NovelToon NovelToon
Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Pelabuhan Sunda Kelapa di malam hari adalah labirin bayangan. Aroma air laut yang payau bercampur dengan bau solar dan kayu lapis yang membusuk. Deretan kapal pinisi kayu yang megah di siang hari, kini tampak seperti raksasa hitam yang sedang tidur di sepanjang dermaga. Di sini, cahaya hanya berasal dari lampu-lampu merkuri yang temaram dan berkedip, menciptakan suasana yang mencekam.

Risky memarkir motornya jauh di balik tumpukan kontainer berkarat. Ia memberi isyarat agar Almira tetap merunduk. Mereka berjalan mengendap-endap, menghindari patroli penjaga pelabuhan yang sesekali lewat dengan senter yang menyapu kegelapan.

"Gudang nomor 14. Di sana," bisik Risky sambil menunjuk sebuah bangunan tua dengan atap seng yang sudah banyak yang berlubang.

Almira merasakan tangannya dingin. Setiap langkah di atas kerikil pelabuhan terasa seperti suara ledakan di telinganya. "Bagaimana kau tahu dia ada di dalam?"

"Insting. Orang yang ketakutan seperti Hermawan tidak akan lari ke hotel mewah. Dia akan mencari tempat yang dia kenal, tempat yang punya banyak pintu keluar, dan tempat di mana uang bisa membeli kesunyian," jawab Risky pelan.

Mereka mendekati pintu samping gudang yang sedikit terbuka. Dari dalam, terdengar suara radio yang memutar lagu dangdut dengan volume rendah, bersaing dengan suara tikus yang mencicit di antara tumpukan barang. Risky mendorong pintu itu perlahan, nyaris tanpa suara.

Di dalam, ruangan itu sangat luas dan berdebu. Cahaya lampu bohlam kuning menggantung di tengah-tengah, menerangi seorang pria yang duduk di atas peti kayu. Pria itu tampak berantakan. Kemejanya yang dulu selalu rapi kini penuh noda, rambutnya kusut, dan di sampingnya terdapat botol minuman keras yang setengah kosong.

Itu adalah Hermawan. Pria yang selama ini Almira panggil "Paman".

Hermawan sedang menghitung lembaran uang di atas pangkuannya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tampak seperti orang yang sedang dikejar setan, sesekali menoleh ke arah kegelapan gudang setiap kali ada suara sekecil apa pun.

"Hanya segini?" gumam Hermawan, suaranya parau. "Nyawa Baskoro hanya dihargai segini?"

Almira tidak bisa menahan diri lagi. Rasa marah yang mendidih sejak di bandara meledak seketika. Ia melangkah keluar dari bayangan, mengabaikan tarikan tangan Risky yang mencoba menahannya.

"Jadi itu harga persahabatanmu, Paman?" suara Almira bergetar hebat, bukan karena takut, tapi karena amarah yang luar biasa.

Hermawan terlonjak hingga terjatuh dari peti kayu. Uang di tangannya berhamburan ke lantai yang kotor. Matanya membelalak lebar, menatap Almira seolah melihat hantu. "Al... Almira? Bagaimana kau..."

"Bagaimana aku bisa di sini? Kau berharap aku membusuk di jalanan sementara Ayah menunggu hukuman mati, kan?" Almira mendekat, langkahnya mantap. "Kau memakan makanan kami, kau tertawa di meja makan kami, dan kau menyimpan maut di koper Ayah. Kenapa, Paman? Kenapa?"

Hermawan mundur hingga punggungnya menabrak dinding seng yang berbunyi nyaring. "Al, kau tidak mengerti... ini tidak sesederhana yang kau lihat. Mereka mengancamku! Mereka tahu tentang hutang-hutangku di Amerika. Jika aku tidak melakukannya, mereka akan membunuhku!"

"Siapa 'mereka'?" Risky melangkah maju, berdiri di samping Almira dengan tatapan yang mengunci pergerakan Hermawan. "Wirayuda? Atau orang yang lebih tinggi lagi?"

Hermawan menelan ludah, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Saat ia hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang berhenti mendadak di depan gudang. Cahaya lampu jauh dari mobil tersebut menembus celah-celah dinding, menyilaukan mata mereka.

"Mereka datang," bisik Hermawan dengan wajah yang kini benar-benar pucat pasi. "Mereka tidak akan membiarkan ada saksi hidup."

"Siapa yang datang?" tanya Almira panik.

"Orang-orang yang memberikan uang itu," jawab Hermawan sambil mencoba memunguti uangnya dengan kalap. "Lari, Al! Lari lewat pintu belakang! Kalau kau tertangkap, nasibmu akan lebih buruk dari ayahmu!"

Pintu depan gudang ditendang terbuka dengan keras. Tiga pria berpakaian hitam masuk dengan senjata api di tangan. Mereka tidak banyak bicara. Tanpa peringatan, salah satu dari mereka melepaskan tembakan ke arah Hermawan.

Dor!

Suara tembakan itu memekakkan telinga. Hermawan terkapar di lantai, memegangi perutnya yang mulai bersimbah darah.

"Lari!" Risky menarik paksa Almira, menyeretnya ke balik tumpukan karung gula saat peluru kedua menghantam peti kayu di tempat mereka berdiri tadi.

Almira merasa dunianya menjadi lambat. Ia melihat Hermawan yang meregang nyawa, pria yang mengkhianati keluarganya namun di detik terakhir tampak begitu menyedihkan. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.

Risky mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya—sebuah suar kecil yang biasanya digunakan untuk pendakian. Ia menyalakannya dan melemparkannya ke arah tumpukan ban bekas di sudut gudang. Dalam sekejap, asap hitam pekat mulai memenuhi ruangan, menutupi pandangan para penembak tersebut.

"Ikuti aku!" Risky membawa Almira menyelinap melalui barisan kontainer di dalam gudang. Mereka berhasil keluar melalui jendela kecil di bagian belakang yang menuju ke arah rawa-rawa pelabuhan.

Mereka berlari menembus ilalang tinggi, mengabaikan duri yang menggores kaki dan lumpur yang membasahi sepatu. Di belakang, terdengar teriakan-teriakan penuh emosi dan suara ban mobil yang berdecit mengejar mereka.

Setelah hampir satu jam bersembunyi di bawah dermaga kayu yang tua, suasana akhirnya sunyi. Hanya suara deburan ombak kecil yang menghantam tiang-tiang penyangga yang terdengar.

Almira terduduk di atas lumpur, napasnya tersengal-sengal. Ia menatap tangannya yang kotor, tubuhnya gemetar hebat. "Dia mati, Risky. Hermawan mati di depan mataku."

Risky duduk di sampingnya, kepalanya bersandar pada tiang kayu. Ia tampak sangat lelah, namun matanya tetap waspada. "Dia saksi kunci kita, Almira. Dan sekarang dia hilang. Mereka selangkah lebih maju."

"Lalu bagaimana dengan Ayah?" Almira terisak. "Tanpa Hermawan, tidak ada yang bisa membuktikan Ayah tidak tahu soal koper itu. Kita kehilangan satu-satunya jawaban."

Risky terdiam cukup lama, membiarkan suara malam pelabuhan menyelimuti mereka. "Tidak semua jawaban ada pada orang yang hidup, Al. Kadang, orang mati meninggalkan jejak yang lebih jujur."

Risky membuka telapak tangannya. Di sana, terdapat sebuah flashdisk kecil yang berlumuran darah. "Saat kau meneriaki Hermawan tadi, aku sempat melihatnya mencoba menyembunyikan ini di dalam sepatunya. Aku mengambilnya saat asap mulai tebal."

Almira menatap benda kecil itu. Harapan kecil kembali menyelinap di hatinya yang hancur. "Apa isinya?"

"Aku tidak tahu. Tapi Hermawan menjadikannya jaminan nyawa. Mari kita berharap ini adalah kunci untuk meruntuhkan menara gading Wirayuda."

Risky berdiri, mengulurkan tangannya pada Almira. "Ayo. Kita harus kembali ke motel. Debo mungkin punya sesuatu yang berguna dari foto-fotonya. Kita tidak bisa menyerah sekarang. Permainan baru saja dimulai."

Almira menyambut tangan Risky. Ia berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Wajahnya yang lembut kini mulai mengeras oleh ketabahan yang dipaksakan oleh keadaan. Ia bukan lagi gadis Washington yang manja; ia adalah anak seorang diplomat yang sedang berperang demi nama baik ayahnya.

1
Sulfia Nuriawati
potret pejabat ms kini, mw segalanya instant, g bs d pungkiri pasti d dunia nyata jg bgtu cm g ada yg berani bongkar
sabana: 🤭🤭🤭
lanjut baca kk
total 1 replies
Ophy60
Ikut tegang....memang uang dan jabatan membuat orang lupa diri.Pak Wirayuda dengan tega mengorbankan anak buahnya sendiri.
Ophy60
Apakah Hermawan juga korban ??
sabana: lanjutkan baca kak
total 1 replies
Ophy60
Sepertinya menarik kak...
sabana: lanjutkan kak, semoga suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!