NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Berbohong

Ketika Cinta Berbohong

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Wanita perkasa / Konflik etika / Kehidupan di Kantor / Penyesalan Suami
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROYEK BESAR YANG MENGUBAH SEGALA SESUATU

Dua minggu setelah rapat keluarga, perusahaan Pratama Buana resmi mengumumkan ekspansi proyek gedung baru.

Target penyelesaian dipersingkat dari dua tahun menjadi satu tahun setengah, dengan penambahan tiga lantai dan fasilitas tambahan seperti taman vertikal dan pusat kebugaran.

Rizky berdiri di depan papan putih besar di ruang rapat kantor, menjelaskan jadwal kerja yang baru kepada seluruh tim.

Matanya merah dan matahari sedikit terkulai – dia sudah tidak tidur nyenyak selama seminggu terakhir.

"Kita akan bekerja dengan sistem shift agar proyek berjalan 24 jam non-stop," ujar Rizky dengan suara yang kuat meskipun tubuhnya sudah lelah.

"Setiap divisi harus saling koordinasi dengan baik agar tidak ada kesalahan yang terjadi."

Lina duduk di barisan depan, mencatat setiap kata yang diucapkan Rizky dengan cermat. Setelah rapat selesai, dia mendekat bosnya dengan membawa beberapa berkas.

"Pak Rizky, saya sudah menyusun rencana kerja untuk divisi arsitektur sesuai dengan jadwal baru." Lina melihat wajah Rizky dengan perhatian.

"Anda perlu istirahat sebentar, Pak. Wajah Anda terlihat sangat lelah."

"Saya tidak punya waktu untuk istirahat, Lina." Rizky mengambil berkasnya dengan cepat.

"Kita harus segera menyelesaikan semua persiapan agar ekspansi proyek bisa dimulai minggu depan."

Namun ketika dia akan berjalan menuju kantornya, dia merasa kepalanya berputar dan tubuhnya hampir pingsan.

Lina segera menangkapnya dan membantu dia untuk duduk di kursi terdekat.

"Pak Rizky, Anda tidak bisa terus bekerja seperti ini!" suara Lina terdengar khawatir.

"Saya akan bawa Anda ke ruang istirahat dan mengambilkan air hangat serta obat."

Di ruang istirahat yang tenang, Rizky berbaring di sofa kecil sambil minum air hangat yang diberikan Lina.

Wanita muda itu duduk di sisi dia dengan wajah yang penuh perhatian.

"Terima kasih, Lina. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpa bantuanmu." Rizky melihat ke arahnya dengan mata yang lelah.

"Semuanya begitu berat – tekanan dari keluarga, target proyek yang semakin ketat, dan saya juga merasa telah mengecewakan Arini dan Tara."

Lina menjentikkan rambutnya yang tertutup di wajahnya dengan lembut.

"Anda tidak mengecewakan siapa pun, Pak Rizky. Anda hanya sedang melakukan yang terbaik untuk perusahaan dan keluarga Anda." Dia menjangkau tangan Rizky dan memegangnya dengan lembut.

"Saya selalu ada di sini untuk membantu Anda."

Rizky tidak menarik tangannya kembali. Sebaliknya, dia memegang tangan Lina dengan erat, merasakan kehangatan yang memberikan ketenangan pada dirinya.

Dalam beberapa detik, mereka saling melihat tanpa berkata apa-apa – sebuah pertukaran pandangan yang menyampaikan banyak hal yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Ketika mereka akhirnya melepaskan tangan, sudah hampir jam 20.00 malam. Rizky segera berdiri dan mengambil jas kerjanya.

"Saya harus pulang sekarang, Lina. Arini pasti sudah menunggu saya."

Namun ketika dia sampai di rumah, pintu rumah sudah terkunci dan semua lampu sudah padam.

Dia masuk dengan hati yang berat dan melihat catatan kecil di meja tamu yang ditulis tangan Arini: "Saya dan Tara sudah tidur. Makan malam ada di lemari pendingin. Mohon jangan membuat kebisingan."

Rizky merasa rasa bersalah menyelimuti dirinya. Dia masuk kamar tidur dengan hati-hati dan melihat Arini yang sedang tertidur dengan wajah yang tampak lelah.

Tara tidur nyenyak di sisi ibunya, tangan kecilnya masih memegang boneka kesayangannya.

Dia mencium dahi mereka berdua dengan lembut sebelum pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Keesokan paginya, Arini sudah bangun dan sedang memasak sarapan ketika Rizky keluar kamar. Tara sedang asik bermain dengan mainan di lantai ruang tamu.

"Kamu pulang sangat larut kemarin malam," ujar Arini tanpa melihat ke arah suaminya.

"Saya minta maaf, sayang. Ada beberapa hal penting yang harus saya kerjakan bersama tim." Rizky duduk di kursi makan dengan rasa bersalah yang semakin besar.

Arini menaruh piring sarapan di depan dia dengan wajah yang datar.

"Saya sudah menghubungi sekolah taman kanak-kanak Tara. Mereka akan mengadakan acara hari ibu minggu depan. Bisa datang kan kamu?"

Rizky mengerutkan kening sambil melihat jadwal kerja di ponselnya.

"Saya tidak tahu, sayang. Minggu depan kita akan mulai proses ekspansi proyek dan saya harus ada di lokasi."

Arini menghela napas dengan penuh kesal. "Ini sudah kalinya kamu tidak bisa menghadiri acara penting Tara. Dia sangat berharap kamu bisa datang."

"Saya akan coba berusaha datang, sayang. Tapi saya tidak bisa menjaminnya." Rizky mulai makan sarapan dengan cepat, ingin segera pergi ke kantor agar tidak terlambat.

Setelah Rizky pergi, Arini duduk di kursi makan dengan mata yang berkaca-kaca. Tara mendekat dan memeluk kaki ibunya.

"Mama tidak marah ya, Mama. Kalau Papa tidak bisa datang, saya tetap bahagia karena ada Mama."

Arini mengangkat anaknya dan memeluknya erat. "Aku tidak marah nak, aku hanya merasa sedih saja. Papa memang sangat sibuk dengan pekerjaannya."

Di lokasi proyek yang sudah semakin ramai, Rizky dan Lina sedang memeriksa persiapan untuk ekspansi proyek.

Suara mesin berat memenuhi udara dan pekerja sedang sibuk melakukan berbagai persiapan.

"Semua sudah siap sesuai dengan rencana, Pak Rizky," ujar Lina sambil menunjukkan beberapa bagian lokasi.

"Kita bisa memulai proses ekspansi besok pagi jika cuaca tetap baik."

Rizky mengangguk dengan senyum puas. "Kamu luar biasa, Lina. Tanpamu, proyek ini tidak akan bisa berjalan dengan lancar seperti ini."

Ketika matahari mulai merunduk, mereka duduk di atas batu besar di sudut lokasi yang lebih tenang.

Lina membuka kotak makan yang dia bawa dan menawarkan makanan kepada Rizky.

"Saya pikir Anda belum makan siang, Pak Rizky." Dia tersenyum lembut.

"Saya membawa makanan yang dibuat sendiri – mungkin bisa memberikan energi ekstra untuk Anda."

Rizky menerima makanan dengan rasa terima kasih yang mendalam. Saat mereka makan bersama sambil melihat matahari terbenam, dia merasa bahwa ini adalah momen pertama kali dia merasa tenang dalam beberapa minggu terakhir.

Lina tidak hanya menjadi rekan kerja yang baik, tapi juga seseorang yang benar-benar memahami dan memperhatikannya.

Tanpa sadar, jarak antara mereka semakin dekat. Ketika Lina mengusap debu yang menempel di bahu Rizky, tangannya secara tidak sengaja menyentuh wajahnya yang hangat.

Kedua mereka terdiam dalam beberapa detik, merasakan ketegangan yang tumbuh di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!