sayup-sayup terdengar masuk ke ruangan mewah itu, Elios tak sekalipun memberi Lea waktu untuk menenangkan napasnya.
Tangannya yang besar dan hangat turun perlahan dari bahu, menyusuri lengan, lalu kembali naik ke garis leher yang terekspos oleh atasan kemben itu. Jari-jarinya bergerak perlahan—terlalu perlahan—seolah sedang menghafal setiap lekuk yang ia sentuh.
Lea menelan ludah. Sentuhan pria itu semakin lama semakin intens.
“El..." suara Lea melemah, bukan untuk menolak. Namun lebih seperti memanggil.
Elios mengangkat wajahnya dari leher Lea. Tatapan mata elangnya terlihat gelap, tajam dan penuh kendali. “Kau tahu betapa berbahayanya kau sore ini?”
Lea tak sempat menjawab. Tangan mulus dengan jemari kurusnya sudah lebih dulu mencengkeram kemeja tipis yang Elios kenakan. Ia menarik tubuh pria itu tanpa sadar.
Senyum tipis muncul di sudut bibir Elios. Ia kembali menunduk. Kali ini bibirnya bergerak lebih rendah—menyentuh tulang selangka, lalu menyusuri perlahan ke arah lekuk di atas dada Lea. Sentuhan itu tak tergesa. Seolah ia sengaja ingin membuat gadis itu menunggu—meski gejolak di dadanya terus membara, menuntut lebih dari sekadar sentuhan yang setengah jalan.
Napas Lea mulai berantakan. Setiap kali bibir pria itu turun sedikit… ia semakin berharap dan penasaran, sentuhan itu akan sejauh apa? Kenikmatan itu semakin membuatnya candu dan terus berharap lebih. Bahkan setiap kali jari Elios menyentuh sisi tubuhnya… ia mengira pria itu akan benar-benar membuka batas berikutnya.
“Eli... mhh....” tubuh dengan lekukan indah terus menggeliat tanpa henti.
Tapi hal tersebut tidak bertahan lama. Karena Elios berhenti tepat di sana. Tangannya hanya mengusap perlahan tepian kain yang membatasi dada Lea. Ibu jarinya bergerak perlahan seolah sedang menggambar lingkaran kecil yang membuat punggung Lea melengkung tanpa sadar.
Lea tak sanggup menahan sentuhan yang terus merangsang kenikmatan yang ia rasakan. Tangannya meremas kuat kemeja tipis yang Elios kenakan—lebih kuat dari sebelumnya.
Elios terdiam sesaat. Ia mengangkat tubuhnya sedikit, menatap wajah Lea yang memerah dengan mata yang sudah setengah terpejam karena berharap ia bergerak lebih jauh lagi. Dan di situlah ia menarik napas panjang.
“Kalau aku lanjut...” suara Elios terdengar berat dan seperti tertahan. “Aku tak akan berhenti.”
“Belum saatnya kita melakukan semua ini,” imbuhnya menahan diri.
Lea membuka matanya. Ada kekecewaan di sana. Ada harapan yang menggantung di udara. Ia terlalu menikmati sentuhan pria itu, sampai-sampai ia sudah tak sabar ingin terus menunggu. Apa ia terlalu tergesa-gesa? Atau... justru dirinya yang sudah terjebak terlalu jauh dengan hasrat Monsieur Leopold itu? Hanya saja, pria itu justru ahli dalam menyembunyikan hasratnya. Seolah justru ia yang lebih tenggelam dalam candu itu dibanding pria yang terlihat begitu terkendali.
Tangan Elios yang tadinya hampir membuka simpul kain itu justru naik kembali ke pipi Lea. Ia mengusap lembut, lalu mencium dahi gadis itu—ciumannya terlalu lembut untuk situasi sepanas ini.
“Kau belum siap untuk dibuka seperti itu,” bisik Elios pelan dan penuh kelembutan. Ia memperlakukan gadis itu bak ratu. Tak ingin melewati batas, tapi justru ingin memiliki ratu dan membawanya ke atas singgahsana—tepat di sisinya.
Lea terpaku membisu. Matanya menatap Elios dengan sangat dalam. Tubuhnya masih bergetar. Napasnya masih kacau. Dan hasrat yang tadi perlahan dibangun… kini menggantung begitu saja tanpa penyelesaian.
Gadis itu menggigit bibirnya. Harga dirinya menahan, tapi tubuhnya terlalu jujur sore itu.
“Kenapa… kau berhenti?” suaranya kecil. Hampir seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Padahal, tadinya dia yang menyuruh pria itu berhenti karena agenda mereka sore ini ingin pergi ke pantai.
Elios tersenyum tipis, tapi matanya tetap gelap karena justru dirinya lah yang mengharapkan permainan itu terus berlanjut hingga akhir. “Bersabarlah sedikit lagi.”
Usai mengatakan hal penuh ambigu tersebut, ia menurunkan wajahnya sekali lagi—bibirnya mengecup tepat di atas dada Lea, hampir menyentuh belahan dada, hanya satu kecupan yang dalam dan penuh makna. Lalu setelah itu ia bangkit dan duduk di samping gadisnya.
“Ganti bajumu. Kalau kita tidak segera keluar sekarang, aku akan berubah pikiran.”
Lea terdiam di sofa. Tubuhnya masih panas. Jantungnya masih berdetak terlalu cepat. Ia merasa kesal karena kegilaan itu kini beralih padanya. Pria itu benar-benar licik dalam bermain trik tarik ulur. Tapi ia terlalu malu untuk jujur dengan perasaannya saat ini. Karena rasanya sangat tidak wajar jika seorang gadis yang mengutarakan keinginannya untuk sesuatu yang terlalu vulgar.
Dan untuk pertama kalinya… Lea merasa lebih frustasi karena tidak disentuh sepenuhnya.
Setelah terdiam selama beberapa detik, gadis itupun bangkit dari sofa tanpa menatap Elios lagi. Panas di wajahnya belum juga hilang. Ia berjalan cepat menuju kamar, mengganti atasan kemben itu dengan kaos putih sederhana. Namun rok lilit pemberian Sovia tetap ia kenakan—entah karena malas mengganti, atau karena diam-diam ingin pria itu tetap menatapnya seperti tadi.
Sementara itu, Elios duduk sambil merebahkan kepalanya ke atas sandaran sofa. Ia mendongak ke langit-langit selama beberapa detik di ruang tengah. Tangannya menyisir rambutnya ke belakang. Rahangnya mengeras dengan nafas yang masih berat.
Ia mengumpat pelan sambil memejamkan matanya. “Sial!”
Bayangan Lea dengan tengkuk terbuka, napas terputus-putus, dan tatapan penuh harap itu masih terlalu jelas di kepalanya.
“Elios... kontrol diri,” gumamnya pelan dalam hati. Kepalanya berdenyut karena menahan dorongan yang seharusnya sudah ia redam sejak tadi. Bahkan bagian tubuhnya yang masih menegang sejak tadi terasa semakin sesak dan membuat ia merasa tak nyaman. Tubuhnya menuntut pelepasan yang sengaja ia tunda.
Elios bergegas bangkit dari duduknya—berniat pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hasrat yang tak tersalurkan itu. Tapi... belum sempat ia berbalik badan ke arah kamar mandi, gadis itu sudah keluar dari kamar dan bersiap untuk mengajaknya pergi ke pantai.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Lea saat menatap ekspresi aneh di wajah Elios. Tak biasanya pria itu menampilkan rahangnya setegang itu di depannya.
Elios mengalihkan pandangan sejenak sebelum menjawab singkat, “Tidak apa-apa.”
Jawaban yang terlalu cepat dan terlalu singkat, membuat Lea mengerutkan keningnya. Pria itu jarang sekali menghindari tatapannya. Tapi sekarang… mata Elios justru menatap ke arah lain. Ke pintu. Ke lantai. Ke mana saja, asal bukan ke dirinya.
...****************...
Bersambung....
EL jika kamu bicara. baik2 dg Martin pastinya Martin akan mempertimbangkan niat baik kamu. jangan berpikir pendek dulu ok