Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: PELARIAN DARI NERAKA
BAB 4: PELARIAN DARI NERAKA
Malam itu, langit di atas penjara tampak pekat tanpa bintang, seolah alam pun setuju untuk menyembunyikan rahasia besar yang akan terjadi. Udara terasa berat oleh kelembapan, dan suara burung hantu di kejauhan terdengar seperti lonceng kematian. Di dalam selnya, Aarohi berdiri diam. Ia tidak tidur. Jantungnya berdegup kencang, namun tangannya tetap tenang. Ia telah menunggu momen ini selama berbulan-bulan.
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah blok timur, diikuti oleh teriakan histeris para narapidana dan bunyi sirine yang memekakkan telinga. Kerusuhan dimulai. Sesuai rencana Abhimanyu, pengalihan perhatian sedang berlangsung.
"Ayo, sekarang!" bisik sebuah suara dari balik celah pintu sel yang terbuka sedikit. Itu adalah salah satu petugas yang telah disuap oleh Abhimanyu.
Aarohi bergerak secepat bayangan. Ia mengenakan pakaian hitam ketat yang disembunyikan di bawah seragam penjaranya yang kusam. Ia berlari menyusuri lorong yang kini dipenuhi asap dan kekacauan. Para penjaga sibuk menahan gelombang narapidana yang mencoba mendobrak gerbang utama. Tidak ada yang memperhatikan seorang sosok ramping yang menyelinap menuju ruang bawah tanah, tempat saluran pembuangan air berada.
Bau busuk dan uap panas langsung menyambut Aarohi saat ia membuka penutup selokan besi yang berat. Ia harus merangkak melalui terowongan sempit yang dipenuhi air kotor. Rasa mual melanda, namun bayangan wajah Deep yang tersenyum saat mengkhianatinya menjadi kekuatan yang membuatnya terus bergerak. Aku lebih baik mati di dalam lumpur ini daripada hidup sebagai pecundang di balik jeruji, batinnya geram.
Setelah hampir satu jam merangkak dalam kegelapan yang menyesakkan, Aarohi melihat secercah cahaya di ujung terowongan. Dengan tenaga terakhirnya, ia mendorong jeruji besi yang sudah digergaji sebelumnya oleh orang-orang Abhimanyu. Ia jatuh tersungkur di atas tanah berlumpur di tengah hutan yang mengelilingi penjara.
"Kau terlambat dua menit," sebuah suara dingin menyapa dari balik pepohonan.
Seorang pria bermasker berdiri di samping sebuah mobil SUV hitam yang mesinnya masih menyala. Pria itu melemparkan sebuah tas besar ke arah Aarohi. "Ganti pakaianmu. Identitas barumu ada di dalam. Jangan tinggalkan jejak apa pun."
Aarohi tidak membuang waktu. Di dalam mobil yang melaju kencang menjauhi area penjara, ia membuka tas itu. Di dalamnya terdapat paspor baru, uang tunai dalam jumlah besar, dan yang paling penting: sebuah undangan eksklusif ke pesta amal tahunan yang akan diadakan oleh keluarga Raisinghania minggu depan.
Aarohi menatap paspor barunya. Namanya kini bukan lagi Aarohi, melainkan Anjali Khanna, seorang pengusaha muda dari London yang sukses. Ia mengambil gunting kecil dan mulai memotong rambut panjangnya yang rusak hingga tersisa potongan bob tajam yang membingkai wajahnya dengan cara yang lebih berani.
Ia kemudian mengambil riasan wajah yang ada di dalam tas. Dengan tangan yang kini sangat ahli, ia melukis wajahnya. Ia mengubah bentuk alisnya menjadi lebih tegas dan menggunakan lensa kontak berwarna abu-abu terang yang membuat tatapannya terlihat misterius sekaligus mematikan.
Saat mobil melintasi lampu jalan, Aarohi melihat pantulan dirinya di kaca jendela. Wanita yang ada di sana bukan lagi gadis yatim piatu yang lugu. Wanita di sana adalah seorang predator.
"Tara selalu mengira dia adalah satu-satunya ratu dalam permainan ini," gumam Aarohi pada dirinya sendiri sambil memulas lipstik merah gelap ke bibirnya. "Dia tidak tahu bahwa cermin yang ia pecahkan kini telah berubah menjadi pecahan belati yang akan menggorok lehernya sendiri."
Mobil itu berhenti di depan sebuah apartemen mewah di pusat kota yang sudah disiapkan untuknya. Aarohi melangkah keluar dengan keanggunan yang telah ia pelajari dari Abhimanyu. Setiap langkahnya penuh dengan wibawa dan ancaman yang tersembunyi.
Ia berdiri di balkon apartemennya, menatap kerlap-kerlip lampu kota Shimla di kejauhan. Di sana, di bukit tertinggi, Mansion Raisinghania berdiri dengan megahnya, bersinar seperti permata di tengah kegelapan.
"Deep Raj Singh," desis Aarohi, menyebut nama itu dengan rasa benci yang murni. "Kau memberikan segalanya untuk melindungi Tara. Kau membunuh cintaku demi obsesimu. Sekarang, aku kembali bukan untuk meminta penjelasan, tapi untuk mengambil semua yang kau miliki. Aku akan membuatmu memohon untuk mati, dan saat itu terjadi, aku akan memastikan Tara yang akan memegang pisaunya."
Aarohi meminum segelas wine merah di tangannya, membiarkan cairan dingin itu membasahi tenggorokannya. Malam ini adalah malam terakhir ia merasa sedih. Mulai besok, ia akan memulai infiltrasi. Ia akan masuk kembali ke kehidupan Deep, bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang akan membuat Deep jatuh cinta lagi—hanya untuk menghancurkan hatinya berkeping-keping.
Permainan maut ini baru saja dimulai, dan kali ini, Aarohi yang memegang kendali dadunya.