NovelToon NovelToon
Karma Suami Durhaka

Karma Suami Durhaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Keluarga / Selingkuh
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."

​Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.

Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.

Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.

Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.

​Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?

Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?

Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

"Pernahkah kalian merasa begitu yakin bahwa seseorang akan menderita tanpamu, hingga kau merasa perlu melihat penderitaan itu dengan matamu sendiri untuk memuaskan egomu? Di episode ini, Bima mencoba memburu bayang-bayang masa lalunya hanya untuk membuktikan kehebatannya. Namun, apa yang ia temukan bukanlah tangisan minta tolong, melainkan sebuah kehampaan yang membuatnya tersentak. Mari kita ikuti jejak Hana yang mulai menghilang di balik kabut harga diri."

.

.

Pagi itu, suasana di meja makan apartemen Bima terasa sangat tegang. Clarissa baru saja membanting katalog perhiasan karena Bima menolak membayar uang muka untuk kalung berlian incarannya dengan alasan prioritas bisnis.

Untuk meredakan kemarahan wanita itu, ego Bima mencoba mencari pengalihan. Ia ingin meyakinkan Clarissa dan dirinya sendiri, bahwa hidup mereka saat ini jauh lebih beruntung daripada Hana.

"Clar, kau tahu? Kadang aku penasaran bagaimana nasib wanita sombong itu sekarang," ucap Bima sambil menyesap kopinya, mencoba memasang wajah meremehkan.

Clarissa mendongak, matanya yang tajam menatap Bima dengan rasa ingin tahu. "Maksudmu Hana? Paling-paling dia sedang menangis di rumah kontrakan sempit sambil menghitung sisa recehannya."

Bima menyeringai sinis. "Bagaimana kalau kita lihat sendiri? Aku ingin menunjukkan padamu bahwa keputusanku membuangnya adalah hal terbaik. Aku ingin kau lihat betapa menyedihkannya dia tanpa kartu kreditku. Mungkin itu bisa membuatmu sedikit lebih tenang dan menyadari bahwa aku sedang menghemat uang untuk pesta kita, bukan karena aku miskin."

Clarissa tampak tertarik. Ide untuk melihat saingannya hancur memberikan sensasi kemenangan yang ia cari. "Boleh juga. Itu akan menjadi hiburan yang menyenangkan. Di mana dia sekarang? Di rumah orang tuanya?"

Bima segera meraih ponselnya. Ia yakin Hana pasti kembali ke rumah orang tuanya karena tidak punya tempat lain untuk pergi. Dengan percaya diri, Bima menghubungi Mita, ibu tiri Hana. Ia mengharapkan mendengar kabar bahwa Hana sedang menderita di sana.

"Halo, Mama Mita? Ini Bima," ucapnya dengan nada ramah yang dibuat-buat.

"Oh, Bima! Ada apa? Apa kau mau mengirimkan sisa barang Hana? Kirim saja ke gudang, jangan ke ruang tamu, Mama malas merapikannya," sahut Mita dari seberang telepon dengan suara cemprengnya.

Bima mengerutkan kening. "Maksud Mama? Jadi Hana tidak ada di rumah?"

"Ada di rumah? Mana mungkin! Minggu lalu dia datang dengan baju kotor dan koper tua, tapi sudah langsung Mama usir. Mama tidak mau rumah ini ketularan sial karena ada janda hamil. Memangnya dia tidak kembali padamu untuk mengemis?"

Jantung Bima berdegup sedikit lebih cepat. Diusir? "Lalu dia pergi ke mana?"

"Mana Mama tahu! Dia juga memblokir nomor Mama dan Tania. Bahkan Papanya tidak bisa menghubungi dia saat ingin menanyakan surat-surat rumah. Dia benar-benar memutus semua akses keluarga. Kenapa? Apa dia mencuri sesuatu darimu?"

Bima menutup telepon tanpa menjawab. Rasa tidak nyaman yang sempat ia rasakan di tempo hari kini kembali hadir, lebih kuat. Hana memblokir keluarga besarnya? Wanita penurut itu berani memutus tali silaturahmi dengan satu-satunya pelindung yang ia miliki?

"Bagaimana? Dia di sana?" tanya Clarissa tidak sabar.

"Tidak. Dia... dia menghilang," jawab Bima pendek.

"Menghilang? Ah, itu hanya taktiknya agar dicari! Dia pasti sedang bersembunyi di suatu tempat, menunggu kau merasa bersalah," cibir Clarissa.

Namun, Bima tidak bisa berhenti di situ. Egonya merasa tertantang. Ia segera menghubungi beberapa teman dekat Hana yang dulu sering berkunjung ke apartemen. Jawaban mereka semua sama, Hana sudah menghapus semua akun media sosialnya dan nomor teleponnya tidak lagi aktif.

Rasa penasaran Bima kini berubah menjadi obsesi yang gelap. Ia segera meluncur ke kantornya dan memanggil sekretaris pribadinya.

"Cari tahu di mana Hana Anindita berada sekarang. Periksa semua riwayat transaksi kartu debit terakhirnya, cari rumah sakit atau klinik tempat dia mungkin melahirkan, dan hubungi semua agen properti. Aku ingin alamatnya ada di mejaku dalam waktu dua jam!" perintah Bima dengan nada meledak-ledak.

Dua jam berlalu menjadi empat jam. Sekretaris Bima masuk dengan wajah pucat.

"Mohon maaf, Pak Bima. Saya sudah melacak riwayat transaksinya. Transaksi terakhir adalah penarikan tunai dalam jumlah kecil di sebuah ATM dekat stasiun kereta api, tiga minggu yang lalu. Setelah itu, tidak ada aktivitas perbankan sama sekali atas nama Ibu Hana."

Bima berdiri dari kursinya. "Lalu asuransi kesehatannya? Dia sedang hamil, dia pasti menggunakannya untuk melahirkan!"

"Sudah saya cek ke semua rumah sakit besar di Jakarta, Pak. Tidak ada pasien bernama Hana Anindita. Sepertinya... beliau benar-benar meninggalkan radar."

Bima terhempas kembali ke kursinya. Ia merasa seolah-olah Hana baru saja menguap ke udara. Pencariannya yang awalnya bertujuan untuk menghina, kini justru membuahkan rasa ngeri yang halus. Hana telah pergi seolah-olah Bima dan seluruh dunianya tidak pernah ada.

~~

Sore itu, Bima berdiri di balkon kantornya, menatap hiruk pikuk kota. Ia mengingat kembali saat ia melempar talak itu. Ia mengingat betapa tenangnya Hana saat itu.

Sekarang ia sadar, ketenangan itu bukanlah kepasrahan, melainkan persiapan untuk sebuah pelarian yang sempurna.

Hana tidak ingin ditemukan. Hana tidak ingin uangnya. Hana tidak ingin dihina.

"Kenapa kau tidak berteriak, Hana? Kenapa kau tidak minta tolong?" gumam Bima pada angin.

Di sisi lain kota, Clarissa mulai mengeluh karena rencana menonton kemiskinan mereka gagal. "Sudahlah, Bim! Biarkan saja dia mati di jalanan. Kenapa kita harus membuang waktu memikirkan sampah? Lebih baik kita fokus pada daftar tamu undangan kita."

Bima menatap Clarissa. Untuk pertama kalinya, ia merasa suara wanita itu terdengar seperti suara kikir yang menggores besi. Sangat mengganggu.

Jauh dari kepanikan Bima, di Desa Sukamaju, suasana sangat tenang. Hana baru saja menidurkan Aditya Saka. Ia duduk di ambang pintu rumah tuanya, menatap ponsel tuanya yang hanya berisi nomor Bu Siti dan beberapa pedagang pasar.

Ia baru saja selesai mengganti kartu SIM dan menghapus semua data masa lalunya. Baginya, Hana yang lemah sudah mati di pinggir jalan Jakarta. Yang ada sekarang adalah Ibu dari Saka.

"Biarkan mereka mencari jejak yang sudah tidak ada, Saka," bisik Hana sambil menatap bayinya. "Di sini, kita tidak punya masa lalu. Kita hanya punya hari ini dan hari esok."

Hana tersenyum. Ia tidak tahu bahwa di Jakarta, Bima sedang mengerahkan segala cara untuk menemukannya, bukan karena cinta, tapi karena egonya tidak sanggup menerima kenyataan bahwa ada seseorang yang sanggup menghapusnya dari hidup mereka begitu saja.

Bima ingin memamerkan kemiskinan Hana, namun ia justru dihadapkan pada kenyataan bahwa Hana-lah yang memiliki kekayaan sejati, keberanian untuk melepaskan segalanya demi memulai kembali.

Jejak itu memang sudah hilang. Namun, bagi Hana, itulah cara satu-satunya agar ia bisa benar-benar ditemukan oleh takdir yang lebih baik.

Apa yang akan dilakukan Bima saat rasa penasarannya mulai mengganggu fokus bisnisnya? Dan bagaimana Hana bereaksi ketika ia menyadari bahwa ada orang asing yang mulai bertanya-tanya tentang identitasnya di pasar desa?

Ikuti terus pencarian yang penuh emosi ini!

...----------------...

**To Be Continue**....

1
Sunaryati
Sebaiknya Bima menemukan Hana setelah Hana sukses dan sudah memiliki suami yang meratukan dan melindunginya
Sunaryati
Emak terus membaca untuk menemukan bab Bima yang habis hartanya dikuras Clarissa
Sunaryati
Emak baru mampir langsung suka, semoga Hana berhasil jadi orang sukses dunia akhirat
Miss Ra: 🤗🙏

makasih Mam...
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
duh sedikit bener kebanyakan prolog bikin berbelit2 jadi nya😌
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: apaan teh 🤣🏃
total 2 replies
Mundri Astuti
ayo bergerak bu Sarah, anakmu pecundang
Ma Em
Thor jgn sampai Hana kembali dgn Bima lbh baik Hana menikah dgn Dr Adrian saja , ternyata mamanya Bima orang baik tdk seperti si Bima yg pecundang .
siti Syamsiar
lanjut thor 👍
Mundri Astuti
lah emaknya bima lebih Badas ..ko bisa anaknya kaya gitu yak 🤔
JasmineA: biasa anaknya si otak cinta...makan tuh penyesalan
total 1 replies
stela aza
sakarepmu Thor apa yg mau kamu lakukan 🤣
Ma Em
Clarisa ternyata selingkuh dan Bima hanya di manfaatkan saja sama Clarisa , itu mungkin karma akibat sdh menyakiti Hana .
Winda Basir
bagus banget kak , aku menunggu update selanjutnya yak , semangatt🥰😍
Miss Ra: 🤗🙏
trimakasih sudah mau mampir baca karyaku...
semoga berkesan dengan ceritaku...

/Heart/
total 1 replies
Mamah Dini11
kasian juga kmu bim hidupmu hancur, karna apa karna ulahmu sendiri, ke angkuhanmu dn ke sombonganmu tdk ada untuk menolongmu, dan kmu telah membuang permata demi batu kerikil, eh iya ke mana art mu bim, masa orkay gk ada satupun art, harusnya kmu itu banyak art nya, aneh
Mamah Dini11
Bima itu sifatnya serakah dannnnn AMBISIUS, gk bisa lihat mantan hidup bahagia,
R⁹
1 kata utk Bima.. MAMAAAAMMMM
Ma Em
Bima tdk suka melihat Hana hdp nya bahagia maunya Bima Hana datang berlutut minta maaf dan kembali pada Bima , jgn harap Hana akan kembali padamu Bima skrng Hana hdp nya sdh bahagia bersama Saka serta tdk kekurangan uang karena Hana sdh buka usaha sendiri daripada hdp bersama Bima hdp Hana terjamin tdk kekurangan uang tapi harga dirinya selalu dihina dan direndahkan .
Mamah Dini11
jgn ganggu hana dn saka Bima biarkan mereka bahagia dgn takdirnya, dannn jemputlah karmamu bentar lgi datang dgn perempuan jahat dn licik itu, nikmatilah hidupmu yg slalu di bayangin masalalu, kmu itu manusia angkuh dn sombong yg berhati jahat.
Mamah Dini11
dasar laki2 durjana si Bima mh, kmu itu hampir dapat karma Bima acara pernikahanmu aja sekarang rada kacau Bima, msh aja mau ngancurin hidup hana, ingat Bima anakmu bersama mantan istrimu yg kau sakiti, hatimu makin gk waras bima
Mundri Astuti
dah telen aja noh modelan Clarissa yg kau pilih
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
mampus terjebak lah kau bima dalam keangkuhan mu dan dalam cinta masa lalu mu 🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
sakit jiwa si bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!