Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng yang Retak
Baskara memacu mobilnya membelah kemacetan Jakarta dengan sisa kemarahan yang tertahan di balik rahang yang mengeras. Notifikasi dari sensor kamera tersembunyi di ponselnya masih menyala, menampilkan rekaman real-time yang membuat dadanya sesak. Di sana, di dalam kamar pribadinya yang seharusnya steril dari jangkauan orang lain, Alea sedang berdiri mematung di depan lemarinya yang terbuka.
Gadis itu memegang kalung lumba-lumba kecil—satu-satunya benda peninggalan almarhum ibunya yang tidak sempat disita oleh Sarah sepuluh tahun lalu.
Apa yang sedang kau lakukan, Alea? Apakah kau mata-mata Sarah yang lebih kompeten dari dugaanku? batin Baskara penuh selidik.
Setibanya di rumah mewah Mahardika, Baskara tidak langsung melabrak. Ia mengatur napas, menata kembali ekspresi wajahnya menjadi sosok "kakak tiri yang hangat" yang sedang ia perankan. Ia melangkah menaiki tangga marmer dengan sengaja menimbulkan suara sepatu yang berat agar kehadirannya diketahui.
Saat ia membuka pintu kamar, Alea tersentak. Gadis itu nyaris menjatuhkan kalung di tangannya. Wajahnya pucat pasi, matanya yang besar memancarkan ketakutan yang murni.
"Ba-Baskara... kau sudah pulang?" suara Alea bergetar.
Baskara tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, memperpendek jarak hingga Alea terdesak ke pintu lemari. Ia mengambil kalung itu dari tangan Alea dengan gerakan pelan, jemarinya sengaja bersentuhan dengan kulit Alea yang terasa dingin.
"Aku tidak tahu kau punya hobi memasuki kamar pria tanpa izin, Alea," bisik Baskara dengan nada yang sulit ditebak—campuran antara ancaman dan godaan.
"Maaf... tadi Nyonya Sarah memintaku mencari dokumen pajak lama yang mungkin terbawa di koper-kopermu. Aku melihat kotak ini terbuka dan..." Alea menunduk, tidak berani menatap mata Baskara. "Kalung ini indah sekali. Maafkan aku."
Baskara menatap kalung itu, lalu beralih ke Alea. Ia tahu Alea sedang berbohong tentang perintah Sarah, tapi ia juga melihat sesuatu yang lain di mata gadis itu: rasa sedih yang sangat dalam, seolah kalung itu membangkitkan ingatan yang menyakitkan baginya juga.
"Ini milik ibuku," ujar Baskara, suaranya tiba-tiba melunak. "Sarah merampas kebahagiaannya, tapi dia gagal merampas benda ini. Kau menyukainya?"
Alea mengangguk pelan. "Rasanya... sangat akrab. Aku tidak tahu kenapa."
Catur di Ruang Makan
Setelah insiden di kamar, Baskara turun ke ruang makan untuk bergabung dengan Sarah dan ayahnya. Suasana makan malam itu adalah puncak dari kemunafikan. Sarah duduk dengan anggun, sesekali memberikan instruksi pada pelayan seolah dia adalah pemilik sah rumah ini sejak awal.
"Bagaimana hari pertamamu di divisi audit, Baskara?" tanya Sarah sambil memotong steak dengan gerakan yang sangat presisi. "Alea membantumu dengan baik?"
Baskara melirik Alea yang sedang menyajikan minuman di sisi meja. "Dia asisten yang luar biasa, Sarah. Sangat teliti. Bahkan dia membantu mencarikan dokumen sampai ke kamarku tadi sore."
Gerakan tangan Sarah terhenti sesaat. Matanya yang tajam menatap Alea dengan kilatan peringatan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Alea tampak tersentak, kepalanya semakin menunduk.
"Begitukah? Alea memang sangat rajin," sahut Sarah dengan nada yang kembali manis, namun Baskara bisa merasakan ketegangan yang merambat di udara.
Baskoro, ayah Baskara, tertawa kecil. "Baguslah kalau kalian akrab. Mahardika Group butuh stabilitas. Aku harap kau segera menemukan ritmemu di sana, Baskara."
Baskara tersenyum patuh pada ayahnya. "Tentu, Ayah. Aku hanya ingin memastikan tidak ada parasit yang menggerogoti apa yang sudah kau bangun dengan susah payah."
Sarah menatap Baskara, mencoba mencari jejak sarkasme di balik wajah tenang itu, namun Baskara adalah aktor yang terlalu hebat. Infiltrasi ini berjalan lancar. Sarah mengira ia sedang mengawasi Baskara melalui Alea, padahal Baskara sedang menggunakan Alea untuk mengumpan Sarah agar membuat kesalahan.
Suara di Balik Pintu
Tengah malam, saat seluruh rumah sudah terlelap, Baskara menyelinap keluar kamar. Ia menuju ruang kerja ayahnya, membawa alat peretas portabel yang disiapkan Reno. Namun, langkahnya terhenti saat melewati area paviliun asisten.
Ia mendengar isakan pelan.
Melalui celah jendela yang sedikit terbuka, ia melihat Alea sedang duduk di lantai kamarnya yang sempit. Di depannya ada sebuah buku catatan tua yang tampak usang. Alea sedang menangis sambil memegang sebuah foto yang sudah pudar.
Baskara mempertajam penglihatannya. Foto itu menampilkan seorang pria dan wanita yang tampak bahagia di depan sebuah kantor logistik kecil. Wajah pria di foto itu... Baskara merenung sejenak. Ia merasa pernah melihat wajah itu di arsip lama yang dicoret tinta hitam sore tadi.
"Kenapa aku tidak ingat siapa mereka, Ibu?" bisik Alea di tengah isak tangisnya.
Rasa dingin merayap di punggung Baskara. Instingnya sebagai auditor sekaligus pendendam mulai bekerja. Alea bukan sekadar "anak yang selalu berada di sisi Sarah." Gadis ini memiliki lubang besar dalam ingatannya, dan sepertinya Sarah adalah orang yang menggali lubang itu.
Baskara kembali ke kamarnya, mengurungkan niat membobol ruang kerja ayahnya malam ini. Ia menyalakan laptopnya dan mengirim pesan singkat pada Reno.
[Baskara]: Lupakan soal audit Sarah sejenak. Cari semua data tentang perusahaan logistik bernama 'Suryakencana' yang bangkrut 20 tahun lalu. Cari tahu siapa pemilik aslinya dan apa hubungannya dengan ayahku.
Baskara menyandarkan kepalanya ke kursi. Rencananya untuk memanipulasi Alea mulai terasa lebih rumit. Ia ingin menghancurkan Sarah, tapi ia mulai menyadari bahwa Alea mungkin adalah korban dari kejahatan yang lebih besar daripada sekadar penggelapan dana.