Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Keesokan harinya, Zayn tiba di kantor dengan wajah lesu dan lingkaran hitam di bawah matanya. Nafiza telah merenggut seluruh fokusnya. Ia tidak bisa bekerja. Jangankan membuat sketsa desain interior, memandang layar laptop pun terasa seperti siksaan. Bayangan wajah pucat Nafiza, mata sayunya yang menyiratkan kesedihan mendalam, menghantuinya tanpa ampun. Sebuah doa lirih terus ia panjatkan dalam hati, memohon kebahagiaan untuk wanita itu.
Tiba-tiba, pintu ruang CEO terbuka tanpa diketuk, dan David masuk dengan wajah penasaran. Ia memperhatikan bos sekaligus sahabatnya itu dengan seksama. Zayn terlihat seperti zombie yang baru keluar dari kuburan. Ada aura putus asa yang kentara dari raut wajahnya.
"Lo kenapa, Zayn? Muka lo kusut banget. Nggak tidur semalaman?" tanya David dengan nada prihatin. Meskipun David seorang asisten, ia tetap akan bicara santai jika sedang berdua. Dan akan bersikap formal jika di hadapan para karyawan.
Zayn menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Gue lagi nggak enak badan, Dav. Pikiran gue kacau," jawabnya dengan suara lesu. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir bayangan Nafiza yang terus menghantuinya. Kenapa wanita itu begitu membekas dalam benaknya?
David mengangguk-angguk. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang disembunyikan Zayn. Apalagi, ia juga teringat akan permintaan Maya tempo hari. Ibunda Zayn itu memintanya untuk mencari informasi tentang seorang wanita bernama Nafiza. Awalnya, David tidak tahu untuk apa Maya menyelidiki wanita itu. Namun, melihat Zayn yang sekarang, ia mulai curiga. Mungkinkah Nafiza adalah kunci dari perubahan aneh Zayn?
"Zayn, sorry nih sebelumnya. Tapi, nyokap lo nyuruh gue buat nyari informasi tentang seorang wanita bernama Nafiza. Lo tahu sesuatu tentang ini?" tanya David dengan hati-hati, mencoba membaca ekspresi wajah Zayn. Ia menyadari bahwa ia sedang memasuki wilayah pribadi Zayn, tetapi rasa ingin tahu dan kekhawatirannya lebih besar.
Zayn tersentak mendengar pertanyaan David. Ia menatap sahabatnya itu dengan tatapan terkejut sekaligus penasaran. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Bagaimana bisa ibunya tahu tentang Nafiza?
"Jadi Mommy dapat informasi tentang Nafiza dari lo?" tanya Zayn memastikan.
David mengangguk jujur, merasa sedikit bersalah karena telah mencampuri urusan pribadi sahabatnya, ia tahu betul Zayn palaing tidak suka orang yang mengusik masalah pribadinya. "Iya, Zayn. Nyokap lo nyuruh gue buat nyari tahu semua tentang dia. Gue nggak tahu buat apa, tapi gue nurut aja. Emang ada apa sih?" tanyanya penasaran, tidak sabar untuk mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan Zayn. Ia berharap Zayn mau terbuka padanya.
Zayn menghela napas panjang dan akhirnya menceritakan semuanya kepada David. Ia menceritakan tentang pertemuannya dengan Nafiza di rumahnya, tentang perasaan anehnya pada wanita itu, dan tentang percakapannya dengan ibunya semalam. Ia membuka diri sepenuhnya, merasa bahwa David adalah satu-satunya orang yang bisa ia percaya saat ini.
"Gue tertarik sama dia, Dav. Tapi, gue bingung dan juga takut. Gue nggak tahu apa yang harus gue lakuin," ungkap Zayn dengan nada frustrasi, menatap David dengan tatapan penuh harap. Ia membutuhkan jawaban, membutuhkan arahan, membutuhkan seseorang untuk memahami perasaannya.
David terdiam sejenak, mencerna semua informasi yang baru saja ia dengar. Ia mengerti perasaan Zayn. Mencintai seseorang yang sedang dalam masa seperti ini memang bukan perkara mudah. Tapi, ia juga melihat ketulusan dalam mata Zayn.
"Lo cinta sama dia, Zayn. Itu udah jelas," David menepuk pundak Zayn, mencoba memberikan semangat. "Soal dia lagi dalam masalah, itu bukan alasan buat lo mundur. Justru, lo harus ada buat dia. Lo harus jadi orang yang bisa nguatin dia," tutur David dengan nada bijak, memberikan dukungan penuh kepada sahabatnya.
Zayn menatap David dengan tatapan penuh harap. "Tapi, gue takut, Dav. Gue takut dia nggak mau nerima gue. Gue takut dia masih trauma," ujarnya dengan nada ragu, menyuarakan ketakutan yang selama ini menghantuinya. Ketakutan akan penolakan, ketakutan akan luka yang lebih dalam.
David menghela napas, lalu menyeringai. "Trauma? Ya itu urusan dia lah, Zayn. Yang penting, lo udah jujur sama perasaan lo. Lo udah berani ngambil langkah. Soal hasil, itu urusan belakangan," ujarnya santai, mencoba mencairkan suasana. Ia tahu Zayn butuh sedikit dorongan.
"Gampang lo ngomong, Dav. Lo kan nggak ngerasain," balas Zayn dengan nada sedikit kesal, menyuarakan ketidaksetujuannya. Ia merasa David tidak benar-benar memahami situasinya.
David tertawa kecil. "Ya emang sih, gue nggak ngerasain. Tapi, gue bisa ngebayangin gimana pusingnya lo sekarang. Seorang Zayn Al Malik yang dingin dan gila kerja, bisa kepikiran cewek sampai kayak gini. Ini bener-bener sejarah," ujarnya, menggoda Zayn. Ia ingin Zayn sedikit rileks dan tidak terlalu tegang.
Zayn mendengus. "Makanya itu gue bingung. Kenapa gue bisa kayak gini," ujarnya dengan nada heran, mengakui keanehan situasi yang sedang dialaminya. Ia tidak pernah menyangka akan merasakan hal seperti ini.
David mengangkat bahunya. "Mungkin ini yang namanya cinta pada pandangan pertama, Zayn. Atau mungkin, lo emang udah ditakdirkan buat ketemu sama dia," ujarnya sambil tersenyum. Ia percaya pada takdir.
Zayn memutar bola matanya. "Udah ah, nggak usah sok bijak lo," ujarnya ketus, mencoba mengakhiri percakapan yang mulai membuatnya tidak nyaman. Ia merasa terlalu terbuka pada David.
David mengangkat kedua tangannya, menyerah. "Oke, oke, gue serius. Dengerin gue, Zayn. Lo harus percaya sama insting lo. Kalau lo emang ngerasa Nafiza itu orang yang tepat buat lo, ya kejar. Jangan dengerin kata orang lain. Jangan takut sama masa lalu dia. Yang penting, lo fokus sama masa depan kalian," ujar David dengan nada serius, memberikan nasehat yang tulus kepada sahabatnya.
Tiba-tiba, ponsel Zayn berdering, memecah keheningan ruangan. Nama "Mommy" tertera di layar. Dengan malas Zayn mengangkatnya.
"Ya mom! Ada apa?" tanya Zayn.
"Temani Mommy ke rumah sakit, sekarang!" pinta Maya.
Bersambung...