Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
"Astaga, kenapa lo itu berjalan di belakang gue? Cepat pakai baju dulu sana!" ujar Nolan dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan.
Karena baru pertama kali dalam hidupnya, dia melihat dada sebesar dan montok itu. Bahkan, Nolan sampai mengeluarkan keringat dingin di wajahnya, dan jakunnya terlihat bergerak naik turun.
"Maaf, tapi gue baru ingat! Gue itu meninggalkan tas yang berisi baju di depan kamar lo, samping pintu. Dan baju kotor yang sebelumnya gue pakai, sudah gue cuci, jadi baju itu sekarang basah," jelas gadis itu dengan nada suara yang terdengar begitu polos.
"Astaga," gumam Nolan dengan nada geram sembari memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri.
"Kenapa sih dia tidak lebih berhati-hati? Masa lupa bawa baju begitu saja? Ini benar-benar menguji kesabaran," batin Nolan, mencoba mengendalikan perasaan tidak nyaman yang mulai muncul dalam benaknya. Akan tetapi, ia tak bisa menyangkal bahwa di balik kejadian yang tak terduga ini, ada perasaan penasaran yang muncul dalam dirinya. Sebuah perasaan yang mungkin selama ini dia coba untuk tahan dan sembunyikan, namun kini dihadapkan pada kenyataan yang membuatnya berkecamuk.
Nolan pun akhirnya tidak ada pilihan lain, selain meminjamkan baju miliknya yang mungkin akan kebesaran jika di pakai gadis aneh yang berada di dalam kamar nya.
****
**
*
Di sebuah ruang tamu yang lumayan mewah, di sebuah rumah mewah.
Dua orang pria paruh baya agaknya sedang mencapai puncak kesepakatan.
Keduanya nampak berjabat tangan.
"Jadi tujuh puluh persen gaji keponakan Anda harus dikirim ke rekening Anda, Pak Danu?" tanya pria paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah ayah dari Nolan. Orang yang memperkerjakan Qiara.
Sungguh Qiara bingung, dirinya merasa jika semua anak anak Tuan Abraham itu normal. Dan sama sekali tidak membutuhkan dirinya sebagai pengasuh.
Namun, kenapa tuan Abraham harus memperkerjakan dirinya sebagai pengasuh.
"Iya, soalnya keponakan saya yang bernama Qiara ini terlalu boros, Pak Abraham. Memang, saya akui kalau dia termasuk anak yang rajin dan juga penurut. Tapi kalau sudah melihat uang, jiwa borosnya sudah tidak bisa dikendalikan." jelas Danu Setiaji yang tak lain dan tak bukan adalah paman dari Qiara sendiri, adik kandung ibu Qiara.
Saat mendengar penjelasan paman nya, Qiara tidak bisa menahan rasa sedih yang muncul di dalam hati nya. Sejak berusia 7 tahun, dirinya harus tinggal bersama paman yang menjadi orangtua tunggal baginya. Setelah ke dua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan.
Qiara sebenarnya bersyukur karena diberikan kesempatan untuk tumbuh dan mengenyam pendidikan. Namun, "mengapa paman tidak pernah mengerti bahwa aku berusaha menabung dan membelanjakan uangku untuk keperluan yang penting? Kenapa dia mengatakan kalau aku itu boros?"
Namun, perlahan Qiara menyadari keburukan paman Danu. Qiara tahu, pamannya itu memiliki hobi berjudi dan meminum minuman keras, meskipun dirinya berusaha untuk tidak mencampuri urusan pribadi paman nya itu. Hal itu membuat harta yang diwariskan oleh kedua orang tua kandung nya pun lambat laun habis.
"Dari kecil, aku merasa ditinggalkan dan dicurangi oleh orang yang seharusnya melindungi ku. Mengapa Tuhan mempertemukan aku dengan orang seperti paman? Apakah aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan? Apakah aku harus terus bertahan hidup di tengah ketidakadilan ini?" gumam Qiara dalam hati, kala dirinya teringat kalau akhir akhir ini pamannya itu sering kali mengambil uang tabungannya yang dirinya dapatkan saat bekerja paruh waktu, yang ia gunakan untuk membayar sekolah.
Qiara, sebenarnya anak tunggal dari pasangan orang tua terpandang dengan harta kekayaan yang lumayan, kini harus merasakan kehidupan yang berbeda. Semua harta itu habis di tangan Danu, pamannya, untuk membayar hutang berjudi yang tak terhitung jumlahnya.
Akibatnya, Qiara harus pindah ke desa terpencil dan tinggal di rumah yang jauh dari layak huni saat awal masuk SMA.
Merasa sedih dan kecewa, Qiara memandang pamannya dengan tatapan pilu saat pamannya menuduhnya boros.
"Kenapa paman Danu menganggap aku boros? Bukankah sejak SMP aku sudah sering bekerja sambilan demi membiayai sekolah dan makan sehari-hari?" gumam Qiara dalam hati.
Dibalik fakta yang terungkap, Qiara sebenarnya sangat hemat dan rajin bekerja sambil sekolah demi mencukupi kebutuhannya. Danu sendiri tidak pernah memberi dukungan, bahkan sering meminta uang darinya. Kini, ia harus menyerahkan sebagian besar gajinya kepada pamannya.
"Baiklah, saya akan mentransfer tujuh puluh persen gaji keponakan Pak Danu ke rekening Anda," sahut Abraham pada Danu, membuat Qiara merasa semakin tertekan.
"Kenapa paman yang tidak bekerja? Kenapa harus aku? Bahkan dia mengambil banyak sekali gaji ku," batinku Qiara dengan perasaan frustasi yang mendalam.
"Qiara, sudah saatnya kamu membalas budi pada Paman. Kau tahu sendiri sejak umur 7 tahun, Paman yang merawatmu," ancam Danu dengan suara yang terdengar begitu lirih, hanya bisa didengar oleh Qiara.
Hatinya berkecamuk, mencoba mencerna ancaman yang baru saja dilontarkan oleh paman yang selama ini ia sayangi. Qiara menghembuskan nafasnya dengan kasar, mencoba meredam emosi yang bergejolak.
"Qiara... Sekarang Paman harus pergi, kamu tahu kan kondisi ekonomi paman akhir-akhir ini sangat sulit. Jadi sementara waktu, kamu harus bekerja dengan baik di rumah ini, selain bersih-bersih dan mengurus keperluan tiga anak kembar Om Abraham. Kamu juga akan bersekolah di tempat yang sama dengan tiga kembar itu, dan di sana kamu harus membuat anak-anak Om Abraham untuk mematuhi peraturan sekolah," jelas Danu pada keponakannya.
Mendengar penjelasan itu, hati Qiara terasa berat. Ia tidak mengerti mengapa perlu memberikan balas budi sebesar itu kepada paman yang selama ini merawatnya.
"Apakah benar kewajiban anak angkat untuk menerima beban seperti ini?" gumamnya dalam hati.
"Mereka bertiga ini terkenal sering bolos dan tidak mengikuti pelajaran dengan baik. Bahkan mereka sering membuat onar di sekolahan," tambah Danu, mengingatkan Qiara akan tantangan yang harus dihadapinya nanti.
Qiara menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikiran dan merangkai rencana tentang bagaimana ia bisa menghadapi keadaan ini.
"Iya, nak Qiara, Om benar-benar dibuat pusing tujuh keliling. Semua pengasuh yang bekerja di rumah ini tidak ada yang betah. Jangan kan pengasuh, pembantu saja tidak betah. Paling lama hanya bekerja selama dua hari. Oh iya, kamu tidak perlu membersihkan seluruh rumah ini. Karena ada tukang bersih-bersih yang setiap hari datang," timpal Abraham.
"Apa? Jadi aku akan menjadi pengasuh tiga kembar nakal ini! Bukankah mereka bertiga sudah dewasa dan bersekolah? Dan mereka juga kelihatan normal," gumam Qiara dalam hati, sembari menatap ke arah tiga laki-laki tampan yang duduk tak jauh darinya.