Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Sekamar
“Yah …” Zara menghampiri Budi setelah makan malam selesai.
“Apa?” tanyanya.
“Soal itu …”
“Besok saja. Ayah lelah. Sana kamu juga ke kamar, ini malam pertama kamu dan suamimu ‘kan,” kata Budi.
Zara berdecak kesal. “Sebentar saja, Yah.”
Budi beranjak dari duduknya, lalu ia mematikan rokoknya di atas asbak. “Ayah lelah, Ayah mau istirahat.”
“Yah … sebentar saja,” kata Zara lagi.
“Yah, tolong pijitin Ibu.” Lia datang dan meminta Budi untuk memijatnya.
“Tuh Ibu minyak di pijitin. Ayah ke kamar dulu, kamu juga.” Budi bicara seraya pergi.
Sedangkan Zara, ia menatap kepergian sang Ayah dengan decakan kesal.
Di ruang tengah sendirian, Zara pun memutuskan untuk pergi ke kamar juga.
Saat masuk, ia melihat Reynan tengah sibuk dengan ponselnya.
Reynan menoleh sebentar. “Udah siap?” tanya Reynan, dengan mata kembali fokus pada ponselnya.
“Siap apa?” Zara kembali bertanya dengan nada ketus.
“Siap– itu … an—”
“Siap tidur, iya.” Zara memotong perkataan Reynan.
Reynan terkekeh kecil. “Iya … itu, maksud saya.”
Zara mendengus kesal.
“Eh, Om. Saya mau tanya,” ucapnya.
“Apa katamu, Om?” Reynan menoleh ke arah Zara seraya menaruh ponselnya di atas meja.
“Iya.”
“Enak aja, panggil saya Om. Kamu kira saya Om-mu?”
Zara memutar malas bola matanya. “Terus mau di panggil apa? Memang anda cocok kok di panggil Om, Om duda.”
Reynan beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekat pada Zara.
“Mau ngapain?” tanya Zara seraya beringsut dan menarik selimut untuk menutupi tub uhnya.
“Coba panggil saya seperti itu lagi,” kata Reynan.
“Eng– engga. Sana ih, ngapain ke sini.” Zara bicara dengan gugup, mengingat jaraknya dengan Reynan begitu dekat. Satu meter kurang lebih.
“Ayo, panggil saya dengan sebutan itu lagi.”
“Sana, ih.” Usir Zara lagi.
Namun Reynan tidak mengindahkannya. Melainkan, Reynan mengikis jarak itu dan mencondongkan tub uhnya pada Zara, kedua tangannya menumpu pada sisi ranjang.
“Ayo, panggil lagi,” kata Reynan.
“Ih … sana,” kata Zara. Kali ini selimutnya sudah menutupi wajahnya.
Reynan tersenyum kecil. “akan saya kasih tau, bagaimana Om duda-mu ini, jika—”
“Sudah, stop jangan di teruskan.” Zara bicara seraya membuka selimut yang menutupi wajahnya.
Saat ini, wajah Zara terlihat memerah. Namun matanya menatap tajam pada Reynan.
Reynan mengulum senyum. Terlihat mimik wajahnya yang jahil, dengan ini, ia pun merasa terhibur.
“Sana pergi. Ada yang mau saya tanyakan,” kata Zara.
Reynan pun menegakkan tubuh-nya. “Ya… saya juga mau bicara denganmu.”
“Bicara apa?” tanya Zara.
“Kamu dulu. Katanya ada yang ingin kamu tanyakan,” kata Reynan seraya mendudukkan bokongnya di sisi ranjang.
“Duduk di sana,” ucap Zara seraya mendorong kecil punggung Reynan.
“Di sini saja,” ujar Reynan.
“Di sana aja,” kata Zara lagi di sertai dorongan. Kali ini, dorongan itu cukup kencang.
Reynan membalikan tubuhnya, matanya menatap tajam pada Zara. “Saya duduk disini, atau saya keluar dari kamar. Biarkan orang rumah tahu, jika saya diusi—”
“Ya ya ya, duduklah di situ.” Zara memotong ucapan Reynan, seraya menutup mulutnya.
Reynan kembali mengulum senyum. Tangan Zara yang ada di mulutnya, ia pindahkan.
“Ah ya, oke. Apa yang ingin kamu tanyakan tadi,” kata Reynan seraya mengubah posisi duduknya menjadi bersandar pada kepala ranjang.
Merasa duduk terlalu dekat, Zara pun bergeser.
“Berapa uang yang Ayah kasih pada anda, sampai anda mau menikahi saya?” Zara bertanya dengan to the point.
Reynan tersenyum kecil. Jari tangan kanannya mengusap-usap dagunya.
Tidak ada jawaban dari Reynan, Zara pun menoleh ke arahnya.
“Kenapa diam?” tanya Zara dengan kesal.
Reynan tersenyum remeh. “Apa menurutmu, harga diri saya begitu rendah?” tanya Reynan.
Zara memalingkan wajah. “Lalu, kenapa bisa anda menikahi saya?”
Reynan beranjak dari duduknya. Kedua tangannya bersedekap dada. “Pertama, karena saya kasihan sama kamu. Kedua, karena saya kasihan pada Ayahmu. Ketiga, karena saya kasihan pada keluargamu, dan keempat, karena saya mau.” Reynan bicara seraya berjalan menuju sofa.
“Sesuai dengan perkataan saya tadi. Saya mau bicara, dan itu: besok pindah ke rumah saya,” lanjutnya, seraya menjatuhkan bokongnya pad sofa.
Belum sempat Zara mencerna apa yang dikata Reynan tadi, sekarang Zara harus kembali mencerna perkataan Reynan lagi.
“Bagaimana? Oh ya. Saya tidak memberikan pilihan, tetapi saya memberitahu kamu.”
“Tunggu. Maksud anda, saya tinggal di rumah anda, begitu?”
“Yes!”
“Engga, ya. Kalo tinggal di sana, gimana dengan kebutuhan kita sehari-hari? Anda ‘kan pengangguran. Sudah benar tinggal di sini, semua kebutuhan sudah terpenuhi,” tolak Zara.
“Sudah saya katakan. Saya tidak memberikan pilihan, melainkan memberitahu kamu.”
“Lalu saya gitu, yang menutupi semua kebutuhan rumah tangga?”
“Saya gak bilang begitu,” kata Reynan.
“Kalo bukan saya, ya siapa lagi? Kamu?” tanya Zara dengan senyum remehnya. “pengangguran,” lanjutnya.
“Janganlah meremehkan seseorang, hanya karena orang itu tidak terlihat bekerja,” kata Reynan.
Zara terdiam.
Ya, selama Reynan menjadi tetangga barunya. Ia tidak pernah melihat Reynan bekerja.
Tapi dalam waktu tiga minggu ini, ia pun tidak melihat Reynan dalam keadaan lapar.
Maksudnya, ia sering melihat Reynan memesan makanan dari restoran-restoran ternama.
Bahkan, pakaian yang di pakai pun bukan pakainya biasa, pakaian itu bermerek.
Seperti saat ini, Reynan hanya memakai kaus polos biasa dengan celana trainingnya. Tetapi … semua itu bermerek dan ponsel itu— (Zara menatap pada ponsel Reynan yang tergeletak di atas meja) itu ponsel dengan merek apel digigit sedikit, keluaran terbaru.
OMG
“Anda punya pesugihan?” celetuk Zara.
Reynan tertawa, seraya memegangi perutnya.
“Malah ketawa,” ucap Zara.
“Ya anggap saja seperti itu,” kata Reynan.
“Yang benar saja.”
“Kamu masih percaya dengan begituan?” tanya Reynan.
“Ya engga. Cuma …”
Reynan berdecak, seraya menggelengkan kepalanya. “pikiranmu pendek,” celetuknya.
“Ya—”
“Sudahlah jangan diperpanjang lagi. Saya mau tidur. Intinya, besok pindah ke rumah saya. Jangan kamu pikirkan masalah pengeluaran rumah tangga, itu sudah jadi kewajiban saya sebagai kepala keluarga. Soal pekerjaan saya, Lambat laun, kamu juga akan tahu. Tenang saja … Kalo tumbal pesugihan saya habis, masih ada kamu.” Reynan berucap dengan lirih diakhir kalimat.
“Gila!” Zara melemparkan guling ke arah Reynan.
Reynan kembali tertawa. Ia mengambil guling yang tergeletak di atas lantai, lalu ia letakkan di sampingnya.
“Sudah, tidur. Biar badan fit. ‘Kan bagus kalo badan fit buat persembahan Mbah—”
“Gila! Anda benar-benar gila!”
Kali ini tawa Reynan begitu pecah. Senang sekali ia menjahili istrinya itu.
“Sudahlah … saya mau tidur,” ucap Reynan, masih dengan tawanya.
Zara mendengus kesal. Namun begitu, ia juga bersiap untuk tidur.