Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH SATU
Tubuh Mikhasa membeku, kosong, bahkan suara detak jantungnya sendiri terasa menjauh. Yang tersisa hanya aroma pria, tekanan tubuh dan ingatan lama yang seolah dipaksa bangkit.
Tangannya gemetar hebat. Bukan Axel yang ia lihat, melainkan wajah lain, suara lain dan sentuhan yang dulu membuatnya merasa kotor.
“N, nggak…” bisiknya. Napasnya tersendat. Dadanya sesak. Matanya melebar, kosong. Air mata menggenang tanpa ia sadari.
PLAK! Ia menampar Axel keras. Lebih keras dari sebelumnya, jejaknya merah di pipi Axel. Membuat wajah pria itu sedikit berpaling.
“JANGAN SENTUH AKU!!” teriak Mikhasa.
Kedua tangan Mikhasa mencengkeram lengannya sendiri, seolah melindungi tubuhnya dari dunia.
“Aku sudah bilang… Jangan sentuh aku!" Suaranya pecah. Tatapannya jatuh pada Axel. “Kalau kamu menciumku lagi…” ucapnya terbata, “aku… aku nggak tahu apa yang bakal kulakukan.”
Dan detik itu... Axel akhirnya menyadari sesuatu. Bukan tamparan Mikhasa yang membuatnya terdiam. Melainkan tatapan gadis ini. Tatapan seseorang yang pernah dihancurkan dan baru saja dipaksa untuk mengingatnya kembali.
Pintu lift terbuka. Mikhasa buru-buru bergeser dan melangkah keluar. Dia nyaris ambruk tepat di depan pintu.
Axel reflek bergerak, tangannya hampir meraih tubuh Mikhasa namun tangan itu berhenti di udara, menahan diri untuk tidak menyentuh gadis itu.
Axel berdiri diam di depan lift dengan tatapan lurus mengikuti sosok Mikhasa yang menjauh darinya. Semakin jauh, tanpa menoleh sekali pun. Dada Axel terasa berat. Axel tahu hari ini ia sudah keterlaluan.
Dia ingat saat berada di restoran kala itu, Mikhasa terkejut bahkan hanya dengan sentuhannya saja. Setelah itu Mikhasa menghilang dan bahkan mengundurkan diri dari perusahaan. Seolah Axel adalah sesuatu yang harus dihindari.
Dan sekarang, ia mengulanginya lagi. Mungkin lebih parah, mungkin lebih menyakitkan. Mungkin kali ini, Mikhasa benar-benar takut padanya.
Bagaimana kalau Mikhasa menghilang lagi? Bagaimana kalau kali ini, selamanya? Seperti Liora yang meninggalnya untuk selamanya.
Axel segera melangkah. Kakinya melebar, tergesa, menyusul Mikhasa. Ia membuka pintu ruangannya dengan kasar.
Kosong.
“Di mana dia?” pekiknya cemas. Ia masuk lebih dalam. Pandangannya menyapu ruangan luas ini. Ia melangkah dan berhenti di meja kerja Mikhasa yang kosong.
Jantungnya berdegup keras. Ngilu dan menyakitkan. Kecemasan itu sedikit mereda saat matanya melihat tas milik Mikhasa yang tergeletak di atas meja disebelah kanan.
“Dia… nggak pergi, kan?” suara Axel lirih, bertanya pada udara yang tak menjawab apa-apa.
Dia hanya diam menatap tas Mikhasa. Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi terdengar terbuka, lalu tertutup kembali. Axel mengalihkan pandangannya ke arah suara itu.
Ia tersenyum saat melihat Mikhasa berdiri di sana. Gadis itu menatapnya sebentar, hanya sekejap. Lalu menunduk dalam, sebelum akhirnya melangkah mendekat ke meja kerjanya. Yang berarti mendekat ke arah Axel.
“Mikhasa…” Suara Axel terdengar rendah saat gadis itu berhenti di depan meja.
Tak ada jawaban. Hanya helaan napas panjang yang keluar dari Mikhasa.
“Maaf, Mikha,” ucap Axel tulus. “Aku tahu aku keterlaluan tadi.”
Mikhasa mengangguk pelan tanpa mengangkat wajah. Ia menarik kursi dan duduk perlahan.
Axel menunduk, menatapnya dari jarak aman.
“Tolong… jangan takut padaku,” pintanya cemas. Benar-benar cemas. Takut gadis itu kembali menghilang dari hidupnya.
“Aku tidak bermaksud buruk padamu, Mikha,” lanjutnya. “Sungguh.”
“Apa yang harus saya siapkan untuk Anda hari ini, Tuan?” tanya Mikhasa akhirnya. “Untuk jadwal Anda masih ada di Pak Edo. Saya belum menerimanya. Mungkin nanti siang dan saya janji akan mempelajarinya dengan cepat."
Axel menarik napas dalam. Rasa bersalah masih menekan dadanya dan ia membutuhkannya untuk menenangkan degup jantungnya sendiri.
“Tidak ada,” jawabnya pelan. “Aku hanya butuh kamu tetap di sini.”
Setelah itu, Axel membalikkan badan dan melangkah menuju meja kerjanya sendiri.
Mikhasa memejamkan matanya sebentar lalu membukanya lagi. Ia tahu, keberadaannya di sini tidak lebih dari sebuah pajangan. Pekerjaannya tidak benar-benar berarti. Ia dibutuhkan bukan karena kemampuannya, melainkan karena keberadaannya untuk Axel. Demi kesehatan Axel dan demi kestabilan jiwa pria itu.
Namun apakah semua itu harus dibayar dengan perlahan menghancurkan dirinya sendiri? Menggerogoti mentalnya sedikit demi sedikit?
Mikhasa paham, Axel bersikap baik padanya hanya karena satu alasan, bahwa ia mirip dengan Liora. Axel ingin ia tetap dekat karena bayangan wanita lain yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya.
Di tempat ini, ia bukan Mikhasa. Ia hanya seorang pengganti. Pajangan yang dibayar mahal demi menenangkan luka pria itu.
Air mata menggenang di pelupuk matanya. “Tuhan, kenapa rasanya tidak pernah ada jalan yang mudah untukku?”
Mikhasa membuka komputer lalu mulai bekerja. Ia merapikan berkas-berkas, mempelajari sistem kerja di ruangan itu dengan tenang.
Tak jauh berbeda dengan Axel. Pria itu juga mulai bekerja di mejanya. Sesekali ia melirik ke arah Mikhasa, lalu mengalihkan pandangan.
Jantungnya terasa ngilu tanpa sebab yang jelas. Entah karena rasa bersalah pada Mikhasa atau ketakutan kehilangan gadis itu atau mungkin hal lain yang bahkan tidak ia pahami sendiri. Axel tidak mengerti jantungnya.
Di tengah keheningan, terdengar ketukan pintu. Tak lama kemudian, Pak Edo masuk ke ruangan. Ia melangkah ke meja Axel, memberi salam sopan, lalu meletakkan beberapa dokumen di atas meja kerja.
“Ini proposal pengajuan hotel di Meksiko, Tuan,” ucapnya. “Sebagai tempat istirahat para pemain bola selama Piala Dunia.”
Axel mengangguk singkat.
“Mohon Anda membacanya terlebih dahulu. Minggu depan akan ada pertemuan dengan panitia penyelenggara.”
Axel kembali mengangguk.
Pak Edo ragu sejenak sebelum bertanya, “Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?”
“Tentu saja,” jawab Axel tanpa menoleh.
“Tapi wajah Anda terlihat pucat—”
“Jalankan saja tugasmu, Pak Edo,” potong Axel dingin. “Kau tidak berhak mengomentari wajahku.”
Pak Edo menunduk dalam. “Baik, Tuan. Saya minta maaf.”
Pak Edo lalu pamit pada Axel untuk melanjutkan tugasnya mengajari Mikhasa. Setelah mendapat anggukan izin, ia melangkah ke meja kerja Mikhasa.
“Selamat pagi, Mikhasa,” sapa Pak Edo dengan nada sopan.
Mikhasa membalas dengan senyum kecil. Ia berdiri sedikit lalu mempersilakan Pak Edo duduk.
“Pagi, Pak. Saya sudah siap menerima arahan dari Bapak.”
Pak Edo menatap Mikhasa sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Apakah semuanya baik-baik saja, Mikhasa?”
Mikhasa mengangguk mantap. “Iya, Pak. Saya mempelajarinya semalaman. Hari ini saya lebih siap.”
“Bagus,” ujar Pak Edo sambil tersenyum puas. “Kamu ternyata lebih sigap dari yang saya kira.”
Ia lalu menambahkan dengan nada lebih pelan. “Lalu bagaimana dengan Tuan Axel?”
Kening Mikhasa sedikit berkerut. “Maksud Bapak?”
Tanpa sadar, Mikhasa membawa pandangan pada Axel di sana. Pria itu terlihat mengangkat tangan ke mulutnya sebentar lalu menyesap minumannya dengan tenang.
Dia minum obat?