Karena nila setitik rusak susu sebelanga, itulah perumpamaan yang terjadi dalam kehidupan Khalisa Suci Kirani. Jejak noda yang tersemat padanya membawa lara. Cemoohan sudah akrab menyapa yang selalu ditanggapi Khalisa dengan senyuman. Bahkan secara tak terduga, orang-orang yang dianggapnya keluarga termasuk sang suami, bermain madu dan racun di balik punggungnya sebab jejak noda tersebut.
Namun, saat poros hidup yang menjadi kekuatannya terenggut dari sisinya, mampukah Khalisa tetap tersenyum kala noda itu menyeretnya hingga ke dasar nestapa?
Yudhistira Lazuardi, si pengacara muda yang memutuskan mandiri dan menjauh dari keluarganya demi meredam kisruh di dalamnya, alih-alih mendapat ketenangan, hidupnya mendadak tak lagi sama saat membiarkan sosok Khalisa yang dipenuhi problema masuk ke dalamnya.
"Dua ratus juta!"
"Dua ratus juta di muka sekarang juga, untuk dia!" Yudhistira mengarahkan telunjuknya tepat pada Khalisa. Dengan rahang mengetat dan sorot mata tajam tak terbaca.
Akankah Khalisa tetap suci semurni arti namanya? Atau justru tergerus noda yang tak pernah diinginkannya.
Ikuti kisahnya.
Jangan plagiat! Ingat Azab
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Noda Itu
Suci Dalam Noda bab 4. Jejak Noda Itu
Warung ketupat sayur Bu Marsih seolah menjadi momok horor bagi Khalisa. Meski berat rasanya, ia tetap harus pergi ke sana kalau ingin harinya tetap damai tanpa omelan berjilid dari ibu mertuanya.
"Unda, Af mau ikut." Afkar, si balita lucu tiga tahun yang baru terbangun itu menarik-narik ujung baju Khalisa yang sedang mengambil wadah rantang untuk membeli ketupat di dapur, mengingat Wulan, Dion dan Dania sangat pemilih, menolak menyantap makanan yang dibeli menggunakan kemasan plastik maupun stiriofoam.
"Eh, sayangnya Bunda." Dengan cepat Khalisa menggendong Afkar, mengecup pipi gembulnya. "Af tunggu di dulu sama ayah sebentar ya, Bunda mau beli ketupat sayur buat sarapan."
"Endak mau!" rengeknya dengan intonasi cadelnya, menggelengkan kepala berulang-ulang sebagai respons penolakan. "Mau cama Unda."
"Tapi nanti Bunda takut tumpah bawa ketupatnya. Tunggu sebentar ya, Sayang. Bunda juga mau sekalian beli bubur ayam kesukaan Af, sudah lama enggak beli, kan?" bujuk Khalisa. Mengusap sayang wajah lucu si sumber kekuatan semangat hidupnya, kembali mengecupinya gemas.
"Eh, eh, eh. Apa tadi kamu bilang? Mau beli bubur ayam buat Afkar?" Wulan kembali muncul di dapur, merecoki entah darimana datangnya.
"I-iya, Bu. Buat sarapan Afkar. Lagi pula tidak setiap hari beli. Biar bisa sarapan bareng, lebih cepat dan praktis," jawab Khalisa tergagap. Memeluk Afkar lebih erat, menelungkupkan telapak tangannya di telinga putranya sebagai antisipasi, sudah hafal di luar kepala dengan situasi yang akan terjadi selanjutnya.
"Kamu ini gimana sih, Khal? Kalau buat Afkar ya tetep harus masak sendiri. Selain lebih sehat juga lebih hemat. Kalau beli kebanyakan micin sama garamnya. Enggak sehat. Kamu ini baru ngurus anak satu saja sudah malas buatkan makanan untuk anakmu. Begini nih efek buruk kalau ibunya tidak punya orang tua, tidak ada yang mendidik, tak paham mengurus anak dengan benar! Hanya tumbuh di panti kotor yang notabene kebanyakan anak asuhnya adalah bayi yang dibuang di dekat lokasi lokalisasi. Yang semua orang pun tahu, anak asuh di sana sudah pasti bayi-bayi haram yang dilahirkan para pelac_"
"Bu, sudahlah. Jangan berdebat pagi-pagi, aku sudah lapar." Dion datang menyela. Memotong kalimat Wulan dengan cepat.
"Ini semua gara-gara istrimu yang gemar sekali membuat Ibu darah tinggi. Bikin sarapan buat anak satu saja malas, malah mau dikasih bubur beli!" tukas Wulan berapi-api.
"Sesekali tidak apa-apa, Bu. Khal, cepatlah berangkat beli ketupat sama buburnya, nanti keburu kehabisan," sambung Dion yang kini berkata Pada Khalisa. Menggedikkan dagu memberi isyarat agar Khalisa bergegas pergi.
"I-iya, Mas," sahutnya terbata, serak.
Menelan ludah susah payah guna membasahi tenggorokannya yang tercekat, hanya itulah yang bisa dilakukan Khalisa sekarang. Melintasi Wulan yang sedang ditenangkan Dion, ia menahan bola matanya untuk tidak mengeluarkan sumber airnya meski sudah terasa panas.
Menundukkan pandangan sedalam-dalamnya, itulah yang dilakukan Khalisa ketika ia melangkah keluar rumah. Sebelah tangannya menjinjing rantang, sementara lengannya yang lain memeluk Afkar yang ingin ikut serta. Menggendong permata hati kesayangannya dalam lingkupan aman perlindungan seorang ibu, menggunakan gendongan bayi yang warnanya sudah pudar. Maklum, gendongan satu-satunya itu sudah tiga tahun dipakai.
Sepanjang kaki berayun, Khalisa sengaja tidak melirik kanan kiri. Fokus pada aspal. Menghindari bertegur sapa dengan tetangga, lantaran setiap kali mereka menyapa, ujung-ujungnya selalu meruncing memojokkannya, mengungkit darimana dirinya berasal.
Warung Bu Marsih ramai pembeli, meski enggan, mau tak mau Khalisa harus menguatkan diri menghampiri demi membeli ketupat untuk sarapan.
"Kamu kuat, Khal, apapun nanti omongan orang-orang di sana, seperti biasa, anggap saja angin lalu," gumamnya pada dirinya sendiri.
Kemunculan Khalisa mengundang tatapan orang-orang yang sedang membeli. Ada yang melirik normal biasa saja, ada pula yang mendelik remeh. Tak terkecuali Bu Marsih si penjual ketupat sayur.
"Bu, beli ketupat sayurnya empat porsi. lengkap." Khalisa menyodorkan rantang yang dibawanya beserta dua lembar uang dua puluh ribuan.
"Wah, wah, wah. Hadeh, kenapa si Wulan membiarkan kamu datang ke warungku? Semoga saja warungku enggak kena sial sepi pembeli karena dikunjungi orang kotor kayak kamu!" cibirnya pedas, sementara Khalisa memilih menunduk saja, tak membantah maupun mendebat celaan yang dilemparkan padanya.
Bersambung.