Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benarkah, Cinta Itu Ada?
"Bagaimana ini yah? Apa yang harus kita lakukan?" Hesti mondar-mandir di kamarnya.
Bayangan tentang, Hayati dan Yusuf menolak mentah-mentah ide mereka, terus berputar-putar.
"Satu-satunya cara. Kita harus menyuruh Nadia," balas Anwar, menompang kepalanya.
"Iya ... Dan hanya Nadia yang bisa," balas Hesti yakin.
Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk berbicara dengan Nadia. Ketika malam nanti.
Malam pun, datang. Bulan mulai menampakkan cahayanya.
Setelah makan malam, baik Anwar dan Hesti menahan Nadia agar tetap disana. Di meja makan.
"Ada hal penting yang ingin kami bicarakan," Anwar buka suara.
Nadia memilih diam. Dia akan menyimak kemana arah pembicaraan kedua orang tuanya.
"Dekati lah, Bagas kembali ..." perintah Hesti langsung keintinya.
"Buat dia kembali padamu," tambah Anwar.
"Kami yakin. Dia gak mungkin menolakmu," sambung Hesti lagi, menatap tajam ke arah Nadia.
"Berikan aku satu alasan yang masuk akal. Kenapa kalian menyuruhku, begitu?" tanya Nadia, penasaran.
"Karena kami ingin kamu bahagia. Bukan kah, udah kami jelaskan sebelumnya?" sahut Anwar.
"Biarkan aku berpikir dulu," balas Nadia langsung beranjak.
Anwar dan Hesti memanggilnya. Karena pembicaraan belum lah, selesai.
Namun, Nadia memilih abai.
✨✨✨
Sebulan telah berlalu. Untuk pertama kalinya Safira di ajak ke sawah. Bukan untuk bekerja. Melainkan untuk menemani Bagas, menunggu padi mereka di panen.
Di bantu Bagas, Safira mulai menghitung karung-karung padi, yang sudah tersusun.
"Ini kita jual semua bang?" tanya Safira berbinar.
"Kita bawakan lima belas karung untuk ibu, biar gak beli beras lagi," tutur Bagas.
"Terima kasih, karena telah peduli, dengan ibuku," balas Safira terharu.
"Gak usah berterima kasih. Beliau juga ibuku. Bukankah, ibu telah merelakan anak gadis yang dibesarkan dengan susah payah, untuk ikut denganku?" terang Bagas, mengelus kepala Safira.
Safira tersenyum, lalu memalingkan wajahnya. Menghapus air mata yang jatuh, karena haru.
"Bagaimana aku gak jatuh cinta padamu, kalo kamu sebaik itu," batin Safira, menatap hamparan sawah yang telah menguning.
Setelah karung padi mereka di angkut ke tepian jalan. Kini saatnya Bagas dan Safira menunggu mobil dari tengkulak.
Namun, siapa sangka. Disaat mereka sedang menunggu. Nadia juga datang. Dia juga panen di hari yang sama.
Safira yang semula tertawa renyah bersama Bagas, langsung diam.
Matanya, menangkap Nadia yang menatap kearah mereka dengan tatapan sendu.
Menyadari perubahan dari istrinya. Bagas pun, memalingkan pandangannya.
Sesaat, pandangannya dan Nadia sempat bertemu. Namun, Bagas buru-buru memutuskannya.
"Aku disini ..." lirih Bagas, menggenggam tangan Safira.
"Eh ,,," Safira tersentak.
"Aku tetap disini, bersamamu," ulang Bagas, menatap Safira.
Safira menatap Bagas lama. Mencari secerca harapan ataupun cinta disana. Dan Safira menemukannya.
Walaupun secuil, dia ada disana. Di mata Bagas, atau mungkin di hati Bagas.
"Aku suamimu, dan hanya kamu yang berhak atas cintaku," tambah Bagas, menyakini Safira.
Melihat adegan antara Bagas dan Safira. Nadia buru-buru menunduk. Menyembunyikan air mata, yang entah kenapa keluar tanpa rencana.
Sakitnya masih sama. Karena kenyataannya cintanya memang masih sama, bahkan bisa jadi semakin besar.
Disana memang ramai orang. Tapi entah kenapa, Nadia merasa dia dikucilkan. Ingin dia menghilang. Tapi, kewajiban menjaga karung padi, tak bisa di tinggalkan.
"Itu tempatmu Nadia, ibumu benar. Kamu harus merebutnya kembali," sebuah suara terdengar nyaring di telinga Nadia.
"Tidak. Ingat, Safira istrinya. Dan kamu hanya masa lalunya," balas suara lainnya.
Nadia menggigit bibirnya. Tangannya bergetar.
Mungkin, ibunya benar. Sudah saatnya dia mengambil apa yang seharusnya jadi miliknya.
Nadia menegakkan kepalanya. Dia mendekati pasangan yang sibuk memamerkan kemesraannya di tempat umum itu.
"Panen juga bang ... Dapat berapa karung?" tanya Nadia basa-basi.
Bagas memejamkan mata. Nadia begitu dekat dengannya. Bahkan mungkin, di belakangnya.
Tapi dia memilih diam. Tak mau menoleh, ataupun menjawab. Karena dia tahu, memilih antara salah satu dati itu, bisa membuat Safira terluka.
Dan entah kenapa, dia gak mau itu terjadi.
"Dapat lima puluh dua karung, kak ..." sahut Safira, karena Bagas diam saja.
"Lumayan juga ya. Dijual semua?" Nadia bertanya balik.
Walaupun sebenarnya, dia merasa sedih. Karena Bagas, mencuekinya.
"Kita pulang dulu? Fadil, akan kesini, mengawasi punya kita," ucap Bagas, memberitahu Safira.
"Eh, tapi ..."
"Pulang ya, aku gak mau kamu kecapean," bujuk Bagas, dengan suara di buat semanja mungkin.
Muka Safira memerah karena malu. Dia melirik Nadia sekilas. Dan meminta maaf, karena harus pergi.
Dan sebelum benar-benar menjauh. Safira sempat melirik Nadia, yang mengepalkan tangannya.
✨✨✨
Sepeda motor terus melaju. Bukannya pulang ke rumah, Bagas malah membelokkan motornya ke tempat lain.
Sampai akhirnya, mereka berhenti di sebuah warung kecil yang menyediakan aneka gorengan serta minuman-minuman segar lainnya.
"Abang gak apa-apa?" Safira baru berani membuka suara. Ketika mereka tiba, dan duduk di kursi yang disediakan.
"Abang gak apa-apa, selama kamu disini," balas Bagas, tersenyum.
"Tapi Nadia?"
"Dia bukan tanggung-jawab ku dik. Dan aku gak berhak untuk memperdulikannya bukan?" balas Bagas, tegas.
Safira menunduk. Benarkah apa yang di katakan suaminya? Lantas, kenapa harus menjauh?
"Tapi kenapa?"
"Aku menghindar bukan untuknya ataupun untukku sendiri. Aku menghindar, agar kamu nyaman. Aku gak mau kamu menduga-duga yang tidak-tidak," potong Bagas, cepat.
"Dengar! Aku gak memaksa untukmu percaya atau tidak. Tapi satu hal yang pasti. Aku mulai mencintaimu. Kenapa aku yakin begitu? Karena hatiku, mulai biasa saja walaupun Nadia ada di dekatku. Dan hatiku lebih berdebar, kala kita bersama. Apalagi, saat kita sedang ..."
"Udah, jangan di lanjutkan!" seru Safira meletakkan jarinya di bibir Bagas.
"Memang aku mau ngomong apa?" goda Bagas, menaik-turunkan alisnya.
"Ihhh, abang ..." rengek Safira memukul pelan lengan Bagas.
Dan diam-diam Safira berharap, jika apa yang Bagas katakan ialah kebenarannya. Karena sebenernya ia juga mulai merasakan hal yang berbeda dari suaminya.
Jika Bagas dan Safira tertawa bersama. Lain halnya dengan Nadia.
Sepeninggalan Bagas dan Safira. Hati Nadia dipenuhi rasa iri dan cemburu.
Posisi Safira ialah impiannya. Tempat, yang seharusnya dia dapatkan.
Dan kini ia berjanji, akan merebutnya kembali. Karena yakin, cinta lama pasti akan jadi pemenangnya.
Dan Nadia juga yakin. Jika ia, bisa menjadi istri sempurna untuk Bagas. Yakni, melahirkan anak-anak yang sehat untuk lelaki yang di cintainya.
Ada apa dengan Nadia?
Kenapa dia begitu ya?
Babang Bagas, lagi di sawah🤭
kebiasaan ih