Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cepat Bungkus
Pukul 10.00 tepat, Gavin. berdiri di depan toko Aruna, yang bernama 'Runa's Creative Corner'. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, lengkap dengan tas pinggang berisi label harga, penggaris laser, fan cairan pembersih serbaguna.
Begitu pintu di buka, Gavin nyaris terkena serangan jantung ringan.
Gulungan pita berserakan seperti mie instan tumpah, manik-manik berceceran di lantai layaknya ranjau darat, dan tumpukan kardus membentuk menara miring Pisa. Aruna sendiri duduk di tengah "medan perang" itu dengan noda cat di pipinya.
"Selamat datang asisten pribadi," sapa Aruna ceria sambil mengangkat lem tembak.
Gavin memejamkan mata, memegang keningnya. "Mbak Aruna, ini bukan toko. Ini adalah simulasi gudang yang terkena bencana alam. Bagaimana anda dapat menemukan barang di sini?"
"Pakai insting, Mas Gavin. Art is about feeling."
"Dan bisnis adalah tentang efisiensi," potong Gavin tegas. Ia mulai memakai sarung tangan lateksnya. "Mundur tiga langkah, Mbak. Biarkan profesional bekerja."
Selama tiga jam berikutnya, Aruna menyaksikan sebuah pertunjukkan yang luar biasa. Gavin tidak hanya merapikan; ia melakukan reorganisasi sistemik.
Gavin mengelompokkan manik-manik berdasarkan spektrum warna pelangi. Ia mengukur jarak antar rak menggunakan penggaris laser agar simetris. Bahkan ia membuat label kategori menggunakan font Helvetica yang sangat formal.
"Mas, itu cuma jepit rambut bunga, nggak perlu pakai label 'Aksesori kepala - Sub-kategori : floral- Material: Tekstil," protes Aruna.
"Sistem penamaan yang jelas mengurangi waktu pencarian hingga empat puluh persen," Sahut Gavin tanpa menoleh.
Saat sedang bekerja, Aruna diam-diam memperhatikan Gavin. Otot lengannya yang kencang terlihat jelas saat ia memindahkan kardus-kardus berat. Keringat tipis di pelipisnya membuat Gavin terlihat.... jauh lebih manusiawi. Dan tampan, sangat tampan.
"Mas Gavin," panggil Aruna pelan.
"Ya," jawab Gavin tanpa menoleh pada Aruna.
"Makasih ya. Saya emang kewalahan banget mau bazar minggu depan. Tapi saya nggak tahu harus mulai dari mana."
Gavin berhenti sejenak lalu menatap Aruna. Tatapannya sedikit melunak. Memulai adalah bagian tersulit dari audit manapun, Runa. Setelah polanya ketemu, semuanya jadi lebih mudah.
Sore harinya, langit mendadak berubah gelap. Hujan badai khas bulan desember turun dengan beringas. Suara guntur menggelegar, dan dalam sekejap jalanan di depan toko tergenang air.
BYARRR! Lampu toko tiba-tiba padam.
"Aduh, mati lampu lagi!" Aruna refleks melompat dari kursinya, dan -seperti biasa- hampir menabrak tumpukan rak yang belum selesai dipaku.
Namun kali ini tidak ada tangkapan di pinggang. Karena kondisi gelap total, Aruna justru tersangkut kabel di lantai dan terjatuh tepat di atas Gavin yang sedang berlutut membereskan barang di bawah.
Gavin terbaring di lantai toko yang dingin, dengan Aruna berada tepat di atas dadanya.
Hening, hanya ada suara hujan yang menghantam atap seng dan detak jantung yang berpacu liar. Aroma cat dari tangan Aruna dan Aroma eucaliptus dari tubuh Gavin bercampur di udara yang lembab.
"Runa," bisik Gavin. Suaranya bergetar, bukan karena dingin.
"M-Maaf, Mas. Saya nggak sengaja. Sumpah, ini nggak masuk dalam rencana pemerasan saya," balas Aruna gugup, namun ia tidak segera bergerak.
Gavin perlahan mengangkat tangannya, menyeka noda cat di pipi Aruna dengan ibu jarinya. Gerakannya sangat lembut, sangat tidak "garis keras". "Wajah Kamu, kotor," gumamnya.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Aruna bisa merasakan napas hangat Gavin di bibirnya. Saat Aruna mengira Gavin akan mendorongnya atau mengomel soal "kontaminasi bakteri", Gavin justru melakukan sesuatu yang tidak logis.
Ia menarik pelan tengkuknya Aruna, memperpendek jarak yang tersisa.
Wajah Aruna memanas di tengah kegelapan toko yang hanya diterangi kilatan petir dari luar, ia bisa melihat pantulan dirinya di kacamata Gavin yang sedikit miring. Jantungnya berdentum begitu keras sampai ia takut Gavin bisa mendengarnya melalui tulang rusuk mereka yang bersentuhan.
Gavin tidak bergerak. Jempolnya masih tertahan di pipi Aruna. Dunia auditornya yang penuh angka dan kepastian seolah runtuh, digantikan oleh variabel paling acak yang pernah ia temui, yaitu Aruna.
"Mas," bisik Aruna hampir tak terdengar.
"Sst," Gavin menyela pelan. "Logika saya sedang error, Runa. Jangan diganggu."
Gavin perlahan memejamkan mata, mendekatkan wajahnya. Aruna refleks memejamkan mata juga, menunggu momen yang akan mengubah status "perang tetangga" mereka selamanya.
"MEEEEOOOOONGG!!!"
Sebuah jeritan melengkung memecah suasana. Sesuatu yang berbulu, basah dan dingin mendarat tepat di atas punggung Aruna, lalu meloncat ke kepala Gavin sebelum akhirnya mendarat dinatas rak manik-manik yang baru saja di rapikan.
"ASTAGA!" Gavin berteriak, refleks mendorong Aruna (dengan cukup lembut) agar ia bisa terduduk.
Lampu darurat toko tiba-tiba menyala, menunjukkan sosok Mochi, kucing liar kompleks yang basah kuyup, sedang berdiri dengan angkuh di atas meja pajangan. Mochi mengguncang tubuhnya, menyebarkan air hujan dan bulu ke seluruh ruangan yang sudah steril itu.
Gavin menatap Mochi dengan horor. "Bulu.... air hujan... parasit.... kontaminasi silang!"
Aruna, yang masih berusaha mengatur napas dan detak jantungnya yang kacau, malah tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Gavin. "Mas! kayaknya alam semesta setuju sama prinsip kamu yaitu kucing adalah pengacau rencana."
Gavin berdiri dengan tergesa-gesa, menepuk-nepuk bajunya seolah-olah ada serangan virus mematikan. "Ini tidak higienis. Benar-benar tidak sesuai protokol."
Namun, saat ia melihat Mochi yang menggigil kedinginan, Gavin terdiam. Ia menatap Aruna, lalu menatap kucing itu. Dengan helai napas panjang, ia melepaskan kemeja flanelnya -menyisakan kaos dalam putih yang pas di badannya- dan melempar kemeja mahal itu ke arah Mochi.
"Bungkus dia dengan itu. Saya nggak mau dia bersin di atas stok barang Anda," ujar Gavin ketus, walau matanya menunjukkan kepedulian.
Aruna tertegun, "Mas, tapi itu kan kemeja kesayangan Mas Gavin yang disetrika pakai penggaris?"
"Sudah terkontaminasi, Mbak. Nilai asetnya sudah nol," jawab Gavin sambil memalingkan muka, berusaha menyembunyikan rona merah di telinganya yang belum hilang. "Cepat bungkus. Sebelum saya berubah pikiran dan mengaudit dia keluar toko."
Aruna tersenyum manis. Ia mendekat, membungkus Mochi yang mengeong manja, lalu berdiri tepat di depannya Gavin. "Mas Gavin, makasih ya. Ternyata selain kolektor kucing balerina, Mas juga punya hati buat kucing beneran."
Gavin berdehem, kembali memasang wajah kaku. "Jangan salah paham. Saya hanya menjaga inventaris Anda agak nggak rusak oleh air hujan dari bulunya."
Hujan mulai mereda menjadi rintik-rintik kecil. Gavin mengambil tas pinggangnya dan bersiap pergi. Di ambang pintu, dia berhenti dan menoleh.
"Besok jam delapan pagi saya akan datang lagi untuk memastikan lagi nggak ada bulu kucing yang tertinggal di rak nomor empat. Dan Mbak Aruna?"
"Ya, Mas?" jawab Aruna.
"Pakai piyama wortel Anda besok. Setidaknya itu membuat saya ingat kalau Anda adalah gangguan yang... harus saya tangani secara rutin."
Gavin pergi menembus gerimis, meninggalkan Aruna yang tersenyum lebar sambil memeluk Mochi. Malam itu Aruna sadar satu hal: petang memang belum berakhir, tapi dia sudah tahu cara menenangkan hati sang jenderal.
Bersambung......