Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Permainan catur selesai dengan Peno sebagai pemenangnya, pak Supri pun menepati janjinya memberi hadiah pada Peno, uang lima ratus ribu langsung ia serahkan pada Peno dihadapan semua orang
"nih No, sesuai janjiku siapa pun yang bisa mengalahkanku dalam permainan catur akan aku kasih hadiah lima ratus ribu, dan karena kamu masih muda serta kayaknya bakatmu menjanjikan, nanti kalau ada kompetisi catur dikabupaten kamu akan aku daftarkan, akan aku jemput kamu dirumah nanti, tugasmu sekarang belajar dan berlatih!" ucap pak Supri sambil menyerahkan uang pada Peno.
"terimakasih pak, in sya Allah nanti saya akan ikut!" jawab Peno sambil menerima uang itu dan langsung dimasukan ke kantong celananya.
"harus ikut No, aku melihat ada potensi besar dalam dirimu dibidang catur, permainanmu tenang tapi tepat!" tambah pak Supri lalu menuju kasir warung kopi yu Warni.
"War, berapa tagihan yang harus aku bayar buat semua kopi dan makanan bapak bapak semua?" tanya pak Supri pada yu Warni.
"totalnya empat ratus ribu pak, sama rokok dua bungkus!" jawab yu Warni.
Pak Supri pun membayar dengan uang pas pada yu Warni lalu ia duduk kembali dimejanya yang tadi dan masih ada Peno dan teman temannya disana.
"kamu jago main catur begitu sejak kapan No?" tanya pak Supri memulai mengajak ngobrol Peno.
"sejak kelas enam SD pak, dulu sering dilatih sama mbah kakung, tapi sekarang mbah sudah meninggal!" jawab Peno jujur.
"mbah kamu namanya siapa, pasti dulu sering juara catur!?" tanya pak Supri lagi.
"mbah Patma pak, ceritanya sih begitu kata bapak saya!" jawab Peno lagi.
"oooh kamu cucunya mbah Patma, ya dulu dia sangat jago main caturnya, kalau ada lomba didesa pasti difinal ketemu sama aku, pantas kamu juga jago, ternyata keturunan master, he he he...!" ucap pak Supri lagii.
"iya pak, mungkin karena turunan, kalau tanjakan kadang ga kuat, he he he.....!" jawab Peno mulai ngelantur.
"ha ha ha ha ha.........., bisa saja kamu No, kalau ga kuat diganjel pakai benteng!" ucap pak Supri yang jiwa humornya juga agak lumayan tinggi.
Semua orang pun ikut tertawa mendengar banyolan dari Peno dan pak Supri, ya begitulah Peno ketika sudah akrab dengan orang tidak akan ragu untuk melucu dan menyimpangkan makna kata dari yang sebenarnya.
Dan yang sering menjadi korban keisengan Peno adalah ketiga sahabatnya itu, kadang mereka dibuat jengkel saat sedang ngobrol dengan Peno tiba tiba dibelokan ke hap hal yang menurut mereka tidak masuk akal.
"sudah jam dua belas pak, kami mohon pamit, soalnya besok mau nganggur takut kesiangan!" ucap Peno berpamitan pada pak Supri.
"ha ha ha ha....., iya No, silahkan kalau mau pulang, hati hati ya, nanti kalau jatuh lambaikan tangan ke arah kamera!" jawab pak Supri ikutan ngawur.
"ha ha ha..... Siap pak, nanti saya langsung melakukannya kalau jatuh!" kata Peno lagi, semua orang pun dibuat tertawa kembali oleh obrolan Peno dan pak Supri.
Peno dan ketiga temanya pun berjalan pulang menyusuri jalanan desa yang sepi dan gelap, cahaya lampu penerangan jalan tak cukup membantu menerangi gelapnya malam didesa rengginang itu, saat sampai didepan rumah pak haji komar imam masjid dan juga juragan empang didesa itu Peno dan ketiga temannya mendengar suara seperti bunyi kuci pas sedang melepas baut.
"kamu dengar suara itu No?" tanya Maman setengah berbisik.
"iya dengar, siapa malam malam lagi buka bengkel ya?" jawab Peno balik bertanya.
"memangnya pak haji punya bengkel?" tanya Dimin juga berbisik.
"tak!"
"aduh, sakit Ek, kenapa kamu jitak kepalaku!?" ucap Dimin lagi sambil mengelus kepalanya.
"kamu kalau ngomong, mana ada pak haji punya bengkel, yang ada kolam bawal berpuluh puluh petak!" kata Eko.
"stttttttt, malah pada ngobrol sendiri, ayo coba kita lihat, kayaknya suara itu dari arah sumur!" ucap Peno mengajak teman temanya mengecek keadaan rumah pak haji.
Dengan mengendap endap empat pemuda itu mendekati sumber suara yang ternyata dari arah sumur milik pak haji Komar, saat sudah dekat dengan sumur milik pak haji terlihatlah dua orang sedang mengendorkan baut pompa air.
"ternyata mereka akan mencuri pompa air pak haji, gimana ini No, kita langsung tangkap saja apa?" ucap Maman meminta pendapat Peno.
"kalian disini saja, biar aku yang mendekat kemereka, nanti kalau aku sudah menangkap salah satunya baru kalian bantu menangkap satunya lagi!" ucap Peno lalu mengendap endap mendekati dua pencuri itu.
Kini jarak Peno dan dua pencuri itu hanya setengah meter, mungkin karena terlalu fokus dua pencuri itu tidak menyadari kalau ada Peno dibelakang mereka.
"sepertinya sudah aus itu bautnya mas, sini biar aku bantu!" ucap Peno langsung menubruk salah satu pencuri, sedangkan satu pencuri lagi kaget lalu dengan gerakan cepat lari ke arah kanan dan tanpa disadarinya sebelah kananya adalah tiang dari penyangga turn.
"braaakk!" pencuri itu menabrak tiang dan langsung terjungkal, Maman langsung berlari menubruknya.
"maling, maliiiing, maliiiiing!" pekik Dimin berteriak kencang membuat seisi rumah pak haji Komar menjadi terbangun dan langsung menuju sumber suara.
"maling apa Min?" tanya pak haji Komar yang sudah berdiri didepan pintu dapurnya.
"itu, pompa air pak haji bautnya sudah dilepas!" jawab Peno yang masih menyekap satu orang pencuri.
pak haji pun langsung mengecek pompa air miliknya dan benar saja semua bautnya sudah terlepas, jadi si pencuri tinggal melepaskan paralon airnya dan mengangkut pompa itu.
"oooh dasar maling tak berguna, hampir saja aku tidak bisa mandi pagi karena pompa airnya kamu curi!" ucap pak haji mengomel pada pencuri yang ada didekapan Peno.
"sejak kapan maling berguna ya, kan memang maling tak berguna!?" ucap Peno lirih dengan tangan masih melingkar ditubuh pencuri itu.
"ini mau diapakan pak malingnya?" tanya Maman pada pak haji.
"kita seret saja ke pos ronda!" jawab pak haji.
Kedua pencuri itu pun digiring ke pos ronda tanpa perlawanan, sampai disana ternyata tidak ada orang satupun.
"lah, ini yang ronda pada kemana ya, bisa bisanya pos sepi kaya gini!?" ucap pak haji sambil bertolak pinggang sambil celingukan mencari orang.
"mungkin lagi keliling pak, sebaiknya kita panggil pak RT saja!" jawab Dimin menanggapi ucapan pak haji.
"iya Min, kamu kerumah pak RT sekarang, biar kami tunggu disini!" perintah pak haji pada Dimin.
"ayo Ko temani aku!" ujar Dimin mengajak Eko.
Berdua pun kerumah oak RT yang jaraknya dari pos ronda hanya dua ratus meter saja.
"tok, tok, tok,!" suara kerukan pintu dari Dimin.
"assalamualaikum pak RT!" ucap Dimin setengah berteriak.
"waalaikumsalam, ada apa Min!?" ucap pak RT setelah membuka pintu.
"itu pak, di pos ronda ada pencuri sudah ditangkap!" lapor Dimin pada pak RT.
"hah, iya, tunggu sebentar Min, aku ganti celana dulu!" jawab pak RT sedikit kaget dan langsung masuk kedalam untuk ganti celana.