Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Aku bisa menerimamu kembali, tapi hanya sebatas naik ranjangku!"
Kata-kata Yudha itu terus menggema di kepala Sonya, seperti duri yang tertancap dalam hatinya. Jantungnya terasa diremas, setiap napas yang ia ambil membawa perasaan sakit dan hina yang mendalam. Dia sudah melepaskan harga dirinya, menunduk memohon untuk kembali bersama lelaki itu, tetapi yang ia dapatkan hanyalah kata penolakan yang dibalut dengan hinaan.
Matanya menerawang kosong, membiarkan kesunyian memenuhi ruangan. Namun, suara kecil permata hatinya memecah lamunan.
"Bun, apa yang Bunda pikirkan?" Sasa memandang ibunya dengan tatapan polos, wajah mungilnya dipenuhi kekhawatiran.
Sonya terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Bunda hanya takut kehilangan Sasa. Jadi, Sasa gak boleh pergi jauh-jauh lagi ya."
Sasa mengangguk dengan serius, seakan memahami beratnya perasaan ibunya meski usianya masih kecil. Dia kemudian berbicara lagi, suaranya penuh semangat.
"Bun, tadi Sasa ketemu sama paman tampan dan baik hati. Sasa diantar ke sini sama paman itu."
Sonya mengangkat alis, pura-pura terkejut. "Benarkah? Lalu Sasa sudah bilang terima kasih belum?"
Sasa mengerutkan kening, tampak bingung. "Oh, ya, Sasa lupa! Nanti Sasa telepon deh buat bilang terima kasih." Ia terdiam sejenak, lalu menundukkan kepala dengan raut malu. "Tapi, Bun... Sasa lupa tanya nama Paman baik hati itu."
Sonya menatap Sasa sambil mengusap lembut rambutnya. Senyumnya kali ini lebih tulus, meski samar-samar terselip rasa cemas yang tidak diungkapkannya.
"Gak apa-apa, Sayang. Lain kali kalau ketemu lagi, Sasa bisa tanya namanya. Yang penting sekarang Sasa aman."
"Iya, Bun. Paman juga berpesan agar Sasa sehat biar bisa ketemu lagi. Bun, apa Ayah sama seperti Paman?"
Sonya menelan ludahnya dengan kasar. Untuk menjawab pertanyaan Sasa, ia hanya bisa membatin, Dia memang ayahmu, Nak.
"Bun, kenapa gak jawab Sasa?" tanya Sasa yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari ibunya.
"Em... mungkin sama." Sonya menarik selimut untuk menutupi setengah badan Sasa. "Kamu pasti lelah, jadi istirahat dulu ya. Lagi pula ini juga sudah jam delapan malam. Ingat, bergadang gak baik buat—"
"Kesehatan, Bun," sahut Sasa.
Sonya menarik sudut bibirnya, lalu mencium kening Sasa. Setelah memastikan anak itu tertidur lelap, ia keluar dari ruangan dan duduk di bangku depan pintu. Intan, yang tadi sempat berpamitan untuk mengambil pakaian ganti, kini sudah kembali dan melihat Sonya duduk sendirian.
"Dek, kamu kenapa di sini?" tanya Intan.
Sonya, yang melihat Intan, langsung berhamburan memeluknya. "Kak, apa ada cara lain untuk membuat Sasa sembuh tanpa harus meminta bantuan dari Yudha?"
Intan melepaskan pelukan Sonya dan mendorongnya perlahan. "Apa yang terjadi? Bukankah tadi Sasa sudah ketemu Yudha? Kakak lihat Yudha begitu suka dengan Sasa."
"Aku rasa Yudha suka sama Sasa karena dia tidak tahu siapa Sasa, Kak," jawab Sonya dengan nada sendu. Tak lama, ia mengutarakan kekhawatirannya. "Kalaupun Yudha benar suka sama Sasa, aku takut... aku takut Sasa akan diambil sama dia. Sekarang dia punya segalanya, sementara aku?"
Intan menggenggam tangan Sonya, mencoba menenangkan. "Dek, jangan terus berpikir negatif. Kita bisa cari solusi lain."
Sonya menggeleng lagi, suaranya penuh kesedihan yang tak tertahan. "Bagaimana tidak, Kak? Yudha sebentar lagi tunangan. Dia akan punya keluarga yang utuh. Aku cuma ingin dia membantu Sasa hidup lebih baik, tanpa harus kehilangan Sasa. Tapi... aku kenal Yudha, Kak. Aku tahu apa yang dia mau, dan itu bukan aku."
Intan menarik napas panjang, menatap adiknya dengan penuh empati. "Kita cari jalan, Dek. Demi Sasa, kamu gak akan sendirian."
Sonya mengangguk kecil, tetapi tatapan matanya tetap dipenuhi kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan. Pikirannya terus berputar, mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Bukan hanya soal biaya yang begitu besar, tetapi juga menemukan pendonor yang cocok untuk Sasa, sebuah tugas yang terasa mustahil, seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Bayangan tentang waktu yang terus berjalan membuat dadanya semakin sesak. Bagaimana jika ia gagal? Bagaimana jika ia kehilangan Sasa? Ketakutan itu menghantamnya tanpa ampun, meninggalkan luka yang hanya semakin dalam dengan setiap detik yang berlalu.
"Haruskah aku menerima tawaran Yudha?" pikir Sonya, hatinya berperang melawan logika.
Melihat Sonya yang termenung dengan tatapan kosong, Intan langsung bereaksi. "Apa yang kamu pikirkan, Dek? Jangan melakukan hal apa pun tanpa berpikir panjang. Ingat, Sasa masih bisa diselamatkan."
Nada suara Intan tegas, tetapi penuh kepedulian. Ucapannya bukan tanpa alasan. Ia teringat masa lalu, ketika Sonya pernah mengalami baby blues yang begitu parah hingga menghilangkan sebagian ingatannya. Trauma itu membuat Intan tak ingin mengambil risiko lagi.
Sonya tersentak mendengar ucapan kakaknya. Ia segera menutupi kegelisahannya dengan senyum kecil yang tidak sampai ke mata. "Kakak jangan khawatir," jawabnya, berusaha terdengar tenang.
Namun, di dalam hatinya, Sonya tahu ia sedang berbohong. Ia tidak ingin memberitahu Intan tentang tindakannya yang impulsif, tentang tawaran Yudha yang mungkin akan ia pertimbangkan demi Sasa.
Tatapan Intan melembut, tetapi kekhawatirannya masih terpancar jelas. "Dek, kamu tahu kakak selalu ada buat kamu, kan? Kalau ada apa-apa, cerita sama kakak. Jangan dipendam sendiri."
Sonya mengangguk pelan, tetapi hatinya tetap bergejolak. Ia tahu Intan benar, tetapi ia juga tahu bahwa kenyataan yang sedang dihadapinya terlalu berat untuk dibagi. Untuk sekarang, ia hanya bisa menggenggam harapan kecil bahwa Sasa akan tetap bersamanya, apa pun yang terjadi.