Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Kilau Kaca
Suasana di ruang rapat itu mendadak beku. Elang, yang biasanya tenang, kini berdiri dengan kedua telapak tangan menekan meja kaca. Tatapannya tajam menatap manajer proyek di hadapannya yang hanya bisa menunduk gemetar.
“Satu tahun,’’ ucapnya keras. “Kita membutuhkan waktu satu tahun untuk mempersiapkan ini, dan kalian mengacaukannya hanya karena satu kesalahan administrasi?”
“Maaf, Pak. Kami–”
“Saya tidak butuh maaf! Saya butuh hasil!” Elang memotong cepat. Ia melempar berkas laporan ke tengah meja hingga suaranya menggema di tengah ruangan.
“Proyek ini bukan soal angka bagi perusahaan, tapi soal kepercayaan,” lanjutnya. “Dan… karena kecerobohan kalian, investor utama kita hampir menarik diri.”
Elang memijit pelipisnya yang berdenyut. “Kalian tahu apa artinya ini? Saya sendiri yang harus turun tangan menemui direkturnya siang ini. Untung saja, ia sedang ada di Jakarta. Saya harus memastikan komitmennya tidak berubah.”
Ia mengenakan jaketnya, lalu menatap semua orang dalam ruangan dengan dingin. “Siapkan semua data revisi dalam satu jam. Saya tidak akan membiarkan kerja keras seluruh karyawan di gedung ini hilang hanya karena satu tim yang tidak kompeten.
Tanpa menunggu jawaban, Elang melangkah keluar ruangan.
*********
Matahari siang menyengat pelataran parkir sekolah Kanara. Elang melirik jam tangannya dengan gelisah. Tiga puluh menit lagi ia sudah harus tiba di restoran hotel untuk menemui investor utama yang sedang di ambang keraguan.
“Ayo, Sayang,” ucap Elang lembut saat Kanara keluar dari gerbang sekolah.
Gadis kecil itu hanya diam, jemarinya meremas tali tas ranselnya kuat-kuat.
Tanpa bertanya, Elang langsung menggendongnya, dan membawanya langsung ke dalam mobil.
Tubuh Kanara menegang.
Di dalam mobil, suasana terasa tegang. Elang tidak punya waktu untuk mengantar Kanara pulang terlebih dahulu. Ia harus membawa putrinya ke medan pertempuran bisnisnya.
“Kanara, dengar Ayah,” Elang menoleh sejenak sambil terus menginjak pedal gas. “Nanti Kanara duduk di sebelah Ayah, ya? Membaca buku sebentar atau menggambar. Ayah harus bicara sebentar dengan teman Ayah. Bisa, kan?”
Kanara tidak menjawab. Ia hanya menunduk namun genggamannya pada tas di pangkuannya semakin mengerat.
Elang membelokkan mobilnya ke depan sebuah hotel. Mesin dimatikan, sabuk pengaman dilepas. Ia melihat Kanara sudah melingkarkan lengan di sekitar lutut, tubuhnya menyusut di kursi.
Kanara hanya menatap lobi hotel yang sedang ramai dipenuhi pengunjung. Tatapannya kosong. Sulit memahami apa yang ada di benak gadis itu.
Elang menghela napas, membuka pintu dengan ragu. Firasatnya bilang jangan bawa Kanara ke dalam. Ia merasa bersalah, tapi ia tidak punya pilihan. Pertemuan ini penting bagi keberlangsungan perusahaannya.
“Kanara…,” tangannya terulur perlahan ke arah Kanara, seolah menawarkan perlindungan yang canggung.
Kanara hanya menatap jemari itu dengan bingung, sebelum akhirnya bangkit keluar tanpa sedikit pun menyentuh jari ayahnya.
Menelan kekecewaan, Elang bergegas mengunci pintu. Ia melangkah masuk ke dalam lobi hotel, kemudian berjalan terus hingga sampai di restoran. Ia berulang kali menoleh ke belakang, memastikan Kanara masih mengikutinya.
Restoran itu terlalu terang.
Lampu gantung memantulkan cahaya ke dinding kaca besar di sisi ruangan.
Sepanjang jalan, Kanara menundukkan kepalanya, membuat rambutnya tergerai ke depan.
Ia lalu duduk di seberang Elang, kakinya tidak sampai menyentuh lantai. Ia mengeluarkan buku gambar dan pensil warnanya.
Tak berapa lama, seorang pria asing dengan rambut coklat menghampiri mereka.
“Elang! Good to finally meet you in person. We've been working together virtually for almost a year now.”
(Elang! Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung, setelah lebih dari setahun bekerjasama secara virtual)
Elang menjabat tangan pria di hadapannya. “Absolutely, Richard. Thank you for making time to meet here.”
(Tentu saja Richard. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk pertemuan ini)
Richard kemudian melirik pada gadis kecil yang wajahnya tertutup rambut panjangnya. “Is this your daughter?" tanyanya.
(Ini putrimu?)
“Yes, she's very shy though,” jawab Elang cepat, khawatir Kanara merasa terganggu.
(Iya. Dia sangat pemalu)
“I had to pick her up from school. I hope you do not feel disturbed by her presence," lanjutnya.
(Saya berharap anda tidak keberatan)
“Not at all, i don't mind," jawab Richard sambil mengibaskan tangannya ringan.
(Tentu saja tidak)
Perbincangan bisnis mengalir. Elang berusaha meyakinkan Richard agar tidak menarik investasinya.
Sementara, Kanara yang masih tertunduk sibuk mewarnai gambar yang baru dibuatnya.
Dor!
Sebuah balon meledak di ujung ruangan. Seorang balita menangis.
Kanara terkejut. Refleks, ia menoleh ke arah suara.
Pantulan di dinding kaca itu menatap dirinya.
Wajah kecilnya memucat. Bahunya menegang.
Elang menoleh. “Kanara…?” panggilnya.
Tapi terlambat.
Kanara menjerit histeris. Ia menutup telinga, merosot dari kursi, dan meringkuk gemetar di bawah kursi. Napasnya tersenggal.
Orang-orang mulai menoleh.
“Kanara…Ayah di sini,” Elang berjongkok, spontan menyentuh bahu putrinya.
Namun, Kanara malah menjerit lebih keras.
Elang membeku, tersadar bahwa sentuhan mendadak adalah kesalahan fatal.
“Maaf… maaf,” bisiknya panik.
Richard ikut berlutut dengan wajah cemas.
“Is she all right?” tanya Richard ikut panik, ikut berlutut di sebelah Elang.
(Apakah dia baik-baik saja?)
Elang tidak mampu menjawab.
Jeritan Kanara sekarang berganti napas yang terputus-putus.
“Boleh saya bantu, Pak?”
Suara itu membuat jantung Elang seolah berhenti. Nura berdiri di sana tanpa peralatan terapinya, hanya dengan baju terusan sederhana. Wajahnya begitu tenang.
“Nura? Kamu…”
“Saya kebetulan di sini,” potongnya lembut. “Kalau Bapak izinkan.”
Elang mengangguk ragu kemudian mundur.
Nura tidak langsung mendekat. Ia berlutut membelakangi dinding kaca, menjaga jarak aman.
“Kanara…,” panggilnya pelan. Tidak ada nada mendesak dalam suaranya.
Kanara tidak menjawab. Tangisnya masih pecah, tubuhnya kaku.
“Kak Nura di sini,” ucapnya datar tapi stabill. “Tenang dulu, ya."
Perlahan, tangisan Kanara mereda menjadi isakan.
“Kanara, lihat aku,” pinta Nura lembut. “Kita duduk lagi, yuk."
Kanara masih menunduk, dan menutup telinganya. Tapi, jeritannya sudah hilang.
"Kanara... Kak Nura tidak akan ke mana-mana," janjinya dengan suara tegas tapi lembut. "Kanara tidak usah melihat Kak Nura kalau nggak mau. Kanara bisa lihat tangan atau lihat apa saja.”
Kanara mulai menurunkan tangannya. Dengan tubuh yang masih sedikit gemetar, ia merangkak keluar dan kembali duduk di kursi.
Nura berdiri tegak, memposisikan dirinya sebagai perisai yang menghalangi dinding kaca.
Dari belakang, Elang menyaksikan dengan dada sesak. Ia ingin memeluk Kanara, namun kode anggukan dari Nura memaksanya untuk memberikan ruang.
Elang berpaling pada Richard.
“I'm so sorry. Can we continue tomorrow at my office?”
(Maaf, tapi bisakah kita melanjutkan pembicaraan ini besok di kantor?”
“Off course,” Richard menepuk lengan Elang, paham. “Please attend to your daughter first.”
(Tentu saja. Putrimu harus diprioritaskan)
Setelah Richard pergi, seorang pelayan menghampiri dengan canggung. “Apakah….”
“Iya, kami akan segera pergi,” potong Elang cepat.
“Kanara…,” ucapnya.
Kanara berdiri namun justru bergeser mendekati Nura. Tangan kecilnya terulur, memegang ujung jari Nura. Ringan tidak erat.
Deg.
Jantung Nura berdesir. Ia membiarkan jarinya digenggam tanpa membalas agar Kanara tidak merasa terancam.
Ketiganya kemudian berjalan keluar restoran.
“Terima kasih,” ucap Elang. “Aku tidak tahu harus bagaimana tadi.”
Nura tersenyum tipis. “Dia tidak sulit. Dia hanya ketakutan.”
Elang mengangguk. Ia kemudian berjongkok menyamai tinggi putrinya. “Ayo, kita pulang.”
Kanara bergeming. Alih-alih melepaskan, genggamannya di tangan Nura malah semakin mengencang.
Elang dan Nura saling lirik.
Nura segera berlutut di depan gadis itu. “Kanara, sudah tidak apa-apa,” ujarnya sambil tersenyum. “Sekarang, Kanara pulang sama ayah, ya?”
Tetap tidak ada jawaban. Kanara justru mencengkram jemari Nura, seolah tidak mau ditinggalkan.
“Maaf,” suara Elang terdengar parau saat menoleh ke arah Nura. “Tapi bisakah kamu mengantarkan Kanara sampai rumah?”
Nura mendongkak. Matanya membesar menatap Elang.