NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Bertani / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaya Bertarung Para Ksatria

Di teras gubuk yang baru direnovasi, Sekar Wening berdiri mengantar Aryasatya menuju mobilnya.

Bayangan tubuh tegap Arya memanjang di tanah, diterangi cahaya bulan yang temaram dan lampu teras yang kuning hangat.

Suasana canggung sisa makan malam tadi perlahan mencair, digantikan oleh rasa hormat yang tumbuh diam-diam di hati Sekar.

"Terima kasih sudah membela Ibu saya tadi, Mas," ucap Sekar pelan. Suaranya tulus, menanggalkan sejenak perisai dingin yang biasa ia kenakan.

Arya berhenti sejenak sebelum membuka pintu mobil SUV hitamnya.

Dia berbalik, menatap gadis di hadapannya dengan sorot mata teduh. "Bukan hal besar, Sekar. Orang tua memang harus dihormati, tapi harga diri tidak boleh diinjak," jawab Arya sambil tersenyum tipis.

"Ibumu wanita yang kuat. Dia hanya butuh diingatkan bahwa dia berharga."

Sekar mengangguk.

Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa menghangatkan rongga dadanya yang selama ini beku oleh logika dan perhitungan untung-rugi.

Namun, momen tenang itu hancur seketika.

Dari balik rimbunnya pohon nangka di pinggir jalan, sesosok bayangan sempoyongan muncul.

Bau alkohol murahan yang menyengat, campuran metanol dan aroma fermentasi singkong, langsung menusuk hidung Sekar.

Itu Rendi.

Sepupu Sekar itu berjalan dengan langkah serampangan. Kemejanya kucel, kancingnya terbuka separuh memperlihatkan dada yang berkeringat dingin. Matanya merah menyala, penuh dengan kebencian dan mabuk yang parah.

Di tangan kanannya, dia menyeret sebuah balok kayu bekas pagar, menciptakan suara sret-sret yang mengerikan di atas tanah berbatu.

"Heh... Londo sasar!" teriak Rendi dengan suara serak dan tak jelas.

Telunjuknya yang gemetar terarah lurus ke wajah Arya.

"Gara-gara kamu... Gara-gara kamu semua jadi kacau!"

Sekar refleks melangkah maju, insting protektifnya menyala.

"Rendi! Kamu mabuk. Pulang!" bentak Sekar.

Namun Rendi seolah tuli.

Otaknya yang sudah keracunan alkohol hanya memproses satu hal: Pria klimis di hadapannya ini adalah sumber segala kesialannya.

Pria ini yang membuat preman Pak Karsa mundur.

Pria ini yang membuat Sekar jadi sombong.

Pria ini yang membuat dia terlihat seperti pecundang di mata semua orang.

"Minggir, Sekar!" Rendi meludah ke tanah.

"Laki-laki ini... dia pasti sudah cuci otakmu pakai uang, kan? Dia mau ambil tanah kita, kan?!"

Rendi meracau, ludahnya muncrat ke mana-mana.

"Rendi, jangan buat keributan atau kupanggil warga!" ancam Sekar, tangannya mengepal siap mengambil tindakan.

Tapi Rendi sudah kehilangan akal sehat. Dengan raungan marah seperti binatang terluka, dia berlari menerjang ke arah Arya. Jarak lima meter dipangkas dalam sekejap.

Rendi mengangkat balok kayu itu tinggi-tinggi, siap mengayunkannya ke kepala Arya dengan kekuatan penuh. "Mati kau!"

"Mas Arya, awas!" jerit Sekar.

Jantung Sekar seolah berhenti berdetak. Dalam kalkulasi fisika di kepalanya, balok kayu seberat itu dengan kecepatan ayunan penuh bisa menyebabkan fraktur kranial fatal.

Arya tidak menghindar.

Dia tidak lari.

Dia bahkan tidak terlihat panik.

Pria itu hanya berdiri diam, menunggu hingga detik terakhir.

Saat balok kayu itu meluncur turun membelah udara dengan suara whuuung, Arya hanya menggeser kaki kirinya selangkah ke samping.

Gerakan itu begitu halus, nyaris tanpa suara. Efisien. Minimalis.

Balok kayu itu menghantam angin kosong, meleset hanya beberapa sentimeter dari bahu Arya.

Momentum serangan Rendi yang besar justru menjadi bumerang. Tubuhnya terhuyung ke depan karena tak ada tahanan.

Saat itulah Arya bergerak.

Bukan dengan pukulan kasar ala petarung jalanan.

Tangan kanan Arya bergerak cepat bagai patukan ular, menangkap pergelangan tangan Rendi yang memegang balok.

Di saat yang sama, kaki kanan Arya menyapu bagian belakang lutut Rendi dengan lembut namun tegas.

Krak. Bukan suara tulang patah, tapi suara sendi yang dikunci paksa.

Arya memutar tubuhnya searah jarum jam, menggunakan gaya sentrifugal dari serangan Rendi sendiri untuk membanting pemuda mabuk itu.

Bruk!

Tubuh Rendi terbanting keras ke tanah berdebu.

Wajahnya mencium kerikil.

Tangan kanannya yang memegang balok kini terkunci di punggungnya, ditahan oleh satu tangan Arya yang menekannya dengan santai.

Balok kayu itu terlepas, menggelinding menjauh.

Semuanya terjadi dalam hitungan kurang dari tiga detik.

Cepat. Senyap. Mematikan.

Rendi mengerang kesakitan, tak bisa berkutik. Kuncian di tangannya membuat setiap gerakan melawan terasa seperti akan mematahkan bahunya sendiri.

"Aduh... Ampun... Sakit!" rintih Rendi, nyalinya langsung luntur bersamaan dengan rasa nyeri yang menjalar.

Arya tidak berkeringat sedikit pun. Napasnya bahkan masih teratur, seolah dia baru saja memungut sapu tangan yang jatuh, bukan melumpuhkan penyerang bersenjata.

Dia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Rendi.

"Kalau kau punya masalah dengan nasibmu, perbaiki diri. Bukan menyalahkan orang lain," bisik Arya dingin.

"Pulang. Tidur. Dan jangan pernah perlihatkan wajah mabukmu di depan Sekar dan Ibu Rahayu lagi."

Arya melepaskan kunciannya.

Dia berdiri tegak, lalu menepuk-nepuk kemeja batiknya yang sedikit berdebu, seolah membersihkan kotoran tak kasat mata.

Rendi, yang sudah kehilangan seluruh keberaniannya, merangkak bangun dengan susah payah.

Dia menatap Arya dengan horor, seolah baru saja melihat hantu. Tanpa bicara sepatah kata pun, Rendi lari terbirit-birit menembus kegelapan malam, meninggalkan sandalnya yang putus di halaman.

Hening kembali menyelimuti halaman gubuk itu.

Sekar masih terpaku di tempatnya berdiri. Matanya melebar, bukan karena takut, tapi karena takjub dan curiga.

Otak Profesor-nya memutar ulang adegan tadi dalam gerak lambat.

Analisis kinetik.

Itu bukan refleks orang awam. Orang biasa akan menunduk atau melindungi kepala dengan tangan sebagai defense posture saat diserang.

Tapi Arya... dia melakukan redirection. Dia memanipulasi Center of Gravity lawan.

Sekar tahu gerakan itu.

Di kehidupan sebelumnya, dia pernah bekerja sama dengan militer untuk riset bio-defense. Dia pernah melihat pasukan khusus berlatih.

Teknik yang dipakai Arya tadi... itu teknik kuncian kuno yang sudah dimodifikasi untuk efisiensi modern.

Gerakannya terlalu rapi. Terlalu elegan.

Tidak ada tenaga yang terbuang sia-sia.

Muscle Memory seperti itu hanya bisa didapat dari latihan bertahun-tahun yang disiplin dan keras.

Arya menoleh pada Sekar, senyum ramahnya kembali terpasang seolah tidak terjadi apa-apa.

"Maaf jadi ribut di depan rumahmu. Kamu tidak apa-apa, Sekar?" tanya Arya lembut.

Sekar menelan ludah, berusaha menetralkan degup jantungnya. Dia menatap Arya lekat-lekat, mencoba menembus topeng 'konsultan ramah' itu.

"Mas Arya..." panggil Sekar pelan, matanya menyipit menyelidik.

"Gerakan tadi... itu bukan bela diri yang diajarkan di tempat kursus biasa, kan?"

Arya terdiam sejenak.

Ada kilatan waspada yang sangat halus di matanya, namun segera tertutup oleh tawa renyah.

"Oh, itu? Dulu waktu kuliah di luar negeri, saya ikut klub bela diri kampus. Lumayan buat olahraga," elak Arya santai.

"Cuma kebetulan saja Rendi sedang mabuk, jadi keseimbangannya buruk."

Sekar tidak percaya.

Alibi itu terlalu klise.

Secara biomekanika, cara Arya memindahkan tumpuan berat badannya tadi adalah ciri khas Silat Mataram gaya keraton yang fokus pada kehalusan mematikan.

Itu adalah gaya bertarung para ksatria yang tidak ingin mengotori pakaian mereka saat melumpuhkan musuh.

"Klub kampus ya..." gumam Sekar, nada suaranya penuh keraguan.

"Sepertinya klub itu punya kurikulum yang sangat... militeristik."

Arya hanya tersenyum, tidak membantah dan tidak mengiyakan.

Dia tahu gadis di depannya ini terlalu cerdas untuk dibohongi dengan alasan dangkal. "Sudah malam, Sekar. Sebaiknya kamu masuk. Kunci pintu rapat-rapat," Arya mengalihkan topik dengan halus.

"Besok saya akan kirim orang untuk memperbaiki pagar yang rusak."

Tanpa menunggu jawaban, Arya masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan suara mesin menderu halus.

Sekar berdiri mematung di teras, menatap lampu belakang mobil yang perlahan menjauh dan menghilang di tikungan jalan desa yang gelap.

Angin malam berhembus lagi, terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Di dalam benaknya, profil psikologis Aryasatya berubah total.

Sangat berbahaya.

Tapi anehnya, alih-alih merasa takut, Sekar justru merasakan dorongan adrenalin yang familier.

Rasa penasaran seorang ilmuwan yang menemukan anomali pada data penelitiannya.

"Siapa kamu sebenarnya, Mas Arya?" bisik Sekar pada kegelapan malam.

"Konsultan pertanian tidak punya refleks pembunuh seperti itu."

1
Luvqaseh😘😘
mak nye pun..bodo amat...
Musdalifa Ifa
bagus Sekar pertahankan sikap tegas mu dan beri pengertian pada ibu mu walaupun itu menyakitkan nya tapi itu lebih baik daripada hidup dalam dunia halu
Leni Ani
lanjut thor,bagus sekar.kalau bapak durjanem mu iku banyak tingkah mintak tolong aja sm mas arya😅😅👍👍
Leni Ani
ndas mu prasitiyo,mana mau sekar sm kamu yg mentelantar kan nya sm ibu nua di gubuk reyo,malah nanti karir mu yg amblas😅😅😅😅👍
gina altira
jgn kasih celah Sekar,, babat habis klo bisa
Leni Ani
mantap sekar jangan mau jd alat uji coba orang lain.lebih baik kamu tambah beli tabah supaya orang tahu kerja keras mu💪💪👍👍
nur
aq kok ksel banget rsane ro ibumu sekar
Leni Ani
😅😅😅😅💪👍
sahabat pena
dia adalah pangeran.
Lala Kusumah
good job Sekar 👍👍👍💪💪💪😍😍😍
lin sya
good sekar bpk durhaka itu anak yang dibuang dan dianggep sial mau dijdiin sapi perah gk tau malu, klo mengusik viralin aj dimajalah koran biar jabatan terancam jd gembel, greget bacanya 🤭
Markuyappang
suka dengan karakter sekar tapi nggak suka dengan karakter ibunya. ibunya terlalu bodoh dan gampang banget ditipu, alasannya selalu ingin jadi keluarga yg utuh tapi nggak pernah ngelihay gimana anaknya berjuang. udah selalu diingetin tapi selalu diulangin trs menerus gak pernah berubah. kirain yg habis nyuri barang anaknya bakalan berubah eh ternyata masih sama aja masih sama sama bodoh, terlalu nurut keluarga laknat itu, terlalu takut, dan terlalu berharap. kenapa gak bisa lihat susahnya anaknya berjuang dan menderitanya anaknyaaa gegara keinginan dia coba. lama lama anak mu sendiri yg pergi gegara sikap bodohmu itu bu rahayuu
Darti abdullah
luar biasa
Leni Ani
cerita nya bagus tapi kebanyaan analisis ngak bagus jg thor,jadi analidis yg banyak cerita pemeran nya sedikit,itu jadi nya cerita pemeran dlm cerita ini kayak kasat mata🙏🏻
INeeTha: Terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Alif
alurnya lambat readher harus sabar membacanya
Musdalifa Ifa
wow Sekar selamat ya🤝, dan untuk author juga wow ceritanya bagus 👍
nur
lanjut kan sekar
Lala Kusumah
Alhamdulillah akhirnya .... bahagianya aku 😍😍😍
gina altira
Jd tarung ga yaaaa
gina altira
Kereennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!