Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
_____& flashback on &______
Senja merayap masuk, mewarnai langit dengan warna-warna ungu dan kelabu yang suram. Anastasya menatap keluar jendela, hatinya diliputi perasaan aneh yang tak bisa dijelaskan. Seolah ada tirai tipis yang memisahkan dirinya dari dunia yang penuh bahaya.
Malam itu terasa sunyi tidak seperti biasanya. Hanya keheningan yang mencekam, yang membuat bulu kuduknya meremang.
Anastasya berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, jari-jari lentiknya saling bertautan tanpa sadar. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan gelisah yang menghantuinya.
Alexander masuk ke dalam kamar, senyumnya berusaha menenangkan, tapi matanya menyimpan kekhawatiran yang sama. "Ada apa, sayang? Kau tampak gelisah."
Anastasya menggeleng pelan, berusaha menyembunyikan perasaannya. "Tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah." kilahnya tak ingin membuat suaminya khawatir.
"Beristirahatlah," kata Alexander, sambil memeluknya erat. "Aku akan menjagamu."
Anastasya membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami, menghirup aroma maskulin yang menenangkan. Tapi kali ini pelukan hangat Alexander yang biasanya nyaman tidak bisa mengusir perasaan buruk yang terus menghantui pikirannya.
Tiba-tiba, alarm tanda bahaya berbunyi nyaring suara anjing di luar mansion menggonggong dengan histeris. Suara gonggongan itu terdengar berbeda, lebih panik, lebih putus asa. Seolah anjing itu melihat sesuatu yang mengerikan.
Anastasya dan Alexander saling bertukar pandang. Kekhawatiran mereka semakin menjadi-jadi.
Alexander melangkah menuju jendela, mengintip keluar. Jantung Anastasya berdebar semakin kencang. Ia tahu, sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia segera meraih tubuh sang putra yang masih terlelap di dalam box bayinya.
Di kejauhan, di antara pepohonan yang rimbun, ia melihat bayangan-bayangan bergerak. Sosok-sosok bertopeng yang mengintai dalam kegelapan.
Anastasya menahan napas. Firasat buruknya benar-benar terjadi malam ini, damai akan sirna. Malam ini, hidup mereka akan berubah selamanya.
Alexander meraih pistol yang tersembunyi di laci nakasnya. Gerakannya cepat dan efisien, menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa dengan situasi berbahaya. "Kita diserang," bisiknya, suaranya tegang namun tenang.
Anastasya memeluk Baby Al semakin erat, seolah berusaha melindunginya dari bahaya yang tak terlihat. Ia merasakan tubuh putranya bergetar, mungkin merasakan ketakutan yang sama.
"Bawa Alexie pergi!" titah Alexander, matanya penuh dengan tekad. "Lindungi putra kita. Aku akan menahan mereka."
Anastasya menggelengkan kepalanya, air mata mulai mengalir di pipinya. "Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu."
"Ini bukan saatnya untuk berdebat, sayang!" balas Alexander, suaranya tegas namun masih terdengar lembut. "Kau harus pergi. Demi buah hati kita, dan bawa ini bersamamu, aku sudah menyiapkan tempat yang aman untuk kalian!" lanjut Alexander menyerahkan dompet kulit berwarna hitam ke sang istri.
Dengan berat hati, Anastasya menurut dan mengambil dompet itu. Ia tahu, Alexander benar. Ia harus mengutamakan keselamatan buah hati mereka yang masih bayi.
Alexander membuka pintu rahasia di balik rak buku, yang mengarah ke lorong bawah tanah. "Lewat sini," bisiknya. "Ini satu-satunya jalan keluar."
Anastasya mengangguk, lalu berlari menuju pintu rahasia. Ia menoleh ke belakang, menatap suaminya untuk terakhir kalinya. Mata mereka bertemu, menyampaikan semua cinta dan harapan yang tak terucapkan.
Alexander tersenyum tipis, ia melangkah maju memeluk anak dan istrinya bergantian dengan penuh kasih sayang. "Hati-hati sayang, aku mencintai kalian," bisiknya lembut.
Setelahnya gegas ia berbalik dan menghilang di balik pintu.
Dor!
Suara tembakan segera menyusul, memecah kesunyian malam.
Anastasya menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis. Ia tahu, ia harus kuat. Demi Alexie ia harus bertahan setidaknya sampai putranya terasa aman dan nyaman.
Dengan langkah gemetar, Anastasya memasuki lorong bawah tanah. Kegelapan menyambutnya, dingin dan mencekam. Ia tidak tahu apa yang menantinya di depan sana, tetapi ia tidak punya pilihan selain terus maju.
Lorong bawah tanah itu gelap dan pengap, udara terasa lembap dan berbau tanah. Anastasya merapatkan jaketnya dan mengeratkan dekapannya, berusaha menghangatkan diri dari dinginnya yang menusuk. Ia hanya bisa mengandalkan cahaya redup dari ponselnya untuk menerangi jalan.
Setiap langkahnya diiringi suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit lorong, menciptakan gema yang menakutkan.
Anastasya berjalan dengan hati-hati, takut tersandung atau jatuh. Ia terus menoleh ke belakang, khawatir akan keselamatan sang suami dan juga takut ada yang mengejarnya.
Bayangan-bayangan menari di dinding lorong, menciptakan ilusi yang membuat jantungnya berdebar semakin kencang. Ia merasa seperti sedang diawasi.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Napasnya tercekat. Ia tahu, ia tidak sendirian.
Ia mematikan lampu ponselnya, lalu bersembunyi di balik sudut lorong yang gelap. Jantungnya berdegup kencang, nyaris meledak.
Suara langkah kaki itu semakin mendekat. Anastasya bisa mendengar suara napas berat dan bisikan-bisikan pelan.
Ia memejamkan matanya, berdoa agar mereka tidak menemukannya. Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depannya. Anastasya merasa seperti waktu telah berhenti. Lalu, sebuah tangan meraih bahunya.
Anastasya menjerit tertahan, lalu membalikkan tubuhnya. Ia siap untuk melawan, melindungi putranya dengan nyawanya sendiri. Namun, alangkah terkejutnya ia saat melihat wajah yang dikenalnya. Wajah seorang pengawal setia keluarga sekaligus tangan kanan Alexander, Jack. Jack yang sudah ia anggap seperti saudaranya.
"Nyonya Anastasya," bisik Jack suaranya lega. "Saya di sini untuk menjaga Anda." Anastasya menghela napas lega. "Terima kasih, Jack." setidaknya ia sedikit lebih tenang sekarang.
"Saya tidak akan membiarkan mereka menyakiti Nyonya dan Tuan Muda," ujar Jack, matanya waspada ke segala arah penuh dengan tekad. "Mari kita keluar dari sini."
"Tapi bagaimana dengan Alex?" tanya Anastasya ragu dan khawatir akan sang suami yang masih berada di dalam mansion.
"Bos Alex akan baik-baik saja, ia laki-laki yang kuat. Bos memerintahkan saya untuk menjaga Nyonya dan Tuan Muda Alexie!" ujar Jack ragu, akan keselamatan sang bos namun ia tak ingin Anastasya khawatir dan berbalik masuk.
Anastasya mengangguk pasrah. Jack gegas memimpin Anastasya menyusuri lorong bawah tanah, menuju pintu keluar yang tersembunyi di hutan belakang mansion. Ia membawa sebuah pistol dan senter, siap untuk menghadapi bahaya apa pun.
Mereka berjalan dengan hati-hati, menghindari jebakan dan pantauan musuh. Setiap suara kecil membuat mereka harus waspada.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki di depan mereka. Jack memberi isyarat agar Anastasya bersembunyi di balik tumpukan kayu.
Mereka mengintip dari balik kayu, melihat sekelompok musuh bersenjata lengkap sedang berpatroli di lorong. Jack berbisik, "Kita harus melewati mereka tanpa ketahuan. Ikuti saya."
Jack dan Anastasya mengendap-endap di belakang musuh, berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Jantung Anastasya berdegup kencang, ia takut mereka akan ketahuan. Tiba-tiba, Baby Alexie mulai tak nyaman dan akhirnya menangis.
Anastasya membeku di tempat. Ia tahu, mereka akan ketahuan sekarang.
Bersambung ...
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus