Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Yang Tidak Terlihat
Sejak sore di kafe itu, kami mulai sering bertemu.
Tidak pernah dengan rencana yang benar-benar matang, tidak pernah dengan janji yang diikat oleh kata-kata pasti. Kami hanya saling mengirim pesan singkat yang terdengar sepele—“kamu lagi di mana?”, “cuaca di tempatmu gimana?”, atau “ngopi sebentar?”—namun di balik kesederhanaannya, ada keinginan kecil yang tidak kami ucapkan: keinginan untuk saling hadir, meski belum tahu dalam bentuk apa.
Pertemuan kami selalu singkat, tetapi cukup untuk menggeser ritme hari. Kadang di kafe yang sama, dengan kursi yang menghadap jendela dan suara mesin kopi sebagai latar. Kadang di taman kecil yang sepi, di bawah lampu jalan yang redup dan dedaunan yang bergerak pelan tertiup angin. Kadang hanya duduk di bangku halte, berpura-pura menunggu bus yang sebenarnya tidak pernah kami niatkan untuk dinaiki.
Kami jarang membicarakan masa lalu.
Bukan karena tidak ada, melainkan karena kami sama-sama tahu: ada bagian dari diri kami yang masih rapuh untuk disentuh terlalu cepat. Seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa kami lebih nyaman berbagi hari ini, daripada membuka kemarin yang belum sepenuhnya selesai.
Aku mulai mengenalnya dari detail kecil.
Ia selalu mengaduk kopinya terlalu lama, sampai gula benar-benar larut dan sendoknya berbunyi pelan di dasar cangkir. Ia lebih suka duduk menghadap jendela, seakan membutuhkan pemandangan luar untuk menenangkan pikirannya. Ia sering tersenyum sebelum menjawab pertanyaan, seperti sedang memilih kata yang paling aman agar tidak terlalu jujur, tapi juga tidak sepenuhnya berbohong.
Dan aku mulai menyadari sesuatu yang aneh:
semakin dekat aku dengannya, semakin aku merasa ada jarak yang tidak bisa kutentukan bentuknya.
Jarak itu tidak terlihat dari cara kami duduk bersebelahan, tidak terdengar dari tawa kecil yang kadang muncul di sela percakapan. Jarak itu justru terasa dari hal-hal yang tidak kami ucapkan, dari jeda-jeda sunyi yang terlalu sering kami biarkan berlalu.
Suatu malam, kami duduk di taman setelah hujan. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air, menciptakan cahaya yang terlihat indah tapi rapuh, seperti kenangan yang baru saja dibersihkan dari debu. Udara dingin membuat kami saling mendekat, bukan karena dorongan perasaan, melainkan karena tubuh secara alami mencari kehangatan.
“Kamu pernah takut terlalu dekat dengan seseorang?” tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan yang sejak tadi menggantung.
Aku menoleh, sedikit terkejut. “Takut kenapa?”
“Takut kalau ternyata aku belum siap,” katanya pelan. “Atau dia belum selesai dengan dirinya sendiri.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, sederhana, tapi terasa berat. Seperti pertanyaan yang sebenarnya tidak hanya ditujukan padaku, melainkan juga pada dirinya sendiri.
Aku terdiam beberapa detik sebelum menjawab. “Kadang… aku takut bukan karena dekat. Tapi karena aku tahu aku bisa kehilangan lagi.”
Ia menatap ke depan, bukan ke arahku. “Berarti kita sama-sama membawa sisa luka.”
Kami tertawa kecil, tapi tawa itu tidak benar-benar ringan. Ada sesuatu di baliknya—kesadaran sunyi bahwa kedekatan bukan hanya soal dua orang yang saling datang, melainkan juga dua masa lalu yang ikut berjalan di belakang, membawa bayangan masing-masing.
Aku ingin bertanya lebih jauh tentang dirinya. Tentang hidupnya sebelum aku mengenalnya. Tentang hal-hal yang membuatnya berdiri sendirian di halte waktu itu. Tentang alasan di balik caranya tersenyum yang selalu terlihat tenang, tapi terasa menyimpan banyak lapisan.
Namun setiap kali aku hampir membuka topik itu, ada perasaan ragu yang menahanku.
Bukan karena aku tidak ingin tahu.
Melainkan karena aku takut jawabannya membuatku mundur.
Aku menyadari, selama ini aku sibuk belajar berdamai dengan diriku sendiri. Aku belajar menerima luka, merapikan kenangan, dan membiarkan masa lalu tidak lagi memegang kendali. Tapi aku belum pernah benar-benar belajar bagaimana caranya berdamai dengan masa lalu orang lain.
Dan mungkin, di situlah jarak itu berada.
Bukan di ruang antara kami yang duduk bersebelahan,
melainkan di hal-hal yang belum kami berani ceritakan.
Kami pulang tanpa banyak kata malam itu. Tidak ada konflik, tidak ada perpisahan dramatis. Hanya dua orang yang berjalan ke arah berlawanan, membawa perasaan yang belum punya nama dan pertanyaan yang belum punya jawaban.
Di kamarku, aku menatap layar ponsel yang menyala redup. Ada pesan darinya yang belum kubalas:
"Aku nyaman sama kamu. Tapi aku takut merasa terlalu nyaman."
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Nyaman, tapi takut. Dekat, tapi ragu.
Seolah kami berdiri di ambang pintu yang sama, saling menunggu siapa yang akan lebih dulu melangkah.
Aku memejamkan mata, menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak aku mulai berjalan ke depan, aku menyadari satu hal yang pelan tapi jelas:
ternyata melangkah tidak selalu berarti mendekat.
Kadang, melangkah justru berarti belajar menerima bahwa ada jarak yang memang harus ada—bukan untuk menjauhkan, melainkan untuk menjaga agar dua orang tidak saling melukai sebelum benar-benar siap.
Dan mungkin, jarak itu tidak diciptakan untuk dipatahkan.
Melainkan untuk dipahami.