Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: PENGEPUNGAN MALAM
BAB 20: PENGEPUNGAN MALAM
Malam di Shimla pada awal tahun 2026 ini terasa lebih mencekam daripada biasanya. Salju tipis mulai turun, menutupi aspal jalanan dengan lapisan putih yang licin. Aarohi memacu mobilnya menuju sebuah gudang tua di pinggiran distrik industri yang sudah lama ditinggalkan. Berdasarkan informasi terakhir yang berhasil disadap Abhimanyu, Deep menyimpan salinan fisik rekaman kematian Vivan Malik di sebuah brankas kuno yang tertanam di bawah lantai gudang ini.
"Kau punya waktu tiga puluh menit sebelum sinyal pelacak Deep aktif kembali," suara Abhimanyu terdengar statis melalui earpiece Bluetooth-nya. "Jika kau tidak keluar dalam waktu itu, Aryan Malik akan tahu lokasimu."
Aarohi tidak menjawab. Fokusnya hanya satu: mendapatkan bukti kematian Vivan untuk menghancurkan keluarga Malik sebelum mereka menghancurkannya. Ia melompat keluar dari mobil, memegang senter bertenaga tinggi dan sepucuk pistol Glock-19.
Gudang itu berbau karat dan debu yang menyesakkan. Aarohi menyisir setiap sudut hingga ia menemukan sebuah ubin yang tampak lebih baru dari yang lain. Ia membongkarnya dengan linggis, dan di sanalah ia berada: sebuah kotak baja kecil yang berisi sebuah hard drive eksternal dan tumpukan berkas rahasia.
"Dapat," bisik Aarohi.
Namun, tepat saat ia hendak berdiri, suara deru mesin mobil yang banyak terdengar dari luar gedung. Lampu-lampu sorot yang sangat terang menembus celah-celah dinding gudang yang berlubang, membutakan matanya sejenak.
"Anjali Khanna... atau haruskah aku memanggilmu Aarohi?" sebuah suara yang sangat ia kenal bergema melalui pengeras suara. Itu suara Aryan Malik.
Aarohi segera mematikan senternya dan berlindung di balik tumpukan kontainer besi. Ia melihat ke jendela atas. Gudang itu sudah dikepung oleh setidaknya sepuluh mobil hitam milik keluarga Malik. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri Aryan Malik dengan senyum liciknya yang khas.
"Menyerahlah, Aarohi. Kau tidak bisa lari lagi," teriak Aryan. "Serahkan rekaman itu, dan aku akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu hidup... di dalam sel penjara yang nyaman."
Aarohi memeriksa sisa pelurunya. "Abhimanyu, aku terkepung. Di mana bantuanmu?"
Hening. Tidak ada jawaban dari earpiece-nya. Seseorang telah memutus komunikasi satelitnya.
Tiba-tiba, salah satu pintu gudang terbuka dengan kasar. Seseorang masuk, namun bukan anak buah Malik. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam, langkahnya lambat dan penuh dominasi. Cahaya lampu sorot dari luar menyinari wajahnya saat ia mendekat ke arah tempat persembunyian Aarohi.
"Deep?!" Aarohi terkesiap.
Deep Raj Singh berdiri di sana. Ia tidak lagi mengenakan baju penjara. Ia tampak bugar, mengenakan pakaian mahal, dan memegang sebuah senjata api berperedam. Aliansi dengan Malik ternyata bekerja lebih cepat dari yang ia bayangkan. Deep telah bebas, atau setidaknya, "dilepaskan" secara ilegal.
"Kau tampak terkejut, Sayang," ucap Deep dengan nada yang sangat manis namun mematikan. "Kau pikir permainan ini sudah selesai saat kau menjebloskanku ke penjara? Kau lupa satu hal... aku yang membangun kota ini. Aku yang memiliki kunci dari setiap pintu di Shimla."
Deep berjalan semakin dekat, suaranya kini hanya beberapa meter dari tempat Aarohi bersembunyi. "Berikan rekaman itu padaku, Aarohi. Dan mungkin aku akan membiarkanmu melihat kematianmu sendiri dengan cara yang lebih terhormat daripada orang tuamu dulu."
Aarohi keluar dari balik kontainer, menodongkan pistolnya tepat ke arah jantung Deep. "Kau pikir aku takut padamu, Deep? Aku sudah mati sejak malam kau menyerahkanku ke polisi. Yang kau lihat sekarang hanyalah bayangan yang datang untuk menarikmu ke kuburan bersamaku."
Di luar, Aryan Malik memberikan instruksi. "Masuk ke dalam! Ambil rekamannya, dan bunuh siapa pun yang menghalangi, termasuk Deep jika dia mencoba mengkhianati kita!"
Situasi menjadi sangat kacau. Deep menyadari bahwa Aryan juga tidak berniat membiarkannya hidup setelah rekaman itu didapat. Aliansi mereka hanyalah kepura-puraan.
"Tembak, Aarohi!" teriak Deep tiba-tiba, sambil berbalik dan menembak ke arah anak buah Malik yang mulai masuk ke gudang. "Jika kita ingin keluar dari sini hidup-hidup, kita harus bekerja sama sekali lagi, untuk terakhir kalinya!"
Aarohi ragu sejenak. Musuh bebuyutannya kini menawarkan bantuan untuk melawan musuh yang lebih besar. Di tengah desingan peluru yang mulai memenuhi gudang, Aarohi menyadari bahwa di tahun 2026 ini, di kota Shimla yang penuh darah, batas antara cinta, benci, teman, dan lawan telah benar-benar hilang.
Ia menarik pelatuk pemicunya—bukan ke arah Deep, tapi ke arah tangki bensin di dekat pintu masuk gudang.
BOOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh distrik industri. Di tengah kobaran api dan asap hitam yang membumbung ke langit malam, sebuah babak baru yang lebih gelap dari novel "Dendam Paras Kembar" dimulai.
.