Ditinggalkan oleh suami di hari pertama pernikahan bukanlah keinginan Shakira Aisha. Sejak Fauzi sang suami tahu masalalunya, pria itu pergi entah ke mana.
Karena cinta yang Shakira Aisha miliki dan ingin mempertahankan rumahtangganya, dia mencari Fauzi ke suatu kota atas petunjuk yang ia dapatkan.
Kepindahannya ke suatu tempat justru malah mempertemukannya lagi dengan pria masa lalu, pria yang sudah menorehkan luka dan menghancurkan segala mimpinya diusia muda.
"Kita bertemu kembali? tak akan kubiarkan kamu pergi lagi."
"Sial, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Menghamilimu!" Mario menyeringai penuh kelicikan.
"Aku sudah menikah!"
Deg.
Siapakah pria yang akan Shakira Aisha pilih? laki-laki masa depannya yang sudah menikahinya ataukah pria masalalunya?
Mampukah Mario meluluhkan Aisha-nya? Wanita yang telah ia permainan sedemikian rupa. Dan akankah Fauzi mempertahankan istrinya disaat ada laki-laki lain terang-terangan mengajaknya bersaing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 - Nasehat
Bandung
Kembali ke Fauzi yang sedang mencoba membatu Luna.
"Mari saya bantu, barang bawaan mu terlalu banyak, pasti sangat merepotkan."
Raka yang sedang mempersiapkan temannya menghela nafas. "Benar-benar nih si Fauzi, belum juga membereskan masalah rumahtangganya sudah terpesona sama cewek lain. Gimana bisa selesai jika dia tidak mau menyelesaikan? Kasihan Shakira, terjebak sama cowok kayak Fauzi," gumamnya dalam hati.
"Hah, tidak usah Mas, saya bisa sendiri kok." Luna menunduk menghindari tatapannya Fauzi, dia gugup sekaligus merasa ada yang berbeda dari dalam dirinya.
Hatinya berkata, "duh deg degan gini sih? Jantung jangan begini dong."
"Tidak apa-apa, saya bantu." Fauzi kekeh, ia membantu Luna membawa barang belanjaannya.
"Fauzi," tegur Raka.
Pria itu mendongak. "Bentar Ka, kita bantu dulu dia, kasihan."
"Makasih Mas nya sudah mau bantu saya, sini barangnya." Luna meminta barang itu pada Fauzi.
"Saya antar saja sekalian juga kita mau ke dalam, iya kan, Zi?"
"Hmmm." Raka berdehem saja tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Ketiganya masuk ke dalam berbarengan.
Mata Fauzi tak henti-henti memperhatikan kondisi di dalam yayasan, di tengahnya terdapat lapangan dengan bangunan di pinggir menyerupai huruf U. Bangunan dua tingkat yang mengelilingi lapangan itu sekolahan karena banyak anak-anak berkeliaran di sekitarnya.
Matanya beralih kepada Luna, perempuan itu beda dari yang lain, dia mengenakan hijab dan tentunya berpenampilan sangat sopan.
"Ekhem Zi, lo sebaiknya ikut gue ke rumah Bunda Nurul saja deh, biarkan Luna yang ngurus barang belanjaannya. Bisa kan, Lun?" Raka mencoba mengalihkan perhatian Fauzi dari Luna. Raka juga mengambil barang itu dari tangannya Fauzi.
Dia yang sudah lama mengenal orang-orang yayasan itu tentu sudah kenal Luna karena Raka juga salah satu guru disana, bedanya Raka mengajak anak SD.
Mau tak mau Fauzi memberikannya.
"Bisa Mas Raka." Perempuan itu mengangguk dan mengambilnya dari Raka. "Kalau gitu saya permisi dulu, Mas, mari."
"Ya, silahkan," jawab Raka dan Fauzi mengangguk.
Selepas kepergian Luna, Raka menatap laki-laki yang sudah menjadi temannya itu.
"Ada apa?" Fauzi bertanya heran mengenai tatapan Raka.
"Lo sedang tidak berkhianat kan, Zi? Tatapan lo itu jelas beda loh, gak ingat ada Shakira istrimu?" Raka memicingkan mata curiga.
"Apaan sih? Gue tuh cuman kasihan lihat dia, gak lebih kok. Dah ya, jangan berfikir yang aneh-aneh, buruan masuk."
Raka mengangguk. "Semoga saja yang lo ucapkan benar-benar tidak ada maksud apapun. Jangan sampai dari kata kasian hati lo berkhianat, jangan sampai empati lo menjadi masalah buat diri lo sendiri." Raka bicara seperti ini bukan tanpa sebab, ia melihat ada celah pengkhianat diantara mereka berdua dan yang paling disakiti di sini Shakira.
Entahlah, Raka merasa gak tega jika Shakira di sakiti, hatinya ikut sakit mendengar hal itu.
************
Sementara Shakira.
Di perjalanan, Shakira berusaha menghubungi suaminya, sayangnya tidak terhubung. Kesal, marah, kecewa, sedih, tentunya jadi satu.
"Aku merasa di buang olehmu tepat dihari pernikahan kita, jangankan tempat tinggal, rumah untuk pulang pun aku tidak punya. Sekarang aku hanya punya kamu, tempatku berpulang, mamaku tidak mau menerima kehadiranku," lirihnya dalam hati.
Ia menunduk, menyembunyikan air matanya dari orang-orang disekitarnya. Namun sayang, isak tangis kecilnya terdengar oleh seseorang disampingnya.
"Terkadang orang yang kita percayai dan sayangi bisa menjadi penyebab kesedihan kita," tutur seseorang di samping Shakira.
Dia menoleh ke samping, mengernyit heran pada sosok di sampingnya. Orang itu duduk menyender, kepalanya ditutupi oleh kaget sehingga ia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Gak juga, justru mereka orang yang bisa buat kita bahagia," balas Shakira seraya mengusap air matanya.
"Tidak semuanya MEREKA yang kamu maksud bisa membuat kita bahagia, terkadang mereka juga menjadi salah satu penyebab luka di hati kita."
"Tetap saja mereka sering buat kita bahagia," balas Shakira sesuai yang ingin dia ucapkan.
"Hmmm."
Shakira mengernyit. "Hhmmm doang? Kok gue gak asing ya sama suara elo? Kayak pernah denger gitu? Tapi dimana? Ah gak mungkin juga sih kita pernah ketemu. Eh maaf, saya maksudnya, tapi kamu kayak masih muda, elo deh. Eh, kalau bapak-bapak gimana ya? Kan gak sopan."
Ia bingung sendiri sosok disampingnya itu masih muda atau udah tua, bisa juga bapak-bapak, abang-abang.
Pria dibalik jaket yang menutupi wajahnya tersenyum tipis.
Tak lama kemudian kendaraan yang Shakira kendarai berhenti di suatu tempat. Merasa sudah sampai Shakira segera keluar dari dalam bus.
Ketika langkah kakinya menapak, pandanganya langsung tertuju pada tulisan pondok asrama Nurul Huda.
"Aku gak tahu ini langkah yang tepat atau tidak, tapi hati kecilku malah ingin kesini. Entah alasan apa mama memintaku untuk kesini tapi karena rasa khawatir yang aku rasakan akan kehilangan mama membuatku berada disini. Semoga ini langkah yang tepat dan disini pula aku bisa memulai mencari keberadaan Mas Fauzi walaupun sangat kecil untuk bisa bertemu di kota seluas ini, tapi untuk sekarang setidaknya ada tempat tinggal dulu," gumamnya dalam hati sambil melangkah menuju gerbang.
***********
Baik Fauzi dan Raka sudah bertemu pemilik yayasan, keduanya tengah menikmati hidangan yang disediakan.
"Anggap saja ini rumah kamu, Zi. Kita senang kamu mau mengajar di sini, dan pak kyai sudah memberitahu tentang kamu yang akan mengajar disini. Kami harap kamu betah bekerja di sini," kata Bunda Nurul.
"Dan saya harap kamu bisa sabar menghadapi anak-anak remaja di yayasan ini," sahut suaminya.
"Saya akan memberikan pelajaran terbaik buat mereka dan pastinya bakalan betah tinggal di sini," jawab Fauzi.
"Iya dong, harus. Oh iya Appa, dia belum pulang??" tanya Raka. Dia yang dimaksud anak pemilik yayasan.
"Anak itu, gak tahu pulangnya kapan, dia lebih fokus pada pendidikan dan usahanya dibandingkan bantu ngurus yayasan," jawab Bunda.
"Anak kita kan mau mandiri, Bun. Katanya mau sukses diatas kakinya sendiri, tapi gak menutup kemungkinan dia pulang tanpa bilang-bilang," balas sang suami seraya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir sama kelakuan anak sulungnya.
Fauzi mengernyit bingung tidak faham maksudnya apa.
"Dan kamu tahu kan Ka, anak sulung kita itu paling enggan diketahui identitasnya sama semua orang, dia tidak mau kalau dia anak kita dan selalu saja menutupi indentitasnya," timpal Bunda Nurul tersenyum atas keinginan sang anak.
"Jadi Raka pun belum tahu ya wajah anaknya kalian?" tanya Fauzi penasaran.
"Jangankan bertemu, lihat aja belum pernah. Tahunya cuman anak mereka tanpa tahu wajah aslinya seperti apa," balas Raka.
"Raka belum tahu karena dia kan baru ngajar disini 4 bulan yang lalu," jawab Pak Huda.
"Udah, udah, kita bahas ini nanti saja, sekarang kita nikmati dulu makanannya ya," seru Bunda Nurul.
Mereka pun menikmati hidangan makanan sambil bercerita tentang keluarga Bunda Nurul. Ternyata yayasan itu sudah berdiri belasan tahun lamanya dan namanya pun diambil dari nama Nurul dan Huda, sepasang suami istri pemilik pondok.
pst s luna buat byk cara spy ga dceraikan sm fauzi...
pasti sluna drama mnt dnikahin.
baguslah syakira bs lepas dr cowok gaa tegas ky s fauzi.
jgn2 s bp manggil warga buat gerebek anak sendiri biar d nikahin fauzi.