Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ponsel
Lampu-lampu kota Jakarta berkilauan seperti hamparan berlian di balik jendela kaca besar sebuah hotel mewah bintang lima di jantung ibu kota. Di lantai paling atas, suasana sunyi menyelimuti lorong-lorong VIP suite yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang terpilih.
Di atas ranjang berukuran king size dengan sprei sutra yang berantakan, seorang wanita dan seorang pria berbaring berdampingan, menikmati sisa-sisa ketenangan malam.
Erina memiringkan tubuhnya, menopang dagu sambil menatap dalam wajah pria di sampingnya. Wajah Adrian yang tegas namun tampan selalu berhasil memikatnya. Dengan jemari lembut, ia mengusap rahang Adrian lalu berbisik sangat pelan, seolah takut memecah kesunyian.
"I love you..." bisiknya tulus.
Adrian perlahan membuka matanya. Ia menyunggingkan senyum tipis yang mematikan, menatap Erina dengan pandangan yang sulit diartikan namun terasa hangat.
Tanpa sepatah kata pun, ia menarik tengkuk Erina dan mengecup keningnya dengan lembut, sebuah kecupan yang sejenak membuat Erina merasa menjadi satu-satunya wanita di dunia.
Namun, momen itu tak bertahan lama. Adrian segera bangkit dari ranjang. Dengan gerakan yang efisien dan penuh wibawa, ia mulai mengenakan kemeja putihnya, lalu menyampirkan jas mahalnya ke bahu. Ia sudah bersiap untuk pergi.
Melihat itu, Erina beranjak dan menahan lengan Adrian dengan manja. "Jangan pergi dulu, temani aku sedikit lagi," rengeknya dengan tatapan memohon.
Adrian berbalik, mengusap pipi Erina, namun gelengan kepalanya tetap tegas. "Aku harus pulang, Erina. Aku tidak bisa membiarkan Arini mulai menaruh curiga. Semuanya harus tetap terlihat normal di rumah."
Mendengar nama istri sah Adrian disebut, raut wajah Erina langsung berubah kesal. Ia merajuk, melipat tangan di dada dengan bibir mengerucut. "Sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi seperti ini? Kapan kamu akan menceraikan Arini?"
Adrian tidak tampak terganggu dengan pertanyaan itu. Ia justru tersenyum tenang, sebuah senyum yang tampak bijak namun menyimpan misteri.
"Sabar, Sayang. Segalanya butuh waktu dan perhitungan yang tepat. Kita tidak ingin menghancurkan apa yang sudah kita bangun hanya karena terburu-buru, bukan?"
Seolah tahu cara paling ampuh untuk meredakan kekesalan wanitanya, Adrian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit unlimited. Ia meletakkannya di telapak tangan Erina.
"Pakailah untuk belanja besok. Belilah apa pun yang membuatmu senang," ucapnya lembut.
Seketika, binar di mata Erina kembali.
Kekesalannya menguap, berganti dengan senyum lebar saat ia menggenggam kartu plastik berharga itu.
Adrian memberikan satu kecupan terakhir di pipi sebelum akhirnya berbalik, dan meninggalkan kamar itu.
Laki-laki itu berjalan dengan tergesa, Ia sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Sial, sudah jam 11 malam!
Padahal Ia berjanji kepada Arini akan makan malam bersamanya, namun ia justru malah ketiduran di kamar hotel itu bersama Erina hingga larut malam.
Adrian melangkah masuk ke lift dan menekan tombol lantai 1, menuju lobby. Ia meraih ponselnya kemudian mengecek notifikasi, namun tak seperti yang Ia kira. Tidak ada satupun panggilan ataupun pesan dari Arini yang muncul disana.
"Oh, tumben," guman Adrian.
Biasanya Arini akan mengirim pesan kepadanya bahkan sampai menelpon dirinya berkali-kali hingga Ia kesal. Namun tidak dengan hari ini, tidak seperti biasanya.
Lift kembali terbuka dan seseorang masuk ke dalam sana. Seorang pria dengan mengenakan pakaian serba hitam, bahkan Ia juga memakai masker.
Pria itu menarik atensi Adrian, penampilannya terlihat seperti orang yang patut di curigai. Adrian lekas menaruh ponselnya dan menunggu lift segera turun di lantai 1.
Namun lift tak kunjung turun. Dan Bruk! Tanpa diduga lift itu berguncang hebat hingga membuat Adrian serta laki-laki itu terjatuh ke lantai.
Lift tiba-tiba saja naik ke atas dan turun dengan cepat ke lantai bawah. Bergerak sangat cepat tanpa rem, membuat siapapun yang di dalam sana bisa saja mengalami gangguan jantung mendadak.
Adrian sontak berdiri dan menekan tombol darurat. Tak berselang lama lift itu kembali bergerak dengan perlahan, tidak seperti sebelumnya.
Adrian menghela napas lega. Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka, Adrian bergegas keluar dari sana.
Lampu lobi hotel yang megah perlahan memudar di spion saat Adrian menginjak pedal gas mobilnya. Udara malam Jakarta yang lembap menyambutnya, kontras dengan hawa dingin AC di dalam kabin.
Ia membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang, hanya menyisakan deretan lampu jalan dan sisa-sisa hiruk pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Pikirannya melayang, namun tangannya tetap sigap memutar kemudi melewati tikungan demi tikungan menuju rumah.
Begitu mobil memasuki halaman, suasana sunyi langsung menyergap. Tidak ada lampu teras yang menyala terang, hanya pendar temaram yang menandakan penghuninya sudah terbuai mimpi. Adrian mematikan mesin, keluar dari mobil dengan gerakan pelan, seolah takut suara pintu mobil yang tertutup akan merusak ketenangan malam itu.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya bergema halus di atas lantai marmer saat ia menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai atas. Di depan pintu kamar, ia sempat menarik napas panjang sebelum perlahan memutar kenop pintu.
Di dalam kamar, hanya ada cahaya lampu tidur yang redup. Ia melihat Arini kini tengah tertidur lelap di atas kasur dengan selimut yang menutupi setengah badannya.
"Syukurlah sudah tidur,"
Adrian melepas sepatunya lalu berganti pakaian. Ia berjalan dengan pelan menuju kasur, takut menimbulkan suara. Ia lalu naik ke kasur dan tidur di samping Arini.
...----------------...
Cahaya dari layar monitor adalah satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu, memantul di kacamata seorang pria yang tak lain adalah Gio.
Jari-jemarinya menari dengan ritme yang cepat di atas keyboard. Di layar laptopnya, baris-baris kode hijau dan putih meluncur deras, sebuah labirin digital yang sedang ia susup secara paksa.
Sudah hampir satu jam Gio terpaku dalam konsentrasi penuh. Keringat tipis muncul di pelipisnya saat ia mencoba menembus pertahanan terakhir protokol keamanan tersebut. Tiba-tiba, sebuah baris perintah berhenti berkedip dan memunculkan tulisan, ACCESS GRANTED.
Gio menyandarkan punggungnya ke kursi sambil mengembuskan napas panjang. Sebuah seringai tipis muncul di wajahnya. Kini, seluruh isi ponsel milik Adrian berada dalam kendalinya.
Ia bisa melihat daftar nomor, chat, kamera bahkan seluruh data milik pria itu pada layar laptopnya sekarang.
Semua akses ini bermula dari sebuah kejadian yang direncanakan dengan sangat rapi beberapa jam sebelumnya. Di sebuah hotel berbintang, Gio dan Adrian berada di dalam lift yang sama.
Suasana awalnya normal, hingga tiba-tiba lift mengalami guncangan hebat dan terjatuh beberapa lantai sebelum sistem pengereman darurat berfungsi. Di tengah kepanikan dan guncangan keras itu, tubuh keduanya terempas.
Adrian berusaha menjaga keseimbangannya, tidak menyadari bahwa di balik kekacauan itu, Gio bergerak dengan presisi yang mematikan.
Saat tubuh mereka bersinggungan karena guncangan, Gio dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan menempelkannya ke saku jas Adrian, tempat ponsel target berada.
Gio berhasil menyalin identitas perangkat Adrian hanya dalam hitungan detik di tengah kepanikan tersebut.
Begitu lift berhasil dibuka Adrian pergi dengan rasa syok akibat insiden lift, tanpa sadar bahwa ia baru saja membawa "parasit" digital bersamanya pulang ke rumah.