“Apa ... jangan-jangan, Mas Aldrick selingkuh?!”
Melodi, seorang istri yang selalu merasa kesepian, menerka-nerka kenapa sang suami kini berubah.
Meskipun di dalam kepalanya di kelilingi bermacam-macam tuduhan, tetapi, Melodi berharap, Tuhan sudi mengabulkan doa-doanya. Ia berharap suaminya akan kembali memperlakukan dirinya seperti dulu, penuh cinta dan penuh akan kehangatan.
Namun, siapa sangka? Ombak tinggi kini menerjang biduk rumah tangganya. Malang tak dapat di tolak dan mujur tak dapat di raih. Untuk pertama kalinya Melodi membuka mata di rumah sakit, dan disuguhkan dengan kenyataan pahit.
Meskipun dirundung kesedihan, tetapi, setitik cahaya dititipkan untuknya. Dan Melodi berjuang agar cahaya itu tak redup.
Melewati semua derai air mata, dapatkah Melodi meraih kebahagiaan? Atau justru ... sayap indah milik Melodi harus patah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPMM4
Udara di ruang tamu malam itu terasa dingin, meski kipas angin di sudut ruangan sudah dimatikan. Aldrick duduk di sofa, tangannya menggenggam secangkir kopi yang sudah hampir dingin. Matanya menatap ke depan, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Ia sengaja duduk di ruang tamu, menunggu Melodi selesai mencuci baju.
Aldrick bersandar di sofa, tetapi sedetik kemudian, punggung pria itu kembali tegak bagai tiang. Melodi muncul di ambang pintu dapur dengan wajah masam.
“Kenapa?” tanya Aldrick bingung. Wajahnya mendadak tegang efek dari tatapan tajam Melodi. “Kehabisan deterjen, ya? —biar aku pergi bel—”
“Lipstik siapa ini?” Tanya Melodi sengit, sambil menunjukkan noda merah di kemeja Aldrick.
Kening Aldrick berkerut, wajahnya terlihat bingung. “Lipstik?” pria itu berdiri dengan jantung berdegup kencang. Ia menyambar lembut kemejanya. “Entahlah,” gumamnya.
“ENTAHLAH KATAMU?” Suara Melodi meninggi, diiringi wajah merah padam.
Aldrick terperanjat. Pria itu meneguk kasar ludahnya. Selama ia mengenal Melodi, ini pertama kalinya Melodi meninggikan suara.
“Kamu kenapa sih, Dek?” Aldrick meraih jemari Melodi, tetapi, Melodi jauh lebih gesit untuk menghindar.
“Sekali lagi, jawab pertanyaan ku,” kali ini suara Melodi lebih tenang. “Lipstik siapa itu?”
Untuk beberapa detik, Aldrcik terdiam. Tampak memikirkan sesuatu. “Karin, sepertinya itu noda lipstik Karin. Semalam dia tersandung, wajahnya membentur punggung ku,” jawab Aldrick tenang.
“Termasuk rambut pirang kemarin?” tanya Melodi datar.
“Rambut pirang yang mana?” Aldrick balik bertanya, wajahnya tak kalah datar.
Melodi menghela napas panjang. “Ah, sudahlah, aku nggak punya energi untuk membahasnya. —Malam ini, cuci sendiri baju mu, Mas. Tangan ku terlalu berharga untuk menghilangkan noda lipstik ... entah dari jalang mana.”
“Astagfirullah,” ucap Aldrick. Matanya menatap sendu langkah Melodi yang berlalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesekali Aldrick melirik ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia mendengar suara samar-samar dari dalam, mungkin Melodi sedang mendengarkan musik di ponselnya. Lagu-lagu lembut yang biasa ia putar saat ingin menenangkan diri.
Pria itu mengusap peluh yang mengalir. “Padahal nyucinya pakai mesin, sedikit pula. Tapi, kok tetap terasa capek ya?” Mendadak ia teringat tumpukan baju yang di cuci Melodi beberapa hari yang lalu. “Selelah apa dia dalam mengurus rumah ini?”
Aldrick kembali duduk di sofa, menyesap kopinya perlahan. Namun, pahitnya terasa lebih menyengat dari biasanya. Bukan karena kopinya yang salah, tapi karena perasaannya yang kacau.
“Kenapa rasanya aku semakin jauh dari dia?” gumam Aldrick pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
---
Malam semakin merayap tinggi, Melodi berbaring di tempat tidur sambil memandangi langit-langit. Earphone terpasang di telinganya, mengalunkan lagu sedih yang entah kenapa selalu berhasil membuat dadanya sesak. Ia mencoba memejamkan mata, tapi bayangan wajah Aldrick terus muncul di pikirannya.
Melodi menoleh ke samping, menatap setengah ranjang tak berpenghuni. Aldrick tidak di sana.
“Karin? Kenapa dia nggak pernah ngomong apa-apa tentang Karin?” gumam Melodi.
Ia memeluk bantal di dadanya, mencoba menahan air mata yang sudah memenuhi pelupuk mata. Hatinya lelah. Ia tak menyangka, akan se-cengeng ini semenjak menjadi seorang istri.
Melodi menatap jendela kamar yang masih tertutup rapat. Ia menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk bangkit. Tidak adil rasanya terus menyalahkan Aldrick, tapi juga tidak adil untuk dirinya sendiri jika terus memendam semuanya.
“Aku harus ngomong lagi sama dia,” pikir Melodi. Tapi ada suara kecil di kepalanya yang berbisik, “Untuk apa? Kamu sudah sering bicara, tapi dia tetap sama saja.”
Melodi berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Matanya sembab, wajahnya tampak lelah. Ia mengusap pipinya, mencoba memberikan senyuman kecil untuk dirinya sendiri.
“Mel, kamu harus kuat. Kalau nggak sekarang, kapan lagi?” gumamnya.
Melodi mulai melangkah mantap, ia keluar kamar dengan langkah tanpa suara. Dia mencari Aldrick di ruang tamu. Namun, ruangan itu terasa sunyi, Aldrick tidak ada di sana.
“Ke mana dia?” Melodi kembali melangkah, kali ini tujuannya ke dapur.
Namun, saat hampir tiba di ambang pintu dapur, langkahnya mendadak berhenti. Samar-samar suara Aldrick terdengar dari dalam dapur. Menyebut nama : Karin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu, Aldrick duduk di kursi, menunggu kehadiran Melodi di meja makan. Hari ini, meja makan sudah di penuhi beberapa menu sarapan, Aldrick yang menyiapkannya.
Aldrick menoleh ketika mendengar langkah kaki Melodi mendekat. Degup jantungnya tak menentu melihat penampilan istrinya. Melodi mengenakan kaus tidur berwarna pastel yang kebesaran, rambutnya dikuncir asal-asalan, tapi, tetap terlihat cantik di mata Aldrick. Bahkan sangat cantik.
Pria itu memperhatikan gerak-gerik Melodi, ia ingin mengatakan sesuatu. Namun, kata-kata itu terasa macet di tenggorokannya.
Melodi duduk dengan botol air di tangan. Ia menatap Aldrick yang tampak termenung.
“Kamu kenapa sih, Mas?” tanya Melodi akhirnya.
Aldrick mengangkat wajahnya, sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. “Kenapa apanya?” Ia meneguk segelas air demi menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.
“Kamu. Akhir-akhir ini kayak ... nggak ada di sini. Kayak pikiranmu selalu melayang ke tempat lain. Lagi mikirin apa sih?” tanya Melodi tenang. “Mikirin Karin?”
UHUK!
Aldrick tersedak dan terbatuk.
”Kamu ngomong apa sih, Dek? Jangan mikirin yang aneh-aneh.” Aldrick membersihkan sisa air di ujung bibir dengan jarinya.
Untuk sesaat, Melodi terdiam, malas menanggapi. Sementara Aldrick, pria itu menatap Melodi, matanya menunjukkan kecemasan.
“Aku nggak mikirin Karin, untuk apa juga?” Aldrick terdiam sejenak, lalu meletakkan gelasnya di meja. “Aku cuma ... aku merasa bersalah sama kamu, Dek.”
Melodi mengernyit. “Bersalah kenapa?”
“Karena aku tau kamu nggak bahagia. Aku tau aku bukan suami yang baik. Aku tau aku bikin kamu merasa sendirian. Tapi ... aku nggak tau gimana caranya untuk memperbaiki semuanya.”
Melodi menatap Aldrick dengan mata yang sulit dideskripsikan. Kecurigaan dan kepercayaan seolah berperang di benaknya. Melodi hanya bisa menanggapi dengan senyuman kecil.
Pagi itu, ia seolah tak bertenaga untuk menanggapi Aldrick lebih jauh. Tubuhnya terasa lemas, napasnya terasa lebih berat dari biasanya. Ia mencoba mengabaikan rasa itu, berpikir mungkin hanya karena kelelahan. Apalagi, semalaman ia nyaris tidak tertidur. Sibuk memikirkan, apakah usia pernikahannya harus berlanjut?
“Mas,” kata Melodi tiba-tiba.
“Hm?” Aldrick menoleh.
“Kalau nanti aku nggak ada, kamu janji ya bakal tetap jaga diri.”
Aldrick mengernyit. “Apa maksudmu?”
Melodi tersenyum samar, lalu menggeleng. “Nggak apa-apa. Aku cuma tiba-tiba kepikiran aja.”
Aldrick menatap Melodi dengan tatapan bingung, tapi ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Ia tidak tahu bahwa kata-kata Melodi barusan adalah pertanda dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang akan mengubah hidup mereka berdua.
Di pagi hari yang terasa dingin itu, Aldrick masih belum menyadari bahwa waktu mereka bersama semakin sedikit.
*
*
*
,, penyesalan,, membuat sesak di
di dada, dalam penyesalan hanya
dua kata sering di ucapkan,
,, andaikan dan misalkan,, dua
kata ini tambah penyesalan.
thanks mbak 💪 💪