NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 23. Beban Yang Tak Terucap

Pagi itu, ruang rapat utama tampak lebih penuh dari biasanya. Deretan kursi tersusun rapi, layar proyektor menyala, dan suasana formal terasa kental di udara. Beberapa wajah terlihat antusias, sebagian lain menyimpan ekspresi datar yang sulit ditebak.

Adit duduk di salah satu kursi depan. Punggungnya tegak, tangannya saling bertaut di atas meja. Meski kabar ini sudah ia dengar sejak beberapa hari lalu, detik-detik menjelang pengumuman resmi tetap membuat dadanya terasa lebih berat dari biasanya.

“Atas pertimbangan kinerja dan kontribusi selama ini,” ucap salah satu direktur dengan suara mantap, “mulai bulan ini, Saudara Adityawarman resmi menjabat sebagai Kepala Divisi Operasional.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan. Ada senyum bangga, ada pula tatapan yang sekilas menyimpan iri. Adit berdiri, membungkuk sedikit sebagai bentuk hormat, lalu mengucapkan terima kasih singkat. Tidak ada senyum lebar, tidak ada ekspresi berlebihan. Baginya, jabatan itu bukan puncak, melainkan pintu menuju tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Saat kembali duduk, pikirannya langsung berlari. Target, keputusan, risiko, dan tekanan baru berputar cepat di kepalanya. Ia tahu, mulai hari ini, setiap langkahnya akan diawasi lebih ketat. Kesalahan kecil tidak lagi sekadar kesalahan pribadi, melainkan bisa berdampak pada banyak orang.

Sejak hari itu, ritme hidup Adit berubah drastis.

Rapat demi rapat mengisi jadwalnya. Waktu kerja yang dulu masih bisa diprediksi kini menjadi tidak menentu. Pulang larut bukan lagi kejadian sesekali, melainkan kebiasaan yang perlahan menggerus tenaga dan pikirannya. Ada malam-malam ketika ia masih membuka laptop di rumah, menatap layar dengan mata lelah, sementara jarum jam terus bergerak melewati tengah malam.

Tubuhnya lelah, pikirannya pun sama. Namun Adit jarang mengeluh. Ia memilih menyimpan semuanya sendiri.

Naya melihat perubahan itu dengan jelas.

Ia tahu dari cara Adit melangkah masuk ke rumah dengan bahu yang sedikit turun. Dari cara suaminya melepas sepatu tanpa banyak bicara. Dari sorot mata yang tampak kosong meski raga sudah berada di rumah.

Namun Naya tidak pernah memprotes.

Ia tetap menyambut Adit dengan senyum lembut, menyiapkan makan malam hangat, dan menjaga rumah tetap rapi serta tenang. Baginya, rumah harus menjadi tempat di mana Adit bisa bernapas lega, meski hanya sebentar.

“Mas jangan lupa makan,” ucap Naya suatu malam, suaranya pelan namun penuh perhatian.

“Iya, Nay,” jawab Adit singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya.

Tidak ada pertengkaran. Tidak ada suara tinggi. Tidak ada kata-kata kasar.

Hanya percakapan yang semakin singkat.

Kalimat-kalimat panjang yang dulu sering hadir sebelum tidur perlahan menghilang. Digantikan oleh rutinitas yang berjalan rapi, efisien, namun terasa dingin. Mereka masih satu rumah, masih satu ranjang, namun masing-masing mulai memikul beban sendiri-sendiri tanpa benar-benar saling membuka isi hati.

Di tengah kesibukan Adit yang kian padat, Naya juga tenggelam dalam dunianya sendiri.

Pembangunan kos-kosan yang selama ini ia rencanakan akhirnya berjalan. Setiap pagi, setelah memastikan rumah rapi, Naya berangkat ke lokasi. Ia memeriksa pekerjaan tukang, mencatat kebutuhan material, dan berdiskusi dengan mandor tentang progres bangunan. Tangannya tak jarang memegang buku catatan kecil berisi angka-angka pengeluaran yang ia susun rapi.

Ada kepuasan tersendiri setiap kali melihat tembok berdiri, atap terpasang, dan ruang-ruang yang dulu hanya berupa gambar kini mulai nyata. Naya merasa hidupnya tidak berhenti hanya karena ia seorang istri. Ia ingin tetap produktif, tetap punya pijakan, tetap bisa berdiri dengan usahanya sendiri.

Namun, di sela kesibukan itu, ada satu ruang kosong yang tidak bisa ia bangun dengan bata dan semen.

Setiap kali Naya pulang ke rumah yang sepi di siang hari, pandangannya sering tanpa sadar berhenti pada kamar kosong di sudut rumah. Kamar yang dulu mereka siapkan dengan penuh harap. Catnya masih sama, bersih, nyaris tak tersentuh. Hanya sesekali dipakai menyimpan barang.

Topik itu dulu sering mereka bicarakan.

Tentang nama. Tentang warna dinding. Tentang suara tawa kecil yang akan memenuhi rumah. Tentang doa-doa yang mereka panjatkan diam-diam selepas salat.

Kini, pembicaraan itu seolah tersimpan rapat di sudut yang tidak tersentuh.

Bukan karena tidak ingin.

Melainkan karena selalu ada hal lain yang terasa lebih mendesak. Pekerjaan Adit yang menuntut fokus penuh. Pembangunan kos-kosan yang menyedot energi dan waktu. Masa depan yang sedang mereka kejar dengan langkah cepat.

Naya sadar betul akan hal itu. Ia sering ingin membuka pembicaraan, ingin bertanya, ingin sekadar mengatakan bahwa ia juga lelah menunggu. Namun setiap kali melihat wajah Adit yang letih, niat itu selalu ia telan kembali.

Ia tidak ingin menjadi tambahan beban.

Adit pun sebenarnya menyimpan hal yang sama. Dalam diamnya, ia sering merasa bersalah. Ia tahu Naya menunggu. Ia tahu usia terus berjalan. Namun sebagai kepala divisi, ia merasa belum cukup aman untuk menjanjikan sesuatu yang belum bisa ia pastikan. Maka ia memilih diam, berharap waktu akan berpihak pada mereka.

Sementara itu, dari kejauhan, ada mata lain yang memperhatikan.

Ratna.

Ia melihat perubahan pada putranya. Adit semakin sibuk, semakin mapan, semakin berada di posisi yang ia banggakan. Namun satu hal tidak berubah sejak pernikahan itu berjalan hampir empat tahun.

Belum ada anak.

Ratna tidak perlu diberi tahu. Lingkungan sekitarnya sudah lebih dulu berbisik. Pertanyaan-pertanyaan halus yang menyelip di setiap pertemuan keluarga. Senyum-senyum penuh arti yang membuat dadanya sesak.

Di ruang tamu rumahnya, Ratna duduk dengan punggung tegak, tangannya bertaut di pangkuan. Pandangannya kosong menatap ke depan, namun pikirannya bekerja cepat. Bagi Ratna, ada satu ukuran yang sejak dulu tidak bisa ditawar dalam sebuah pernikahan.

Keturunan.

Dalam benaknya, pikiran lama kembali muncul, semakin menguat seiring waktu. Ia merasa menemukan pijakan yang selama ini ia tunggu. Sebuah celah yang, menurutnya, sah untuk dimasuki.

“Inilah celahnya,” gumam Ratna pelan, nyaris seperti bisikan untuk dirinya sendiri.

Pagi itu, Naya sedang membersihkan halaman rumah. Matahari belum terlalu tinggi, udara masih terasa sejuk. Ia menyapu dengan gerakan pelan, mencoba menenangkan pikirannya yang sejak beberapa hari terakhir sulit benar-benar diam.

Suara mobil berhenti di depan pagar membuatnya menoleh. Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang turun dari mobil.

Ratna.

“Ibu?” ucap Naya refleks, nada suaranya tidak sepenuhnya bisa menyembunyikan keterkejutan.

Ratna tersenyum tipis. “Iya, Nay. Ibu kebetulan lewat. Jadi mampir sebentar.”

Tidak ada telepon sebelumnya. Tidak ada pemberitahuan. Naya mempersilakan masuk, meski dadanya mulai terasa mengencang. Ada perasaan tidak nyaman yang muncul perlahan, seperti firasat yang tidak bisa ia jelaskan.

Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Jarak di antara mereka tidak jauh, namun suasananya terasa kaku. Ratna menatap sekeliling rumah, matanya bergerak pelan, seolah menilai.

“Adit sibuk sekali sekarang,” kata Ratna membuka percakapan. “Ibu jarang sekali bertemu dia.”

“Iya, Bu,” jawab Naya pelan. “Pekerjaannya bertambah.”

Ratna mengangguk, lalu menyandarkan punggungnya. “Bagus. Laki-laki memang harus sibuk, harus maju. Itu tanggung jawabnya.”

Naya mengangguk kecil. Ia menunggu, karena ia tahu kalimat itu bukan inti dari kedatangan Ratna.

Dan benar saja.

“Pernikahan kalian sudah hampir empat tahun, ya?” lanjut Ratna.

Naya menegakkan punggungnya sedikit. “Iya, Bu.”

Ratna menatapnya lebih dalam. “Empat tahun itu bukan waktu yang singkat, Nay.”

Ada jeda yang terasa berat. Naya menelan ludah. “Maksud Ibu…?”

Ratna tersenyum, namun senyum itu tidak membawa kehangatan. “Ibu hanya berpikir, rumah sebesar ini seharusnya sudah lebih ramai.”

Kata-kata itu sederhana, tapi maknanya jelas.

“Anak,” lanjut Ratna tanpa berputar lagi. “Adit itu satu-satunya anak kami. Harapan keluarga besar ada di dia.”

Jari-jari Naya saling meremas di pangkuannya. Dadanya terasa sesak, namun ia berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Kami sedang berusaha, Bu.”

Ratna menghela napas, seolah kecewa. “Berusaha saja tidak cukup kalau tidak diseriusi. Usia perempuan itu ada batasnya, Nay. Jangan sampai Adit terlambat punya keturunan.”

Setiap kalimat terasa seperti tekanan yang dijatuhkan perlahan tapi pasti. Naya ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Namun suaranya seakan tertahan di tenggorokan.

Ratna sedikit mencondongkan badan. “Ibu cuma khawatir. Kalau nanti Adit merasa ada yang kurang, kamu juga yang akan repot.”

Kalimat itu membuat Naya mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, namun ia menahan air mata agar tidak jatuh.

“Saya mohon, Bu,” ucapnya akhirnya, suaranya bergetar tapi tegas. “Masalah ini bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.”

Ratna terdiam sejenak, lalu berdiri. Ia merapikan tasnya dengan gerakan tenang. “Ibu hanya mengingatkan. Selebihnya, itu urusan kamu.”

Sebelum melangkah keluar, Ratna menoleh sekali lagi. “Pikirkan baik-baik, Nay.”

Pintu tertutup. Langkah Ratna menjauh dengan tenang, meninggalkan jejak kata-kata yang tidak ikut pergi.

Naya masih duduk di tempatnya. Ruang tamu terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Ia memeluk lututnya, menunduk dalam diam. Kata-kata Ratna berputar di kepalanya, berulang, menekan, menyisakan luka yang tidak terlihat.

Malam itu, Adit pulang lebih larut dari biasanya. Ia menemukan Naya sudah berada di kamar, lampu redup, tubuhnya menghadap ke arah jendela.

“Nay,” panggil Adit pelan.

Naya menoleh dan tersenyum tipis. “Mas sudah pulang.”

Adit mendekat. Ada sesuatu yang terasa berbeda, tapi ia terlalu lelah untuk menguraikannya. “Kamu capek?”

“Tidak,” jawab Naya singkat.

Mereka berbaring berdampingan. Adit segera terlelap, kelelahan mengalahkan segalanya. Naya tetap terjaga. Pandangannya menatap langit-langit kamar, satu tangannya tanpa sadar bertumpu di perutnya sendiri.

Selamat sore readers selamat membaca yok ramaikan dengan like dan komen kalian ..terimakasih

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!